Langsung ke konten utama

BANTAHAN TERHADAP SERANGAN NGAWUR ROMO PATRIS ALEGRO


(Disclaimer: Tulisan ini tidak bermaksud memantik api permusuhan terhadap saudara-saudara dari Khatolik Roma, melainkan adalah sebuah bentuk pembelaan iman (Apologetika) atas serangan ngawur yang dilakukan secara masif oleh seorang oknum Romo dari Gereja Khatolik Roma, dengan akun Facebook bernama Patris Alegro.

Di salah satu utas terbarunya, di Facebook, tertanggal: Selasa 22 Juli 2025. Romo Patris secara ngawur mengkritik istilah "Sola" yang digunakan oleh Protestan.

Setelah membaca statusnya, saya melihat bahwa kritikan yang dibangun oleh Romo Patris lebih mencerminkan ketidakpahaman Romo Patris atas doktrin "Sola" ketimbang kritikan yang didasari oleh reductio ad absurdum.

Di bawah ini saya tampilkan tulisan utuh dari Romo Patris yang dicopas dari akun facebooknya, serta tanggapan saya atas tulisan tersebut.


TULISAN ROMO PATRIS ALEGRO

Mengapa ada lima “sola” padahal “sola” artinya “hanya satu”?. Mari kita bongkar ini secara logis, etimologis, dan teologis, lalu kita tunjukkan inkonsistensinya.

1. Arti Kata “Sola”

Kata sola berasal dari bahasa Latin yang artinya “hanya” atau “satu-satunya”. Ia adalah bentuk feminin dari “solus”, yang secara definitif meniadakan yang lain. Jadi:

Sola Scriptura = Hanya Kitab Suci

Sola Fide = Hanya Iman

Sola Gratia = Hanya Anugerah

Solus Christus = Hanya Kristus

Soli Deo Gloria = Hanya bagi Allah kemuliaan

Pertanyaannya: Kalau sudah “hanya” yang satu, kenapa masih perlu yang lain-lain?

2. Analisis Logika Dasar

Mari kita uji pakai logika proposisional sederhana.

Misal:

A = “Hanya A yang benar”

B = “Hanya B yang benar”

Kalau kita pegang dua proposisi seperti ini bersamaan, maka kita jatuh ke dalam kontradiksi logis.

Begitu juga jika Protestan berkata:

“Hanya Kitab Suci yang menjadi otoritas iman” (Sola Scriptura), tapi juga berkata:

“Hanya Kristus satu-satunya Juruselamat” (Solus Christus),

dan juga: “Hanya Anugerah yang menyelamatkan” (Sola Gratia),

maka setiap “hanya” itu menjadi relatif, bukan lagi absolut.

Dengan kata lain, “sola” menjadi “plural” (jamak), bukan “sola” lagi. Maka dari sisi etimologi dan logika, istilah “lima sola” adalah kontradiksi terminologis.

3. Inkonsistensi Teologis: Siapa yang Berotoritas?

Jika Sola Scriptura menyatakan hanya Alkitab berotoritas, maka:

Siapa yang mendefinisikan dan memastikan bahwa “lima sola” itu benar?

Alkitab sendiri tidak pernah mencantumkan kelima “sola” itu sebagai sistem. 

Mereka adalah produk teologis pasca-biblis, disistematisasi oleh teolog seperti Melanchthon, Calvin, dan Beza. Artinya:

Sola Scriptura tidak bisa menghasilkan lima sola tanpa Tradisi Reformasi.

Jadi, ironisnya, Sola Scriptura membutuhkan otoritas non-Scriptura (yakni sistem teologis Reformasi) agar bisa diformulasikan. Di sinilah ia bertentangan dengan dirinya sendiri (self-refuting).

4. Ketidakterpisahan Satu Sola dari yang Lain

Para Reformator tahu bahwa mereka tidak bisa hanya memegang satu "sola" saja:

Sola Fide tanpa Sola Gratia berisiko jadi semipelagianisme.

Sola Scriptura tanpa Solus Christus membuka jalan ke fundamentalisme legalistik.

Soli Deo Gloria tanpa Solus Christus jadi deisme.

Jadi mereka butuh kelima-limanya sekaligus, tetapi ironisnya:

Himpunan "hanya" lebih dari satu adalah ketidakkonsistenan semantik dan logis.

5. Penutup: Solusi Katolik?

Gereja Katolik tidak bermain dengan kata “sola” yang membingungkan.

Kita berkata: Iman diperlukan, tapi tidak sendiri (Yak 2:24)

Kasih dan anugerah Allah menyelamatkan, tapi melalui persekutuan dengan Kristus dalam Gereja.

Kitab Suci adalah firman Allah, tapi bersama Tradisi dan Magisterium sebagai tiga pilar wahyu.

Kita tidak perlu menegaskan “hanya yang ini” dan menyingkirkan yang lain, karena dalam iman Katolik, semuanya saling melengkapi secara harmonis, bukan saling meniadakan.

Kesimpulan Singkat

Pertanyaan Evaluasi Logis

Mengapa “lima sola”? Karena satu “sola” tidak cukup menjelaskan teologi Protestan

Apakah ini logis? Tidak. Karena “sola” berarti eksklusif, tidak bisa dibagi lima

Apakah Alkitab menyebut “lima sola”? Tidak pernah. Itu buah tradisi Reformasi

Apakah Sola Scriptura konsisten? Tidak, karena membutuhkan sistem teologi luar Alkitab.


BANTAHAN TERHADAP SERANGAN NGAWUR ROMO PATRIS TENTANG "SOLA" DALAM IMAN PROTESTAN.

Pertama, Romo Patris berkata bahwa “Sola” berarti hanya satu, jadi tak boleh ada lima?

Jawaban: Ini adalah kekeliruan kategori (category mistake).

Kata “sola” memang berarti “hanya”, tapi itu tidak berarti bahwa kita hanya bisa memakai satu kata “sola” dalam seluruh sistem teologi. Setiap “sola” menjawab pertanyaan berbeda.

Sola Scriptura = Apa otoritas tertinggi iman? Jawab: Hanya Kitab Suci.

Sola Fide = Bagaimana kita dibenarkan? Jawab: Hanya oleh iman.

Sola Gratia = Mengapa kita diselamatkan? Jawab: Hanya karena anugerah.

Solus Christus = Siapa perantara satu-satunya? Jawab: Hanya Kristus.

Soli Deo Gloria = Untuk siapa semua ini? Jawab: Hanya bagi kemuliaan Allah.

Jadi setiap “sola” berdiri sendiri dalam domain pertanyaannya masing-masing, sehingga tidak saling bertentangan. Ini bukan kontradiksi, melainkan koherensi multidimensi.

Kedua, menurut Romo Patris, Logika, “Hanya A” dan “Hanya B” tidak mungkin benar bersamaan?

Tanggapan: Disini Romo Patris salah kaprah dalam logika proposisional. Beliau mau menerapkan prinsip hukum non kontradiksi bahwa A tidak bisa menjadi non A pada saat yang sama dalam pengertian atau relasi yang sama. Atau dengan kata lain suatu proposisi tidak bisa salah sekaligus benar secara bersamaan pada waktu yang sama. Tapi Sola-sola dalam doktrin Protestan sebenarnya berbicara pada topik atau isu yang berbeda sehingga tidak saling meniadakan antara satu dengan yang lain. Sebagai contoh kalau saya berkata:

“Hanya air yang saya minum siang ini.”

“Hanya nasi yang saya makan siang ini.”

Apakah itu kontradiksi? Tentu tidak. Itu bicara tentang dua hal berbeda yaitu minuman dan makanan.

Begitu juga ketika Protestan mengklaim bahwa “Hanya Alkitab sebagai otoritas iman” itu tidak bertentangan dengan klaim lain bahwa “Hanya Kristus sebagai perantara keselamatan.”

Jadi disini Romo Patris gagal (entah sengaja atau tidak) memahami hukum non kontradiksi. 

Ketiga, Romo Patris berkata bahwa “Lima sola” itu tidak berasal dari Alkitab?

Tanggapan: Ini jebakan asumsi Katolik tentang "eksplisit itu sama dengan benar." Jadi Romo Patris menuntut harus ada ayat eksplisit dalam Alkitab tentang sola-sola itu baru bisa diakui bahwa ajaran tentang sola-sola itu punya landasan Alkitab.

Wah ini tuntutan bisa menjadi boomerang alias senjata makan tuan. “Lima sola” tidak perlu tertulis sebagai satu paket di Alkitab untuk menjadi benar. Yang penting adalah apakah masing-masing sola itu sesuai dengan ajaran Alkitab.

Contoh, Alkitab tidak pernah mencatat secara eksplisit istilah "Trinitas", tapi apakah anda Romo Patris menolak doktrin Trinitas?

Kalau kita tolak lima sola hanya karena tidak tertulis eksplisit, maka semua sistem teologi Katolik pun ikut runtuh, karena istilah-istilah seperti "Immaculate Conception", "Purgatory", dan "Transubstantiation" juga tidak tertulis dalam Alkitab.

Keempat, Romo Patris bilang kalau satu sola butuh yang lain, berarti bukan “sola” dong?

Tanggapan: Logika Romo Patris ini lucu, analoginya ini seperti bilang:

“Kalau saya butuh oksigen dan air untuk hidup, maka tidak bisa dikatakan bahwa saya hanya butuh oksigen untuk bernapas.”

"Only" itu bersifat kontekstual. Setiap "sola" menjawab satu bidang saja, dan tidak mengklaim eksklusivitas terhadap semua bidang.

Misalnya, Sola Fide artinya hanya iman yang membenarkan (tidak perbuatan)

Tapi iman itu sendiri adalah karunia anugerah (Sola Gratia)

Yang bekerja karena karya Kristus (Solus Christus)

Dan semuanya diungkapkan di dalam Kitab Suci (Sola Scriptura)

Demi kemuliaan Allah saja (Soli Deo Gloria)

Semua saling menunjang. Bukan saling membatalkan. Ini sistem koheren, bukan kontradiktif. Disini nalar Romo Patris kelihatan bermasalah.

Kelima, menurut Romo Patris  Katolik menawarkan “harmoni” bukan eksklusivitas?

Tanggapan: Mungkin ini dianggap ofensif (menyerang) tapi saya harus jujur bahwa justru inkonsistensi paling besar ada pada sistem Katolik. Saya tidak melihat keharmonisan melainkan setiap sistem saling meniadakan antara satu dengan yang lain.

Saat Gereja Katolik Roma berkata:

Iman dibutuhkan tapi di saat bersamaan menekankan perbuatan baik sebagai satu paket dengan iman.

Anugerah dibutuhkan tapi di saat yang bersamaan menekankan sakramen sebagai pelengkap anugerah.

Alkitab sebagai firman Allah yang otoritatif tapi di saat bersamaan tradisi Gereja dan magisterium sebagai tiga pilar yang sama sebagai penopang, Maka terjadi bentrokan logis sebagai berikut ini:

1. Iman dan Perbuatan: “Satu Paket” atau Dua Hal yang Bertentangan?

Katolik mengajarkan bahwa iman memang diperlukan untuk keselamatan, tapi perbuatan baik juga esensial. Mereka sering mengatakan “iman yang bekerja dalam kasih” (Gal. 5:6) atau “iman dan perbuatan adalah dua sisi dari mata uang yang sama”.

Masalahnya adalah jika keselamatan bergantung pada iman dan perbuatan, maka iman saja sebenarnya tidak cukup.

Dan ini meniadakan prinsip dasar dari anugerah:

"Jika itu oleh kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan; sebab jika tidak, maka kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia." (Roma 11:6)

Terdapat kontradiksi Internal di sini, sebab jika perbuatan baik (amal) ikut andil dalam menentukan keselamatan, maka keselamatan  sebenarnya bukanlah kasih karunia (Roma 4:4).

Jadi, ketika Katolik berkata “iman + perbuatan adalah satu paket,” sebenarnya mereka mengingkari suffisiensi (kecukupan) iman. Iman yang seharusnya jadi alat penerima anugerah, diubah menjadi alat kerja sama antara manusia dengan Allah.

2. Anugerah dan Sakramen: “Pelengkap” atau Pengganti?

Katolik mengajarkan bahwa anugerah Allah dicurahkan melalui sakramen-sakramen (ada tujuh: Baptisan, Ekaristi, Pengakuan dosa, dll). Jadi, anugerah itu tetap dari Allah, tapi disalurkan melalui media eksternal dan institusional.

Kalau anugerah benar-benar cuma-cuma (gratis) maka seharusnya tidak boleh tergantung pada keikutsertaan dalam ritus (sakramen). 

Jika seseorang tidak menerima sakramen, dia dianggap belum menerima anugerah penuh. Ini mengubah anugerah ilahi menjadi sistem transaksional liturgis.

Kontradiksinya adalah Sakramen yang seharusnya menjadi penyalur anugerah, tapi dalam praktiknya malah mengendalikan anugerah.

Maka bukan lagi Allah yang berdaulat secara mutlak atas anugerah-Nya, tapi sistem sakramental Gereja.

3. Alkitab, Tradisi, dan Magisterium: “Tiga Pilar” atau Tiga Otoritas yang Bertabrakan?

Katolik mengklaim bahwa otoritas Allah ada dalam:

1.    Alkitab (Firman Allah tertulis),

2. Tradisi Suci (ajaran lisan turun-temurun), dan

3. Magisterium (otoritas pengajaran Gereja, khususnya Paus dan para uskup).

Ketiganya dikatakan tidak bertentangan, tapi saling melengkapi. Masalahnya, adalah dalam praktiknya, Magisterium punya kuasa final untuk menginterpretasi Alkitab dan tradisi.

Jika ada pertentangan antara Alkitab dan Tradisi, penafsiran Magisterium yang menang.

Kontradiksi Internalnya adalah Jika Alkitab adalah Firman Allah yang otoritatif, maka tidak boleh ada otoritas manusia yang menafsirkannya secara infalibel di atas teks itu.

Tapi dalam sistem Katolik, Magisterium bisa menetapkan doktrin bahkan saat tidak eksplisit ada dalam Alkitab, seperti dogma Maria dikandung tanpa dosa (1854).

Maka Alkitab bukan lagi otoritas tertinggi, tapi sebuah bagian dari sistem yang dikontrol oleh otoritas manusia.

Kesimpulannya sistem Katolik Menjadi Kontradiktif secara Internal. Doktrin Katolik di permukaan, tapi realitanya kontradiksi atau reduksi

Iman dan Perbuatan “Satu paket keselamatan” Perbuatan menjadi syarat keselamatan, Iman tidak lagi cukup

Anugerah dan Sakramen “Sakramen menyalurkan anugerah” Sakramen menjadi syarat anugerah, anugerah tidak lagi bebas

Alkitab dan Tradisi “Tiga pilar otoritas” Magisterium mengontrol dua lainnya Alkitab tidak berdaulat

Jika fondasi epistemologis utama adalah Firman Allah, maka meletakkan otoritas manusia (tradisi dan magisterium) di atas atau sejajar dengan Firman berarti mengganti fondasi itu. Maka, sistem Katolik runtuh karena bertumpu pada fondasi ganda yang saling bertentangan—dan ini mustahil secara logis dan epistemologis.


KESIMPULAN LOGIS DARI PENDAPAT KONYOL ROMO PATRIS INI, AKAN MENGHANCURKAN ARGUMEN ROMO INI SENDIRI.

Jika kita menolak lima sola karena istilahnya kontradiktif secara semantik, maka:

Kita juga harus menolak Trinitas, karena tiga bukan satu.

Kita juga harus menolak Inkarnasi, karena Allah dan manusia adalah dua natur, bukan satu.

Kita juga harus menolak Kitab Suci, karena terdiri dari 66 kitab, bukan satu “firman.”

Maka argumen Romo Patris ini bukan hanya lemah tapi menghancurkan sistemnya sendiri kalau dipakai secara konsisten.

Dan terakhir sebagai Penutup “Satu sola tidak cukup” bukan karena Protestan tidak konsisten, tapi karena kebenaran Alkitab itu kaya dan komprehensif.

SOLIDEO GLORYA 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROVIDENSI ALLAH BUKAN ALASAN UNTUK BERDOSA

  Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   "Kalau Allah telah menetapkan segala sesuatu, dan apa yang ditetapkan Allah harus dan pasti terjadi, lalu mengapa tindakan berdosa manusia harus dihakimi?" Pertanyaan ini lahir dari kegagalan (kebingungan) dalam memahami providensi Allah. Apa itu providensi? Providensi adalah doktrin yang percaya bahwa Allah/Tuhan berdaulat penuh atas segala peristiwa yang terjadi di bawah kolong langit ini. Dengan kata lain tidak ada satupun peristiwa dalam bentang sejarah umat manusia yang luput dari kontrol dan kedaulatan Tuhan. Dan itu mencakup peristiwa yang baik maupun buruk (kejahatan) dalam kehidupan manusia. Sebagai landasan biblikalnya, kita akan melihat beberapa ayat di bawah ini. Misalnya tentang pemilihan orang percaya, ternyata Tuhan dalam kekekalan telah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi umat pilihan-Nya. "Di dalam Dia kami juga mendapat bagian, yang ditentukan dari semula menurut maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu ...

MEMBEDAH RUMUSAN TRITUNGGAL ALA ELIA MYRON

Oleh : Dionisius Daniel Dalam sebuah video dari kanal YouTube Tiga Hari. Elia Myron seorang apologet muda terlihat sedang mengajarkan doktrin Tritunggal. Namun yang menarik disini adalah, rumusan Tritunggal yang diajarkan oleh Elia Myron ini, terindikasi menyimpang dari rumusan Tritunggal yang ortodoks yang telah dipegang oleh Gereja sepanjang sejarah. Elia mendasari pengajaran Tritunggalnya dengan mengutip Ulangan 6:4, dan 1 Korintus 8:6 Ulangan 6:4 (TB) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  1 Korintus 8:6 (TB) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.  Berdasarkan dua ayat ini Elia membangun premis bahwa Allah itu pada hakikatnya adalah esa, dan Allah yang esa ini adalah sang Bapa. Mengapa Allah yang esa ini disebut Bapa? Karena menurut Elia,...

Obrolan Serius: Membongkar Kekeliruan Tritunggal yang Sering Diabaikan

Oleh : Dionisius Daniel   Kali ini saya kembali membagikan diskusi singkat saya dengan seseorang di Facebook yang diduga adalah fans atau pendukung fanatik dari Elia Myron.  Saya memang belakangan ini sedang menulis artikel mengkritisi ajaran Tritunggal Elia Myron, yang menurut saya telah menyimpang dan tanpa sadar "nyemplung" ke bidat-bidat yang sudah ditolak oleh para Bapa-Bapa Gereja kita. Seperti Sabelianisme atau Subordinasisme ala Unitarian. Sebenarnya diskusi/perdebatan ini berawal dari postingan foto Pdt Esra Soru di Facebook, tertanggal, Minggu 18/05/2025. Di foto itu tampak Pdt Esra sedang bersama Elia Myron. (fotonya saya jadikan wallpaper artikel ini) Saya lalu spontan berkomentar: "Pak Esra tolong ajari Elia Myron itu agar mengajar Tritunggal dengan benar, soalnya ajaran Tritunggal dan konsep keselamatannya telah menyesatkan banyak orang". Alhasil tak butuh waktu lama, komentar saya langsung ditanggapi oleh pengguna facebook lain yang diduga adalah fans...