Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2025

💥

Mengapa Clark Meragukan Pengamatan Inderawi Clark memang sangat ragu terhadap pengamatan inderawi sebagai dasar pengetahuan. Ini adalah salah satu ciri khas dari epistemologi rasionalis milik Gordon H. Clark, dan menjadi titik perbedaan utama antara dia dan banyak filsuf atau ilmuwan modern yang menekankan empirisme (pengetahuan berasal dari pengalaman indrawi). Alasan pertama bagi Clark   adalah: Indera kita sering menipu dan sering berbeda antara satu orang dan lainnya.  Sama seperti kita melihat fatamorgana? Atau pikir pesawat terbang, tapi ternyata burung? Kedua, indera tidak langsung memberikan makna. Saat kita melihat bayangan bulat di bulan, kita tidak otomatis tahu itu bayangan bumi.  Kita harus menafsirkan pengalaman itu dengan teori tertentu.  Jadi pengalaman inderawi perlu ditafsirkan, dan tafsiran itu tidak netral. Ketiga, indera tidak bisa menjamin kebenaran mutlak. Apa yang kita lihat hari ini bisa berbeda besok.  Sains juga berubah, karena data ...

FAKTA DAN TEORI MENURUT GORDON CLARK

Kamu Bilang Itu Fakta? Clark Bilang Itu Cuma Tafsiran Gordon Clark mengajak kita untuk berpikir lebih dalam tentang apa itu fakta, dan apakah mungkin ada fakta yang benar-benar murni, netral, atau absolut, seperti yang sering diklaim dalam sains. Banyak orang menganggap fakta itu jelas dan netral.  Orang-orang praktis sering berkata:  “Saya nggak peduli teori-teori, saya cuma mau fakta!” Clark mengatakan: hati-hati dengan cara berpikir seperti itu. Mengapa?  Pertama, karena menurut Clark fakta tidak berdiri sendiri. Fakta selalu dipahami lewat teori.  Misalnya: “Bumi itu bulat.” Kelihatannya ini fakta. Tapi, apa dasar kita mengatakan itu fakta?  Clark menunjukkan bahwa kita menyimpulkan "bumi itu bulat" dari beberapa indikasi atau petunjuk (evidence), misalnya: Saat gerhana bulan, bayangan Bumi tampak bulat atau dari p engamatan para pelaut dan astronomi.  Namun yang sebenarnya terlihat secara langsung itu bayangan melengkung, bukan "kebulatan bumi". Jadi, ...

CANON ALKITAB KHATOLIK VS PROTESTAN

Siapa yang Menentukan Kanon Alkitab?  Pandangan dan Argumen Gereja Katolik Roma vs Protestan 1. Pandangan Gereja Katolik Roma: Gereja Menentukan Kanon Isi Pandangan: Gereja Katolik mengklaim bahwa Gerejalah yang menentukan dan menetapkan kanon Alkitab secara otoritatif. Mereka menunjuk pada sejarah konsili: Sinode Roma 382 M (di bawah Paus Damasus I), Konsili Hippo 393 M dan Karthago 397 M, serta Konsili Trente 1546 M yang secara dogmatis menyegel daftar kanon Katolik (termasuk Deuterokanonika). Argumen Katolik: 1. Gereja Mendahului Alkitab (secara historis) Yesus tidak menulis kitab. Para rasul mewartakan Injil secara lisan terlebih dahulu. Tradisi mendahului penulisan Alkitab. Maka, Gereja (dalam otoritas rasuli) lebih dahulu ada daripada Kitab Suci Perjanjian Baru. 2. Tanpa Gereja, Tak Ada Alkitab Tanpa otoritas Gereja, tidak mungkin ada kepastian mana kitab yang sah. Banyak kitab beredar (Injil Tomas, dll), dan gereja harus memilah mana yang benar. 3. Otoritas Magisterium Adala...

💥

Saya Membayangkan Tiga Sosok Saat Berdoa, Apakah Itu Salah? Hallo bosku, berhubung dengan Doktrin Tritunggal, ada sesuatu yang mengganjal di hati dan pikiran saya. Rumusan resmi Doktrin Tritunggal oleh Bapa-bapa gereja adalah satu esensi yang sama dengan tiga pribadi yang berbeda, yang masing-masing pribadi itu sepenuhnya ilahi. Saya percaya bahwa Allah Tritunggal itu, walaupun esensi ke-tiga-Nya itu satu dan sama, tapi esensi-Nya tidak terbagi atau terpisah. Ini jelas berbeda dengan manusia yang walaupun esensi manusia sama, sama-sama manusia, tapi kemanusiaan si Joko dengan kemanisan Si Doni terpisah atau tidak menyatu. Nah saya menyadari dan menerima itu, tapi yang mengganjal bagi saya adalah begini, saat saya berdoa, saya berimajinasi atau membayangkan seperti ada tiga orang. Ya saya sadar mungkin itu karena keterbatasan manusiawi saya dalam mengimajinasikan Tritunggal, tapi tentu saja saya memang harus berimajinasi saat berdoa, saya tak mungkin berdoa dengan pikiran yang kosong at...

Obrolan Serius: Membongkar Kekeliruan Tritunggal yang Sering Diabaikan

Oleh : Dionisius Daniel   Kali ini saya kembali membagikan diskusi singkat saya dengan seseorang di Facebook yang diduga adalah fans atau pendukung fanatik dari Elia Myron.  Saya memang belakangan ini sedang menulis artikel mengkritisi ajaran Tritunggal Elia Myron, yang menurut saya telah menyimpang dan tanpa sadar "nyemplung" ke bidat-bidat yang sudah ditolak oleh para Bapa-Bapa Gereja kita. Seperti Sabelianisme atau Subordinasisme ala Unitarian. Sebenarnya diskusi/perdebatan ini berawal dari postingan foto Pdt Esra Soru di Facebook, tertanggal, Minggu 18/05/2025. Di foto itu tampak Pdt Esra sedang bersama Elia Myron. (fotonya saya jadikan wallpaper artikel ini) Saya lalu spontan berkomentar: "Pak Esra tolong ajari Elia Myron itu agar mengajar Tritunggal dengan benar, soalnya ajaran Tritunggal dan konsep keselamatannya telah menyesatkan banyak orang". Alhasil tak butuh waktu lama, komentar saya langsung ditanggapi oleh pengguna facebook lain yang diduga adalah fans...

MEMBEDAH RUMUSAN TRITUNGGAL ALA ELIA MYRON

Oleh : Dionisius Daniel Dalam sebuah video dari kanal YouTube Tiga Hari. Elia Myron seorang apologet muda terlihat sedang mengajarkan doktrin Tritunggal. Namun yang menarik disini adalah, rumusan Tritunggal yang diajarkan oleh Elia Myron ini, terindikasi menyimpang dari rumusan Tritunggal yang ortodoks yang telah dipegang oleh Gereja sepanjang sejarah. Elia mendasari pengajaran Tritunggalnya dengan mengutip Ulangan 6:4, dan 1 Korintus 8:6 Ulangan 6:4 (TB) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  1 Korintus 8:6 (TB) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.  Berdasarkan dua ayat ini Elia membangun premis bahwa Allah itu pada hakikatnya adalah esa, dan Allah yang esa ini adalah sang Bapa. Mengapa Allah yang esa ini disebut Bapa? Karena menurut Elia,...

PROVIDENSI ALLAH BUKAN ALASAN UNTUK BERDOSA

  Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   "Kalau Allah telah menetapkan segala sesuatu, dan apa yang ditetapkan Allah harus dan pasti terjadi, lalu mengapa tindakan berdosa manusia harus dihakimi?" Pertanyaan ini lahir dari kegagalan (kebingungan) dalam memahami providensi Allah. Apa itu providensi? Providensi adalah doktrin yang percaya bahwa Allah/Tuhan berdaulat penuh atas segala peristiwa yang terjadi di bawah kolong langit ini. Dengan kata lain tidak ada satupun peristiwa dalam bentang sejarah umat manusia yang luput dari kontrol dan kedaulatan Tuhan. Dan itu mencakup peristiwa yang baik maupun buruk (kejahatan) dalam kehidupan manusia. Sebagai landasan biblikalnya, kita akan melihat beberapa ayat di bawah ini. Misalnya tentang pemilihan orang percaya, ternyata Tuhan dalam kekekalan telah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi umat pilihan-Nya. "Di dalam Dia kami juga mendapat bagian, yang ditentukan dari semula menurut maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu ...

SKISMA AVIGNON

Skisma Avignon: Ketika Tiga Paus Bertarung Memperebutkan Takhta Petrus Oleh: [Dionisius Daniel Goli Sali] Banyak umat Katolik sering menuduh Protestan sebagai biang perpecahan karena munculnya ribuan denominasi. Namun sejarah Gereja Katolik sendiri menyimpan sebuah babak kelam yang tak bisa disangkal: masa ketika bahkan tiga orang Paus mengaku sebagai wakil Kristus di bumi pada saat yang sama. Peristiwa ini dikenal sebagai Skisma Avignon, atau lebih tepatnya Skisma Barat (Western Schism). Latar Belakang: Paus yang Tinggalkan Roma Segalanya bermula pada awal abad ke-14. Tahun 1309, Paus Clement V memutuskan untuk tidak tinggal di Roma, tetapi menetap di kota Avignon di Prancis selatan. Di bawah bayang-bayang politik Raja Prancis, tujuh Paus berturut-turut tinggal di Avignon selama hampir 70 tahun. Masa ini disebut oleh para kritikus sebagai “Pembuangan di Babel” karena dianggap simbol kehancuran spiritual Gereja. Awal Skisma: Dua Paus Bertikai Tahun 1377, Paus Gregorius XI akhirnya kemb...

FALLACY (KESALAHAN LOGIKA)

LOGICAL FALLACY  Logical Fallacy (Kesalahan Fallacy adalah kesalahan dalam penalaran atau argumen yang tampak logis, tetapi sebenarnya tidak sah atau salah. Fallacy dapat muncul karena kesalahan dalam bentuk argumen, ketidakjelasan dalam penggunaan istilah, atau ketidaktepatan dalam membuat asumsi. Meskipun argumen yang mengandung fallacy tampak masuk akal atau meyakinkan, kesalahan dalam struktur atau substansi argumen membuatnya tidak sah. Ada dua kategori utama fallacy: formal fallacies dan informal fallacies. 1. Formal Fallacies (Kesalahan Formal) Ini adalah jenis fallacy yang terjadi ketika argumen tidak valid berdasarkan struktur atau bentuknya, terlepas dari isi proposisi yang ada. Dengan kata lain, argumen ini tidak valid karena ada kesalahan dalam pola logika yang digunakan, meskipun premis-premisnya benar. Contoh Formal Fallacy: 1. Affirming the Consequent: 1. Jika hujan, jalanan basah. (P → Q) 2. Jalanan basah. (Q) 3. Oleh karena itu, hujan. (P) Kesalahan: Ini adalah fal...

4 JENIS PENALARAN DEDUKTIF

Empat jenis penalaran deduktif beserta penjelasannya dan contohnya: 1. Modus Ponens (Penalaran Positif) Bentuk: Jika P, maka Q. P, maka Q. Penjelasan: Jika kita tahu bahwa "Jika P, maka Q" itu benar, dan kita tahu bahwa P benar, maka kita dapat menyimpulkan bahwa Q juga benar. Contoh: Premis 1: Jika hujan, maka jalanan basah. Premis 2: Hujan. Kesimpulan: Jalanan basah. 2. Modus Tollens (Penalaran Negatif) Bentuk: Jika P, maka Q. Bukan Q, maka bukan P. Penjelasan: Jika kita tahu bahwa "Jika P, maka Q" itu benar, dan kita tahu bahwa Q tidak terjadi (bukan Q), maka kita bisa menyimpulkan bahwa P juga tidak terjadi. Contoh: Premis 1: Jika saya belajar, maka saya akan lulus ujian. Premis 2: Saya tidak lulus ujian. Kesimpulan: Saya tidak belajar. 3. Silogisme Hipotetis (Silogisme Berdasarkan Hipotesis) Bentuk: Jika P, maka Q. Jika Q, maka R. Oleh karena itu, jika P, maka R. Penjelasan: Silogisme ini digunakan untuk hubungan berantai. Jika dua proposisi bersifat hipotesis ...

SIMBOL-SIMBOL DALAM LOGIKA

1. Negasi (¬) Simbol ini digunakan untuk menyatakan "tidak" atau "bukan". Negasi digunakan untuk membalikkan kebenaran suatu proposisi. Contoh: P: "Hari ini hujan." ¬P: "Hari ini tidak hujan." Jika proposisi P adalah benar, maka ¬P akan salah, dan sebaliknya. 2. Disjungsi (v) Simbol disjungsi digunakan untuk menyatakan "atau" dalam logika. Disjungsi antara dua proposisi berarti bahwa salah satu dari keduanya harus benar, bisa juga keduanya benar. Contoh: P: "Saya akan pergi ke taman." Q: "Saya akan pergi ke bioskop." P v Q: "Saya akan pergi ke taman atau saya akan pergi ke bioskop." Jika P atau Q benar, maka P v Q juga benar. Jika keduanya salah, maka P v Q salah. 3. Konjungsi (∧) Simbol ini digunakan untuk menyatakan "dan" dalam logika. Konjungsi antara dua proposisi berarti bahwa kedua proposisi tersebut harus benar agar konjungsi tersebut benar. Contoh: P: "Saya belajar matematika." Q...