Langsung ke konten utama

KHOTBAH KOMSEL


TEMA: 

"Memahami Identitas Kita Sebagai Orang Percaya Melalui Alkitab"

NATS : Kejadian 1:26–27

"Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita..."

Pendahuluan

Saudara-saudara. Saya ingin mengajak kita berpikir sebentar. Waktu kita masih kecil, berat badan kita pasti berbeda. Tinggi kita berbeda. Rambut juga mungkin berbeda. Suara berbeda. Sekarang semua berubah.

Pertanyaannya adalah: Apakah kita yang dulu (saat masih kecil) dengan kita yang sekarang adalah orang yang sama? Adalah pribadi yang sama? Atau manusia yang sama?

Jawabannya tentu, orang yang sama. Atau manusia yang sama.

Kalau seseorang yang tadinya bekerja, lalu tiba-tiba kena PHK dan kehilangan pekerjaan, Apakah dia masih manusia yang sama?

Kalau kita kehilangan uang, apakah kita masih manusia?

Kalau kehilangan kaki karena kecelakaan, Apakah masih manusia?

Kalau kehilangan rambut karena kemoterapi, apakah masih manusia?

Jawabannya tetap sama. Ya masih manusia dan masih manusia yang sama!

Lalu pertanyaan paling pentingnya adalah: Apa sebenarnya yang membuat seseorang tetap menjadi manusia?

Pertanyaan ini sebenarnya sudah dipikirkan oleh para filsuf sejak ribuan tahun yang lalu.

"Apa yang membuat manusia tetap menjadi manusia? Dan seseorang tetap menjadi dirinya, walaupun banyak hal berubah dalam dirinya?"

Mereka kemudian membedakan dua jenis atribut yang ada pada manusia.

A. Atribut Esensial

Yaitu atribut yang menentukan identitas sesuatu. Kalau atribut ini hilang, maka objek itu tidak lagi menjadi jenis yang sama, atau objek yang sama.

Sebagai contoh: Sebuah segitiga, esensinya adalah memiliki tiga sisi. Kalau tinggal dua sisi, maka segitiga itu bukan lagi segitiga.

B. Atribut Aksidental

Yaitu suatu atribut/sifat yang bisa berubah tanpa mengubah identitas.

Contoh, Mobil merah kalau dicat jadi hitam, dia tetaplah sebuah mobil. Mobil merah tidak akan kehilangan identitas atau jati dirinya sebagai sebuah mobil, hanya karena dia sudah berubah warna.

II. Apa atribut esensial manusia menurut filsafat?

Nah, di sini baru jemaat akan belajar sesuatu.

Katakan:

"Para filsuf klasik menyebut manusia sebagai hewan rasional."

Jangan pakai istilah Latin dulu.

Lalu jelaskan.

Artinya manusia mempunyai dua sifat mendasar.

1. Makhluk hidup.

Kalau tidak hidup...

Bukan manusia.

2. Rasional.

Mampu berpikir.

Mampu bernalar.

Mampu membedakan benar dan salah.

Mampu memahami makna.

Di sinilah manusia berbeda dari binatang.

Lalu katakan.

"Karena manusia mempunyai natur rasional, maka muncullah kemampuan-kemampuan lain."

Misalnya.

bahasa

budaya

ilmu pengetahuan

moral

seni

hukum

ibadah

Semuanya lahir dari natur rasional itu.

Lalu beri ilustrasi.

Bayi belum bisa bicara.

Tetapi tetap manusia.

Mengapa?

Karena yang esensial bukan kemampuan berbicara saat ini.

Melainkan natur rasional yang dimilikinya.

Ini penting sekali.

III. Tetapi Alkitab melangkah lebih jauh

Di sinilah "wow moment"-nya.

Katakan.

"Menariknya...

Alkitab tidak menolak bahwa manusia adalah makhluk rasional.

Tetapi Alkitab berkata bahwa itu belum cukup."

Lalu buka Kejadian 1.

Manusia bukan hanya rasional.

Manusia juga

diciptakan menurut gambar Allah.

Nah...

Di sinilah Alkitab memperdalam pembahasan filsafat.

Apa arti gambar Allah?

Jelaskan dengan sederhana.

Imago Dei berarti manusia memiliki kemampuan yang mencerminkan Penciptanya.

Misalnya.

mampu berpikir

mampu mengasihi

mampu mengenal Allah

mampu berkomunikasi

mampu bermoral

mampu mengelola ciptaan

Semua ini membuat manusia unik.

Bukan berarti manusia sama dengan Allah.

Tetapi manusia merefleksikan Allah.

Lalu katakan sesuatu yang menurutku akan sangat kuat.

"Kalau filsafat bertanya,

'Mengapa manusia berbeda dari binatang?'

Maka Alkitab menjawab,

'Karena manusia diciptakan menurut gambar Allah.'"

Boom.

IV. Dosa

Dosa tidak menghapus Imago Dei.

Tetapi merusaknya.

Karena itu manusia masih berpikir.

Masih berkarya.

Masih mencipta.

Tetapi semua itu sekarang telah rusak oleh dosa.

V. Kristus

Kristus datang.

Bukan menciptakan spesies baru.

Tetapi memulihkan gambar Allah.

Roma 8.

Kolose 3.

Efesus 4.

Menurutku justru ini yang menjadi klimaks.

Filsafat berkata.

Manusia adalah makhluk rasional.

Alkitab berkata.

Ya.

Tetapi manusia bukan sekadar makhluk rasional.

Manusia adalah gambar Allah.

Artinya...

Rasionalitas bukan tujuan akhir.

Rasionalitas adalah salah satu cara manusia memantulkan kemuliaan Allah.

Aku bahkan ingin menambahkan satu kalimat yang bisa menjadi "quote" khotbahmu.

"Filsafat membantu kita memahami apa itu manusia. Alkitab memberitahu kita mengapa manusia diciptakan."

Menurutku itu indah sekali.

Karena akhirnya jemaat melihat bahwa filsafat memberikan kategori berpikir yang berguna, tetapi Alkitab memberi makna, tujuan, dan arah hidup manusia. Jadi filsafat menjadi pelayan bagi wahyu Allah, bukan penggantinya. Itu menurutku sangat sejalan dengan pendekatan Reformed yang menghargai penggunaan akal di bawah otoritas Firman.



I. ADA DUA MACAM ATRIBUT

Sebelum kita masuk ke Alkitab, saya ingin mengenalkan dua istilah sederhana.

Kata "atribut" berarti sifat atau karakteristik yang dimiliki sesuatu.

Tetapi ternyata tidak semua atribut sama.

Ada dua jenis.

A. Atribut Esensial

Yaitu sifat yang membuat sesuatu menjadi apa adanya. Kalau sifat itu hilang. Maka benda itu bukan lagi benda yang sama.

Contoh: Apa yang membuat segitiga disebut segitiga? Karena memiliki tiga sisi.

Kalau tinggal dua sisi, maka bukan segitiga lagi. Itulah atribut esensial.

B. Atribut Aksidental

Yaitu sifat yang bisa berubah tanpa mengubah identitas.

Contohnya.

Saya memakai baju putih.

Besok saya memakai baju hitam.

Apakah saya berubah menjadi orang lain?

Tidak.

Berarti warna baju hanyalah atribut aksidental.


II. ILUSTRASI TENTANG MANUSIA


Mari kita lihat manusia.

Mana yang esensial?

Mana yang aksidental?

Yang aksidental misalnya:

kaya atau miskin

kurus atau gemuk

rambut panjang atau pendek


tinggal di Batam atau Jakarta


menjadi guru atau sopir

sehat atau sakit


Semua itu bisa berubah.

Tetapi orangnya tetap orang yang sama.

Sekarang saya bertanya.

Kalau semua itu berubah...

Mengapa kita tetap menyebutnya manusia?


Karena ada sesuatu yang lebih dalam daripada penampilan.


Ada identitas yang tidak berubah.


III. ALKITAB MENJAWAB

Sekarang mari kita buka Kejadian 1.

Mengapa manusia berbeda?

Karena manusia diciptakan menurut gambar Allah.

Di sinilah Alkitab memberikan fondasi.

Manusia bukan bernilai karena uangnya.

Bukan karena wajahnya.

Bukan karena pekerjaannya.

Bukan karena kesehatannya.

Tetapi karena Allah menciptakannya menurut gambar-Nya.


Itulah sebabnya setiap manusia memiliki martabat.

Bahkan bayi.

Bahkan orang miskin.

Bahkan penyandang disabilitas.

Bahkan orang tua yang sudah lemah.

Nilai mereka tidak berubah.

Karena Allah yang memberikannya.


IV. DOSA MEMBUAT MANUSIA SALAH MENCARI IDENTITAS


Masalahnya...

Dosa membuat manusia lupa identitasnya.

Akhirnya manusia berkata.

"Aku berharga kalau kaya."

"Aku berharga kalau cantik."

"Aku berharga kalau sukses."

"Aku berharga kalau dipuji."

Padahal semua itu bisa hilang.

Kalau identitas kita dibangun di atas sesuatu yang bisa hilang...

Saat hal itu hilang...

Kita ikut hancur.

Tetapi Firman Tuhan berkata.

Identitas kita berasal dari Allah.


V. KRISTUS MEMULIHKAN MANUSIA

Kristus datang bukan hanya mengampuni dosa.

Tetapi memulihkan manusia kepada tujuan semula.

Roma 8:29 berbicara bahwa kita dibentuk menjadi serupa dengan Kristus.

Kolose 3:10 berkata manusia baru terus diperbarui menurut gambar Penciptanya.

Inilah pekerjaan Injil.


APLIKASI

1. Jangan membangun identitas pada hal-hal yang berubah.

Pekerjaan bisa hilang.

Uang bisa habis.

Kesehatan bisa menurun.

Tetapi Allah tetap.

2. Jangan menilai orang dari atribut aksidental.

Jangan menghormati orang hanya karena kaya.

Jangan meremehkan orang karena miskin.

Semua manusia adalah gambar Allah.

3. Bersyukurlah atas siapa dirimu di hadapan Allah.

Dunia berkata:

"Kamu berharga kalau berhasil."

Allah berkata:

"Kamu berharga karena Aku menciptakanmu menurut gambar-Ku."

4. Bangun hidup di atas Kristus.

Karena hanya Kristus yang tidak berubah.

Kalau identitas kita ada di dalam Dia...

Kita tetap memiliki pengharapan sekalipun keadaan hidup berubah.

PENUTUP

Saudara-saudara...

Hari ini kita belajar satu hal sederhana.

Ada hal-hal yang berubah.

Dan ada hal-hal yang tidak berubah.

Rambut berubah.

Umur berubah.

Uang berubah.

Pekerjaan berubah.

Kesehatan berubah.

Tetapi jangan pernah membangun identitas pada hal-hal yang berubah.

Bangunlah hidup di atas Allah yang tidak berubah.

Karena ketika dunia mengambil semua yang kita miliki...

Dunia tidak dapat mengambil siapa diri kita di hadapan Allah.

Kiranya Tuhan menolong kita untuk hidup bukan berdasarkan apa yang kita miliki, tetapi berdasarkan siapa kita di dalam Kristus.

Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

APAKAH KARENA YESUS BERASAL DARI ALLAH, MAKA DIA BUKAN ALLAH? (MENANGGAPI SERANGAN UST. SUBANDI T SUKOCO)

Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   Beberapa hari yang lalu, seseorang mengirimi saya sebuah video dan meminta tanggapan saya atas video itu. Setelah saya lihat-lihat, ternyata ini adalah cuplikan video dari YouTube Ust. Subandi T Sukoco. Siapakah orang ini? Subandi atau yang lebih dikenal dengan Gus Mbetik ini, adalah seorang pendakwah yang sudah sering terlibat dalam diskusi-diskusi lintas agama. Nah dalam cuplikan video yang berdurasi 2 menit 42 detik ini, Subandi memberikan argumentasinya untuk menolak ke-Tuhanan dan ke-Allahan Yesus. Menurut Subandi karena Yesus datang dari Allah maka Yesus pasti bukan Allah. Cuplikan lengkapnya bisa ditonton disini👇 Setelah menonton videonya, saya menemukan bahwa penolakan Ust. Subandi T Sukoco terhadap ke-Allahan Yesus didasari atas dua fakta ini : PERTAMA, KARENA YESUS DATANG DARI ALLAH MAKA DIA BUKAN ALLAH   Yohanes 9:33 (TB) Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa."  Menurut Ust. Subandi T Suko...

Allah Maha Kuasa Bukan Maha Kontradiksi

Oleh: Dionisius Daniel Goli Sali Pagi ini, sambil ngopi dan menunggu orderan Maxim, aku iseng buka YouTube dan menonton pengajaran teologi dari channel YouTube Verbum Veritatis yang dikelola oleh Pak Deky Nggadas. Tema dari pengajaran Pak Deky adalah tentang Divine Simplicity And The Trinity (Kesederhanaan Allah Dan Trinitas).  Secara garis besar, poin pengajaran Pak Deky adalah Allah Kristen itu simplisitas (Sederhana). Sederhana yang dimaksud Pak Deky, bukan berarti bahwa Allah Kristen itu bisa dipahami secara utuh tanpa harus meninggalkan ruang bagi hal-hal yang menjadi misteri untuk akal manusia. Melainkan, dalam natur-Nya Allah itu tidak terbagi. Meskipun Allah memiliki bermacam-macam atribut, seperti: maha kuasa, maha kasih, maha adil, kekal, dan lain sebagainya. Tapi atribut-atribut itu bukanlah komponen-komponen yang terpisah dalam diri Allah. Melainkan atribut itu adalah natur-Nya. Jadi, Allah bukan hanya Allah yang memiliki kasih, tapi Allah adalah kasih. Allah bukan hany...

SABELIUS BAPAK PARA BIDAT ONENESS PENTECOSTALISM

Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali PENDAHULUAN  Siapakah Sabelius? Pertanyaan ini mungkin juga mewakili pertanyaan dari beberapa teman pembaca yang lain, yang belum mengenal tokoh ini. Saya sebelumnya juga kurang familiar dengan nama ini. Nama ini kembali muncul di permukaan dan viral, setelah seorang Pendeta yang bernama Joshua Tewuh mengajarkan pandangan sesat sabelianisme yang bertolak belakang dengan doktrin fundamental dalam iman Kristen, yaitu Doktrin Tritunggal. Sayangnya, walaupun getol mempromosikan pandangan dari Sabelius ini, si Joshua Tewuh sendiri mengaku tidak mengenal tokoh ini. Hal ini membuat orang-orang mempertanyakan gelar DBS yang disandangnya. Gelar DBS juga menurut sebagian akademisi, gelar ini agak janggal dan tidak biasa di Indonesia. Tapi, ya that's ok, pada artikel kali ini saya tidak ada niat untuk membahas tentang Si Joshua Tewuh dan gelar anehnya itu. Tapi saya akan fokus untuk mengekspos sosok dari Sabelius ini. 1. LATAR BELAKANG SABELIUS Ha...