Siapa yang Menentukan Kanon Alkitab? Pandangan dan Argumen Gereja Katolik Roma vs Protestan
1. Pandangan Gereja Katolik Roma: Gereja Menentukan Kanon
Isi Pandangan:
Gereja Katolik mengklaim bahwa Gerejalah yang menentukan dan menetapkan kanon Alkitab secara otoritatif.
Mereka menunjuk pada sejarah konsili:
Sinode Roma 382 M (di bawah Paus Damasus I),
Konsili Hippo 393 M dan Karthago 397 M,
serta Konsili Trente 1546 M yang secara dogmatis menyegel daftar kanon Katolik (termasuk Deuterokanonika).
Argumen Katolik:
1. Gereja Mendahului Alkitab (secara historis)
Yesus tidak menulis kitab. Para rasul mewartakan Injil secara lisan terlebih dahulu. Tradisi mendahului penulisan Alkitab. Maka, Gereja (dalam otoritas rasuli) lebih dahulu ada daripada Kitab Suci Perjanjian Baru.
2. Tanpa Gereja, Tak Ada Alkitab
Tanpa otoritas Gereja, tidak mungkin ada kepastian mana kitab yang sah. Banyak kitab beredar (Injil Tomas, dll), dan gereja harus memilah mana yang benar.
3. Otoritas Magisterium Adalah Jaminan Kesatuan Iman
Alkitab saja (tanpa otoritas Gereja) menghasilkan ribuan denominasi dan interpretasi berbeda. Hanya Gereja yang diberi otoritas oleh Roh Kudus untuk menafsirkan dan menetapkan kebenaran.
4. Kanon Ditutup oleh Konsili Resmi (Trente)
Kanon baru menjadi dogma resmi tak terbantahkan dalam Konsili Trente (1546) — untuk menanggapi Reformasi. Ini membuktikan bahwa kanon perlu ditetapkan oleh otoritas Gereja yang sah.
2. Pandangan Protestan: Gereja Mengenali Kanon
Isi Pandangan:
Kaum Protestan meyakini bahwa Alkitab memiliki otoritas karena berasal dari Allah, bukan karena disahkan oleh Gereja.
Gereja hanya mengenali dan menerima kitab-kitab yang memang telah diilhamkan sejak awal — bukan menciptakan atau menetapkannya.
Argumen Protestan:
1. Kanon Adalah Penemuan, Bukan Penciptaan
Gereja tidak menciptakan kitab suci, seperti manusia tidak menciptakan emas saat menemukannya. Gereja hanya mengenali kitab-kitab yang sejak awal sudah diilhamkan Allah.
2. Pengakuan Awal oleh Gereja Mula-Mula
Kitab-kitab seperti Injil dan surat Paulus telah diterima luas oleh gereja-gereja awal jauh sebelum konsili Katolik. Kanon PB secara de facto sudah ada abad ke-2, sebelum Trente atau Hippo.
3. Kesaksian Roh Kudus di Dalam Orang Percaya
Roh Kudus menyatakan kebenaran firman kepada umat percaya. Calvin:
> "Alkitab membuktikan otoritasnya sendiri sebagaimana cahaya membuktikan dirinya kepada mata."
4. Kriteria Kanonik yang Objektif
Gereja mula-mula mengenali kanon berdasarkan:
Apostolisitas (berasal dari atau dekat dengan rasul),
Ortodoxi (konsisten dengan iman yang diterima),
Penggunaan umum (digunakan dalam ibadah dan ajaran gereja global),
Kuasa rohani (membawa transformasi dan kesaksian internal Roh).
5. Penolakan terhadap Deuterokanonika
Kitab-kitab seperti Tobit, Yudit, dan 1-2 Makabe:
Tidak ditulis dalam bahasa Ibrani,
Tidak diakui oleh umat Yahudi,
Tidak dikutip oleh Yesus atau rasul,
Berisi ajaran yang bertentangan (seperti doa bagi orang mati).
Reformator menolak kitab-kitab ini sebagai non-kanonik, walau berguna secara sejarah.
3. Tabel Perbandingan Ringkas
Aspek Gereja Katolik Roma Protestan (Reformed/Evangelikal)
Siapa yang menentukan kanon? Gereja (Magisterium & Konsili) Allah sendiri; Gereja hanya mengenali
Alasan dasar Gereja mendahului Alkitab; Tradisi lisan Kitab diilhamkan dan dikenal sejak awal
Kitab Deuterokanonika Diterima (bagian dari PL) Ditolak sebagai tidak kanonik
Konsili penting Hippo, Karthago, Trente Mengakui konsili sebagai historis saja
Pandangan soal otoritas Alkitab + Tradisi + Magisterium Sola Scriptura (hanya Kitab Suci)
Kesimpulan: Siapa yang Punya Otoritas?
Pertanyaan tentang kanon berakar pada isu yang lebih mendalam:
> Apakah otoritas utama umat Kristen adalah Gereja, atau Firman Allah itu sendiri?
Katolik berkata: Gereja menentukan Alkitab.
Protestan berkata: Alkitab adalah Firman Allah, Gereja hanya mengakuinya.
Komentar
Posting Komentar