LOGICAL FALLACY
Logical Fallacy (Kesalahan Fallacy adalah kesalahan dalam penalaran atau argumen yang tampak logis, tetapi sebenarnya tidak sah atau salah. Fallacy dapat muncul karena kesalahan dalam bentuk argumen, ketidakjelasan dalam penggunaan istilah, atau ketidaktepatan dalam membuat asumsi. Meskipun argumen yang mengandung fallacy tampak masuk akal atau meyakinkan, kesalahan dalam struktur atau substansi argumen membuatnya tidak sah.
Ada dua kategori utama fallacy: formal fallacies dan informal fallacies.
1. Formal Fallacies (Kesalahan Formal)
Ini adalah jenis fallacy yang terjadi ketika argumen tidak valid berdasarkan struktur atau bentuknya, terlepas dari isi proposisi yang ada. Dengan kata lain, argumen ini tidak valid karena ada kesalahan dalam pola logika yang digunakan, meskipun premis-premisnya benar.
Contoh Formal Fallacy:
1. Affirming the Consequent:
1. Jika hujan, jalanan basah. (P → Q)
2. Jalanan basah. (Q)
3. Oleh karena itu, hujan. (P)
Kesalahan: Ini adalah fallacy karena meskipun jalanan basah, bisa saja ada sebab lain, seperti seseorang menyiram jalanan. Struktur ini salah karena mengasumsikan hubungan sebab-akibat yang tidak terbukti.
2. Informal Fallacies (Kesalahan Informal)
Kesalahan jenis ini terjadi karena argumen mengandung asumsi yang salah, ketidakjelasan dalam premis, atau mengandalkan alasan yang tidak relevan atau tidak logis. Ini lebih berkaitan dengan isi atau materi argumen, daripada bentuk logikanya.
Beberapa jenis informal fallacies yang umum ditemui adalah:
1. Ad Hominem (Serangan Pribadi)
Kesalahan ini terjadi ketika seseorang menyerang karakter atau sifat pribadi lawan bicaranya, bukan menjawab argumen yang diajukan.
Contoh Ad Hominem:
"Apa yang kamu katakan tentang perubahan iklim tidak relevan karena kamu bukan seorang ilmuwan."
Kesalahan: Ini adalah serangan terhadap karakter orang, bukan tanggapan terhadap argumennya.
2. Straw Man (Membangun Manusia Jerami)
Kesalahan ini terjadi ketika seseorang mengubah atau menyederhanakan argumen lawan menjadi versi yang lebih mudah diserang atau dipatahkan.
Contoh Straw Man:
"Kamu ingin menaikkan pajak? Jadi, kamu ingin agar pemerintah mengambil semua uang kita dan membiarkan ekonomi hancur!"
Kesalahan: Ini menyederhanakan dan mengubah posisi asli lawan untuk membuatnya lebih mudah diserang.
3. Appeal to Authority (Mengandalkan Otoritas)
Kesalahan ini terjadi ketika seseorang menerima kebenaran suatu klaim hanya karena seseorang yang dianggap berotoritas mengatakannya, tanpa bukti yang kuat atau argumen yang mendalam.
Contoh Appeal to Authority:
"Dokter X mengatakan bahwa vaksin ini berbahaya, jadi kita harus percaya padanya."
Kesalahan: Hanya mengandalkan otoritas tanpa melihat bukti atau penelitian yang mendalam.
4. False Dilemma (Dilema Palsu)
Kesalahan ini terjadi ketika hanya dua pilihan ekstrem yang diajukan, padahal mungkin ada lebih banyak pilihan atau alternatif.
Contoh False Dilemma:
"Kamu mendukung kebijakan A atau kamu tidak peduli dengan keselamatan negara."
Kesalahan: Ini mengabaikan kemungkinan lain yang bisa saja menjadi solusi yang lebih baik.
5. Begging the Question (Meminta Pertanyaan)
Kesalahan ini terjadi ketika argumen mengambil premis yang sama dengan kesimpulan yang ingin dibuktikan, sehingga tidak ada penalaran atau bukti yang diajukan.
Contoh Begging the Question:
"Saya tahu bahwa Tuhan itu ada karena Alkitab mengatakan begitu, dan Alkitab adalah firman Tuhan."
Kesalahan: Ini hanya mengulangi klaim tanpa memberikan bukti atau argumen independen.
3. Pentingnya Mendeteksi Fallacy
Mengetahui berbagai jenis fallacy sangat penting dalam membangun argumen yang valid dan memeriksa argumen yang disampaikan orang lain. Dengan mengenali fallacy, kita bisa lebih mudah memahami kekurangan dalam suatu argumen dan menghindari kesalahan berpikir.
Fallacy sering digunakan dalam retorika dan debat untuk memanipulasi atau meyakinkan audiens tanpa alasan yang valid. Oleh karena itu, penting untuk belajar mengenali dan menghindari fallacy dalam penalaran kita.
Komentar
Posting Komentar