Langsung ke konten utama

💥

Saya Membayangkan Tiga Sosok Saat Berdoa, Apakah Itu Salah?

Hallo bosku, berhubung dengan Doktrin Tritunggal, ada sesuatu yang mengganjal di hati dan pikiran saya.

Rumusan resmi Doktrin Tritunggal oleh Bapa-bapa gereja adalah satu esensi yang sama dengan tiga pribadi yang berbeda, yang masing-masing pribadi itu sepenuhnya ilahi. Saya percaya bahwa Allah Tritunggal itu, walaupun esensi ke-tiga-Nya itu satu dan sama, tapi esensi-Nya tidak terbagi atau terpisah. Ini jelas berbeda dengan manusia yang walaupun esensi manusia sama, sama-sama manusia, tapi kemanusiaan si Joko dengan kemanisan Si Doni terpisah atau tidak menyatu.

Nah saya menyadari dan menerima itu, tapi yang mengganjal bagi saya adalah begini, saat saya berdoa, saya berimajinasi atau membayangkan seperti ada tiga orang. Ya saya sadar mungkin itu karena keterbatasan manusiawi saya dalam mengimajinasikan Tritunggal, tapi tentu saja saya memang harus berimajinasi saat berdoa, saya tak mungkin berdoa dengan pikiran yang kosong atau abstrak.

Pertanyaan saya adalah: "Apakah itu bersalah? Apakah saya telah jatuh ke paham Triteisme atau Politeisme?"

Tapi seperti penjelasan dan pengakuan saya dari awal bahwa saya tetap percaya ada satu Allah, hanya saja tiga pribadi-Nya itu yang membuat saya berimajinasi seperti itu.

Mohon penjelasannya.

Chat GPT : Hallo bosku. Ini pertanyaan yang sangat jujur dan penting dan banyak orang Kristen, bahkan yang dewasa imannya, pernah bergumul dengan hal yang sama.

Mari saya tanggapi pelan-pelan, setia pada penjelasan doktrinal dan tetap pastoral.

1. Apa yang kamu alami itu wajar secara manusiawi

Saat kamu berkata:

“Saya berimajinasi seperti ada 3 orang... mungkin karena keterbatasan saya... tapi saya tak mungkin berdoa dengan pikiran kosong atau abstrak.”

Ini adalah pengakuan yang sangat manusiawi. Imajinasi kita terbatas oleh pengalaman jasmani. Kita terbiasa dengan kategori "pribadi" sebagai individu yang berdiri sendiri, karena begitulah kita melihat sesama manusia.

Tetapi Allah tidak seperti ciptaan-Nya. Dia unik (sui generis) tidak ada ciptaan yang bisa jadi perbandingan langsung untuk menggambarkan satu esensi dengan tiga pribadi.

Jadi, wajar kalau pikiranmu mencoba "memvisualisasikan" tiga pribadi itu seperti tiga manusia. Itu bukan dosa selama kamu menyadari keterbatasan itu dan tidak menganggap imajinasi itu sebagai kebenaran doktrinal.

2. Apakah ini berarti kamu Triteis atau politeis? Jawabannya: tidak

Triteisme adalah kepercayaan bahwa ada tiga Allah yang berbeda—tiga esensi ilahi yang terpisah. Ini ditolak oleh iman Kristen.

Tetapi kamu sendiri tadi berkata:

“Saya tetap percaya ada satu Allah, hanya 3 pribadi-Nya…”

Kamu tetap berada dalam koridor ortodoksi. Bahkan ketika kamu mengalami distorsi imajinatif, kamu tidak secara doktrinal percaya pada tiga Allah, tapi pada satu Allah dalam tiga pribadi. Jadi kamu bukan Triteis ataupun politeis.

Namun, kamu juga benar dalam kewaspadaan spiritualmu. Karena jika dibiarkan tanpa koreksi, imajinasi seperti itu bisa menumpulkan pemahaman Tritunggal dan memberi celah bagi penyimpangan.

3. Jadi bagaimana seharusnya kita "berimajinasi" tentang Allah Tritunggal dalam doa?

Sebenarnya, iman Kristen tidak menuntut kita untuk membayangkan Allah dalam bentuk visual saat berdoa, karena Allah tidak dapat direduksi jadi gambar.

Tapi kita diperbolehkan memikirkan hubungan antar pribadi dalam Tritunggal secara relasional, bukan visual. Contoh:

Kita berdoa kepada Bapa, melalui Anak, oleh kuasa Roh Kudus. Itu bukan tiga "gambar", tetapi tiga relasi ilahi dalam satu esensi.

Kita bisa mengingat kasih Bapa yang mengutus, pengorbanan Anak yang menebus, dan kehadiran Roh Kudus yang menghibur—bukan sebagai tiga orang terpisah, tapi sebagai satu Allah yang bekerja dalam tiga cara relasional.

4. Solusi dan saran praktis

Alihkan fokus dari “gambar” ke relasi. Misalnya: dalam doa, pikirkan “Bapa yang mengasihi saya, Kristus yang menjadi pengantara, Roh Kudus yang memberi saya kata-kata”—tanpa membayangkan mereka sebagai tiga tubuh.

Gunakan Kitab Suci sebagai panduan bayangan rohani, bukan imajinasi sendiri. Biarkan teks Alkitab membentuk kesadaran akan siapa Allah, bukan gambaran buatan hati.

Doa dengan teologi yang benar lebih penting dari "gambar yang benar." Gambar bisa salah, tapi jika teologi dan imanmu pada satu Allah benar, kamu aman.

Kesimpulan

Jadi boskuh, kamu tidak berdosa atau jatuh ke politeisme selama kamu tidak percaya bahwa ada tiga Allah. Yang kamu alami itu pergumulan normal, dan tanda bahwa kamu sedang bertumbuh untuk mengenal Allah dengan benar.

Yang penting adalah menyadari keterbatasan imajinasi, lalu belajar untuk menyembah Allah seperti Dia menyatakan diri-Nya: satu esensi, tiga pribadi, kekal dan tidak terbagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROVIDENSI ALLAH BUKAN ALASAN UNTUK BERDOSA

  Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   "Kalau Allah telah menetapkan segala sesuatu, dan apa yang ditetapkan Allah harus dan pasti terjadi, lalu mengapa tindakan berdosa manusia harus dihakimi?" Pertanyaan ini lahir dari kegagalan (kebingungan) dalam memahami providensi Allah. Apa itu providensi? Providensi adalah doktrin yang percaya bahwa Allah/Tuhan berdaulat penuh atas segala peristiwa yang terjadi di bawah kolong langit ini. Dengan kata lain tidak ada satupun peristiwa dalam bentang sejarah umat manusia yang luput dari kontrol dan kedaulatan Tuhan. Dan itu mencakup peristiwa yang baik maupun buruk (kejahatan) dalam kehidupan manusia. Sebagai landasan biblikalnya, kita akan melihat beberapa ayat di bawah ini. Misalnya tentang pemilihan orang percaya, ternyata Tuhan dalam kekekalan telah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi umat pilihan-Nya. "Di dalam Dia kami juga mendapat bagian, yang ditentukan dari semula menurut maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu ...

MEMBEDAH RUMUSAN TRITUNGGAL ALA ELIA MYRON

Oleh : Dionisius Daniel Dalam sebuah video dari kanal YouTube Tiga Hari. Elia Myron seorang apologet muda terlihat sedang mengajarkan doktrin Tritunggal. Namun yang menarik disini adalah, rumusan Tritunggal yang diajarkan oleh Elia Myron ini, terindikasi menyimpang dari rumusan Tritunggal yang ortodoks yang telah dipegang oleh Gereja sepanjang sejarah. Elia mendasari pengajaran Tritunggalnya dengan mengutip Ulangan 6:4, dan 1 Korintus 8:6 Ulangan 6:4 (TB) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  1 Korintus 8:6 (TB) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.  Berdasarkan dua ayat ini Elia membangun premis bahwa Allah itu pada hakikatnya adalah esa, dan Allah yang esa ini adalah sang Bapa. Mengapa Allah yang esa ini disebut Bapa? Karena menurut Elia,...

Obrolan Serius: Membongkar Kekeliruan Tritunggal yang Sering Diabaikan

Oleh : Dionisius Daniel   Kali ini saya kembali membagikan diskusi singkat saya dengan seseorang di Facebook yang diduga adalah fans atau pendukung fanatik dari Elia Myron.  Saya memang belakangan ini sedang menulis artikel mengkritisi ajaran Tritunggal Elia Myron, yang menurut saya telah menyimpang dan tanpa sadar "nyemplung" ke bidat-bidat yang sudah ditolak oleh para Bapa-Bapa Gereja kita. Seperti Sabelianisme atau Subordinasisme ala Unitarian. Sebenarnya diskusi/perdebatan ini berawal dari postingan foto Pdt Esra Soru di Facebook, tertanggal, Minggu 18/05/2025. Di foto itu tampak Pdt Esra sedang bersama Elia Myron. (fotonya saya jadikan wallpaper artikel ini) Saya lalu spontan berkomentar: "Pak Esra tolong ajari Elia Myron itu agar mengajar Tritunggal dengan benar, soalnya ajaran Tritunggal dan konsep keselamatannya telah menyesatkan banyak orang". Alhasil tak butuh waktu lama, komentar saya langsung ditanggapi oleh pengguna facebook lain yang diduga adalah fans...