Langsung ke konten utama

Obrolan Serius: Membongkar Kekeliruan Tritunggal yang Sering Diabaikan

Oleh : Dionisius Daniel 

Kali ini saya kembali membagikan diskusi singkat saya dengan seseorang di Facebook yang diduga adalah fans atau pendukung fanatik dari Elia Myron. Saya memang belakangan ini sedang menulis artikel mengkritisi ajaran Tritunggal Elia Myron, yang menurut saya telah menyimpang dan tanpa sadar "nyemplung" ke bidat-bidat yang sudah ditolak oleh para Bapa-Bapa Gereja kita. Seperti Sabelianisme atau Subordinasisme ala Unitarian.

Sebenarnya diskusi/perdebatan ini berawal dari postingan foto Pdt Esra Soru di Facebook, tertanggal, Minggu 18/05/2025. Di foto itu tampak Pdt Esra sedang bersama Elia Myron. (fotonya saya jadikan wallpaper artikel ini) Saya lalu spontan berkomentar:

"Pak Esra tolong ajari Elia Myron itu agar mengajar Tritunggal dengan benar, soalnya ajaran Tritunggal dan konsep keselamatannya telah menyesatkan banyak orang".

Alhasil tak butuh waktu lama, komentar saya langsung ditanggapi oleh pengguna facebook lain yang diduga adalah fans dari Elia Myron. Ada yang kritik tanpa argumentasi, ada yang bully, (dan saya abaikan, tak akan saya kutip disini karena tidak penting) tapi ada seseorang dengan nama akun Jhenny Mintjelungan, dia menanggapi saya sambil memberikan pandangannya tentang Tritunggal. Dan saya kira diskusi kami menarik, jadi saya memutuskan untuk copas ke sini, agar kita bisa belajar bersama dari diskusi kami berdua.

Dionisius Daniel : Pak Esra ajar Elia itu agar dia bisa mengajarkan Tritunggal yang benar. Karena doktrin Tritunggal dan konsep keselamatan yang dia ajarkan telah menyesatkan banyak orang.

Jhenny Mintjelungan : Saya pernah lihat dia, Pdt Esra dan Pdt Stephen Tong menjelaskan tentang Tritunggal dan mereka sama. Mungkin konsep Tritunggal anda berbeda atau anda salah memahami.

Dionisius Daniel : Penjelasan Tritunggal Pdt Esra dan Pak Tong tidak sama dengan Tritunggal versi Elia. Saya menduga anda kurang jeli melihat (menonton) penjelasan mereka.

Jhenny Mintjelungan : Yang saya simpulkan dari mereka bertiga adalah: Bapa, Anak, dan Roh Kudus tidak sama. Mereka bisa bekerja sendiri-sendiri, memiliki wujud sendiri-sendiri akan tetapi mereka tidak bisa dipisahkan sebagai Allah. 

Bapa bisa disebut Allah karena Dia bersama Firman dan Roh Kudus. Dan begitu pula sebaliknya, Firman disebut Allah karena Dia bersama Bapa dan Roh Kudus. Makanya dikatakan 1 hakikat dan 3 pribadi.

Dionisius Daniel : Pemahaman atau penjelasan Tritunggal anda ini kurang tepat. Aku coba luruskan. 

Pertama, Bapa, Anak, dan Roh Kudus tidak sama? Iya, tapi tidak sama dalam hal apa? Apakah tidak sama secara substansi atau natur atau tidak sama secara pribadi?. Kalau tidak sama secara substansi, maka itu SALAH. Tapi kalau tidak sama secara pribadi maka itu BENAR, sebab Bapa bukan Anak, Anak bukan Roh Kudus, demikian juga sebaliknya. 

Kedua, kamu bilang mereka bisa bekerja sendiri-sendiri, memiliki wujud sendiri-sendiri tapi mereka tidak bisa dipisahkan sebagai Allah. Pandangan bahwa Allah Tritunggal bekerja sendiri-sendiri itu kurang tepat. Sebab Alkitab mengajarkan kesatuan dalam kehendak dan karya. 

Dalam penciptaan, Bapa menciptakan melalui Firman dan Roh. (Kejadian 1:1-2; Yohanes 1:1-3). Dalam penebusan, Bapa mengutus, Anak menebus, dan Roh Kudus menerapkan penebusan itu ke dalam hati umat. Ini yang dikenal sebagai inseperable operations.

Ketiga, Bapa disebut Allah karena Dia bersama Firman dan Roh Kudus. Demikian sebaliknya Firman disebut Allah karena bersama Bapa dan Roh Kudus. Maka dikatakan 1 hakikat dan 3 pribadi.

Nah poin ini yang paling blunder. Ini mengindikasikan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus saling membutuhkan dan saling melengkapi baru bisa menjadi Allah. 

Ini SALAH atau SESAT! Bapa tidak butuh Anak baru bisa jadi Allah. Anak tidak butuh Bapa baru bisa jadi Allah, demikian juga Roh Kudus tidak butuh Bapa dan Anak baru bisa jadi Allah. Mereka bukan ⅓ Allah. Bukan seperti rokok yang butuh kapas, butuh tembakau, dan butuh filter baru bisa jadi rokok. 

Tritunggal disebut sebagai 1 hakikat dan 3 pribadi itu karena natur atau esensi atau substansi atau ousia mereka sama, tapi pribadi-Nya berbeda.  Sama seperti kamu dan aku, natur kita sama, sama-sama manusia tapi pribadi kita berbeda.

Sedikit catatan tambahan, meskipun natur mereka sama, natur mereka tidak terpisah. Ini berbeda dengan kita sebagai manusia. Kita sebagai manusia natur kita sama tapi kita terpisah. Kemanusiaan saya terpisah dengan kemanusiaan kamu meskipun kita sama-sama manusia. Allah Tritunggal itu adalah 3 pribadi yang berbeda dengan 1 natur yang sama, tapi natur mereka tidak terpisah.

Jhenny Mintjelungan : Penjelasan anda ini mengartikan ada tiga Allah dan tiga pribadi Allah.

Dionisius Daniel : 3 pribadi Allah bukan 3 Allah. 3 Allah darimana?

Jhenny Mintjelungan : Salahnya adalah anda bilang Allah tanpa Firman dan tanpa Roh tetap Allah. Akan tetapi sejak awal cerita Alkitab. Allah tidak pernah ditulis sendiri. Allah adalah Bapa yang merupakan satu kesatuan bersama Firman dan Roh. Ketiganya adalah satu Allah hanya pribadi-Nya yang berbeda.

Dionisius Daniel : Iya satu kesatuan itu terletak pada hakikat. Karena hakikat-Nya satu maka kita sebut satu Allah.  Bukan tiga Allah. 

Lalu Allah Bapa tanpa Anak dan Roh Kudus tetap Allah, memang seperti itu kesaksian Alkitab. Kalau Allah Bapa, harus butuh Anak dan Roh Kudus baru bisa jadi Allah maka itu ⅓ Allah. Itu triteisme bukan monoteisme.

Jhenny Mintjelungan : Justru yang anda jelaskan itulah Triteisme. Kesaksian Alkitab mana yang mendukung anda bahwa Allah Bapa tanpa Firman dan Roh tetap Allah?

Justru dari sekian banyak ayat Alkitab memberi kesimpulan bahwa Bapa, Firman, dan Roh bersama-sama sejak kekekalan dan mereka disebut Allah. Memang benar Bapa tidak butuh Anak dan Roh untuk bisa disebut Allah karena itu tidak ada dalam teks Alkitab. Mereka memang sudah ada sejak kekekalan bersama-sama dan tidak bisa dipisahkan. 

Dionisius Daniel : Oke ini tanggapan terakhir. Artinya setelah ini saya tak akan tanggapi lagi, terserah kamu mau setuju atau tidak dengan pandangan saya. Kalau penjelasan saya kurang meyakinkan saya sarankan untuk ikuti/tonton khotbah/pengajaran Pdt. Esra Soru atau Pak Stephen Tong. Jangan ikuti pengajaran Elia Myron ini.

Penjelasan kamu tanpa sadar mengajarkan pandangan sesat yang namanya Komposisionalisme Ilahi atau Partialisme. Pandangan ini mereduksi atau merendahkan keilahian masing-masing pribadi. Kamu menekankan kesatuan sampai-sampai kamu lupa bahwa ketiganya ini adalah masih-masing pribadi yang berbeda yang sepenuhnya illahi.

Setiap pribadi sepenuhnya Allah bukan sebagian Allah, bukan ⅓ Allah. Tapi bukan tiga Allah kita tetap percaya satu Allah. Bapa bukan ⅓ Allah, Anak bukan ⅓ Allah, dan Roh Kudus bukan ⅓ Allah. Ketiganya berbagi satu esensi bukan membentuk satu esensi kalau digabung.

Ini seperti pengakuan dalam Konsili Nicea (325 M) :

"The Father is God, The Son is God, and The Holy Spirit is God, but there is not three Gods but one God."

Lalu tentang pertanyaan anda kesaksian Alkitab mana yang mendukung pandangan saya bahwa Allah Bapa tanpa Anak dan Roh Kudus adalah Allah seutuhnya?

Pertanyaan ini menyesatkan karena mengasumsikan bahwa saya percaya Bapa eksis tanpa Anak dan Roh Kudus. Padahal tidak, yang saya katakan adalah Bapa adalah Allah sepenuhnya bukan sebagian begitu juga dengan Anak dan Roh Kudus.

Nah sekarang ini contoh-contoh ayat yang kamu minta :

Bapa disebut Allah sepenuhnya :

(Yohanes 6:27) "...Bapa, yaitu Allah telah memeteraikan Dia'

Anak disebut Allah sepenuhnya :

(Yohanes 1:1) "...Firman itu adalah Allah..." (Ibrani 1:8) "... Tahta mu, ya Allah, tetap untuk selamanya..."

Roh Kudus disebut Allah sepenuhnya :

(Kisah Para Rasul 5:34) "...Engkau mendustai Roh Kudus bukan kepada manusia tetapi kepada Allah..."

Ini menunjukkan ketiga pribadi disebut Allah secara penuh dan sejajar bukan bagian yang membentuk satu kesatuan.

Jhenny Mintjelungan : Dengar ya, saya tidak bilang ⅓ Allah. Yang saya bilang sejak Kejadian sampai Wahyu Allah digambarkan sebagai Bapa, Firman, dan Roh Kudus bersama-sama sebagai Allah. Ketiganya sepenuhnya Allah, bukan ⅓ Allah atau membentuk satu esensi Allah.

Dionisius Daniel : Oke saya tambahkan satu komentar lagi. Pengakuan kamu memang seperti itu bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah Allah sepenuhnya. Tapi di komentar sebelumnya kamu bilang bahwa :

"Bapa, Anak, dan Roh Kudus tidak dapat dipisah. Bapa bisa disebut Allah karena Dia bersama Anak dan Roh Kudus."

Nah ini artinya secara tidak langsung kamu menolak kepenuhan ilahi masing-masing pribadi. (Entah kamu sadar itu atau tidak)  Kesimpulan logisnya adalah Bapa bukan Allah sepenuhnya tanpa Anak dan Roh Kudus. Makanya saya tunjukan data-data Alkitab bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah Allah sepenuhnya.

Saya juga tidak menolak bahwa ketiga pribadi ini meski dapat dibedakan tapi tidak bisa dipisahkan dan ketiganya sepenuhnya Allah. Masing-masing pribadi itu adalah Allah meskipun kita tidak percaya tiga Allah ini sesuai dengan rumusan konsili Nicea tahun 325 seperti yang saya kutip di atas.

Ini penjelasan kamu ya bahwa Bapa bisa disebut Allah karena Dia bersama Anak dan Roh Kudus. Itu artinya secara tidak langsung kamu menolak kepenuhan ke-Allahan masing-masing pribadi. Seolah-olah bahwa untuk jadi Allah sepenuhnya Bapa harus butuh Anak atau Roh Kudus. Makanya saya tunjukan ayat Alkitab bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus masih-masing tiga pribadi itu adalah sepenuhnya Allah meskipun kita menolak tiga Allah. Sesuai dengan rumusan konsili Nicea di atas.


Dan ini komentar saya yang terakhir. Setelah ini saya tak akan berkomentar lagi. Saran saya nonton Video Pdt Esra Soru yang berjudul "Seminar Allah Tritunggal" itu ada beberapa seri, kalau tidak salah ada seri 1 sampai 3. Lalu bandingkan dengan penjelasan saya ini, sama atau tidak. 

Terakhir saya ijin untuk copas percakapan kita ini, untuk saya post di blog saya sebagai artikel.

TERIMA KASIH 


KESIMPULAN 

Diskusi ini menunjukkan pentingnya memahami doktrin Tritunggal secara tepat dan hati-hati. Banyak kesalahan teologis berawal dari niat baik tetapi konsep yang rancu. Seperti yang telah ditekankan dalam konsili Nicea dan berbagai kredo historis:

“The Father is God, the Son is God, and the Holy Spirit is God, yet there are not three Gods but one God.”

Masing-masing pribadi adalah Allah sepenuhnya, bukan bagian dari Allah. Mereka tidak membentuk Allah jika digabung, tapi berbagi satu esensi secara kekal dan sempurna.

Saya mendorong pembaca untuk terus mempelajari doktrin Tritunggal melalui sumber-sumber yang tepercaya dan ortodoks, seperti pengajaran dari Pdt. Esra Soru atau Pdt. Stephen Tong, dan menjauhi penafsiran spekulatif yang menyimpang dari iman Kristen sejati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROVIDENSI ALLAH BUKAN ALASAN UNTUK BERDOSA

  Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   "Kalau Allah telah menetapkan segala sesuatu, dan apa yang ditetapkan Allah harus dan pasti terjadi, lalu mengapa tindakan berdosa manusia harus dihakimi?" Pertanyaan ini lahir dari kegagalan (kebingungan) dalam memahami providensi Allah. Apa itu providensi? Providensi adalah doktrin yang percaya bahwa Allah/Tuhan berdaulat penuh atas segala peristiwa yang terjadi di bawah kolong langit ini. Dengan kata lain tidak ada satupun peristiwa dalam bentang sejarah umat manusia yang luput dari kontrol dan kedaulatan Tuhan. Dan itu mencakup peristiwa yang baik maupun buruk (kejahatan) dalam kehidupan manusia. Sebagai landasan biblikalnya, kita akan melihat beberapa ayat di bawah ini. Misalnya tentang pemilihan orang percaya, ternyata Tuhan dalam kekekalan telah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi umat pilihan-Nya. "Di dalam Dia kami juga mendapat bagian, yang ditentukan dari semula menurut maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu ...

MEMBEDAH RUMUSAN TRITUNGGAL ALA ELIA MYRON

Oleh : Dionisius Daniel Dalam sebuah video dari kanal YouTube Tiga Hari. Elia Myron seorang apologet muda terlihat sedang mengajarkan doktrin Tritunggal. Namun yang menarik disini adalah, rumusan Tritunggal yang diajarkan oleh Elia Myron ini, terindikasi menyimpang dari rumusan Tritunggal yang ortodoks yang telah dipegang oleh Gereja sepanjang sejarah. Elia mendasari pengajaran Tritunggalnya dengan mengutip Ulangan 6:4, dan 1 Korintus 8:6 Ulangan 6:4 (TB) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  1 Korintus 8:6 (TB) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.  Berdasarkan dua ayat ini Elia membangun premis bahwa Allah itu pada hakikatnya adalah esa, dan Allah yang esa ini adalah sang Bapa. Mengapa Allah yang esa ini disebut Bapa? Karena menurut Elia,...