Pagi ini, sambil ngopi dan menunggu orderan Maxim, aku iseng buka YouTube dan menonton pengajaran teologi dari channel YouTube Verbum Veritatis yang dikelola oleh Pak Deky Nggadas. Tema dari pengajaran Pak Deky adalah tentang Divine Simplicity And The Trinity (Kesederhanaan Allah Dan Trinitas).
Secara garis besar, poin pengajaran Pak Deky adalah Allah Kristen itu simplisitas (Sederhana). Sederhana yang dimaksud Pak Deky, bukan berarti bahwa Allah Kristen itu bisa dipahami secara utuh tanpa harus meninggalkan ruang bagi hal-hal yang menjadi misteri untuk akal manusia. Melainkan, dalam natur-Nya Allah itu tidak terbagi. Meskipun Allah memiliki bermacam-macam atribut, seperti: maha kuasa, maha kasih, maha adil, kekal, dan lain sebagainya. Tapi atribut-atribut itu bukanlah komponen-komponen yang terpisah dalam diri Allah. Melainkan atribut itu adalah natur-Nya.
Jadi, Allah bukan hanya Allah yang memiliki kasih, tapi Allah adalah kasih. Allah bukan hanya Allah yang memiliki keadilan, tapi Allah adalah adil. Nah tujuan dari penjelasan Pak Deky ini adalah agar orang Kristen dalam benaknya, tidak membayangkan sifat-sifat Allah itu sama seperti tumpukan buku yang berjejer. Seolah-olah bahwa kasih Allah itu sendiri, dan terpisah dari keadilan Allah, kuasa Allah itu sendiri, dan terpisah dari kekekalan Allah dan seterusnya. Karena pengasosiasian seperti itu rawan membawa kita ke pemahaman yang bersifat politeistik.
Lalu atas video itu, seseorang dengan akun YouTube bernama @riossumbabayak6600 berkomentar di kolom YouTube. Orang ini kelihatannya salah memahami penjelasan pak Deky dan masih mempunyai konsep yang keliru tentang Allah. Berikut komentarnya:
" Trinitas lah yang bisa menjawab pertanyaan filosofis. Apakah Tuhan yang maha kuasa mampu menciptakan batu yang tidak bisa diangkatNya? Paradigma Allah Trinitas dengan simple menjawab: bisa!.
Tuhan bisa sekaligus maha kuasa dan sekaligus tidak maha kuasa, sesuai kenyataan keTuhanan yang ditulis di Alkitab.
Betapa bersyukurnya ada paradigma Allah Tritunggal."
Nah komentar orang ini mengandung kekeliruan yang fatal dalam memahami kemahakuasaan Allah. kemahakuasaan Allah tidak boleh dipahami bahwa Allah itu mampu melakukan apa saja, termasuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan naturNya atau melawan naturNya sendiri.
2 Timotius 2:13 (TB) jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya."
Allah itu maha kuasa? Yes, tapi maha kuasa tidak berarti bahwa Allah bisa menjadi lawan dari siapa Dia sebenarnya. Allah itu maha kuasa? Yes, tapi itu bukan berarti bahwa Allah bisa bertentangan dengan diriNya.
Semua atribut yang melekat secara inheren dalam diri Allah tidak bisa digunakan untuk melawan Allah. Misalnya Allah itu kasih, maka Dia tidak bisa menjadi tidak maha kasih, misalnya Allah itu adil, maka Dia tidak bisa menjadi tidak adil, misalnya Allah itu kekal, maka Dia tidak bisa mati, dan seterusnya. Allah tidak bisa berubah menjadi bukan Allah, Allah tidak bisa melawan diriNya.
Yakobus 1:17 “...pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.”
Kemahakuasaan juga tidak boleh dipahami bahwa Allah bisa bertindak irasional atau melawan hukum logika. Secara khusus hukum logika non kontradiksi.
Apa itu hukum logika Non Kontradiksi ?
Secara sederhana, hukum ini menyatakan bahwa: Sesuatu tidak mungkin sekaligus menjadi dirinya dan bukan dirinya pada saat yang bersamaan, atau dalam pengertian yang sama.
Secara simbolik, hukum ini dapat dirumuskan sebagai: (A Tidak mungkin menjadi non A pada saat yang bersamaan.)
Dengan kata lain, jika Allah adalah mahakuasa, maka Allah tidak mungkin sekaligus tidak mahakuasa dalam pengertian yang sama. Jika Allah adalah kekal, maka Allah tidak mungkin sekaligus tidak kekal dalam natur ilahi-Nya. Jika Allah adalah benar, maka Allah tidak mungkin sekaligus berdusta.
Karena itu, ketika seseorang berkata bahwa "Allah bisa menciptakan batu yang Dia sendiri tidak bisa angkat, Allah bisa sekaligus maha kuasa dan tidak maha kuasa,” maka itu adalah kontradiksi, dan kontradiksi seperti ini bukanlah tanda kemahakuasaan, melainkan tanda absurditas. Dia bukan sedang meninggikan Allah, melainkan dia sedang merusak konsep Allah itu sendiri.
Allah tidak bisa menyangkal diriNya. Itu artinya Allah bertindak selalu selaras dengan naturNya yang kudus, benar, setia, dan tidak berubah. Jadi ini bukan berarti Allah “terbatas” seperti makhluk, tetapi justru menunjukkan bahwa kesempurnaan-Nya membuat Dia tidak mungkin kontradiktif terhadap diri-Nya sendiri.
SALAM

Komentar
Posting Komentar