Langsung ke konten utama

RENUNGAN KHOTBAH KOMSEL 19/06/2026

 

SIAPA YANG MENJADI TUHAN DALAM HIDUPMU?

Nats

Kejadian 2:16-17; Kejadian 3:1-6

"Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: 'Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya...'"


Pendahuluan

Shalom saudara-saudari.

Malam ini saya ingin mengajak kita merenungkan sebuah pertanyaan yang sederhana tetapi sangat mendasar.

Mengapa Allah menaruh pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat di Taman Eden?

Bukankah kalau pohon itu tidak ada, Adam dan Hawa tidak akan jatuh ke dalam dosa?

Pertanyaan ini sering muncul ketika kita membaca kitab Kejadian.

Namun semakin kita memikirkan kisah ini, kita akan menemukan bahwa inti persoalannya bukanlah pohon itu.

Bukan buahnya.

Bukan taman Eden.

Masalah yang sebenarnya adalah sebuah pertanyaan yang masih relevan sampai hari ini:

Siapa yang berhak menentukan apa yang benar dan apa yang salah?

Allah?

Atau manusia?


Pohon Itu Adalah Simbol Otoritas Allah

Ketika Allah menciptakan manusia, Ia memberikan kebebasan yang luar biasa.

Adam boleh menikmati seluruh taman.

Seluruh taman.

Tetapi hanya ada satu larangan.

Satu pohon.

Mengapa?

Karena Allah sedang mengajar manusia bahwa mereka adalah ciptaan, bukan Pencipta.

Mereka hidup di bawah pemerintahan Allah.

Pohon itu menjadi pengingat bahwa ada otoritas yang lebih tinggi daripada manusia.

Dengan kata lain, pohon itu adalah ujian sederhana:

Apakah manusia mau percaya kepada Allah?

Ataukah manusia ingin menentukan jalannya sendiri?


Strategi Iblis Tidak Pernah Berubah

Ketika ular datang kepada Hawa, ia tidak langsung menyuruh Hawa makan buah itu.

Ia memulai dengan pertanyaan:

"Tentulah Allah berfirman...?"

Iblis menyerang firman Allah.

Ia menyerang kepercayaan manusia kepada Allah.

Lalu ia berkata:

"Kamu akan menjadi seperti Allah."

Inilah inti godaan itu.

Iblis tidak menawarkan buah.

Iblis menawarkan otonomi.

Ia menawarkan kehidupan tanpa otoritas Allah.

Seolah-olah berkata:

"Tidak perlu Tuhan menentukan hidupmu."

"Kamu tentukan sendiri."

"Kamu yang menjadi hakim atas hidupmu."

Dan Hawa mempercayainya.


Dosa Pertama Bukan Sekadar Memakan Buah

Sering kali kita berpikir dosa pertama manusia adalah memakan buah terlarang.

Sebenarnya buah itu hanya akibat.

Dosa yang lebih dalam telah terjadi sebelumnya.

Adam dan Hawa memutuskan untuk mengambil posisi yang hanya layak dimiliki Allah.

Mereka ingin menentukan sendiri apa yang baik dan apa yang jahat.

Mereka ingin menjadi otoritas tertinggi.

Mereka ingin menjadi tuhan bagi diri mereka sendiri.

Dan sejak saat itu, seluruh sejarah manusia menjadi pengulangan dari dosa yang sama.


Pertanyaan Filosofis Untuk Direnungkan

Mari kita pikirkan beberapa pertanyaan.

Jika Allah tidak ada, siapakah yang berhak menentukan apa yang baik dan apa yang jahat?

Jika setiap orang memiliki versinya sendiri tentang kebenaran, bagaimana kita menentukan siapa yang benar ketika terjadi konflik?

Apakah kebebasan berarti melakukan apa saja yang kita inginkan?

Ataukah kebebasan sejati adalah hidup sesuai tujuan yang ditetapkan oleh Pencipta kita?

Mengapa manusia begitu sulit tunduk kepada Allah?

Mengapa kita lebih suka menjadi penguasa atas hidup kita sendiri?

Dan pertanyaan yang paling penting:

Apakah saya benar-benar hidup di bawah otoritas Allah, atau saya hanya ingin Allah memberkati keputusan-keputusan yang sudah saya buat sendiri?


Penerapan Praktis Dalam Kehidupan Orang Percaya

Kisah Eden bukan hanya tentang Adam dan Hawa.

Kisah Eden terjadi setiap hari dalam hidup kita.

1. Ketika Firman Tuhan Bertentangan Dengan Keinginan Kita

Firman Tuhan berkata:

"Ampunilah."

Tetapi hati kita berkata:

"Saya tidak mau mengampuni."

Saat itu masalahnya bukan lagi soal pengampunan.

Masalahnya adalah:

Siapa yang menjadi otoritas?

Firman Tuhan?

Atau perasaan saya?


2. Ketika Kita Lebih Percaya Diri Sendiri Daripada Tuhan

Firman Tuhan berkata:

"Jangan kuatir."

Tetapi kita terus hidup dalam ketakutan dan merasa harus mengendalikan semuanya sendiri.

Kita berkata:

"Kalau saya tidak pegang kendali, semuanya akan berantakan."

Secara tidak sadar kita sedang menaruh kepercayaan lebih besar pada diri sendiri daripada kepada Tuhan.


3. Ketika Kita Membenarkan Dosa Yang Kita Sukai

Kita tahu sesuatu itu salah.

Tetapi kita mulai mencari alasan.

"Semua orang melakukannya."

"Zaman sudah berubah."

"Yang penting saya bahagia."

Bukankah Hawa juga melakukan hal yang sama?

Ia mulai melihat buah itu sebagai sesuatu yang baik menurut penilaiannya sendiri.


4. Ketika Kita Menjadikan Perasaan Sebagai Standar Kebenaran

Hari ini banyak orang berkata:

"Ikuti hatimu."

Tetapi Alkitab berkata bahwa hati manusia telah jatuh dalam dosa.

Kebenaran tidak ditentukan oleh apa yang saya rasakan.

Kebenaran ditentukan oleh Allah yang menciptakan saya.


5. Ketika Kita Hanya Mau Taat Jika Firman Itu Cocok Dengan Keinginan Kita

Ini yang paling sering terjadi.

Kita senang ayat tentang berkat.

Kita senang ayat tentang kasih.

Tetapi ketika firman menegur dosa kita, kita mulai mencari alasan untuk tidak taat.

Pada saat itu, kita sedang mengulangi dosa yang sama seperti Adam dan Hawa.


Penutup

Saudara-saudari,

Masalah terbesar manusia bukan kurang pendidikan.

Bukan kurang informasi.

Bukan kurang teknologi.

Masalah terbesar manusia adalah hati yang ingin menjadi tuhan atas dirinya sendiri.

Karena itu pertanyaan utama dari kisah Eden bukanlah:

"Mengapa Adam dan Hawa memakan buah itu?"

Tetapi:

"Siapa yang menjadi Tuhan dalam hidup saya hari ini?"

Apakah saya tunduk kepada firman Tuhan?

Ataukah saya masih ingin menentukan sendiri apa yang benar dan apa yang salah?

Kiranya Tuhan menolong kita untuk merendahkan diri di bawah otoritas-Nya.

Sebab kebebasan sejati bukan ditemukan ketika kita menjadi tuhan atas hidup kita.

Kebebasan sejati ditemukan ketika kita hidup sesuai kehendak Sang Pencipta.

Amin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

APAKAH KARENA YESUS BERASAL DARI ALLAH, MAKA DIA BUKAN ALLAH? (MENANGGAPI SERANGAN UST. SUBANDI T SUKOCO)

Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   Beberapa hari yang lalu, seseorang mengirimi saya sebuah video dan meminta tanggapan saya atas video itu. Setelah saya lihat-lihat, ternyata ini adalah cuplikan video dari YouTube Ust. Subandi T Sukoco. Siapakah orang ini? Subandi atau yang lebih dikenal dengan Gus Mbetik ini, adalah seorang pendakwah yang sudah sering terlibat dalam diskusi-diskusi lintas agama. Nah dalam cuplikan video yang berdurasi 2 menit 42 detik ini, Subandi memberikan argumentasinya untuk menolak ke-Tuhanan dan ke-Allahan Yesus. Menurut Subandi karena Yesus datang dari Allah maka Yesus pasti bukan Allah. Cuplikan lengkapnya bisa ditonton disini👇 Setelah menonton videonya, saya menemukan bahwa penolakan Ust. Subandi T Sukoco terhadap ke-Allahan Yesus didasari atas dua fakta ini : PERTAMA, KARENA YESUS DATANG DARI ALLAH MAKA DIA BUKAN ALLAH   Yohanes 9:33 (TB) Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa."  Menurut Ust. Subandi T Suko...

PROVIDENSI ALLAH BUKAN ALASAN UNTUK BERDOSA

  Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   "Kalau Allah telah menetapkan segala sesuatu, dan apa yang ditetapkan Allah harus dan pasti terjadi, lalu mengapa tindakan berdosa manusia harus dihakimi?" Pertanyaan ini lahir dari kegagalan (kebingungan) dalam memahami providensi Allah. Apa itu providensi? Providensi adalah doktrin yang percaya bahwa Allah/Tuhan berdaulat penuh atas segala peristiwa yang terjadi di bawah kolong langit ini. Dengan kata lain tidak ada satupun peristiwa dalam bentang sejarah umat manusia yang luput dari kontrol dan kedaulatan Tuhan. Dan itu mencakup peristiwa yang baik maupun buruk (kejahatan) dalam kehidupan manusia. Sebagai landasan biblikalnya, kita akan melihat beberapa ayat di bawah ini. Misalnya tentang pemilihan orang percaya, ternyata Tuhan dalam kekekalan telah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi umat pilihan-Nya. "Di dalam Dia kami juga mendapat bagian, yang ditentukan dari semula menurut maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu ...

Allah Maha Kuasa Bukan Maha Kontradiksi

Oleh: Dionisius Daniel Goli Sali Pagi ini, sambil ngopi dan menunggu orderan Maxim, aku iseng buka YouTube dan menonton pengajaran teologi dari channel YouTube Verbum Veritatis yang dikelola oleh Pak Deky Nggadas. Tema dari pengajaran Pak Deky adalah tentang Divine Simplicity And The Trinity (Kesederhanaan Allah Dan Trinitas).  Secara garis besar, poin pengajaran Pak Deky adalah Allah Kristen itu simplisitas (Sederhana). Sederhana yang dimaksud Pak Deky, bukan berarti bahwa Allah Kristen itu bisa dipahami secara utuh tanpa harus meninggalkan ruang bagi hal-hal yang menjadi misteri untuk akal manusia. Melainkan, dalam natur-Nya Allah itu tidak terbagi. Meskipun Allah memiliki bermacam-macam atribut, seperti: maha kuasa, maha kasih, maha adil, kekal, dan lain sebagainya. Tapi atribut-atribut itu bukanlah komponen-komponen yang terpisah dalam diri Allah. Melainkan atribut itu adalah natur-Nya. Jadi, Allah bukan hanya Allah yang memiliki kasih, tapi Allah adalah kasih. Allah bukan hany...