SIAPA YANG MENJADI TUHAN DALAM HIDUPMU?
Nats
Kejadian 2:16-17; Kejadian 3:1-6
"Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: 'Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya...'"
Pendahuluan
Shalom saudara-saudari.
Malam ini saya ingin mengajak kita merenungkan sebuah pertanyaan yang sederhana tetapi sangat mendasar.
Mengapa Allah menaruh pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat di Taman Eden?
Bukankah kalau pohon itu tidak ada, Adam dan Hawa tidak akan jatuh ke dalam dosa?
Pertanyaan ini sering muncul ketika kita membaca kitab Kejadian.
Namun semakin kita memikirkan kisah ini, kita akan menemukan bahwa inti persoalannya bukanlah pohon itu.
Bukan buahnya.
Bukan taman Eden.
Masalah yang sebenarnya adalah sebuah pertanyaan yang masih relevan sampai hari ini:
Siapa yang berhak menentukan apa yang benar dan apa yang salah?
Allah?
Atau manusia?
Pohon Itu Adalah Simbol Otoritas Allah
Ketika Allah menciptakan manusia, Ia memberikan kebebasan yang luar biasa.
Adam boleh menikmati seluruh taman.
Seluruh taman.
Tetapi hanya ada satu larangan.
Satu pohon.
Mengapa?
Karena Allah sedang mengajar manusia bahwa mereka adalah ciptaan, bukan Pencipta.
Mereka hidup di bawah pemerintahan Allah.
Pohon itu menjadi pengingat bahwa ada otoritas yang lebih tinggi daripada manusia.
Dengan kata lain, pohon itu adalah ujian sederhana:
Apakah manusia mau percaya kepada Allah?
Ataukah manusia ingin menentukan jalannya sendiri?
Strategi Iblis Tidak Pernah Berubah
Ketika ular datang kepada Hawa, ia tidak langsung menyuruh Hawa makan buah itu.
Ia memulai dengan pertanyaan:
"Tentulah Allah berfirman...?"
Iblis menyerang firman Allah.
Ia menyerang kepercayaan manusia kepada Allah.
Lalu ia berkata:
"Kamu akan menjadi seperti Allah."
Inilah inti godaan itu.
Iblis tidak menawarkan buah.
Iblis menawarkan otonomi.
Ia menawarkan kehidupan tanpa otoritas Allah.
Seolah-olah berkata:
"Tidak perlu Tuhan menentukan hidupmu."
"Kamu tentukan sendiri."
"Kamu yang menjadi hakim atas hidupmu."
Dan Hawa mempercayainya.
Dosa Pertama Bukan Sekadar Memakan Buah
Sering kali kita berpikir dosa pertama manusia adalah memakan buah terlarang.
Sebenarnya buah itu hanya akibat.
Dosa yang lebih dalam telah terjadi sebelumnya.
Adam dan Hawa memutuskan untuk mengambil posisi yang hanya layak dimiliki Allah.
Mereka ingin menentukan sendiri apa yang baik dan apa yang jahat.
Mereka ingin menjadi otoritas tertinggi.
Mereka ingin menjadi tuhan bagi diri mereka sendiri.
Dan sejak saat itu, seluruh sejarah manusia menjadi pengulangan dari dosa yang sama.
Pertanyaan Filosofis Untuk Direnungkan
Mari kita pikirkan beberapa pertanyaan.
Jika Allah tidak ada, siapakah yang berhak menentukan apa yang baik dan apa yang jahat?
Jika setiap orang memiliki versinya sendiri tentang kebenaran, bagaimana kita menentukan siapa yang benar ketika terjadi konflik?
Apakah kebebasan berarti melakukan apa saja yang kita inginkan?
Ataukah kebebasan sejati adalah hidup sesuai tujuan yang ditetapkan oleh Pencipta kita?
Mengapa manusia begitu sulit tunduk kepada Allah?
Mengapa kita lebih suka menjadi penguasa atas hidup kita sendiri?
Dan pertanyaan yang paling penting:
Apakah saya benar-benar hidup di bawah otoritas Allah, atau saya hanya ingin Allah memberkati keputusan-keputusan yang sudah saya buat sendiri?
Penerapan Praktis Dalam Kehidupan Orang Percaya
Kisah Eden bukan hanya tentang Adam dan Hawa.
Kisah Eden terjadi setiap hari dalam hidup kita.
1. Ketika Firman Tuhan Bertentangan Dengan Keinginan Kita
Firman Tuhan berkata:
"Ampunilah."
Tetapi hati kita berkata:
"Saya tidak mau mengampuni."
Saat itu masalahnya bukan lagi soal pengampunan.
Masalahnya adalah:
Siapa yang menjadi otoritas?
Firman Tuhan?
Atau perasaan saya?
2. Ketika Kita Lebih Percaya Diri Sendiri Daripada Tuhan
Firman Tuhan berkata:
"Jangan kuatir."
Tetapi kita terus hidup dalam ketakutan dan merasa harus mengendalikan semuanya sendiri.
Kita berkata:
"Kalau saya tidak pegang kendali, semuanya akan berantakan."
Secara tidak sadar kita sedang menaruh kepercayaan lebih besar pada diri sendiri daripada kepada Tuhan.
3. Ketika Kita Membenarkan Dosa Yang Kita Sukai
Kita tahu sesuatu itu salah.
Tetapi kita mulai mencari alasan.
"Semua orang melakukannya."
"Zaman sudah berubah."
"Yang penting saya bahagia."
Bukankah Hawa juga melakukan hal yang sama?
Ia mulai melihat buah itu sebagai sesuatu yang baik menurut penilaiannya sendiri.
4. Ketika Kita Menjadikan Perasaan Sebagai Standar Kebenaran
Hari ini banyak orang berkata:
"Ikuti hatimu."
Tetapi Alkitab berkata bahwa hati manusia telah jatuh dalam dosa.
Kebenaran tidak ditentukan oleh apa yang saya rasakan.
Kebenaran ditentukan oleh Allah yang menciptakan saya.
5. Ketika Kita Hanya Mau Taat Jika Firman Itu Cocok Dengan Keinginan Kita
Ini yang paling sering terjadi.
Kita senang ayat tentang berkat.
Kita senang ayat tentang kasih.
Tetapi ketika firman menegur dosa kita, kita mulai mencari alasan untuk tidak taat.
Pada saat itu, kita sedang mengulangi dosa yang sama seperti Adam dan Hawa.
Penutup
Saudara-saudari,
Masalah terbesar manusia bukan kurang pendidikan.
Bukan kurang informasi.
Bukan kurang teknologi.
Masalah terbesar manusia adalah hati yang ingin menjadi tuhan atas dirinya sendiri.
Karena itu pertanyaan utama dari kisah Eden bukanlah:
"Mengapa Adam dan Hawa memakan buah itu?"
Tetapi:
"Siapa yang menjadi Tuhan dalam hidup saya hari ini?"
Apakah saya tunduk kepada firman Tuhan?
Ataukah saya masih ingin menentukan sendiri apa yang benar dan apa yang salah?
Kiranya Tuhan menolong kita untuk merendahkan diri di bawah otoritas-Nya.
Sebab kebebasan sejati bukan ditemukan ketika kita menjadi tuhan atas hidup kita.
Kebebasan sejati ditemukan ketika kita hidup sesuai kehendak Sang Pencipta.
Amin.
Komentar
Posting Komentar