Langsung ke konten utama

4 JENIS PENALARAN DEDUKTIF

Empat jenis penalaran deduktif beserta penjelasannya dan contohnya:

1. Modus Ponens (Penalaran Positif)

Bentuk: Jika P, maka Q. P, maka Q.

Penjelasan: Jika kita tahu bahwa "Jika P, maka Q" itu benar, dan kita tahu bahwa P benar, maka kita dapat menyimpulkan bahwa Q juga benar.

Contoh:

Premis 1: Jika hujan, maka jalanan basah.

Premis 2: Hujan.

Kesimpulan: Jalanan basah.


2. Modus Tollens (Penalaran Negatif)

Bentuk: Jika P, maka Q. Bukan Q, maka bukan P.

Penjelasan: Jika kita tahu bahwa "Jika P, maka Q" itu benar, dan kita tahu bahwa Q tidak terjadi (bukan Q), maka kita bisa menyimpulkan bahwa P juga tidak terjadi.

Contoh:

Premis 1: Jika saya belajar, maka saya akan lulus ujian.

Premis 2: Saya tidak lulus ujian.

Kesimpulan: Saya tidak belajar.


3. Silogisme Hipotetis (Silogisme Berdasarkan Hipotesis)

Bentuk: Jika P, maka Q. Jika Q, maka R. Oleh karena itu, jika P, maka R.

Penjelasan: Silogisme ini digunakan untuk hubungan berantai. Jika dua proposisi bersifat hipotesis dan kita tahu keduanya benar, maka kita dapat menarik kesimpulan tentang hubungan antara P dan R.

Contoh:

Premis 1: Jika saya belajar, maka saya akan lulus ujian.

Premis 2: Jika saya lulus ujian, maka saya mendapatkan sertifikat.

Kesimpulan: Jika saya belajar, maka saya mendapatkan sertifikat.


4. Silogisme Kategoris (Silogisme Berdasarkan Kategori)

Bentuk: Semua A adalah B. C adalah A. Oleh karena itu, C adalah B.

Penjelasan: Dalam silogisme kategoris, kita menarik kesimpulan berdasarkan kategori atau kelompok. Jika A termasuk dalam kategori B, dan C adalah bagian dari A, maka C juga termasuk dalam kategori B.

Contoh:

Premis 1: Semua manusia adalah fana.

Premis 2: Dion adalah manusia.

Kesimpulan: Dion adalah fana.

Dengan rangkuman ini, kita bisa melihat bahwa Modus Ponens dan Modus Tollens lebih berfokus pada hubungan kondisional (jika-maka), Silogisme Hipotetis lebih kepada hubungan berantai antar proposisi, sementara Silogisme Kategoris berkaitan dengan kategori atau kelompok yang lebih luas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROVIDENSI ALLAH BUKAN ALASAN UNTUK BERDOSA

  Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   "Kalau Allah telah menetapkan segala sesuatu, dan apa yang ditetapkan Allah harus dan pasti terjadi, lalu mengapa tindakan berdosa manusia harus dihakimi?" Pertanyaan ini lahir dari kegagalan (kebingungan) dalam memahami providensi Allah. Apa itu providensi? Providensi adalah doktrin yang percaya bahwa Allah/Tuhan berdaulat penuh atas segala peristiwa yang terjadi di bawah kolong langit ini. Dengan kata lain tidak ada satupun peristiwa dalam bentang sejarah umat manusia yang luput dari kontrol dan kedaulatan Tuhan. Dan itu mencakup peristiwa yang baik maupun buruk (kejahatan) dalam kehidupan manusia. Sebagai landasan biblikalnya, kita akan melihat beberapa ayat di bawah ini. Misalnya tentang pemilihan orang percaya, ternyata Tuhan dalam kekekalan telah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi umat pilihan-Nya. "Di dalam Dia kami juga mendapat bagian, yang ditentukan dari semula menurut maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu ...

MEMBEDAH RUMUSAN TRITUNGGAL ALA ELIA MYRON

Oleh : Dionisius Daniel Dalam sebuah video dari kanal YouTube Tiga Hari. Elia Myron seorang apologet muda terlihat sedang mengajarkan doktrin Tritunggal. Namun yang menarik disini adalah, rumusan Tritunggal yang diajarkan oleh Elia Myron ini, terindikasi menyimpang dari rumusan Tritunggal yang ortodoks yang telah dipegang oleh Gereja sepanjang sejarah. Elia mendasari pengajaran Tritunggalnya dengan mengutip Ulangan 6:4, dan 1 Korintus 8:6 Ulangan 6:4 (TB) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  1 Korintus 8:6 (TB) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.  Berdasarkan dua ayat ini Elia membangun premis bahwa Allah itu pada hakikatnya adalah esa, dan Allah yang esa ini adalah sang Bapa. Mengapa Allah yang esa ini disebut Bapa? Karena menurut Elia,...

Obrolan Serius: Membongkar Kekeliruan Tritunggal yang Sering Diabaikan

Oleh : Dionisius Daniel   Kali ini saya kembali membagikan diskusi singkat saya dengan seseorang di Facebook yang diduga adalah fans atau pendukung fanatik dari Elia Myron.  Saya memang belakangan ini sedang menulis artikel mengkritisi ajaran Tritunggal Elia Myron, yang menurut saya telah menyimpang dan tanpa sadar "nyemplung" ke bidat-bidat yang sudah ditolak oleh para Bapa-Bapa Gereja kita. Seperti Sabelianisme atau Subordinasisme ala Unitarian. Sebenarnya diskusi/perdebatan ini berawal dari postingan foto Pdt Esra Soru di Facebook, tertanggal, Minggu 18/05/2025. Di foto itu tampak Pdt Esra sedang bersama Elia Myron. (fotonya saya jadikan wallpaper artikel ini) Saya lalu spontan berkomentar: "Pak Esra tolong ajari Elia Myron itu agar mengajar Tritunggal dengan benar, soalnya ajaran Tritunggal dan konsep keselamatannya telah menyesatkan banyak orang". Alhasil tak butuh waktu lama, komentar saya langsung ditanggapi oleh pengguna facebook lain yang diduga adalah fans...