Artikel ini adalah dokumentasi perdebatan antara saya dengan seorang Saksi Yehuwa bernama Martin. Topik utama perdebatan ini muncul ketika saya mengajukan dua pertanyaan logis untuk menguji konsistensi doktrin Saksi Yehuwa yang menyatakan bahwa Yesus adalah ciptaan.
Dua pertanyaan tersebut adalah:
1. Jika Yesus adalah ciptaan, apakah pernah ada masa di mana Bapa bukan Bapa?
2. Jika Yesus adalah ciptaan, apakah Dia termasuk dari “segala sesuatu” yang diciptakan melalui Dia?
Butuh waktu berbulan-bulan bagi Martin untuk mencoba menjawab kedua pertanyaan ini. Saya sendiri menilai bahwa pertanyaan tersebut pada dasarnya sangat sulit dijawab oleh posisi Saksi Yehuwa, karena keduanya menyentuh konsekuensi logis langsung dari doktrin mereka sendiri.
Pertanyaan pertama menyentuh masalah relasi kekal antara Bapa dan Anak. Jika benar Yesus hanyalah ciptaan pertama, maka secara logis harus ada suatu titik ketika Anak belum ada. Tetapi jika Anak belum ada, maka pada saat itu Allah belum dapat disebut “Bapa,” sebab gelar “Bapa” secara natur menuntut keberadaan sang “Anak.”
Pertanyaan kedua menyentuh problem penciptaan dalam Yohanes 1:3 dan Kolose 1:16–17. Kedua bagian ini menyatakan bahwa segala sesuatu diciptakan melalui Dia. Jika Yesus sendiri adalah ciptaan, maka muncul dilema logis: apakah Yesus termasuk dalam kategori “segala sesuatu” itu atau tidak? Jika termasuk, maka berarti Yesus menciptakan diri-Nya sendiri. Jika tidak termasuk, maka Yesus bukan ciptaan. Konsekuensi ini juga meruntuhkan doktrin Saksi Yehuwa bahwa Yesus adalah ciptaan.
Tapi rupanya Martin tak mau mengalah begitu saja, meskipun dia sadar bahwa dua pertanyaan ini sebenarnya mustahil untuk dijawab dengar benar tanpa harus jatuh ke dalam kontradiksi logis atau menggugurkan doktrin Saksi Yehuwa itu sendiri. Martin mencoba tetap untuk menjawab. Dan jawaban Martin ini membuka ruang bagi diskusi kami. Demikian
MARTIN SAKSI YEHUWA:
Bung Dion, dua pertanyaan ini, yg untuk kesekian kalinya Bung ajakan kpd saya, bukannya saya tidak bisa menjawab atau menghindari krn takut menjawabnya, tapi sebenarnya saya melihat ini hanyalah jenis pertanyaan logika melingkar yg sifatnya spekulatif, yg tampaknya saja filosofis tapi sama sekali tidak alkitabiah. Tapi, baiklah krn sdh seringnya ditodongkan, saya siap jawab.
Saya mengkategori kedua pertanyaan ini adalah contoh sempurna dari apa yg dlm logika disebut sebagai petitio principia (berasumsi pd apa yg harus dibuktikan) dan kesalahan kategori. Keduanya tampak kokoh di permukaan, tetapi rapuh di bawah pisau analisis Alkitab dan tata bahasa Yunani._
DIONISIUS:
Oke sekarang saya jawab. Bung Martin, anda orang yang suka retorika. Anda membuat narasi panjang lebar, ngalor ngidul ke sana kemari, agar terkesan ilmiah. Padahal, pertanyaan itu secara logika sebenarnya sederhana saja, pertanyaan itu hanya menguji konsistensi logika kalian sebagai Saksi Yehuwa.
Lalu anda bilang bukannya anda tak bisa jawab, tapi karena pertanyaan itu jenis pertanyaan logika yang melingkar, berasumsi pada apa yang harus dibuktikan (Petitio Principia). Demikian tanggapan saya:
Pertama, bung sebelum pakai istilah logical fallacy, pastikan bung pahami dulu apa maksud dari istilah-istilah itu. Bung belajar lagi apa itu logical fallacy, dan jenis-jenis logical fallacy. Sehingga gak ngawur. Petitio Principia itu istilah lainnya adalah circular reasoning atau penalaran yang melingkar ketika kesimpulan sudah diasumsikan di premis.
Contoh kalimat:
"Alkitab pasti benar karena Firman Tuhan" "Kenapa Firman Tuhan?" "Karena Alkitab berkata begitu"
Nah itu baru disebut circular reasoning.
Dua pertanyaan saya bukan begitu. Saya bertanya:
*1 Jika Yesus adalah ciptaan, apakah pernah ada masa Bapa bukan Bapa?*
Itu bukan penalaran melingkar. Ini pengujian logis dari posisi kalian sendiri sebagai Saksi Yehuwa. Jadi saya sedang pakai asumsi kalian sendiri bahwa Yesus adalah ciptaan, lalu saya uji konsekuensi logisnya. Sekali lagi ini bukan penalaran melingkar/Petitio Principia tapi reductio ad absurdum atau internal critique.
Lalu pertanyaan kedua:
*2. Jika Yesus adalah ciptaan apakah Dia termasuk"segala sesuatu " yang diciptakan melalui Dia?*
Ini juga bukan circular reasoning. Karena saya sedang ambil klaim kalian Saksi Yehuwa, lalu membandingkan dengan teks Yohanes 1:3 dan Kolose 1:16. Dan problemnya muncul dari dalam kalian sendiri.
Oke itu tanggapan awal.
Selanjutnya, ini tanggapan saya terhadap poin-poin dari argumen anda.
_MARTIN SAKSI YEHUWA:_
_"Jika Yesus ciptaan, berarti... pernah ada masa di mana Bapa bukan Bapa?"_
_Bung Dion, saya harus mengatakan bhw pertanyaan ini adalah argumen yg tampak cerdas, tetapi sebenarnya sangat absurd. Mari kita bedah kerancuan berpikirnya._
_Pertama, argumen ini bersandar pd asumsi yg tidak alkitabiah. Bung berasumsi bhw gelar "Bapa" adalah sesuatu yg esensial dan kekal secara intrinsik, seolah-olah Yehuwa tidak dapat menjadi "Bapa" tanpa keberadaan sang Anak dari kekekalan. Ini adalah konsep filosofis yg tidak memiliki dasar dari Alkitab. Sebaliknya, Alkitab memperkenalkan YHWH-Yehuwa sebagai Pribadi yg dari kekekalan adalah Allah Yang Mahakuasa (Mazmur 90:2; Kejadian 17:1; Wahyu 1:8). Nama-Nya sendiri, Yehuwa, berarti "Ia Menyebabkan Menjadi"—artinya, Ia dapat menjadi apa pun yg diperlukan untuk mewujudkan maksud-tujuan-Nya. Ketika Ia menciptakan makhluk roh pertama, Yesus pra-manusia, pd saat itulah Ia menjadi Bapa dlm relasi dgn ciptaan itu. Sama seperti seorang pria menjadi "seorang ayah" tepat pd saat ia memiliki anak. Apakah fakta bhw ia belum menjadi ayah sebelum anaknya lahir mengurangi kemanusiaannya? Tentu tidak. Demikian pula, fakta bhw Yehuwa "menjadi" Bapa pd suatu titik waktu tertentu tidak sedikit pun mengurangi kemahakuasaan atau keilahian-Nya yg kekal._
DIONISIUS:
Pak Martin Anda mengatakan bahwa Yehuwa adalah pribadi yang kekal, yang maha kuasa, Ia dapat menyebabkan apa yang diperlukanNya, untuk mencapai maksud dan tujuan-Nya. Pada saat Ia menciptakan makhluk roh yang pertama Ia menjadi Bapa dalam relasi dengan ciptaan itu.
Nah di sinilah poin saya, jika Bapa baru menjadi Bapa secara relasional saat ada ciptaan, berarti sebelum ada ciptaan relasi BapaNya tidak ada. Jadi relasi Bapa itu tidak bersifat kekal. Sebelum ada Anak (Yesus) Dia belum menjadi Bapa secara kekal. Padahal definisi “Bapa” dari tradisi Kristen dipahami sebagai relasi kekal, bukan relasi yang muncul di dalam waktu tertentu.
Jika Bapa baru ada saat Anak ada, maka secara logis ada fase di mana Allah tidak Bapa. Dan itu berarti ada perubahan dalam realitas relasional Allah. Padahal Allah itu tidak berubah (Imutable God). Allah tidak bisa berubah menjadi bukan diri-Nya. Dan Allah tidak harus membutuhkan sesuatu lain untuk bisa menjadi diri-Nya. Jawaban anda ini menyatakan bahwa Allah setelah menciptakan Anak baru Allah disebut Bapa secara relasional. Ini konyol secara Alkitab. Jawaban yang benar dan logis adalah: Allah adalah Bapa secara kekal, karena Bapa dan Anak memang memiliki relasi secara kekal. Sehingga tak ada waktu dimana Bapa belum menjadi Bapa, dan tak ada waktu dimana Anak belum menjadi Anak atau belum ada sebagai Anak. Sehingga doktrin bahwa Anak diciptakan harus ditolak. Sebab kalau Anak diciptakan, maka berkonsekuensi kepada relasional Bapa dan Anak menjadi tidak kekal.
Juga analogi anda tentang seorang Ayah "Apakah seorang Ayah sebelum anaknya lahir dia bukan manusia?"
Ini analogi yang gagal Bung Martin. Anda secara diam-diam menggeser isu yang sedang saya angkat dari relasi ke natur.
Saat berbicara tentang Bapa dan Anak, saya berbicara tentang relasi, bukan tentang natur. Anda malah jawab tentang natur. Saya tidak bilang bahwa Bapa bukan Allah sebelum ada Anak, yang saya bilang adalah jika ada masa/fase dimana Anak belum ada, itu membuat Allah bukan Bapa karena tidak ada relasional dan itu berlawanan dengan kesaksian Alkitab bahwa relasi Allah dan Anak bersifat kekal. Jadi saya berbicara tentang relasi Bapa dan Anak, anda malah menjawab "natur manusia ayah"
Kenapa tiba-tiba anda lari dari relasi ke natur? Di sini anda kacau sekali pak Martin.
Kedua, tentang Mazmur 2:7 “hari ini Aku memperanakkan Engkau”. Anda menjadikan ayat ini sebagai awal eksistensi Anak. Itu sama sekali tidak konsisten dengan keseluruhan data Injil Yohanes dan surat-surat Paulus yang menunjukkan eksistensi Logos sebelum segala sesuatu (Yoh 1:1–3; Kol 1:16–17; Ibr 1:2).
Jadi “hari ini” dalam teks itu tidak bisa dipaksakan menjadi momen penciptaan ontologis, karena itu akan bertabrakan dengan teks-teks lain dalam kitab yang sama.
Ketiga, Anda berkata: “Allah menjadi Bapa tanpa berubah esensi.”
Oke, di sini anda sedang mengakui adanya perubahan realitas relasional dalam diri Allah: dari “tidak-Bapa” menjadi “Bapa”.
Perubahan relasional tetap lah perubahan. Anda tidak bisa menghindarinya dengan berkata “esensi tidak berubah”, karena jika tidak ada Anak, maka tidak ada relasi Bapa-Anak.
Sebaliknya jika Anak ada, maka ada relasi Bapa-Anak. Itu berarti ada perbedaan keadaan. Dan perbedaan keadaan dalam realitas Allah tidak bisa dianggap sebagai “tidak ada perubahan sama sekali”.
Dan di sini dilema Anda muncul Bung Martin:
Jika Anda berkata relasi itu baru muncul “di waktu tertentu”, maka anda sedang memasukkan kontingensi ke dalam diri Allah, yakni Allah bergantung pada sesuatu di luar diri-Nya untuk menjadi Bapa.
Dan itu justru merusak klaim Anda sendiri tentang Allah yang tidak berubah dan sempurna.
Sebaliknya, Alkitab tidak menggambarkan relasi Bapa–Anak sebagai sesuatu yang “mulai di waktu tertentu”, tetapi sebagai relasi yang berada dalam wilayah kekal (lihat: Yohanes 17:5).
Jadi anda harus memilih salah satu di antara dua proposisi ini:
1. Apakah relasi Bapa–Anak itu kekal? Kalau relasi Bapa-Anak kekal, maka Anak tidak diciptakan
2. Atau pernah tidak ada relasi sama sekali? Jika pernah tidak ada relasi sama sekali, maka anda sedang menjadikan Allah sebagai Allah yang bergantung pada sesuatu di luar diri-Nya. Karena Allah “baru menjadi Bapa” karena ada Anak ciptaan. Maka Pak Martin anda di sini sedang mendegradasi/merendahkan kesempurnaan Allah.
Secara logis anda memang harus memilih salah satunya dan bertahan di konsekuensinya secara konsisten. Bukan menghindari dengan membuat analogi ngawur yang berpindah kategori.
_MARTIN SAKSI YEHUWA:_
_II. "Jika Yesus ciptaan, mengapa Yohanes 1:3 dan Kolose 1:16-17 berkata bhw segala sesuatu diciptakan oleh Dia? Apakah Yesus termasuk 'segala sesuatu' itu?"_
_Bung Dion, di sinilah analisis teks Yunani akan menunjukkan betapa rapuhnya argumen Bung. Pertanyaan ini mengandung apa yg dlm logika disebut category error (kesalahan kategori), yaitu mencampuradukkan dua hal yg berbeda—subjek yang menciptakan dengan objek yang diciptakan—dan kekeliruan ini dapat dibongkar dgn linguistik dasar._
_Pertama, ttg Kolose 1:16-17. Mari kita perhatikan frasa Yunaninya: ὅτι ἐν αὐτῷ ἐκτίσθη τὰ πάντα (hoti en autō ektisthē ta panta). Frasa kunci di sini adalah τὰ πάντα (ta panta),yg diterjemahkan "segala sesuatu". Apakah ta panta selalu berarti "segala sesuatu tanpa pengecualian, termasuk subjek yang sedang dibicarakan"? Tidak. Ini adalah kaidah dasar linguistik. Makna ta panta sangat bergantung pd konteks dan cakupan pembicaraannya._
_Contoh nyata dari Alkitab sendiri: Dlm 1 Korintus 15:27 (TB-LAI), Paulus mengutip *Mazmur 8:7* dan berkata, "Segala sesuatu [panta] telah ditaklukkan di bawah kaki-Nya." Tetapi Paulus segera menambahkan klarifikasi, "Tetapi kalau dikatakan bhw 'segala sesuatu telah ditaklukkan', jelaslah bahwa hal itu tidak termasuk Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus." Nah, Bung Dion, apakah Paulus sedang memanipulasi kata "segala sesuatu"? Tidak. Ia sedang menerapkan akal sehat linguistik: subjek yg melakukan tindakan (yaitu Allah) jelas dikecualikan dari objek yg dikenai tindakan itu. Inilah yg disebut dgn pengecualian logis yg melekat (inherent logical exclusion)._
_Contoh lain di *Kitab-Kitab Yunani Kristen: Di Filipi 2:21,* Paulus menulis, "Semua orang mencari kepentingannya sendiri, bukan kepentingan Kristus Yesus." Dlm teks Yunaninya, "semua orang" adalah οἱ πάντες (hoi pantes). Apakah Paulus memasukkan dirinya sendiri? Tentu tidak. Di ayat 19-20, ia menunjuk Timotius sebagai pengecualian yg tidak mencari kepentingan sendiri. Jadi, sekali lagi, "semua" tidak berarti "semua tanpa kecuali"._
_Sekarang, kembali ke *Kolose 1:16-17.* Ayat ini berbicara ttg Yesus sebagai "gambar Allah yang tidak kelihatan, Yang Sulung [prōtotokos, πρωτότοκος] dari segala ciptaan" (ayat 15). Yesus sendiri adalah bagian dari ciptaan Ia adalah "Yang Sulung" dari ciptaan itu, yang pertama dalam urutan waktu. Karena itu, ta panta yang diciptakan melalui dia secara logis berarti "semua perkara lainnya". Yesus, sebagai ciptaan pertama, dikecualikan dari ta panta yg menyusul setelahnya. Inilah sebabnya Terjemahan Dunia Baru dgn tepat dan akurat menerjemahkannya sebagai "semua perkara lainnya diciptakan melalui dia dan untuk dia." Ini bukan tambahan; ini adalah penyampaian makna yang tepat dari ta panta dalam konteksnya._
_Kedua, ttg Yohanes 1:3. Ayat ini berbunyi: "Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi." Prinsip pengecualian logis yg sama berlaku. Jika Yesus adalah subjek yg melaluinya penciptaan terjadi, maka ia jelas dikecualikan dari "segala sesuatu" yg dijadikan itu. Sama seperti ketika Alkitab berkata bhw "Allah menciptakan segala sesuatu" (Wahyu 4:11), tidak seorang pun waras yg akan bertanya, "Kalau begitu, apakah Allah termasuk dari 'segala sesuatu' itu?" Subjek pencipta selalu berada di luar objek ciptaan. Jadi, "segala sesuatu" di Yohanes 1:3 mengacu pd "segala perkara lainnya" selain Sang Firman sendiri. Tidak ada kontradiksi._
_Ketiga, bukti dari Wahyu 3:14. Ayat ini mengunci pemahaman kita. Di sana Yesus menyebut dirinya sebagai "ἡ ἀρχὴ τῆς κτίσεως τοῦ θεοῦ" (hē archē tēs ktiseōs tou theou), yg secara harfiah berarti "permulaan dari ciptaan Allah". Kata _ἀρχή (arkhē) di sini dlm konteksnya jelas berarti "awal" atau "yang pertama dalam urutan", bukan "sumber" atau "pemerintah". Bandingkan dgn Markus 1:1: "permulaan [arkhē] Injil tentang Yesus Kristus"—apakah itu berarti Yesus adalah "sumber" Injil, atau "awal" dari kisah Injil? Tentu "awal". Yesus adalah ciptaan pertama, permulaan dari semua ciptaan Allah lainnya. Itulah sebabnya ia dikecualikan dari ta panta krn ia adalah yang pertama, dan melaluinya semua yang lain diciptakan._
_Sederhananya, Bung Dion, Alkitab menggambarkan urutan yg jelas:_
_1. Yehuwa, Sumber utama penciptaan (1 Korintus 8:6, "satu Allah, Bapa, dari-Nya berasal segala sesuatu")._
_2. Yesus, ciptaan pertama, satu-satunya yang diciptakan langsung oleh Yehuwa (Wahyu 3:14; Kolose 1:15)._
_3. Semua perkara lainnya, yang diciptakan melalui Yesus (Kolose 1:16; Yohanes 1:3)._
_Ini adalah hierarki yang indah, logis, dan sepenuhnya alkitabiah. Tidak ada kontradiksi. Tidak ada yang perlu dipaksakan._
_Jadi, kesimpulannya: Keberatan pertama Bung terbukti sebagai spekulasi filosofis yg mengabaikan fakta bhw gelar "Bapa" adalah relasional dan memiliki awal, sebagaimana dinyatakan dlm Mazmur 2:7. Keberatan kedua Bung terbukti sebagai kesalahan linguistik yg mengabaikan prinsip pengecualian logis dlm penggunaan kata "segala sesuatu" (ta panta), sebagaimana dibuktikan oleh 1 Korintus 15:27 dan Filipi 2:21._
_Kebenaran Alkitab itu sederhana, selaras, dan membebaskan: Satu-satunya Allah Yang Benar adalah YHWH Yang Mahakuasa. Yesus Kristus adalah Putra-Nya yang tunggal, ciptaan pertama, "suatu allah" dalam arti ilahi, yang melaluinya semua perkara lainnya diwujudkan. Inilah iman yang diajarkan oleh para rasul, jauh sebelum para klerus Gereja di Nicea terpapar filsafat Yunani yang meracuni Kekristenan dgn jargon-jargon Tritunggalian. Dan iman inilah yang tetap berdiri, tak tergoyahkan, di hadapan serangan logika apa pun._
_Sola Scriptura. 😇_
DIONISIUS:
Bung Martin, di sini saya melihat anda sebenarnya sedang melakukan dua hal sekaligus:
Pertama, anda memasukkan asumsi “Yesus adalah ciptaan” ke dalam teks sejak awal, lalu anda memakai asumsi itu untuk menafsirkan ayat-ayat yang justru sedang diperdebatkan. Ini adalah eisegesis murahan.
Dan ini juga bentuk circular reasoning. Anda sudah menganggap Yesus ciptaan duluan, lalu semua ayat, anda paksa, atau anda cocokan dengan asumsi itu.
Sekarang saya akan bedah poin demi poin:
1. “TA PANTA TIDAK SELALU BERARTI SEMUA TANPA PENGECUALIAN”
Ini setengah benar Bung, tapi ini justru tidak menolong posisi anda sebagai Saksi Yehuwa.
Memang benar kata “segala sesuatu” kadang punya pengecualian logis. Tidak ada Trinitarian yang menyangkal itu. Tapi masalahnya adalah: Di Kolose 1 dan Yohanes 1, TIDAK PERNAH DISEBUT BAHWA YESUS ADALAH BAGIAN DARI PENGECUALIAN ITU.
Imi berbeda dengan dalam 1 Korintus 15:27, Paulus secara eksplisit memberi pengecualian: “jelaslah bahwa hal itu tidak termasuk Dia…”
Nah, pertanyaannya ke anda Bung Martin: Di Kolose 1:16 dan di Yohanes 1:3, mana teks yang berkata: “kecuali Yesus"?
TIDAK ADA!
Jadi anda memasukkan pengecualian itu dari luar teks. Itulah masalahnya.
2. TAMBAHAN KATA “LAINNYA”. INI ADALAH MANIPULASI TEKS.
Kolose 1:16 TB Yunani: τὰ πάντα = ta panta = “segala sesuatu”
Tidak ada kata: “lainnya” (other) Tidak ada kata: ἄλλα (alla). Tidak ada!
Kalian Saksi Yehuwa sengaja menambahkan kata itu, karena tanpa tambahan itu, teksnya akan menghancurkan doktrin kalian sendiri.
Perhatikan logikanya: Jika “segala sesuatu” diciptakan oleh Yesus, dan Yesus termasuk ciptaan, maka Yesus harus menciptakan diri-Nya sendiri. Ini kan absurd. Karena itu kalian Saksi Yehuwa terpaksa menyisipkan kata “other/lainnya” agar lolos dari kontradiksi ini. Padahal Alkitab tidak menulisnya. Ini interpretasi doktrinal yang sengaja disisipkan ke dalam teks. Ini eisegesis dan salah bentuk ketidakjujuran intelektual.
3. KOLOSE 1 JUSTRU MENEGASKAN BAHWA YESUS BUKAN CIPTAAN
Bung Martin anda berkata:
“Yesus adalah yang sulung dari segala ciptaan.” Masalahnya anda mengira kata “sulung” selalu berarti “ciptaan pertama”. Padahal dalam Alkitab, dan dalam kebudayaan Yahudi “sulung” memiliki banyak arti. Sulung tidak harus berarti "pertama dalam urutan secara kronologis. Sulung bisa berarti: posisi tertinggi, ahli waris, supremasi, preeminence. Dan lain sebagainya.
Contoh: Raja Daud disebut sebagai “anak sulung”. Padahal kita tahu bahwa Daud bukan anak pertama Isai.
Mazmur 89:27: “Aku juga akan mengangkat dia menjadi anak sulung, yang mahatinggi di antara raja-raja bumi.”
Jadi “sulung” di sini bicara STATUS, bukan urutan kelahiran.
Nah sekarang mari kita lihat konteks Kolose.
Paulus langsung menjelaskan maksud “sulung” itu karena oleh Dia segala sesuatu diciptakan, melalui Dia, dan untuk Dia, Dia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu, segala sesuatu ada di dalam Dia.
Kalau Paulus mau bilang Yesus ciptaan, itu cara paling buruk untuk mengatakannya. Justru seluruh konteks menunjukkan supremasi Kristus atas seluruh ciptaan.
4. YOHANES 1:3 MENGHANCURKAN DOKTRIN SAKSI YEHUWA.
Ayat ini sangat jelas: “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada satu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”
Perhatikan bagian kedua. Yohanes sengaja menutup semua celah. Bukan hanya berkata “segala sesuatu dijadikan oleh Dia”, tetapi juga “tanpa Dia tidak ada SATU PUN yang telah jadi.”
Artinya, semua yang masuk kategori “yang dijadikan” ada melalui Logos. Tidak ada satu pun pengecualian.
Jika Logos adalah ciptaan, maka Logos juga termasuk kategori “yang dijadikan.” Tetapi itu menciptakan kontradiksi, sebab Yohanes berkata bahwa seluruh kategori “yang dijadikan” ada melalui Logos.
Jadi Logos tidak mungkin termasuk dalam kelompok ciptaan. Yohanes justru memisahkan Logos dari seluruh kategori “yang dijadikan.”
Itu sebabnya gereja mula-mula memahami Logos sebagai Pencipta, bukan ciptaan.
5. WAHYU 3:14 TIDAK BERARTI YESUS CIPTAAN PERTAMA
Bung Martin anda berkata:
arkhē berarti “awal”.
Masalahnya anda memilih arti kata yang hanya cocok untuk doktrin anda sambil mengabaikan konteks.
Kata ἀρχή (arkhē) bisa berarti: beginning, source, origin, ruler, first cause. Dan lain sebagainya
Contoh: “penguasa-penguasa” kata itu juga pakai arkhē, “pemerintahan” juga pakai arkhē.
Sekarang mari kita lihat konteks Wahyu. Apakah masuk akal Yesus berkata: “Aku adalah ciptaan pertama Allah” padahal beberapa ayat sebelumnya Yesus menyebut diri-Nya Yang Awal dan Yang Akhir, Alfa dan Omega, Yang hidup sampai selama-lamanya?
Justru konteks Wahyu ini menggambarkan Yesus sebagai sumber dan penguasa ciptaan. Bukan bagian dari ciptaan. Terlebih lagi Kalau Yohanes mau bilang “ciptaan pertama”, bahasa Yunani punya kata yang jauh lebih jelas untuk itu. Tapi dia tidak pakai itu.
Doktrin bahwa Yesus adalah ciptaan bertabrakan langsung dengan Yesaya 44:24.
Allah berkata:
“Akulah TUHAN yang menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit, yang menghamparkan bumi — siapakah yang mendampingi Aku?”
Sekarang bandingkan dengan Yohanes 1:3 dan Kolose 1:16–17: segala sesuatu dijadikan melalui Kristus.
Di sinilah masalah besar bagi Saksi Yehuwa muncul. Karena Saksi Yehuwa mengajarkan bahwa Yesus adalah ciptaan pertama Allah, tetapi sekaligus dipakai untuk menciptakan segala sesuatu.
Padahal Yesaya 44:24 menegaskan bahwa TUHAN mencipta:
seorang diri, tanpa pendamping, tanpa makhluk lain di samping-Nya.
Jadi jika Yesus hanyalah ciptaan, maka doktrin Saksi Yehuwa justru membuat ada makhluk ciptaan yang ikut dalam karya penciptaan kosmik.
Saksi Yehuwa mencoba lolos dengan berkata bahwa Yesus hanyalah “agen” yang dipakai Allah.
Tetapi Yesaya 44:24 justru menutup celah itu:
“Siapakah yang mendampingi Aku?”
Ayat ini menolak gagasan bahwa Allah memakai makhluk ciptaan lain sebagai rekan dalam tindakan penciptaan alam semesta.
Karena itu hanya ada dua pilihan: Yesus adalah makhluk ciptaan yang ikut mencipta, dan itu bertentangan dengan Yesaya 44:24 atau Yesus adalah Yahwe itu sendiri yang adalah pencipta.
(Catatan: ingat bahwa dalam doktrin Trinitas kami percaya bahwa Allah itu adalah satu essensi dengan tiga pribadi yang berbeda. Sehingga bagi kami, tiga pribadi itu sama-sama turut andil dalam penciptaan)
6. “SUATU ALLAH” DI YOHANES 1:1 ADALAH TERJEMAHAN YANG NGAWUR
Saksi Yehova berkata: Yesus adalah “suatu allah”. Masalahnya: bahasa Yunani tidak punya indefinite article (“a/an”) seperti bahasa Inggris. Jadi menerjemahkan: θεὸς menjadi “a god” hanya karena tidak ada Definite artikel, itu keputusan teologis, bukan tuntutan grammar.
Sebab dalam aturan Cowells Rule, predikat nominatif sebelum kata kerja tidak otomatis Indefinite, dia bisa Definite, Indefinite, atau malah Kualitatif.
Dan kalau dilihat dari konteks kalimatnya, maka sebenarnya Yohanes 1:1 sedang menekankan kualitas ilahi sang Logos. Bahwa sang Logos yang sedang disebut itu adalah Ilahi. Tapi ironisnya, Saksi Yehuwa menafsirkan sebagai “allah kecil". Kalau ada Allah besar dan allah kecil, maka entah sadar atau tidak kalian Saksi Yehuwa telah jatuh ke politeisme.
Padahal Yesaya berkata:
sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, sesudah Aku tidak akan ada lagi.
7. TUDUHAN BAHWA “NICEA DIRACUNI FILSAFAT YUNANI” ITU SLOGAN KOSONG, KEBOHONGAN, DAN FITNAHAN RECEH
Ini narasi klasik Saksi Yehuwa, kalau sudah mentok debat, kalian mulai ngawur dan lari ke mana-mana. Bapa Gereja terpapar filsafat Yunani lah bla bla bla. Padahal sebelum Nicea pun banyak bapa gereja sudah mengakui keilahian Kristus.
Masalah utama Nicea bukan: “Apakah Yesus ilahi?” tetapi “Bagaimana menjelaskan relasi Bapa dan Anak secara presisi terhadap ajaran Arius (Nenek moyang kalian Para Saksi Yehuwa?”
Kalian sering bertindak bahwa seolah-olah semua orang Kristen awal percaya bahwa Yesus ciptaan, lalu Konsili Nicea mengubah semuanya. Itu pelintiran sejarah. Sebab sebelum ada Konsili Nicea pun. Jemaat perdana, dan bapa-bapa gereja awal sudah percaya bahwa Yesus adalah Allah.
Komentar
Posting Komentar