Saya Membayangkan Tiga Sosok Saat Berdoa, Apakah Itu Salah?
Hallo bosku, berhubung dengan Doktrin Tritunggal, ada sesuatu yang mengganjal di hati dan pikiran saya.
Rumusan resmi Doktrin Tritunggal oleh Bapa-bapa gereja adalah satu esensi yang sama dengan tiga pribadi yang berbeda, yang masing-masing pribadi itu sepenuhnya ilahi. Saya percaya bahwa Allah Tritunggal itu, walaupun esensi ke-tiga-Nya itu satu dan sama, tapi esensi-Nya tidak terbagi atau terpisah. Ini jelas berbeda dengan manusia yang walaupun esensi manusia sama, sama-sama manusia, tapi kemanusiaan si Joko dengan kemanisan Si Doni terpisah atau tidak menyatu.
Nah saya menyadari dan menerima itu, tapi yang mengganjal bagi saya adalah begini, saat saya berdoa, saya berimajinasi atau membayangkan seperti ada tiga orang. Ya saya sadar mungkin itu karena keterbatasan manusiawi saya dalam mengimajinasikan Tritunggal, tapi tentu saja saya memang harus berimajinasi saat berdoa, saya tak mungkin berdoa dengan pikiran yang kosong atau abstrak.
Pertanyaan saya adalah: "Apakah itu bersalah? Apakah saya telah jatuh ke paham Triteisme atau Politeisme?"
Tapi seperti penjelasan dan pengakuan saya dari awal bahwa saya tetap percaya ada satu Allah, hanya saja tiga pribadi-Nya itu yang membuat saya berimajinasi seperti itu.
Mohon penjelasannya.
Chat GPT : Hallo bosku. Ini pertanyaan yang sangat jujur dan penting dan banyak orang Kristen, bahkan yang dewasa imannya, pernah bergumul dengan hal yang sama.
Mari saya tanggapi pelan-pelan, setia pada penjelasan doktrinal dan tetap pastoral.
1. Apa yang kamu alami itu wajar secara manusiawi
Saat kamu berkata:
“Saya berimajinasi seperti ada 3 orang... mungkin karena keterbatasan saya... tapi saya tak mungkin berdoa dengan pikiran kosong atau abstrak.”
Ini adalah pengakuan yang sangat manusiawi. Imajinasi kita terbatas oleh pengalaman jasmani. Kita terbiasa dengan kategori "pribadi" sebagai individu yang berdiri sendiri, karena begitulah kita melihat sesama manusia.
Tetapi Allah tidak seperti ciptaan-Nya. Dia unik (sui generis) tidak ada ciptaan yang bisa jadi perbandingan langsung untuk menggambarkan satu esensi dengan tiga pribadi.
Jadi, wajar kalau pikiranmu mencoba "memvisualisasikan" tiga pribadi itu seperti tiga manusia. Itu bukan dosa selama kamu menyadari keterbatasan itu dan tidak menganggap imajinasi itu sebagai kebenaran doktrinal.
2. Apakah ini berarti kamu Triteis atau politeis? Jawabannya: tidak
Triteisme adalah kepercayaan bahwa ada tiga Allah yang berbeda—tiga esensi ilahi yang terpisah. Ini ditolak oleh iman Kristen.
Tetapi kamu sendiri tadi berkata:
“Saya tetap percaya ada satu Allah, hanya 3 pribadi-Nya…”
Kamu tetap berada dalam koridor ortodoksi. Bahkan ketika kamu mengalami distorsi imajinatif, kamu tidak secara doktrinal percaya pada tiga Allah, tapi pada satu Allah dalam tiga pribadi. Jadi kamu bukan Triteis ataupun politeis.
Namun, kamu juga benar dalam kewaspadaan spiritualmu. Karena jika dibiarkan tanpa koreksi, imajinasi seperti itu bisa menumpulkan pemahaman Tritunggal dan memberi celah bagi penyimpangan.
3. Jadi bagaimana seharusnya kita "berimajinasi" tentang Allah Tritunggal dalam doa?
Sebenarnya, iman Kristen tidak menuntut kita untuk membayangkan Allah dalam bentuk visual saat berdoa, karena Allah tidak dapat direduksi jadi gambar.
Tapi kita diperbolehkan memikirkan hubungan antar pribadi dalam Tritunggal secara relasional, bukan visual. Contoh:
Kita berdoa kepada Bapa, melalui Anak, oleh kuasa Roh Kudus. Itu bukan tiga "gambar", tetapi tiga relasi ilahi dalam satu esensi.
Kita bisa mengingat kasih Bapa yang mengutus, pengorbanan Anak yang menebus, dan kehadiran Roh Kudus yang menghibur—bukan sebagai tiga orang terpisah, tapi sebagai satu Allah yang bekerja dalam tiga cara relasional.
4. Solusi dan saran praktis
Alihkan fokus dari “gambar” ke relasi. Misalnya: dalam doa, pikirkan “Bapa yang mengasihi saya, Kristus yang menjadi pengantara, Roh Kudus yang memberi saya kata-kata”—tanpa membayangkan mereka sebagai tiga tubuh.
Gunakan Kitab Suci sebagai panduan bayangan rohani, bukan imajinasi sendiri. Biarkan teks Alkitab membentuk kesadaran akan siapa Allah, bukan gambaran buatan hati.
Doa dengan teologi yang benar lebih penting dari "gambar yang benar." Gambar bisa salah, tapi jika teologi dan imanmu pada satu Allah benar, kamu aman.
Kesimpulan
Jadi boskuh, kamu tidak berdosa atau jatuh ke politeisme selama kamu tidak percaya bahwa ada tiga Allah. Yang kamu alami itu pergumulan normal, dan tanda bahwa kamu sedang bertumbuh untuk mengenal Allah dengan benar.
Yang penting adalah menyadari keterbatasan imajinasi, lalu belajar untuk menyembah Allah seperti Dia menyatakan diri-Nya: satu esensi, tiga pribadi, kekal dan tidak terbagi.
Komentar
Posting Komentar