Langsung ke konten utama


INKARNASI DAN KESALAHPAHAMAN LOGIKA: MENJAWAB KRITIK TERHADAP KEILAHIAN KRISTUS 

Dalam salah satu video, Pdt. Esra Soru menanggapi kritik dari seorang polemikus Islam mengenai doktrin inkarnasi. Ia berkata:

“Jika Allah maha kuasa, mengapa Dia tidak bisa menjadi manusia? Allah kami bisa menjadi manusia tanpa meninggalkan natur ilahi-Nya, melainkan dengan menambahkan natur kemanusiaan.”

Pernyataan ini kemudian disanggah oleh seorang Muslim dengan berbagai argumen yang tampaknya logis, bahwa jika Tuhan menjadi manusia, maka Ia harus kehilangan sifat-sifat ilahi-Nya, menjadi terbatas, bahkan “pensiun” dari keilahian-Nya.

Sekilas argumen ini terdengar kuat. Namun jika kita uji secara logika dan terang Kitab Suci, kita akan melihat bahwa keberatan ini bukanlah pembuktian kontradiksi, melainkan dibangun di atas asumsi yang tidak dibuktikan dan kesalahpahaman terhadap doktrin inkarnasi.

Sanggahan Dari Pihak Muslim

Pak Esra percaya atau tidak bahwa Tuhan itu tidak setara dengan ciptaan-Nya? Sepakat tidak kalau Tuhan itu memiliki sifat-sifat yang melekat pada diri-Nya?

Jika Tuhan menjelma menjadi manusia otomatis Dia akan melepaskan salah satu sifat yang melekat pada diri-Nya. Karena ketika Tuhan menjadi manusia, Dia akan terikat ruang dan waktu. Dan Dia akan melakukan apa yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Ketika Tuhan menjadi manusia, berarti Tuhan telah pensiun, karena Tuhan telah meninggalkan sifat-sifat-Nya.

Jika pada akhirnya Tuhan menjadi manusia yang akan menimbulkan kontradiksi pada diri-Nya sendiri, maka seharusnya Anda berpikir untuk mencari alternatif lain. Apa itu? Alternatif lainnya adalah dengan mengubah pertanyaan:

Perlukah Tuhan menjadi manusia? Pentingkah Tuhan menjadi manusia?

Karena jika pertanyaan Anda adalah apakah Tuhan tidak dapat menjadi manusia, ini akan menjadi boomerang bagi kitab Anda sendiri. Karena akan sangat kontradiksi dengan pernyataan Tuhan sendiri.

Jika tetap bersikeras bahwa Tuhan dapat menjadi manusia karena Dia maha kuasa, saya akan balik bertanya: Apakah Tuhan bisa menciptakan Tuhan?

Justru ketika Anda meyakini Tuhan menjadi manusia, ini akan mempensiunkan Tuhan Anda sendiri, serta menggugurkan kemahakuasaan-Nya. Karena Dia perlu menjadi manusia untuk membuktikan kemahakuasaan-Nya.

Dalam perspektif Islam, Allah itu mempunyai sifat wujud “Ada” yang menunjukkan keberadaan-Nya tanpa perlu menuju jasad atau fisik. Tapi dalam perspektif Kristen, wujud seolah dipaksa dalam bentuk fisik. Kalau seperti itu apa bedanya dengan pagan, di mana sesembahan harus diwujudkan dalam bentuk yang bisa dilihat dan diraba?

Perlu menjadi pertimbangan bahwa Tuhan tidak perlu mengkontradiksikan sifat-sifat-Nya sendiri untuk menunjukkan kemahakuasaan-Nya. Karena sifat-sifat-Nya melekat pada diri-Nya.

Contoh analoginya: Apakah seseorang harus marah dulu untuk membuktikan bahwa ia punya sifat marah? Apakah Tuhan harus menjadi manusia untuk membuktikan bahwa Dia ada?

Mengapa Tuhan mengutus manusia-manusia pilihan-Nya, para nabi dan rasul, untuk menyampaikan firman-Nya? Sama seperti pengakuan Yesus sendiri bahwa Dia diutus untuk menyampaikan firman Bapa?

Karena Tuhan tidak ingin menyalahi atau mengkontradiksikan sifat-sifat yang Dia miliki. Bukan berarti Tuhan tidak maha kuasa. Justru kemahakuasaan-Nya itu terlihat ketika Dia mengutus para nabi-Nya.

Tuhan tidak perlu menjadi orang Eropa untuk menemui orang Eropa. Tuhan tidak perlu menjadi suku Jawa untuk menuntun orang Jawa. Bukankah bumi beserta isinya ada dalam genggaman-Nya?

Seorang pawang ular tidak perlu menjadi ular untuk mengajari ular. Seorang pawang monyet tidak perlu menjadi monyet untuk mengajari monyet.

Apakah Tuhan lebih rendah dari pawang ular dan monyet?

Analisis Dan Tanggapan

Akar masalahnya di sini adalah asumsi yang tidak Dibuktikan. Seluruh argumen polemikus muslim di atas berdiri di atas satu asumsi. Jika Tuhan menjadi manusia, maka Ia harus kehilangan sifat-sifat ilahi-Nya. Masalahnya, ini tidak pernah dibuktikan. Hanya diulang dengan kata “otomatis”.

Dalam logika, itu disebut begging the question. Inkarnasi Menurut Alkitab bukan kehilangan, tapi penambahan. Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa Allah berubah menjadi manusia lalu berhenti menjadi Allah.

Sebaliknya dikatakan bahwa: “Firman itu telah menjadi manusia” (Yohanes 1:14). Perhatikan Firman yang adalah Allah menjadi manusia, bukan berhenti menjadi Allah.

“Yang walaupun dalam rupa Allah… telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba” (Filipi 2:6–7)

Poin penting di sini bukan “membuang”, tetapi “mengambil”. Dan ditegaskan lagi:

“Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kolose 2:9)

Artinya keilahianNya tidak hilang sedikit pun

Kesalahan terbesar dari argumen penolak adalah tidak membedakan natur. Dalam iman Kristen, Yesus satu Pribadi dengan dua natur. Dia adalah Allah sekaligus manusia. Contoh dalam Alkitab. Yesus bisa lapar dalam natur manusia-Nya (Matius 4:2), tapi juga Ia mahakuasa dalam natur ilahiNya (Matius 28:18).;Kalau hanya satu natur baru bisa disebut kontradiksi.

Karena kontradiksi harus berbentuk:

A dan non-A dalam arti yang sama. Namun Kekristenan tidak berkata:

Yesus Allah dan bukan Allah

Yesus manusia dan bukan manusia

Melainkan Allah (menurut natur ilahi) dan manusia (menurut natur manusia)

Maka sama sekali tidak ada kontradiksi formal.

Inkarnasi dan Tujuan Penebusan

Penolakan terhadap inkarnasi sering gagal memahami satu hal:

Masalah manusia adalah dosa

Alkitab berkata:

“Semua orang telah berbuat dosa” (Roma 3:23)

Dan:

“Upah dosa ialah maut” (Roma 6:23)

Maka diperlukan:

manusia sejati → untuk mewakili manusia

Allah sejati → untuk menyelamatkan

Karena itu:

“Satu Pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1 Timotius 2:5) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

APAKAH KARENA YESUS BERASAL DARI ALLAH, MAKA DIA BUKAN ALLAH? (MENANGGAPI SERANGAN UST. SUBANDI T SUKOCO)

Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   Beberapa hari yang lalu, seseorang mengirimi saya sebuah video dan meminta tanggapan saya atas video itu. Setelah saya lihat-lihat, ternyata ini adalah cuplikan video dari YouTube Ust. Subandi T Sukoco. Siapakah orang ini? Subandi atau yang lebih dikenal dengan Gus Mbetik ini, adalah seorang pendakwah yang sudah sering terlibat dalam diskusi-diskusi lintas agama. Nah dalam cuplikan video yang berdurasi 2 menit 42 detik ini, Subandi memberikan argumentasinya untuk menolak ke-Tuhanan dan ke-Allahan Yesus. Menurut Subandi karena Yesus datang dari Allah maka Yesus pasti bukan Allah. Cuplikan lengkapnya bisa ditonton disini👇 Setelah menonton videonya, saya menemukan bahwa penolakan Ust. Subandi T Sukoco terhadap ke-Allahan Yesus didasari atas dua fakta ini : PERTAMA, KARENA YESUS DATANG DARI ALLAH MAKA DIA BUKAN ALLAH   Yohanes 9:33 (TB) Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa."  Menurut Ust. Subandi T Suko...

Allah Maha Kuasa Bukan Maha Kontradiksi

Oleh: Dionisius Daniel Goli Sali Pagi ini, sambil ngopi dan menunggu orderan Maxim, aku iseng buka YouTube dan menonton pengajaran teologi dari channel YouTube Verbum Veritatis yang dikelola oleh Pak Deky Nggadas. Tema dari pengajaran Pak Deky adalah tentang Divine Simplicity And The Trinity (Kesederhanaan Allah Dan Trinitas).  Secara garis besar, poin pengajaran Pak Deky adalah Allah Kristen itu simplisitas (Sederhana). Sederhana yang dimaksud Pak Deky, bukan berarti bahwa Allah Kristen itu bisa dipahami secara utuh tanpa harus meninggalkan ruang bagi hal-hal yang menjadi misteri untuk akal manusia. Melainkan, dalam natur-Nya Allah itu tidak terbagi. Meskipun Allah memiliki bermacam-macam atribut, seperti: maha kuasa, maha kasih, maha adil, kekal, dan lain sebagainya. Tapi atribut-atribut itu bukanlah komponen-komponen yang terpisah dalam diri Allah. Melainkan atribut itu adalah natur-Nya. Jadi, Allah bukan hanya Allah yang memiliki kasih, tapi Allah adalah kasih. Allah bukan hany...

SABELIUS BAPAK PARA BIDAT ONENESS PENTECOSTALISM

Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali PENDAHULUAN  Siapakah Sabelius? Pertanyaan ini mungkin juga mewakili pertanyaan dari beberapa teman pembaca yang lain, yang belum mengenal tokoh ini. Saya sebelumnya juga kurang familiar dengan nama ini. Nama ini kembali muncul di permukaan dan viral, setelah seorang Pendeta yang bernama Joshua Tewuh mengajarkan pandangan sesat sabelianisme yang bertolak belakang dengan doktrin fundamental dalam iman Kristen, yaitu Doktrin Tritunggal. Sayangnya, walaupun getol mempromosikan pandangan dari Sabelius ini, si Joshua Tewuh sendiri mengaku tidak mengenal tokoh ini. Hal ini membuat orang-orang mempertanyakan gelar DBS yang disandangnya. Gelar DBS juga menurut sebagian akademisi, gelar ini agak janggal dan tidak biasa di Indonesia. Tapi, ya that's ok, pada artikel kali ini saya tidak ada niat untuk membahas tentang Si Joshua Tewuh dan gelar anehnya itu. Tapi saya akan fokus untuk mengekspos sosok dari Sabelius ini. 1. LATAR BELAKANG SABELIUS Ha...