Langsung ke konten utama

TEOLOGI PROPER 8 (IMMANENCE OF GOD)

Teologi Proper 8: Immanence of God (Keberadaan Allah dalam Ciptaan)

Penjelasan Doktrin:

Immanence atau keberadaan Allah dalam ciptaan mengacu pada pandangan bahwa Allah aktif terlibat dalam dunia dan ciptaan-Nya. Meskipun Allah transenden (berada di luar dan melampaui ciptaan-Nya), Dia tetap hadir dan bekerja dalam ciptaan. Allah tidak jauh atau terpisah dari ciptaan-Nya, tetapi terus terlibat secara langsung dalam pemeliharaan dan pengaturan dunia ini.

Doktrin ini menekankan bahwa Allah tidak seperti seorang pencipta yang hanya menciptakan lalu meninggalkan ciptaan-Nya, melainkan Allah hadir di dalam dan bekerja melalui segala sesuatu yang ada, baik itu alam, sejarah, maupun kehidupan pribadi manusia. Allah yang imanen ini berhubungan dengan ciptaan-Nya dan memelihara segala sesuatu dengan penuh perhatian.

Beberapa ayat pendukung yang mengilustrasikan immanensi Allah antara lain:

Yeremia 23:23-24: "Apakah Aku ini Allah yang dekat, demikianlah firman TUHAN, dan bukankah Aku Allah yang jauh? ... tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Ku."

Kisah Para Rasul 17:27-28: "Dia tidak jauh dari kita masing-masing, karena di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, dan kita ada."

Mazmur 139:7-10: "Ke mana aku dapat pergi dari roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku naik ke langit, Engkau ada di situ; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau."

Pandangan dari Worldview Lain:

1. Pandangan Deisme:

Dalam pandangan Deisme, meskipun Allah dianggap sebagai pencipta dunia, Dia tidak terlibat secara langsung dalam urusan dunia setelah penciptaan. Allah dianggap telah menciptakan alam semesta dengan hukum-hukum alami, tetapi tidak berinteraksi dengan ciptaan-Nya setelah itu. Pandangan ini menolak immanensi Allah, karena Allah dianggap lebih sebagai pencipta yang jauh.

2. Pandangan Islam:

Dalam ajaran Islam, Allah (Allah) dipandang sebagai sangat transenden, yaitu jauh melampaui ciptaan-Nya. Meskipun ada konsep bahwa Allah mengetahui segalanya, termasuk tindakan manusia, ajaran Islam menekankan ketidakmampuan ciptaan untuk langsung mengalami keberadaan Allah. Immanensi Allah tidak ditekankan, karena ada pembatasan yang ketat dalam hubungan antara Allah dan ciptaan.

3. Pandangan Pantheisme:

Pantheisme menyatakan bahwa Allah dan alam semesta adalah satu. Dalam pandangan ini, segala sesuatu di alam semesta adalah bagian dari Tuhan, dan Tuhan tidak terpisah dari ciptaan-Nya. Meskipun pandangan ini menekankan kehadiran Tuhan di dalam ciptaan, ia lebih menekankan identitas antara Tuhan dan ciptaan, bukan hubungan antara keduanya.

Reductio ad Absurdum:

Reductio ad Absurdum terhadap Deisme:

Jika Allah menciptakan dunia dan kemudian tidak terlibat dalamnya, maka dunia ini akan menjadi seperti sebuah mesin yang berfungsi tanpa pengawasan atau perhatian terus-menerus. Namun, kenyataannya dunia ini penuh dengan keberlanjutan yang teratur dan berlanjut, yang mengindikasikan bahwa ada campur tangan aktif dari Sang Pencipta. Tanpa immanensi, Allah akan tampak tidak peduli dengan ciptaan-Nya, yang bertentangan dengan karakter kasih dan pemeliharaan Allah yang ditunjukkan dalam Kitab Suci.

Reductio ad Absurdum terhadap Islam:

Jika Allah hanya transenden dan tidak memiliki hubungan langsung dengan ciptaan-Nya, maka seluruh konsep iman yang memerlukan hubungan pribadi dengan Tuhan (seperti dalam doa dan penyembahan) menjadi tidak mungkin. Manusia yang tidak dapat berinteraksi dengan Allah secara langsung tidak dapat mengalami kasih atau kehadiran-Nya secara pribadi. Ini akan bertentangan dengan ajaran bahwa Allah dekat dengan umat-Nya dan mendengarkan doa mereka.

Reductio ad Absurdum terhadap Pantheisme:

Jika segala sesuatu adalah Tuhan, maka tidak ada pembeda antara yang kudus dan yang duniawi. Ini mengarah pada relativisme moral dan ontologi, di mana segala sesuatu menjadi ilahi tanpa adanya pemisahan yang jelas antara Allah dan ciptaan. Hal ini mengabaikan ketidakmurnian dan dosa dalam ciptaan, yang bertentangan dengan ajaran Alkitab tentang kedudukan Tuhan yang kudus dan terpisah dari dosa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

APAKAH KARENA YESUS BERASAL DARI ALLAH, MAKA DIA BUKAN ALLAH? (MENANGGAPI SERANGAN UST. SUBANDI T SUKOCO)

Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   Beberapa hari yang lalu, seseorang mengirimi saya sebuah video dan meminta tanggapan saya atas video itu. Setelah saya lihat-lihat, ternyata ini adalah cuplikan video dari YouTube Ust. Subandi T Sukoco. Siapakah orang ini? Subandi atau yang lebih dikenal dengan Gus Mbetik ini, adalah seorang pendakwah yang sudah sering terlibat dalam diskusi-diskusi lintas agama. Nah dalam cuplikan video yang berdurasi 2 menit 42 detik ini, Subandi memberikan argumentasinya untuk menolak ke-Tuhanan dan ke-Allahan Yesus. Menurut Subandi karena Yesus datang dari Allah maka Yesus pasti bukan Allah. Cuplikan lengkapnya bisa ditonton disini👇 Setelah menonton videonya, saya menemukan bahwa penolakan Ust. Subandi T Sukoco terhadap ke-Allahan Yesus didasari atas dua fakta ini : PERTAMA, KARENA YESUS DATANG DARI ALLAH MAKA DIA BUKAN ALLAH   Yohanes 9:33 (TB) Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa."  Menurut Ust. Subandi T Suko...

PELAJARAN MORAL DARI SADIO MANE

  Oleh : Dionisius Daniel Berposisi sebagai winger, skill dribel diatas rata-rata, speednya sangat kencang, insting mencetak golnya juga tinggi, ia berasal dari negara yang berjulukan "The Lions Of Teranga", sangat garang di atas lapangan, namun memiliki kepribadian yang "low profile". Dia juga peraih Socrates Award dalam penghargaan Ballon d'Or 2022, dan menjadi andalan lini depan Bayern Munchen saat ini. Siapakah dia? Iya, dia adalah Sadio Mane. Sadio Mane adalah seorang pesepak bola profesional asal Senegal. Ia lahir di kota Bambali, Sedhio, Senegal, pada tanggal 10 April 1992.  Ia berasal dari keluarga yang sangat sederhana, namun religius. Sejak kecil Mane sudah menunjukkan ketertarikan di olahraga sepak bola, namun ia tidak mendapatkan dukungan dari orang tuanya. Ayahnya yang juga adalah seorang imam masjid lebih menginginkan agar putranya menjadi guru. Di mata sang ayah dan keluarga, sepak bola tidak memiliki jaminan bagi masa depannya. Meski ...

PROVIDENSI ALLAH BUKAN ALASAN UNTUK BERDOSA

  Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   "Kalau Allah telah menetapkan segala sesuatu, dan apa yang ditetapkan Allah harus dan pasti terjadi, lalu mengapa tindakan berdosa manusia harus dihakimi?" Pertanyaan ini lahir dari kegagalan (kebingungan) dalam memahami providensi Allah. Apa itu providensi? Providensi adalah doktrin yang percaya bahwa Allah/Tuhan berdaulat penuh atas segala peristiwa yang terjadi di bawah kolong langit ini. Dengan kata lain tidak ada satupun peristiwa dalam bentang sejarah umat manusia yang luput dari kontrol dan kedaulatan Tuhan. Dan itu mencakup peristiwa yang baik maupun buruk (kejahatan) dalam kehidupan manusia. Sebagai landasan biblikalnya, kita akan melihat beberapa ayat di bawah ini. Misalnya tentang pemilihan orang percaya, ternyata Tuhan dalam kekekalan telah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi umat pilihan-Nya. "Di dalam Dia kami juga mendapat bagian, yang ditentukan dari semula menurut maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu ...