Langsung ke konten utama

PROVIDENSI ALLAH BUKAN ALASAN UNTUK BERDOSA

 Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali 



"Kalau Allah telah menetapkan segala sesuatu, dan apa yang ditetapkan Allah harus dan pasti terjadi, lalu mengapa tindakan berdosa manusia harus dihakimi?"

Pertanyaan ini lahir dari kegagalan (kebingungan) dalam memahami providensi Allah. Apa itu providensi? Providensi adalah doktrin yang percaya bahwa Allah/Tuhan berdaulat penuh atas segala peristiwa yang terjadi di bawah kolong langit ini.

Dengan kata lain tidak ada satupun peristiwa dalam bentang sejarah umat manusia yang luput dari kontrol dan kedaulatan Tuhan. Dan itu mencakup peristiwa yang baik maupun buruk (kejahatan) dalam kehidupan manusia.

Sebagai landasan biblikalnya, kita akan melihat beberapa ayat di bawah ini. Misalnya tentang pemilihan orang percaya, ternyata Tuhan dalam kekekalan telah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi umat pilihan-Nya.

"Di dalam Dia kami juga mendapat bagian, yang ditentukan dari semula menurut maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya." (Efesus 1:11)

(Catatan : Agar lebih paham konteksnya, kita harus membaca nats ini dari perikopnya, dari ayat 1 dan seterusnya)

Bahkan untuk hal yang tampaknya acak sekalipun, tetap ada dalam kendali Tuhan.

"Undi dibuang di pangkuan, tetapi setiap keputusannya berasal dari TUHAN." (Amsal 16:33)

Segala keputusan dan kehendak Tuhan pasti terjadi.

"Aku telah memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian, dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, firman-Ku: Keputusanku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan." (Yesaya 46:10)

Untuk hal-hal yang dianggap kejahatan sekalipun, demi tujuan yang baik, itu juga bagian dari kehendak Tuhan Misalnya dalam kisah Yusuf. Yusuf dijual ke Mesir oleh saudara-saudaranya, tapi ternyata Tuhan menggunakan peristiwa itu untuk menyelamatkan bangsa Israel dari kelaparan.

Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. (Kejadian 50:20)

Kematian dan penyaliban Yesus ada dalam rencana Tuhan, meskipun manusia yang melakukannya tetap bertanggung jawab.

Dia [Yesus], yang diserahkan menurut maksud dan rencana Allah yang telah ditetapkan, kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka. (Kisah Para Rasul 2:23)

Sebab sesungguhnya telah berkumpul di kota ini Herodes dan Pontius Pilatus bersama bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu." (Kisah Para Rasul 4:27-28)

Jadi sampai di sini kita sepakat bahwa doktrin ini memiliki landasan secara biblikal. Lalu apa hubungan doktrin ini dengan kehidupan praktis kita sebagai orang percaya?.

Sebagai orang percaya kalau kita salah memahami doktrin ini, maka ini akan membawa kita kepada fatalisme yang buta, kita akan mencari pembenaran atas apa yang kita lakukan (dosa), lalu melempar tanggung jawab itu ke pundak Tuhan.

"Ah gak apa-apa kok aku korupsi, bukankah itu sudah ditetapkan oleh Tuhan. Gak apa-apa pijat plus-plus di kawasan Mitra Mall, kan Tuhan sudah menetapkan itu. Ah gak perlu belajar, kalau Tuhan menentukan bahwa besok aku gak lulus, aku pasti gak lulus walaupun aku rajin belajar, sebaliknya kalau Tuhan menghendaki aku lulus, aku pasti lulus meski tak pernah belajar sekalipun. Ah gak apa-apa beristri tiga, toh memang Tuhan sudah menentukan aku untuk seperti itu, Dll.

Maka agar menghindari kesalah-pahaman ini kita harus tahu dengan benar apa itu kehendak Tuhan, dan bagaimana respon kita sebagai orang percaya atas kehendak Tuhan dalam hidup kita.

Alkitab memberitahu kita bahwa ada dua aspek kehendak Tuhan (God Will).

Pertama, kehendak Tuhan yang bersifat dekretif (Decretive Will)

Ini adalah kehendak Tuhan yang menentukan segala sesuatu yang akan terjadi, tidak bisa digagalkan dan pasti terlaksana. Kita tidak tahu dengan pasti apa kehendak Tuhan ini, sampai kehendak ini terjadi dalam kehidupan kita.

Jadi patokannya adalah "jika itu sudah terjadi", maka itu pasti dekrit. Jadi kita bisa melihat ke belakang, dan kalau itu sudah terjadi, itu pasti dekrit Allah dalam hidup kita. Contoh dalam kehidupan kita adalah : jodoh, pekerjaan, kelahiran anak, dan sebagainya.

Atau kita bisa ambil contoh dalam Alkitab bahwa Tuhan menetapkan kematian Kristus (Kisah 2:23), atau Tuhan telah menetapkan segala sesuatu sejak kekekalan (Efesus 1:11). Seperti yang sudah kita bahas di atas.

Kedua, Kehendak Preseptif (Preceptive Will)

Ini adalah kehendak Tuhan yang dinyatakan lewat perintah-perintah-Nya. Hukum moral atau perintah dalam Alkitab. Kehendak ini bisa ditaati atau dilanggar. Contoh dalam 10 perintah Allah. Jangan membunuh, jangan mencuri, jangan bersaksi dusta, jangan mengingini milik sesamamu dst (Keluaran 20:1-17). kasihilah sesamamu manusia dst (Matius 22:39), menikah dengan yang seiman (2 Korintus 6:14), menghasilkan buah-buah Roh (Galatia 5:22-23) dll.

Nah kehendak inilah yang seharusnya menjadi standar atau prinsip moral kehidupan kita sebagai orang percaya. Bukan kehendak dekrit di atas. Jadi kita tidak bisa berbuat dosa seenaknya (berkubang dalam lumpur dosa) lalu berlindung dibalik tembok providensi, sembari mengucapkan kalimat pembelaan bahwa "segala sesuatu telah ditetapkan oleh Tuhan". Segala sesuatu memang telah ditetapkan oleh Tuhan, tapi Tuhan mau kita hidup dalam firman-Nya.

Lagipula jikalau kita adalah benar-benar orang percaya, Roh Kudus berdiam di dalam diri kita. Roh Kudus ini tentu tidak akan memimpin hidup kita kepada kecemaran.

Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? (1 Korintus 6:19)

Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. (Roma 8:9)

Di dalam Dia kamu juga — karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu — di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. (Efesus 1:13)

Mustahil orang yang dipimpin dalam Roh hidup dalam hawa nafsu dan kedagingan. Orang percaya tidak kebal dosa, orang percaya bisa jatuh dalam dosa, tapi jatuh dalam dosa tidak sama dengan hidup dalam dosa. Seorang percaya kakinya bisa saja terantuk pada batu lalu terperosok ke dalam lubang atau lumpur dosa, tapi dia akan berusaha keluar dari tempat itu. Dia tidak akan merasa nyaman tinggal di tempat itu, itu bukan habitatnya dia.

Ibarat ayam dan bebek, orang percaya bagaikan ayam yang kalau dilempar ke kolam, ayam itu tak nyaman tinggal disitu, dia akan berusaha untuk keluar dari kolam. Sedangkan orang non percaya mereka bagaikan bebek, yang sangat nyaman tinggal dalam empang dosa, lalu berenang kesana-kemari.

Jadi adalah salah kalau kita kemudian menggunakan doktrin providensi (Tuhan telah menetapkan) ini untuk menjustifikasi dosa-dosa kita. Maka ayat ini hendaknya menampar kita :

Galatia 6:7 (TB) Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. 


SOLIDEO GLORYA 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMBEDAH RUMUSAN TRITUNGGAL ALA ELIA MYRON

Oleh : Dionisius Daniel Dalam sebuah video dari kanal YouTube Tiga Hari. Elia Myron seorang apologet muda terlihat sedang mengajarkan doktrin Tritunggal. Namun yang menarik disini adalah, rumusan Tritunggal yang diajarkan oleh Elia Myron ini, terindikasi menyimpang dari rumusan Tritunggal yang ortodoks yang telah dipegang oleh Gereja sepanjang sejarah. Elia mendasari pengajaran Tritunggalnya dengan mengutip Ulangan 6:4, dan 1 Korintus 8:6 Ulangan 6:4 (TB) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  1 Korintus 8:6 (TB) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.  Berdasarkan dua ayat ini Elia membangun premis bahwa Allah itu pada hakikatnya adalah esa, dan Allah yang esa ini adalah sang Bapa. Mengapa Allah yang esa ini disebut Bapa? Karena menurut Elia,...

Obrolan Serius: Membongkar Kekeliruan Tritunggal yang Sering Diabaikan

Oleh : Dionisius Daniel   Kali ini saya kembali membagikan diskusi singkat saya dengan seseorang di Facebook yang diduga adalah fans atau pendukung fanatik dari Elia Myron.  Saya memang belakangan ini sedang menulis artikel mengkritisi ajaran Tritunggal Elia Myron, yang menurut saya telah menyimpang dan tanpa sadar "nyemplung" ke bidat-bidat yang sudah ditolak oleh para Bapa-Bapa Gereja kita. Seperti Sabelianisme atau Subordinasisme ala Unitarian. Sebenarnya diskusi/perdebatan ini berawal dari postingan foto Pdt Esra Soru di Facebook, tertanggal, Minggu 18/05/2025. Di foto itu tampak Pdt Esra sedang bersama Elia Myron. (fotonya saya jadikan wallpaper artikel ini) Saya lalu spontan berkomentar: "Pak Esra tolong ajari Elia Myron itu agar mengajar Tritunggal dengan benar, soalnya ajaran Tritunggal dan konsep keselamatannya telah menyesatkan banyak orang". Alhasil tak butuh waktu lama, komentar saya langsung ditanggapi oleh pengguna facebook lain yang diduga adalah fans...