Langsung ke konten utama

SKISMA AVIGNON

Skisma Avignon: Ketika Tiga Paus Bertarung Memperebutkan Takhta Petrus

Oleh: [Dionisius Daniel Goli Sali]

Banyak umat Katolik sering menuduh Protestan sebagai biang perpecahan karena munculnya ribuan denominasi. Namun sejarah Gereja Katolik sendiri menyimpan sebuah babak kelam yang tak bisa disangkal: masa ketika bahkan tiga orang Paus mengaku sebagai wakil Kristus di bumi pada saat yang sama. Peristiwa ini dikenal sebagai Skisma Avignon, atau lebih tepatnya Skisma Barat (Western Schism).

Latar Belakang: Paus yang Tinggalkan Roma

Segalanya bermula pada awal abad ke-14. Tahun 1309, Paus Clement V memutuskan untuk tidak tinggal di Roma, tetapi menetap di kota Avignon di Prancis selatan. Di bawah bayang-bayang politik Raja Prancis, tujuh Paus berturut-turut tinggal di Avignon selama hampir 70 tahun. Masa ini disebut oleh para kritikus sebagai “Pembuangan di Babel” karena dianggap simbol kehancuran spiritual Gereja.

Awal Skisma: Dua Paus Bertikai

Tahun 1377, Paus Gregorius XI akhirnya kembali ke Roma. Namun setelah ia wafat, muncullah pertikaian besar. Para kardinal, karena tekanan massa Roma, memilih Paus Urban VI. Tetapi karena gaya kepemimpinannya dianggap kasar dan otoriter, sebagian kardinal menyesal dan mengangkat Paus tandingan, Clement VII, yang kembali ke Avignon. Sejak itu, dunia Katolik terbelah.

Urban VI di Roma

Clement VII di Avignon

Keduanya saling mengucilkan dan menyatakan yang lain sebagai bidat.

Kekacauan Meningkat: Tiga Paus Sekaligus

Pada 1409, Dewan Pisa berusaha mengakhiri konflik dengan menggulingkan dua Paus dan memilih Paus baru bernama Alexander V. Ironisnya, kedua Paus sebelumnya menolak turun, dan sekarang umat Katolik menghadapi tiga Paus aktif sekaligus:

Urban/Paus Roma

Clement/Paus Avignon

Alexander/Paus Pisa

Ketiganya mengklaim otoritas ilahi, dan masing-masing memiliki pengikut politik: Inggris dan Jerman mendukung Roma, Prancis dan Spanyol mendukung Avignon, Italia utara mendukung Pisa.

Akhir Skisma: Konsili Konstanz

Setelah hampir 40 tahun kekacauan spiritual dan politik, Dewan Konstanz (1414–1418) menjadi jalan keluar. Dalam keputusan yang tegas:

Ketiga Paus digulingkan atau dipaksa mengundurkan diri.

Martin V dipilih sebagai Paus tunggal pada 1417.

Skisma formal berakhir, tetapi lukanya dalam sejarah Gereja tetap membekas.

Pelajaran Penting:

1. Kesatuan struktural bukan jaminan kesatuan rohani atau kebenaran. Gereja Katolik waktu itu tampak satu, tetapi penuh korupsi dan intrik politik.

2. Otoritas Paus terbukti bisa runtuh dari dalam. Jika benar hanya ada satu “wakil Kristus”, bagaimana mungkin tiga orang bisa mengakuinya dalam waktu yang sama?

3. Skisma ini jadi latar penting munculnya seruan reformasi. Tokoh-tokoh seperti Wycliffe dan Hus mulai menyerukan kembali ke Alkitab karena kecewa terhadap kondisi Gereja.

Penutup

Skisma Avignon adalah bukti nyata bahwa klaim “kesatuan Gereja Katolik” tidak selalu mencerminkan realitas. Ketika struktur institusional runtuh, hanya satu hal yang tetap kokoh: kebenaran Firman Tuhan. Inilah semangat Reformasi—bukan sekadar memecah belah, tapi memurnikan Gereja agar kembali ke sumber otoritas sejati: Alkitab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BANTAHAN TERHADAP SERANGAN NGAWUR ROMO PATRIS ALEGRO

( Disclaimer : Tulisan ini tidak bermaksud memantik api permusuhan terhadap saudara-saudara dari Khatolik Roma, melainkan adalah sebuah bentuk pembelaan iman (Apologetika) atas serangan ngawur yang dilakukan secara masif oleh seorang oknum Romo dari Gereja Khatolik Roma, dengan akun Facebook bernama Patris Alegro. Di salah satu utas terbarunya, di Facebook, tertanggal: Selasa 22 Juli 2025. Romo Patris secara ngawur mengkritik istilah "Sola" yang digunakan oleh Protestan. Setelah membaca statusnya, saya melihat bahwa kritikan yang dibangun oleh Romo Patris lebih mencerminkan ketidakpahaman Romo Patris atas doktrin "Sola" ketimbang kritikan yang didasari oleh reductio ad absurdum. Di bawah ini saya tampilkan tulisan utuh dari Romo Patris yang dicopas dari akun facebooknya, serta tanggapan saya atas tulisan tersebut. TULISAN ROMO PATRIS ALEGRO Mengapa ada lima “sola” padahal “sola” artinya “hanya satu”?.  Mari kita bongkar ini secara logis, etimologis, dan teologis, la...

Allah Maha Kuasa Bukan Maha Kontradiksi

Oleh: Dionisius Daniel Goli Sali Pagi ini, sambil ngopi dan menunggu orderan Maxim, aku iseng buka YouTube dan menonton pengajaran teologi dari channel YouTube Verbum Veritatis yang dikelola oleh Pak Deky Nggadas. Tema dari pengajaran Pak Deky adalah tentang Divine Simplicity And The Trinity (Kesederhanaan Allah Dan Trinitas).  Secara garis besar, poin pengajaran Pak Deky adalah Allah Kristen itu simplisitas (Sederhana). Sederhana yang dimaksud Pak Deky, bukan berarti bahwa Allah Kristen itu bisa dipahami secara utuh tanpa harus meninggalkan ruang bagi hal-hal yang menjadi misteri untuk akal manusia. Melainkan, dalam natur-Nya Allah itu tidak terbagi. Meskipun Allah memiliki bermacam-macam atribut, seperti: maha kuasa, maha kasih, maha adil, kekal, dan lain sebagainya. Tapi atribut-atribut itu bukanlah komponen-komponen yang terpisah dalam diri Allah. Melainkan atribut itu adalah natur-Nya. Jadi, Allah bukan hanya Allah yang memiliki kasih, tapi Allah adalah kasih. Allah bukan hany...

MEMBEDAH RUMUSAN TRITUNGGAL ALA ELIA MYRON

Oleh : Dionisius Daniel Dalam sebuah video dari kanal YouTube Tiga Hari. Elia Myron seorang apologet muda terlihat sedang mengajarkan doktrin Tritunggal. Namun yang menarik disini adalah, rumusan Tritunggal yang diajarkan oleh Elia Myron ini, terindikasi menyimpang dari rumusan Tritunggal yang ortodoks yang telah dipegang oleh Gereja sepanjang sejarah. Elia mendasari pengajaran Tritunggalnya dengan mengutip Ulangan 6:4, dan 1 Korintus 8:6 Ulangan 6:4 (TB) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  1 Korintus 8:6 (TB) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.  Berdasarkan dua ayat ini Elia membangun premis bahwa Allah itu pada hakikatnya adalah esa, dan Allah yang esa ini adalah sang Bapa. Mengapa Allah yang esa ini disebut Bapa? Karena menurut Elia,...