Langsung ke konten utama

IMMANENCE AND TRANSENDENTAL OF GOD (KEBERADAAN DI DALAM DAN DI ATAS CIPTAAN)

Immanence and Transcendence of God (Keberadaan di Dalam dan Di Atas Ciptaan)

Penjelasan Doktrin

Immanence dan transcendence adalah dua konsep penting yang menjelaskan sifat Allah dalam kaitannya dengan ciptaan-Nya.

Immanence mengacu pada kenyataan bahwa Allah hadir di dalam ciptaan-Nya dan aktif bekerja dalam dunia ini. Dia tidak terpisah atau jauh dari ciptaan-Nya, tetapi hadir dalam segala aspek kehidupan. Dalam Alkitab, ini terlihat dalam pengajaran bahwa Allah hadir di mana-mana dan berdaulat atas segala sesuatu (Matius 28:20, Kolose 1:17).

Transcendence, di sisi lain, menekankan bahwa Allah melampaui ciptaan-Nya. Dia tidak terikat oleh ruang dan waktu dan tidak bisa dibatasi oleh dunia material. Allah adalah sumber dari segala sesuatu dan tidak dapat disamakan dengan ciptaan-Nya. Dalam Alkitab, kita melihat pengajaran tentang kemuliaan Allah yang tak terjangkau, seperti dalam Yesaya 55:8-9 yang menyatakan bahwa "jalan-jalan-Ku lebih tinggi dari jalan-jalanmu".

Ayat Pendukung

Immanence: Kolose 1:17 - "Segala sesuatu diciptakan di dalam Dia, dan segala sesuatu ada di dalam Dia."

Transcendence: Yesaya 55:8-9 - "Sebab seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu."

Pandangan dari Worldview Lain

Deisme: Dalam pandangan deisme, Allah dianggap sebagai pencipta yang transenden, tetapi tidak terlibat dalam ciptaan setelah menciptakan dunia. Deisme menekankan bahwa Allah tidak berimmanen dalam ciptaan-Nya, dan dunia ini berfungsi berdasarkan hukum alam yang ditetapkan oleh-Nya.

Islam: Dalam Islam, Allah dianggap sangat transenden. Meskipun Allah hadir dalam ciptaan-Nya, Dia tidak terikat pada ciptaan dan tidak berperan aktif dalam kehidupan sehari-hari manusia seperti yang dipahami dalam pandangan imanen dalam Kristen.

Panteisme: Panteisme menggabungkan kedua konsep ini, menganggap bahwa Tuhan ada dalam segala sesuatu, sehingga ciptaan itu sendiri adalah Tuhan. Hal ini sangat bertentangan dengan doktrin Kristen yang memisahkan Allah dari ciptaan-Nya.

Reductio ad Absurdum

Reductio terhadap Deisme: Jika Allah hanya transenden dan tidak berimmanen, maka Allah menjadi sangat jauh dari ciptaan-Nya, dan umat manusia akan kehilangan hubungan pribadi dengan-Nya. Tanpa kehadiran Allah dalam ciptaan-Nya, dunia ini akan menjadi seperti mesin yang berfungsi tanpa pengawasan atau pengaturan moral dari Sang Pencipta. Dengan demikian, deisme tidak memberikan tempat bagi hubungan yang hidup dan pribadi dengan Allah yang aktif dalam kehidupan kita.

Reductio terhadap Panteisme: Jika Tuhan sepenuhnya ada dalam ciptaan, maka segala sesuatu—termasuk yang jahat atau tidak baik—akan dianggap sebagai bagian dari Tuhan. Ini mengarah pada pemahaman yang salah bahwa segala keburukan dan ketidaksempurnaan adalah bagian dari sifat Tuhan, yang bertentangan dengan pengajaran Alkitab yang jelas bahwa Tuhan itu kudus dan terpisah dari dosa.

9. Holiness of God (Kekudusan Allah)

Penjelasan Doktrin

Kekudusan Allah adalah salah satu sifat yang paling mendalam dan mendasar dari karakter Allah. Allah adalah sepenuhnya terpisah dari dosa, jahat, dan segala ketidaksempurnaan. Kekudusan-Nya menunjukkan bahwa Allah tidak dapat bercampur dengan dosa atau ketidakadilan. Sebagai sumber dari segala yang baik dan benar, kekudusan Allah juga berhubungan dengan moralitas-Nya yang sempurna dan mutlak.

Di dalam Kekristenan, kekudusan Allah bukan hanya tercermin dalam tindakan-Nya tetapi juga dalam hakikat-Nya yang suci. Ini berarti bahwa Allah tidak hanya melakukan perbuatan yang benar dan suci, tetapi keberadaan-Nya itu sendiri adalah keberadaan yang kudus.

Ayat Pendukung

Yesaya 6:3 - "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam; seluruh bumi penuh dengan kemuliaan-Nya."

1 Petrus 1:16 - "Karena ada tertulis: 'Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.'"

Pandangan dari Worldview Lain

Islam: Dalam Islam, Allah juga dianggap sangat kudus dan terpisah dari segala yang tidak suci. Allah sangat tinggi dan tidak bisa disamakan dengan ciptaan-Nya. Tetapi, meskipun ada konsep kekudusan Allah, dalam Islam ada perbedaan dalam pemahaman bagaimana kekudusan itu berkaitan dengan sifat kasih Allah dan pengampunan dosa, yang lebih fokus pada kepatuhan terhadap wahyu-Nya.

Hindu: Dalam Hindu, kekudusan diartikan lebih melalui berbagai dewa dan aspek spiritual yang bisa dianggap suci, namun mereka tidak menganggap kekudusan itu sebagai sifat yang mutlak dan terpisah dari ciptaan. Konsep ketidakmurnian dan kesucian lebih sering dikaitkan dengan hukum karma dan perbuatan.

Reductio ad Absurdum

Reductio terhadap Islam: Jika Allah adalah hanya sebagai sosok yang terpisah dan kudus tanpa kasih yang transformatif, maka umat-Nya akan terputus dalam hubungan yang intim dengan Allah. Hal ini akan menjadikan konsep pengampunan menjadi terputus, karena kasih dan pengampunan Allah harus berinteraksi dengan keberdosaan manusia. Tanpa kedekatan atau hubungan pribadi, konsep pengampunan menjadi tidak relevan.

Reductio terhadap Hindu: Jika kekudusan Allah dipahami sebagai sesuatu yang dapat diterapkan pada berbagai dewa dan aspek dunia yang sangat tergantung pada tindakan manusia, maka konsep kebenaran mutlak dan moralitas absolut menjadi kabur. Tanpa standar moral yang jelas, seperti yang diajarkan dalam Kekristenan bahwa Allah adalah standar kebenaran yang absolut, moralitas menjadi relatif dan tidak terikat pada otoritas yang lebih tinggi.

10. Justice and Righteousness of God (Keadilan dan Kebenaran Allah)

Penjelasan Doktrin

Allah adalah adil dan benar dalam segala hal. Keadilan-Nya berarti bahwa Dia tidak memihak, tidak memandang bulu, dan akan memberikan keputusan yang tepat kepada setiap orang sesuai dengan perbuatan mereka. Tidak ada yang luput dari penghakiman-Nya yang benar.

Kebenaran Allah mencakup kesetiaan-Nya terhadap janji-Nya dan kebenaran dalam setiap tindakan-Nya. Ketika Allah menghukum dosa, itu adalah pernyataan keadilan-Nya. Ketika Dia memberikan berkat, itu adalah manifestasi dari kebenaran-Nya.

Ayat Pendukung

Mazmur 9:8 - "Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan akan menghukum bangsa-bangsa dengan kebenaran."

Roma 3:26 - "Dengan demikian Allah menunjukkan bahwa Ia benar dan membenarkan orang yang percaya kepada Yesus."

Pandangan dari Worldview Lain

Deisme: Dalam pandangan deisme, Allah dianggap sebagai pencipta yang adil, tetapi tidak terlibat dalam menjalankan keadilan-Nya secara aktif dalam kehidupan manusia. Allah menetapkan hukum-hukum alam, tetapi tidak memberikan penghakiman langsung atas dosa atau kejahatan manusia.

Islam: Dalam Islam, Allah adalah hakim yang adil dan akan menghakimi umat manusia berdasarkan amal perbuatan mereka. Namun, dalam Islam, keadilan Allah juga disertai dengan kasih dan pengampunan jika seseorang bertobat dan beriman kepada Allah.

Reductio ad Absurdum

Reductio terhadap Deisme: Jika Allah hanya sebagai pencipta yang adil tanpa keterlibatan aktif dalam kehidupan manusia, maka konsep keadilan Allah menjadi tidak relevan bagi umat manusia. Tanpa penghakiman langsung dari Allah, keadilan menjadi sesuatu yang abstrak dan jauh dari pengalaman hidup manusia.

Reductio terhadap Islam: Jika keadilan Allah hanya ditegakkan berdasarkan amal perbuatan tanpa pengertian tentang keselamatan oleh kasih karunia, maka keselamatan menjadi bergantung pada usaha manusia semata, yang membuat konsep keselamatan menjadi tidak pasti dan penuh ketidakpastian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

APAKAH KARENA YESUS BERASAL DARI ALLAH, MAKA DIA BUKAN ALLAH? (MENANGGAPI SERANGAN UST. SUBANDI T SUKOCO)

Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   Beberapa hari yang lalu, seseorang mengirimi saya sebuah video dan meminta tanggapan saya atas video itu. Setelah saya lihat-lihat, ternyata ini adalah cuplikan video dari YouTube Ust. Subandi T Sukoco. Siapakah orang ini? Subandi atau yang lebih dikenal dengan Gus Mbetik ini, adalah seorang pendakwah yang sudah sering terlibat dalam diskusi-diskusi lintas agama. Nah dalam cuplikan video yang berdurasi 2 menit 42 detik ini, Subandi memberikan argumentasinya untuk menolak ke-Tuhanan dan ke-Allahan Yesus. Menurut Subandi karena Yesus datang dari Allah maka Yesus pasti bukan Allah. Cuplikan lengkapnya bisa ditonton disini👇 Setelah menonton videonya, saya menemukan bahwa penolakan Ust. Subandi T Sukoco terhadap ke-Allahan Yesus didasari atas dua fakta ini : PERTAMA, KARENA YESUS DATANG DARI ALLAH MAKA DIA BUKAN ALLAH   Yohanes 9:33 (TB) Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa."  Menurut Ust. Subandi T Suko...

PELAJARAN MORAL DARI SADIO MANE

  Oleh : Dionisius Daniel Berposisi sebagai winger, skill dribel diatas rata-rata, speednya sangat kencang, insting mencetak golnya juga tinggi, ia berasal dari negara yang berjulukan "The Lions Of Teranga", sangat garang di atas lapangan, namun memiliki kepribadian yang "low profile". Dia juga peraih Socrates Award dalam penghargaan Ballon d'Or 2022, dan menjadi andalan lini depan Bayern Munchen saat ini. Siapakah dia? Iya, dia adalah Sadio Mane. Sadio Mane adalah seorang pesepak bola profesional asal Senegal. Ia lahir di kota Bambali, Sedhio, Senegal, pada tanggal 10 April 1992.  Ia berasal dari keluarga yang sangat sederhana, namun religius. Sejak kecil Mane sudah menunjukkan ketertarikan di olahraga sepak bola, namun ia tidak mendapatkan dukungan dari orang tuanya. Ayahnya yang juga adalah seorang imam masjid lebih menginginkan agar putranya menjadi guru. Di mata sang ayah dan keluarga, sepak bola tidak memiliki jaminan bagi masa depannya. Meski ...

PROVIDENSI ALLAH BUKAN ALASAN UNTUK BERDOSA

  Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   "Kalau Allah telah menetapkan segala sesuatu, dan apa yang ditetapkan Allah harus dan pasti terjadi, lalu mengapa tindakan berdosa manusia harus dihakimi?" Pertanyaan ini lahir dari kegagalan (kebingungan) dalam memahami providensi Allah. Apa itu providensi? Providensi adalah doktrin yang percaya bahwa Allah/Tuhan berdaulat penuh atas segala peristiwa yang terjadi di bawah kolong langit ini. Dengan kata lain tidak ada satupun peristiwa dalam bentang sejarah umat manusia yang luput dari kontrol dan kedaulatan Tuhan. Dan itu mencakup peristiwa yang baik maupun buruk (kejahatan) dalam kehidupan manusia. Sebagai landasan biblikalnya, kita akan melihat beberapa ayat di bawah ini. Misalnya tentang pemilihan orang percaya, ternyata Tuhan dalam kekekalan telah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi umat pilihan-Nya. "Di dalam Dia kami juga mendapat bagian, yang ditentukan dari semula menurut maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu ...