Shalom Selamat Siang Bung Martin. Saya selalu berharap bahwa bung dan keluarga terkasih selalu dalam keadaan sehat dan baik.
Oh ya, karena satu dan lain hal saya vakum beberapa saat dari diskusi kita. Dan mungkin juga ini akan menjadi chat saya yang terakhir via WhatsApp bersama bung Martin dalam memperdebatkan indentitas Kristus, sang Allah yang kekal (Dalam prespektif saya).
Karena perbedaan antara saya dengan Bung Martin begitu fundamental dan mendasar. Perbedaan kita bukan terletak pada doktrinal sekunder, seperti: Manakah cara membaptis yang benar? Apakah dengan dipercik atau diselam?
Tapi perbedaan kita terletak pada doktrinal inti dari iman Kristen: Siapakah identitas Yesus menurut Alkitab? Allah yang kekal atau ciptaan? Allah Alkitab itu Tritunggal atau bukan? Dan lain sebagainya.
Jadi saya merasa bahwa perdebatan ini tak akan ada habisnya karena bung sesungguhnya hanya membuka telinga, tapi sudah menutup hati dari kebenaran. Maka jika diteruskan, ini ibarat saya membuang mutiara ke mulut babi (Matius 7:6)
Oleh karena itu, saya merasa bahwa nasihat dari Titus 3:10-11 ini relevan untuk saya terapkan dalam konteks perdebatan yang berkepanjangan antara saya dengan Bung Martin beberapa waktu belakangan ini:
Titus 3:10-11 (TB)
10 Seorang bidat yang sudah satu dua kali kaunasihati, hendaklah engkau jauhi.
11 Engkau tahu bahwa orang yang semacam itu benar-benar sesat dan dengan dosanya menghukum dirinya sendiri.
Jadi saya harus tegas katakan bahwa saya dan Bung Martin adalah saudara dalam kemanusiaan, bahkan juga saudara sebangsa dan setanah air, tapi kita bukan saudara seiman. Iman saya dan Bung Martin berbeda, Yesus saya kenal dan yang bung Martin imani adalah Yesus yang berbeda.
Jadi di sini mau tidak mau, kita harus SEPAKAT UNTUK TIDAK SEPAKAT dan harus SETUJU UNTUK TIDAK SETUJU.
Tapi mengingat bahwa dalam diskusi terakhir kita, masih ada beberapa argumentasi dan pertanyaan dari bung Martin yang belum saya jawab, saya merasa masih memiliki PR dan tanggungjawab moral dan intelektual untuk menjawabnya.
Oleh sebab itu, di chat terakhir ini saya kembali kutip poin-poin dari argumentasi Bung Martin lalu menjawabnya.
BERIKUT POIN-POIN DARI ARGUMEN BUNG MARTIN YANG SEMPAT SAYA RANGKUM.
1. Tuduhan False Dichotomy
Bung Martin menolak dua proposisi yang saya berikan dan mengklaim bahwa ada "jalan ketiga".
2. Mazmur 2:7 ("hari ini Aku memperanakkan Engkau")
Bung Martin menafsirkan bahwa kata "memperanakkan" sama dengan menciptakan. Dan menafsirkan bahwa frasa "hari ini" itu artinya awal eksistensi Anak.
3. Bapa Sebagai Gelar Relasional
Bung Martin menganggap Allah menjadi Bapa sebagaimana Allah menjadi Pencipta. Jadi status Bapa dianggap muncul pada suatu titik tertentu.
4. Perbedaan Antara Perubahan Esensial Dan perubahan Relasional
Bung Martin menganggap bahwa Allah dapat memperoleh relasi baru tanpa perubahan hakikat.
5. Tuduhan Pengaruh Aristoteles
Bung menuduh bahwa konsep ketidakberubahan yang aku gunakan berasal dari filsafat Yunani, bukan dari Alkitab.
6. Yohanes 17:5
Bung Martin menerima pra-eksistensi Kristus. Tetapi menolak kekekalan Kristus. Bung menafsirkan ayat itu hanya menunjukkan Kristus ada sebelum dunia.
7. Kolose 1:15 dan Wahyu 3:14
Bung memakai kedua ayat ini untuk mendukung bahwa Yesus adalah ciptaan pertama.
8. Konsep "Allah memilih menjadi Bapa"
Ini tampaknya menjadi tesis utama Bung Martin dalam seluruh bagian pertama dari argumentasi Bung Martin.
TANGGAPAN SAYA ATAS SETIAP POIN DARI ARGUMEN BUNG MARTIN:
POIN 1
MARTIN: Dilema yang Bung Dion ajukan adalah dikotomi palsu. Saya menolak kedua proposisi itu dan memilih jalan ketiga.
JAWABAN DION: Menurut saya Bung tidak benar-benar menawarkan jalan ketiga. Saya mengatakan bahwa: Relasi Bapa-Anak kekal.
Atau pernah ada keadaan ketika Allah belum menjadi Bapa.
Lalu Bung menjawab:
Allah memilih menjadi Bapa ketika menciptakan Putra. Tetapi itu justru mengakui bahwa ada keadaan ketika Allah belum menjadi Bapa.
Jadi secara substansi, Bung sebenarnya menerima proposisi kedua lalu mengganti istilahnya menjadi "Allah memilih menjadi Bapa."
Jadi saya tidak melihat adanya opsi ketiga yang Bung tawarkan.
POIN 2
MARTIN: Tunjukkan satu ayat yang mengatakan relasi Bapa-Anak harus kekal.
JAWABAN DION: Ini memindahkan beban pembuktian. Karena posisi yang sedang Bung pertahankan bukan sekadar: Anak ada. Tetapi, Anak adalah ciptaan pertama yang memiliki awal eksistensi.
Maka justru Bung yang harus menunjukkan ayat yang secara eksplisit mengatakan: "Anak mulai ada." atau "Anak diciptakan.". Yang saya temukan justru sebaliknya. Misalnya dalam Yohanes 1:1 dikatakan: Pada mulanya adalah Firman. Pada mulanya Firman mulai ada.
Lalu dalam Yohanes 17:5 dikatakan bahwa: Kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada. Bukan, Kemuliaan yang Kumiliki setelah Aku diciptakan.
Jadi ketiadaan kata "kekal" tidak otomatis membuktikan bahwa Anak mempunyai awal.
POIN 3
MARTIN: Mazmur 2:7 berkata: "Pada hari ini Aku telah memperanakkan Engkau."
JAWABAN DION: Saya tidak menolak Mazmur 2:7. Yang saya tolak adalah kesimpulan Bung bahwa memperanakkan sama dengan menciptakan.
Di mana ayat yang menyatakan demikian?
Dalam Alkitab, "memperanakkan" dan "menciptakan" adalah dua kategori yang berbeda. Adam diciptakan. Tapi Set diperanakkan. Adam tidak menciptakan Set. Adam memperanakkan Set.
Jadi Bung tidak bisa menyamakan kedua istilah itu begitu saja tanpa pembuktian.
Justru itu adalah asumsi utama yang harus Bung buktikan.
POIN 4
Martin: Frasa "hari ini" membuktikan ada titik awal eksistensi Anak.
JAWABAN DION: Masalahnya, Perjanjian Baru sendiri tidak memakai Mazmur 2:7 untuk menjelaskan awal eksistensi Yesus. Dalam Kisah Para Rasul 13:33, Mazmur 2:7 dikaitkan dengan kebangkitan Kristus.
Kalau logika Bung diterapkan secara konsisten, maka Yesus baru mulai ada saat kebangkitan. Tetapi saya yakin Bung tidak percaya itu.
Artinya "hari ini Aku memperanakkan Engkau" tidak otomatis berbicara tentang awal ontologis keberadaan Anak.
POIN 5
Martin: Allah menjadi Bapa sebagaimana Allah menjadi Pencipta.
JAWABAN DION: Menurut saya analogi ini gagal. Mengapa? Karena "Pencipta" adalah relasi Allah terhadap ciptaan.
Sedangkan "Bapa" dalam perdebatan kita adalah relasi Allah terhadap Anak. Kedua kategori ini tidak identik.
Ketika dunia diciptakan, memang muncul relasi baru antara Allah dan dunia.
Tetapi dari fakta itu tidak otomatis mengikuti bahwa relasi Bapa-Anak juga baru dimulai pada suatu titik waktu.
Itu adalah asumsi yang harus dibuktikan, bukan sesuatu yang bisa dianggap otomatis benar.
POIN 6
Martin: Allah bebas memilih menjadi Bapa.
JAWABAN DION: Kalau demikian saya ingin bertanya: Apakah sebelum pilihan itu direalisasikan Allah adalah Bapa atau bukan?
Kalau jawabannya "bukan", maka berarti ada fakta baru tentang Allah.
Dulu:
bukan Bapa.
Kemudian:
menjadi Bapa.
Jadi perubahan relasional tetap terjadi.
Yang saya persoalkan sejak awal bukan apakah esensi Allah berubah.
Melainkan apakah ada keadaan di mana Allah belum menjadi Bapa.
Dan posisi Bung tampaknya mengakui hal tersebut.
POIN 7
Martin:
Bung mencampur perubahan relasional dengan perubahan esensial.
Jawaban:
Tidak.
Saya sepakat bahwa perubahan relasional dan perubahan esensial bukan hal yang sama.
Tetapi itu tidak menyelesaikan persoalan.
Karena pertanyaan saya sejak awal bukan:
Apakah esensi Allah berubah?
Melainkan:
Apakah Allah selalu Bapa?
Posisi Bung sendiri menjawab:
Tidak. Allah menjadi Bapa pada saat tertentu.
Jadi keberatan saya tetap berdiri.
POIN 8
Martin:
Konsep immutability berasal dari Aristoteles.
Jawaban:
Ini menurut saya adalah tuduhan yang tidak tepat.
Saya tidak pernah mengatakan:
Allah tidak dapat bertindak.
Allah tidak dapat mencipta.
Allah tidak dapat berelasi.
Jadi saya tidak sedang membela "Unmoved Mover" Aristoteles.
Doktrin ketidakberubahan Allah dalam teologi Kristen berarti natur Allah tidak berubah.
Bukan berarti Allah tidak dapat bertindak dalam sejarah.
Allah mencipta.
Allah menghakimi.
Allah menyelamatkan.
Semua itu tindakan nyata.
Karena itu menurut saya Bung sedang menyerang posisi yang sebenarnya tidak saya pegang.
POIN 9
Martin:
Yohanes 17:5 hanya membuktikan bahwa Yesus sudah ada sebelum dunia.
Jawaban:
Ayat itu mengatakan lebih dari sekadar pra-eksistensi.
Yesus berkata:
Muliakanlah Aku dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.
Yang dibicarakan bukan sekadar keberadaan.
Yang dibicarakan adalah kemuliaan bersama Bapa sebelum dunia ada.
Maka pertanyaan saya:
Jika relasi Bapa-Anak baru dimulai setelah Allah menciptakan Putra, mengapa Yohanes menggambarkan persekutuan dan kemuliaan bersama itu sebelum dunia ada?
Dan di mana Yohanes pernah mengatakan bahwa Anak mulai ada?
Ayat itu tidak mengatakan demikian.
POIN 10
Martin:
Yohanes 17:5 cocok dengan pandangan bahwa Yesus adalah ciptaan pertama.
Jawaban:
Tidak.
Yohanes 17:5 memang cocok dengan pra-eksistensi.
Tetapi ayat itu tidak mengatakan:
Aku adalah ciptaan pertama.
Ayat itu juga tidak mengatakan:
Aku mulai ada sebelum dunia.
Itu adalah kesimpulan tambahan yang Bung masukkan ke dalam teks.
Jadi ayat tersebut tidak membuktikan doktrin Saksi Yehuwa; ia hanya membuktikan bahwa Yesus sudah ada bersama Bapa sebelum dunia dijadikan.
Kesimpulan
Menurut saya seluruh argumentasi Bung pada bagian ini bertumpu pada beberapa asumsi yang belum pernah Bung buktikan:
Memperanakkan berarti menciptakan.
"Hari ini" berarti awal ontologis eksistensi Anak.
Menjadi Bapa sama kategorinya dengan menjadi Pencipta.
Doktrin ketidakberubahan Allah identik dengan konsep Aristoteles.
Selama asumsi-asumsi tersebut belum dibuktikan, saya tidak melihat bahwa Bung berhasil menunjukkan bahwa Anak adalah ciptaan yang memiliki awal keberadaan.
Sebaliknya, saya melihat bahwa Bung terlebih dahulu mengasumsikan bahwa Yesus adalah ciptaan, lalu membaca asumsi tersebut ke dalam teks-teks yang sedang diperdebatkan.
Nah boskuh, ini Model Kedua. Bedanya dengan model pertama:
Model pertama = lebih enak dibaca.
Model kedua = lebih seperti dokumen debat resmi.
Model kedua lebih sulit bagi Martin untuk berkata, "Poin saya tidak dijawab."
Dan terus terang, untuk lawan debat seperti Martin yang suka membuat 10 klaim dalam satu tulisan, aku lebih suka model kedua. Karena pembaca bisa melihat satu per satu bahwa poinnya memang disentuh.
Komentar
Posting Komentar