Langsung ke konten utama

MEMBEDAH RUMUSAN TRITUNGGAL ALA ELIA MYRON

Oleh : Dionisius Daniel


Dalam sebuah video dari kanal YouTube Tiga Hari. Elia Myron seorang apologet muda terlihat sedang mengajarkan doktrin Tritunggal. Namun yang menarik disini adalah, rumusan Tritunggal yang diajarkan oleh Elia Myron ini, terindikasi menyimpang dari rumusan Tritunggal yang ortodoks yang telah dipegang oleh Gereja sepanjang sejarah.

Elia mendasari pengajaran Tritunggalnya dengan mengutip Ulangan 6:4, dan 1 Korintus 8:6

Ulangan 6:4 (TB) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! 

1 Korintus 8:6 (TB) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup. 

Berdasarkan dua ayat ini Elia membangun premis bahwa Allah itu pada hakikatnya adalah esa, dan Allah yang esa ini adalah sang Bapa. Mengapa Allah yang esa ini disebut Bapa? Karena menurut Elia, Bapa lah yang menjadi sumber segala sesuatu yang ada. Selain itu Ia bersifat transenden, dan melampaui ruang dan waktu.

Sang Bapa ini di dalam diri-Nya, Ia memiliki Firman (Logos/Yesus), dan melalui Logos itulah Ia menjadikan segala sesuatu. (Yoh 1:3, Kejadian 1, Dst.)

Firman atau Logos ini adalah kecerdasan atau pikiran Bapa sendiri, selain memiliki Firman, Bapa juga memiliki Roh, Roh ini yang memberi hidup. Dan Roh ini adalah Roh Kudus. Jadi Allah yang esa ini memiliki Firman dan Roh. Jadi Bapa, Firman, dan Roh-Nya sendiri itulah Tritunggal.

Firman ini kemudian disebut Anak, Firman disebut Anak karena sejak kekal Ia selalu ada di dalam Bapa, ketika Firman ini keluar dari Bapa seolah-olah diperanakan maka disebut Anak Allah. Jadi Bapa, Anak (Firman-Nya sendiri) dan Roh (Roh-Nya sendiri) itulah Tritunggal itu.

Jadi ada Bapa, ada Anak, dan ada Roh Kudus, jadi berapa Allah? Tetap satu Allah sesuai dengan Ulangan 6:4 dan 1 Kor 8:6 tadi. 

Kalau Bapa adalah Allah, maka Firman yang di dalam Bapa dan Roh di dalam Bapa harus dan pasti adalah Allah. Tapi bukan tiga Allah melainkan hanya satu Allah.

Ilustrasinya: Sama seperti seorang manusia yang punya satu tubuh, pikiran dan Roh. Tidak bisa kita katakan tiga orang tetap satu orang, karena tubuh orang itu adalah orang itu, demikian juga pikiran dan rohnya.

Elia kembali memberikan penekanan bahwa bagaimanapun Allah memang harus Tritunggal, karena Allah yang hidup itu harus Tritunggal. Sebab Ia harus mencipta dengan Firman-Nya dan Ia harus menghidupi dengan Roh-Nya yang hidup, dan itu hanya ditemukan dalam kekristenan melalui istilah Tritunggal itu.

Lalu bagaimana dengan Yesus? Menurut Elia Yesus adalah Firman Allah yang berinkarnasi menjadi manusia. Yesus telah ada sejak kekekalan bersama dengan Allah karena Yesus adalah Firman Allah.

Jadi saat kita menyembah Yesus kita sebenarnya sedang menyembah Allah itu sendiri, saat kita menyembah Roh Kudus, kita juga sedang menyembah Allah itu sendiri karena Roh Kudus adalah Roh Allah.

Kita mengenali Allah itu melalui Firman-Nya, kita juga mengenali Allah melalui Roh-Nya. Jadi Allah Tritunggal itu berbicara tentang pernyataan Allah itu sendiri yakni Sang Bapa menyatakan diri-Nya melalui Firman-Nya dan melalui Roh-Nya yang hidup.

SEJARAH DAN RUMUSAN TRITUNGGAL YANG BENAR 

Jika kita ingin mendapatkan rumusan Tritunggal yang benar maka rujukan kita harus kembali ke abad ke 4. Ada dua konsili besar saat itu, yaitu konsili Nicea tahun 325 dan Konsili Konstantinopel tahun 381.

Dua Konsili ini diadakan dengan tujuan untuk membangun suatu rumusan yang kokoh tentang Tritunggal, sebagai respon terhadap munculnya bidat-bidat yang secara spesifik menyerang doktrin Tritunggal dan Kristologi pada saat itu. 

Konsili Nicea tahun 325 diadakan untuk merespon ajaran dari Arius (Arianisme) yang menolak keilahian Yesus dan menganggap bahwa Yesus tidak setara dengan Bapa.

Arius mengajarkan suatu teori yang disebut Subordinasisme, yaitu ada tingkatkan atau perbedaan hierarki secara ontologis dari ketiga pribadi. Bapa dianggap lebih besar dari anak, lalu Anak lebih besar dari Roh Kudus (mirip ajaran Erastus Sabdono). Jadi ada perbedaan derajat keilahian antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Pandangan ini jelas merendahkan kepenuhan ilahi dari pribadi Anak dan Roh Kudus.

Sedangkan Konsili Konstantinopel 381, melengkapi rumusan dari Konsili Nicea 325 tadi. Latar belakangnya saat itu adalah ternyata bidat Arianisme ini belum mati, bahkan boleh dibilang bahwa sampai saat ini bidat ini belum mati, mereka bertahan dan berkamuflase dengan jubah yang baru, yang dewasa ini disebut Saksi Yehuwa yang juga dianut oleh Erastus Sabdono.

Lalu kemudian muncul bidat yang baru yang dikenal dengan nama Pneumatomachian. Bidat ini menentang dan menolak doktrin Roh Kudus. Bagi kelompok Pneumatomachian (artinya: para penentang Roh) Roh Kudus itu bukan Allah, tapi ciptaan atau sekadar kekuatan Allah. Jadi merendahkan keilahian dari pribadi Roh Kudus.

Nah tujuan dari Konsili 381 yaitu menegaskan kembali keilahian pribadi Roh Kudus, bahwa Dia adalah pribadi ilahi, bukan makhluk ciptaan.

Jika Konsili 325 berfokus pada keilahian Kristus, maka Konsili 381 melengkapi dengan keilahian Roh Kudus dan menyusun "Nicean Creed versi lengkap", yang kemudian disebut "Kredo Nicea-Konstantinopel."

Maka konsili ini menegaskan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah satu dalam esensi, dan tiga dalam pribadi ilahi. Berikut ringkasan dari Kredo Nicea-Konstantinopel:

"Kami percaya kepada :

1. Satu Allah, Bapa yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi.

2. Satu Tuhan Yesus Kristus, Anak Allah yang tunggal, diperanakkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa, yang menjadi manusia, disalibkan, bangkit, naik ke surga, dan akan datang kembali.

3. Roh Kudus, Tuhan yang menghidupkan, yang keluar dari Bapa (dan Anak), disembah dan dimuliakan bersama Bapa dan Anak.

4. Satu Gereja yang kudus, am, dan apostolik.

5. Satu baptisan untuk pengampunan dosa.

6. Kebangkitan orang mati dan hidup yang kekal. Amin."

DASAR ALKITAB UNTUK DOKTRIN TRITUNGGAL 

Kendatipun secara historis kita memiliki landasan untuk percaya bahwa doktrin Allah Tritunggal ini dirumuskan dan diakui oleh bapa-bapa gereja, tapi dasar kepercayaan kita tidak berdiri di atas tradisi bapa-bapa gereja melainkan di atas Alkitab (Sola Scriptura).

Apakah ada dasar ayat eksplisit Tritunggal dalam Alkitab? Jawabannya: Tidak ada. Tapi tidak ada ayat secara eksplisit itu tidak berarti bahwa konsep/ajarannya juga tidak ada. Kita percaya bahwa wahyu Allah itu bersifat progresif, berkembang dari yang masih kelihatan samar sampai terang benderang. Maksudnya apa? Dalam PL kita memang melihat bahwa disamping ada ayat-ayat menyatakan dengan tegas bahwa Allah itu esa misalnya dalam Ulangan 6:4 dan 1 Korintus 8:7 yang dikutip Elia Myron di atas.

Secara samar kita juga melihat bahwa ada indikasi semacam ada kejamakan-kejamakan tertentu dalam pribadi Allah. Misalnya dalam:

Kejadian 1:26 (TB) Berfirmanlah Allah: 'Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita...

Kejadian 3:22 (TB) "Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat."

Kejadian 11:7 (TB) "Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan bahasa mereka..."

Yesaya 6:8 (TB) "Siapakah yang akan Ku utus, dan siapakah yang mau pergi untuk Kami?"

Penggunaan kata "kita" dan "kami" dalam bentuk jamak menunjukkan secara samar kepada kita bahwa ada kejamakan pribadi dalam Allah Tritunggal.

Yesaya 48:16 (TB) Dan sekarang Tuhan ALLAH mengutus Aku dan Roh-Nya."

Di sini gambaran tentang tiga pribadi mulai lebih terang. Sebab dikatakan ada: Tuhan (Bapa), Aku (Firman/Mesias), dan Roh-Nya (Roh Kudus).

Mazmur 110:1 (TB) Tuhan berfirman kepada Tuanku: 'Duduklah di sebelah kanan-Ku...'"

Di sini Bapa berkata kepada Anak, jadi ada dua pribadi yang sedang berbicara. Ini dikutip lagi oleh Yesus di Matius 22:44.

Memasuki PB gambaran itu semakin terang, ada tiga pribadi hadir sekaligus dalam satu moment.

Matius 3:16–17 (TB) Yesus dibaptis, Roh Kudus turun seperti burung merpati, dan suara Bapa dari langit berkata: "Inilah Anak-Ku..."

Formula baptisan dalam perintah amanat agung menggunakan penyebutan nama tiga pribadi secara sejajar.

Matius 28:19 (TB) Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus."

Penyebutan sejajar ketiga pribadi muncul kembali dalam formula doa berkat.

2 Korintus 13:14 (TB) "Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus..."

Sang Firman (Yesus) adalah Allah, tapi juga bersama Allah.

Yohanes 1:1, 14 (TB) Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah... Firman itu telah menjadi manusia.

Yohanes 14–16 (pengajaran Yesus)

Bapa mengutus Anak, Anak meminta Bapa mengutus Roh, Roh akan datang dan memuliakan Anak.

1 Petrus 1:2 "Menurut pengetahuan Allah Bapa, oleh pengudusan Roh, untuk taat kepada Yesus Kristus..."

Efesus 4:4–6 "Satu Roh... satu Tuhan... satu Allah dan Bapa dari semua..."

Jadi PL menunjukkan kejamakan pribadi dalam keesaan Allah secara tersirat. Sedangkan PB menyatakan secara jelas dan eksplisit bahwa Allah itu Tritunggal: Bapa, Anak, dan Roh Kudus, satu hakikat, tiga pribadi.

KRITIK TERHADAP PANDANGAN ELIA MYRON

Nah sekarang kita masuk ke kritikan terhadap pandangan Elia Myron. 

Pertama, Tritunggal versi Elia Myron ini terlalu menekankan monarki Bapa, sampai-sampai dia mengabaikan kepenuhan ilahi dari masing-masing pribadi. Di dalam videonya Elia berkali-kali berkata bahwa: "Allah yang esa itu adalah sang Bapa yang memiliki Firman dan Roh. Dan melalui Firman itu Allah menciptakan dunia dan segala isinya, melalui Roh-Nya Allah menghidupi."

Hal ini diperkuat dengan analogi gambar lingkaran. Allah Bapa ibarat lingkaran besar, lalu dalam lingkaran itu ada Firman dan ada Roh Kudus. Disini Elia jelas mereduksi dan mengerdilkan keilahian Sang Logos dan Roh Kudus. Jadi seolah-olah Firman/Logos dan Roh Kudus disini hanya menjadi the part of Father. Hanya bagian dari Bapa, bukan Allah sepenuhnya.

Ini bertentangan dengan terang kitab suci menyatakan kepada kita bahwa Sang Anak dan Roh Kudus adalah sepenuh-penuhnya Allah, Allah dalam pengertian setinggi-tinggi. (Yoh 1:1;14 dan Kisah 5:35). Pandangan Elia ini sesat. Ini malah memperkuat tesis bagi para penganut Unitarian atau Oneness Pentacostalism.

Kedua, Elia berkata: " Firman atau Logos ini adalah kecerdasan atau pikiran Bapa sendiri." Firman atau Logos bukan sekedar pikiran, melainkan adalah pribadi kedua dari Allah Tritunggal. Pikiran itu bukan pribadi, pikiran hanyalah sesuatu yang abstrak.

Elia juga menggunakan ilustrasi dirinya. Bahwa Tritunggal sama seperti dirinya yang adalah seorang manusia yang memiliki pikiran dan roh. Apakah ada tiga Elia Myron? tentu tidak! Elia Myron tetap hanya satu orang.

Lagi-lagi analogi ini tidak membantu posisi Elia sama sekali. Pikiran dan Roh bukanlah satu kesatuan pribadi. Pikiran dan roh hanya suatu unsur dari seseorang. Sedangkan Bapa, Anak dan Roh Kudus ke-tiganya adalah masing-masing pribadi yang sepenuhnya illahi.

Ketiga, Elia juga berkata bahwa: " Allah yang esa ini, yang adalah sang Bapa ini memiliki Firman dan Roh Kudus di dalam diri-Nya itulah yang kita sebut dengan Tritunggal. Lah konsekuensi logisnya berarti Tritunggal adalah gabungan dari Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus yang diblender jadi satu. Ini yang disebut dengan pandangan sesat Partialisme atau Komposisionalisme.

Keempat, Elia berkata: "Firman ini kemudian disebut Anak, Firman disebut Anak karena sejak kekal Ia selalu ada di dalam Bapa, ketika Firman ini keluar dari Bapa seolah-olah diperanakan maka disebut Anak Allah. Inilah yang kita kenal dengan pribadi Yesus Kristus setelah inkarnasi." Pertanyaan bagi Elia adalah, apakah sebelum Inkarnasi Yesus bukan pribadi?.

Jadi ke-empat poin pandangan Elia Myron tentang Tritunggal ini jelas-jelas menyesatkan. Ini bukan hanya sekedar salah tapi sesat, karena ini menyangkut doktrin yang primer atau fundamental dalam iman Kristen.

KESIMPULAN

Dari seluruh penjabaran di atas, kita bisa melihat bahwa ajaran Elia Myron tentang Tritunggal, meskipun memakai istilah-istilah yang terdengar ortodoks, sesungguhnya mengarah pada suatu bentuk modalisme terselubung, atau paling tidak semacam Trinitas fungsional yang mengaburkan perbedaan pribadi antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Atau malah menjurus ke Subordinasisme yang merendahkan keilahian Anak dan Roh Kudus.

Penggunaan ilustrasi manusia yang memiliki tubuh, pikiran, dan roh untuk menjelaskan Allah Tritunggal adalah analogi yang sudah berkali-kali dikritik oleh teolog-teolog ortodoks karena cenderung jatuh pada kesalahan modalistik, di mana ketiga pribadi ilahi hanya dianggap sebagai tiga "peran" atau "aspek" dari satu pribadi ilahi, bukan sebagai tiga pribadi yang benar-benar berbeda namun sehakikat.

Rumusan Tritunggal yang benar bukanlah satu pribadi dengan tiga fungsi, tetapi satu esensi ilahi dalam tiga pribadi ilahi yang berbeda: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Ketiganya bukan tiga bagian dari Allah, bukan tiga wujud Allah, bukan pula sekadar cara Allah menyatakan diri, melainkan benar-benar tiga pribadi ilahi yang setara, sehakikat, dan kekal.

Dengan demikian, ajaran Elia Myron perlu dikritisi secara teologis agar tidak menyesatkan umat dengan pemahaman yang menyimpang dari pengakuan iman Kristen yang alkitabiah dan historis. Gereja perlu kembali kepada pengakuan iman yang telah diuji oleh sejarah dan dipertahankan dengan darah oleh para martir dan bapa-bapa Gereja. Sebuah pengakuan iman yang tetap relevan dan tidak berubah hingga hari ini: bahwa Allah itu satu dalam esensi, tiga dalam pribadi—Tritunggal Mahakudus.

SOLIDEO GLORYA 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROVIDENSI ALLAH BUKAN ALASAN UNTUK BERDOSA

  Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   "Kalau Allah telah menetapkan segala sesuatu, dan apa yang ditetapkan Allah harus dan pasti terjadi, lalu mengapa tindakan berdosa manusia harus dihakimi?" Pertanyaan ini lahir dari kegagalan (kebingungan) dalam memahami providensi Allah. Apa itu providensi? Providensi adalah doktrin yang percaya bahwa Allah/Tuhan berdaulat penuh atas segala peristiwa yang terjadi di bawah kolong langit ini. Dengan kata lain tidak ada satupun peristiwa dalam bentang sejarah umat manusia yang luput dari kontrol dan kedaulatan Tuhan. Dan itu mencakup peristiwa yang baik maupun buruk (kejahatan) dalam kehidupan manusia. Sebagai landasan biblikalnya, kita akan melihat beberapa ayat di bawah ini. Misalnya tentang pemilihan orang percaya, ternyata Tuhan dalam kekekalan telah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi umat pilihan-Nya. "Di dalam Dia kami juga mendapat bagian, yang ditentukan dari semula menurut maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu ...

Obrolan Serius: Membongkar Kekeliruan Tritunggal yang Sering Diabaikan

Oleh : Dionisius Daniel   Kali ini saya kembali membagikan diskusi singkat saya dengan seseorang di Facebook yang diduga adalah fans atau pendukung fanatik dari Elia Myron.  Saya memang belakangan ini sedang menulis artikel mengkritisi ajaran Tritunggal Elia Myron, yang menurut saya telah menyimpang dan tanpa sadar "nyemplung" ke bidat-bidat yang sudah ditolak oleh para Bapa-Bapa Gereja kita. Seperti Sabelianisme atau Subordinasisme ala Unitarian. Sebenarnya diskusi/perdebatan ini berawal dari postingan foto Pdt Esra Soru di Facebook, tertanggal, Minggu 18/05/2025. Di foto itu tampak Pdt Esra sedang bersama Elia Myron. (fotonya saya jadikan wallpaper artikel ini) Saya lalu spontan berkomentar: "Pak Esra tolong ajari Elia Myron itu agar mengajar Tritunggal dengan benar, soalnya ajaran Tritunggal dan konsep keselamatannya telah menyesatkan banyak orang". Alhasil tak butuh waktu lama, komentar saya langsung ditanggapi oleh pengguna facebook lain yang diduga adalah fans...