Mengapa Clark Meragukan Pengamatan Inderawi
Clark memang sangat ragu terhadap pengamatan inderawi sebagai dasar pengetahuan. Ini adalah salah satu ciri khas dari epistemologi rasionalis milik Gordon H. Clark, dan menjadi titik perbedaan utama antara dia dan banyak filsuf atau ilmuwan modern yang menekankan empirisme (pengetahuan berasal dari pengalaman indrawi).
Alasan pertama bagi Clark adalah:
Indera kita sering menipu dan sering berbeda antara satu orang dan lainnya. Sama seperti kita melihat fatamorgana? Atau pikir pesawat terbang, tapi ternyata burung?
Kedua, indera tidak langsung memberikan makna.
Saat kita melihat bayangan bulat di bulan, kita tidak otomatis tahu itu bayangan bumi. Kita harus menafsirkan pengalaman itu dengan teori tertentu. Jadi pengalaman inderawi perlu ditafsirkan, dan tafsiran itu tidak netral.
Ketiga, indera tidak bisa menjamin kebenaran mutlak.
Apa yang kita lihat hari ini bisa berbeda besok. Sains juga berubah, karena data baru atau penafsiran baru dari “fakta”. Maka bagi Clark, dasar pengetahuan bukan indera, tapi firman Tuhan.
Clark percaya bahwa:
"Satu-satunya sumber pengetahuan yang pasti, benar, dan tidak berubah adalah wahyu Tuhan dalam Alkitab."
Inilah dasar dari epistemologi Clarkian. Bukan empirisme (seperti sains modern). Bukan rasionalisme murni sekuler (seperti Descartes atau Spinoza). Tapi rasionalisme Kristen: logika yang bekerja dalam dan dari wahyu Tuhan.
Kesimpulan:
Clark sangat skeptis terhadap indera sebagai fondasi pengetahuan, karena:
Indera bisa salah.
Indera butuh teori untuk diinterpretasi.
Indera tidak bisa memberikan kepastian.
Sebaliknya, dia mendorong kita untuk membangun pengetahuan hanya dari:
"Premis-premis yang diwahyukan Tuhan dalam Alkitab, ditarik melalui logika deduktif."
Komentar
Posting Komentar