Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali Sebagai seorang perantau di kota Batam saya biasa berinteraksi dengan teman-teman dari suku atau daerah lain di Indonesia, karena Batam adalah kota perantauan, kota destinasi dari para pencari kerja di seluruh Indonesia sehingga penduduk kota ini dari sisi kesukuan, ras dan etnik sangat variatif. Tak bisa dipungkiri bahwa perbedaan suku, ras dan etnik ini, memang terlihat mencolok baik itu dari bentuk fisik, dialek bicara dan kebiasaan tertentu yang berbeda antara kita dengan teman-teman dari suku lain. Dan terkadang perbedaan-perbedaan tadi itu meletup melalui ucapan-ucapan yang bisa dianggap rasis, tapi dibalut dalam bentuk candaan, ucapan seperti : "Di Flores sana panas kali ya Bro, kamu kow gosong banget? Bro kalau nyari pasangan itu, carilah yang putih agar bisa memperbaiki keturunan" dsb. Ucapan seperti ini terkadang mengalir saja dan dianggap sekedar basa-basi saja, diucapkan dengan tanpa beban. Dan saya sering mendapat ucapan seperti...
Menulis bukan sekadar membagikan gagasan, tapi untuk memastikan bahwa suara kita tidak mati bersama jasad. Menulis adalah nafas yang abadi. Meski raga kita telah diam membisu, pikiran kita tetap bisa bersuara lewat kata.