📜 KISAH PARA RASUL 2:23
“Dia yang diserahkan menurut maksud dan rencana Allah yang telah ditentukan, tetapi kamu telah menyalibkan dan membunuh-Nya oleh tangan orang-orang durhaka.”
PENDAHULUAN
Apakah penyaliban Yesus adalah rencana Allah atau rencana Iblis?. Topik ini menarik, karena beberapa waktu yang lalu, Edis TV, seorang apologet tiktok yang sedang viral akhir-akhir ini, menyatakan bahwa penyaliban Yesus sebenarnya adalah rencana iblis bukan rencana Allah.
Untuk mendukung pandangannya Edis mengutip Yoh 8:37-47. Menurut Edis narasi dari teks itu secara implisit menyiratkan bahwa penyaliban Yesus adalah rencana Iblis karena sejak semula Iblis ingin membunuh Yesus.
Nah pernyataan Edis ini sontak membuat dunia perdebatan teologis menjadi panas dan memancing tanggapan dari berbagai pihak. Beberapa suhu Teologi tanah air turun gunung. Esra Soru, MYM, Deky Nggadas dan Budi Asali, hingga Mel Atok ada dalam barisan daftar nama yang ikut memberikan tanggapan terhadap Edis. Tidak hanya menanggapi, mereka juga menantang Edis untuk berdebat formal dengan format dan rules yang disepakati bersama.
Meski hingga saat ini belum terlaksana perdebatan tersebut, karena mereka belum sepakat beberapa hal teknis terkait perdebatan seperti rules, maupun waktu, dan sebagainya. Tapi saya kira ini isu yang penting, jadi saya angkat sebagai materi untuk pendalaman Alkitab dan saya dokumentasi di artikel ini.
Oke sekarang kita kembali ke topik: Apakah penyaliban adalah rencana Iblis atau rencana Allah? Apakah Iblis mengalahkan Allah di kayu salib, atau justru Allah mengalahkan Iblis melalui salib?”
Pertanyaan ini membawa kita pada misteri besar antara kedaulatan Allah dan kehendak bebas manusia dalam hal ini Yudas, maupun kehendak Iblis yang menggunakan Yudas sebagai agennya.
Kita mulai dari tiga pendekatan filsafat tentang kehendak bebas manusia.
A. LIBERTARIANISME
Pandangan ini dipegang oleh banyak filsuf non-Reformed dan Arminian.
Pandangan ini menyatakan bahwa kehendak manusia benar-benar bebas dari determinasi Allah.
Artinya pada saat seseorang memilih, ia bisa benar-benar memilih atas kehendaknya sendiri tanpa intervensi dari pihak manapun termasuk Allah.
Masalahnya : Jika Allah tidak menentukan, maka Allah tidak benar-benar berdaulat secara mutlak atas sejarah umat manusia.
Jika manusia bisa menentang rencana Allah atas kehendaknya sendiri, maka rencana Allah bisa gagal.
Ini bertentangan dengan Yesaya 46:10:
“Aku telah menetapkan dari mulanya hal yang kemudian... dan rancangan-Ku akan jadi.”
B. DETERMINISME
Pandangan ini menyatakan bahwa semua tindakan manusia sepenuhnya ditentukan oleh Allah. Bahkan dalam versi determinisme yang ekstrim, manusia dianggap sebagai robot.
Masalahnya : Jika manusia hanyalah robot, maka dosa dan tanggung jawab moral hilang artinya. Manusia tidak benar-benar bertanggungjawab atas apa yang dia lakukan.
C. KOMPATIBELISME
Pandangan Reformed klasik (Calvinist), dipegang oleh tokoh-tokoh seperti Augustinus, Calvin, Jonathan Edwards, dan Gordon Clark.
Pandangan ini menyatakan bahwa kedaulatan Allah dan kehendak manusia tidak bertentangan, melainkan kompatibel (dapat berjalan bersama).
Manusia bertindak sesuai dengan kehendaknya sendiri, tetapi kehendak itu tetap berada di dalam rencana Allah yang berdaulat.
Allah menentukan segala sesuatu yang terjadi, namun manusia tetap bertanggung jawab karena bertindak dengan keinginannya sendiri.
Contoh ilustratif :
Seperti kapal besar yang mengarungi lautan. Nakhoda menentukan arah berlayar, tapi penumpang bebas bergerak di dalam kapal. Mereka bebas, namun tetap dalam batas rencana sang nakhoda.
DASAR ALKITAB TENTANG KOMPATIBILISME
KISAH YUSUF
KEJADIAN 50:20
“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, untuk melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.”
Orang-orang Mesir dan saudara-saudara Yusuf bermaksud jahat, tapi Allah memakai kehendak jahat mereka untuk mencapai tujuan-Nya.
Ini bukan dua rencana yang bersaing, tetapi dua kehendak dalam satu peristiwa, kehendak yang jahat dari manusia, dan kehendak yang baik dari Allah.
B. AMSAL 16:9
“Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya.”
Ini adalah pernyataan klasik kompatibilisme Alkitabiah. Manusia merencanakan (bebas secara moral), tapi Allah menetapkan (berdaulat secara absolut).
AMSAL 19:21 “Banyak rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.”
C. KISAH PARA RASUL 4:27–28
“Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel untuk melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang telah Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu.”
Perhatikan bahwa Herodes, Pilatus, dan orang Yahudi mereka berbuat jahat secara sadar dan sukarela, tapi semua itu sudah ditentukan Allah dari semula.
Jadi, rencana Allah dan kehendak bebas manusia berjalan bersamaan tanpa kontradiksi.
PENYALIBAN YESUS: RENCANA ALLAH ATAU RENCANA IBLIS?
Sekarang kita kembali ke isu yang diangkat oleh Edis TV. Penyaliban Yesus adalah rencana Allah atau rencana Iblis? Jawabannya adalah penyaliban Yesus adalah rencana Allah yang dilakukan melalui kehendak iblis melalui agen manusia yaitu Yudas Iskariot dan ahli-ahli taurat, Pontius Pilatus, maupun para serdadu Roma yang terlibat saat itu.
Iblis memanfaatkan kejahatan hati mereka, tapi Allah mengatur hasil akhirnya untuk kemenangan-Nya.
Iblis mengira dia sedang menang, tapi sebenarnya ia sedang dijadikan alat untuk kemenangan salib.
📜 1 Korintus 2:8
Iblis tidak kompatibel dengan Allah dalam arti tujuan moral, tetapi Allah tetap berdaulat menggunakan kejahatan Iblis untuk tujuan yang baik. Dengan kata lain: Allah tidak bersekutu dengan kejahatan, tapi berdaulat atasnya.
PENUTUP : MISTERI DAN KEMULIAAN SALIB
Di kayu salib, kita melihat misteri terdalam sejarah dunia. manusia melakukan dosa terbesar menyalibkan Anak Allah, tetapi di saat yang sama, Allah sedang menggenapi rencana keselamatan terbesar.
Di kayu salib kita juga melihat bahwa kasih dan keadilan Allah bertemu di sana. Allah yang kasih tidak ingin manusia dihukum, tapi Allah yang adil harus menghukum manusia yang berdosa.
Di kayu salib kita melihat kompatibilisme ilahi bekerja dengan sempurna. Allah berdaulat mutlak, tapi manusia tetap bertanggung jawab.
SOLIDEO GLORYA
Mantap Tuhan Yesus memberkati
BalasHapus