Langsung ke konten utama

HOLINES OF GOD

Teologi Proper: Holiness of God (Kekudusan Allah)

Penjelasan Doktrin:

Kekudusan Allah mengacu pada sifat-Nya yang sempurna, terpisah dari segala dosa dan ketidakbenaran. Allah adalah kudus dalam arti bahwa Ia sepenuhnya berbeda dan terpisah dari segala sesuatu yang jahat, buruk, atau tercemar. Kekudusan Allah adalah dasar dari segala tindakan-Nya yang benar, adil, dan penuh kasih. Allah tidak hanya bersih dari dosa, tetapi Dia juga memanggil umat-Nya untuk hidup dalam kekudusan sesuai dengan sifat-Nya.

Beberapa aspek dari kekudusan Allah adalah:

1. Transendensi dan Ketidaktersentuhan dengan Kejahatan: Allah yang kudus tidak dapat berdampingan dengan dosa. Dia tidak hanya terpisah dari dosa, tetapi juga tidak dapat mentolerir kejahatan.

2. Kekudusan dalam Keberadaan-Nya: Kekudusan Allah bukan hanya pada tindakan-Nya, tetapi juga pada keberadaan-Nya yang murni dan sempurna. Segala tindakan Allah selalu sesuai dengan kesucian-Nya.

3. Kekudusan dalam Hubungan dengan Umat-Nya: Allah memanggil umat-Nya untuk hidup kudus, karena Dia sendiri adalah kudus. Kekudusan ini adalah panggilan untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya, yang diungkapkan dalam hukum-Nya dan firman-Nya.

Beberapa ayat pendukung yang mendasari pemahaman tentang kekudusan Allah:

Yesaya 6:3: "Dan seruannya itu berkata: 'Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam; seluruh bumi penuh dengan kemuliaan-Nya!'"

1 Samuel 2:2: "Tiada yang kudus seperti Tuhan, karena tiada yang selain Engkau, dan tiada bukit batu seperti Allah kita."

1 Petrus 1:15-16: "Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam segala kelakuanmu, seperti Dia yang telah memanggil kamu adalah kudus, sebab ada tertulis: 'Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.'"


Pandangan dari Worldview Lain:

1. Pandangan Deisme:

Dalam pandangan Deisme, Allah dianggap sebagai Pencipta yang memulai dunia dan kemudian membiarkannya berjalan menurut hukum alam. Meski Allah mungkin dianggap sebagai yang kudus, tetapi tidak ada penekanan pada hubungan pribadi antara Allah dan umat manusia. Deisme tidak menekankan pentingnya kekudusan Allah dalam pengertian relasional, karena Allah lebih bersifat pasif setelah penciptaan dunia.

2. Pandangan Islam:

Dalam Islam, Allah dianggap sangat kudus dan tidak dapat disandingkan dengan segala sesuatu yang bersifat berdosa atau cacat. Dalam pandangan ini, kekudusan Allah menekankan kesucian-Nya yang mutlak, tetapi tidak menekankan hubungan pribadi antara Allah dan manusia dalam konteks yang mendalam seperti dalam Kekristenan. Meskipun demikian, konsep kekudusan Allah sangat penting dalam agama Islam dan terkait dengan sifat Allah yang maha tinggi dan sempurna.

3. Pandangan Hindu:

Dalam Hindu, konsep kekudusan cenderung lebih cair. Banyak dewa-dewi dalam tradisi Hindu yang dianggap suci, tetapi mereka sering kali juga menunjukkan sifat-sifat yang tidak sempurna. Pandangan ini berbeda dengan pandangan Kekristenan yang menekankan bahwa Allah adalah satu-satunya yang benar-benar kudus tanpa cela.

Reductio ad Absurdum:

Reductio ad Absurdum terhadap Deisme:

Jika Allah hanya menciptakan dunia dan tidak terlibat lebih jauh, maka konsep kekudusan-Nya menjadi tidak relevan dalam kehidupan manusia. Tanpa adanya hubungan pribadi dengan Allah yang kudus, tidak ada panggilan bagi manusia untuk hidup kudus sesuai dengan sifat Allah. Hal ini akan mengarah pada pandangan bahwa hidup manusia tidak terhubung dengan kekudusan atau kesucian apapun selain usaha pribadi mereka.

Reductio ad Absurdum terhadap Islam:

Jika Allah hanya dianggap sebagai yang kudus tanpa membangun hubungan pribadi yang transformatif dengan umat manusia, maka ini akan menghasilkan konsep kesucian yang terpisah dari kehidupan praktis umat-Nya. Tidak ada panggilan pribadi untuk umat manusia dalam kehidupan sehari-hari untuk hidup sesuai dengan kekudusan Allah, karena tidak ada keintiman yang cukup dalam hubungan tersebut.

Reductio ad Absurdum terhadap Hindu:

Jika banyak dewa-dewi dianggap suci tetapi dengan sifat yang tidak sempurna atau cacat, maka ini menyebabkan kekudusan menjadi relatif dan tidak murni. Jika banyak dewa yang dianggap suci namun memiliki kelemahan atau kejahatan, maka pengertian tentang kesucian menjadi terdegradasi, yang akhirnya membuat konsep kesucian itu sendiri menjadi kabur dan tidak memiliki standar yang jelas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

APAKAH KARENA YESUS BERASAL DARI ALLAH, MAKA DIA BUKAN ALLAH? (MENANGGAPI SERANGAN UST. SUBANDI T SUKOCO)

Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   Beberapa hari yang lalu, seseorang mengirimi saya sebuah video dan meminta tanggapan saya atas video itu. Setelah saya lihat-lihat, ternyata ini adalah cuplikan video dari YouTube Ust. Subandi T Sukoco. Siapakah orang ini? Subandi atau yang lebih dikenal dengan Gus Mbetik ini, adalah seorang pendakwah yang sudah sering terlibat dalam diskusi-diskusi lintas agama. Nah dalam cuplikan video yang berdurasi 2 menit 42 detik ini, Subandi memberikan argumentasinya untuk menolak ke-Tuhanan dan ke-Allahan Yesus. Menurut Subandi karena Yesus datang dari Allah maka Yesus pasti bukan Allah. Cuplikan lengkapnya bisa ditonton disini👇 Setelah menonton videonya, saya menemukan bahwa penolakan Ust. Subandi T Sukoco terhadap ke-Allahan Yesus didasari atas dua fakta ini : PERTAMA, KARENA YESUS DATANG DARI ALLAH MAKA DIA BUKAN ALLAH   Yohanes 9:33 (TB) Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa."  Menurut Ust. Subandi T Suko...

PELAJARAN MORAL DARI SADIO MANE

  Oleh : Dionisius Daniel Berposisi sebagai winger, skill dribel diatas rata-rata, speednya sangat kencang, insting mencetak golnya juga tinggi, ia berasal dari negara yang berjulukan "The Lions Of Teranga", sangat garang di atas lapangan, namun memiliki kepribadian yang "low profile". Dia juga peraih Socrates Award dalam penghargaan Ballon d'Or 2022, dan menjadi andalan lini depan Bayern Munchen saat ini. Siapakah dia? Iya, dia adalah Sadio Mane. Sadio Mane adalah seorang pesepak bola profesional asal Senegal. Ia lahir di kota Bambali, Sedhio, Senegal, pada tanggal 10 April 1992.  Ia berasal dari keluarga yang sangat sederhana, namun religius. Sejak kecil Mane sudah menunjukkan ketertarikan di olahraga sepak bola, namun ia tidak mendapatkan dukungan dari orang tuanya. Ayahnya yang juga adalah seorang imam masjid lebih menginginkan agar putranya menjadi guru. Di mata sang ayah dan keluarga, sepak bola tidak memiliki jaminan bagi masa depannya. Meski ...

PROVIDENSI ALLAH BUKAN ALASAN UNTUK BERDOSA

  Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   "Kalau Allah telah menetapkan segala sesuatu, dan apa yang ditetapkan Allah harus dan pasti terjadi, lalu mengapa tindakan berdosa manusia harus dihakimi?" Pertanyaan ini lahir dari kegagalan (kebingungan) dalam memahami providensi Allah. Apa itu providensi? Providensi adalah doktrin yang percaya bahwa Allah/Tuhan berdaulat penuh atas segala peristiwa yang terjadi di bawah kolong langit ini. Dengan kata lain tidak ada satupun peristiwa dalam bentang sejarah umat manusia yang luput dari kontrol dan kedaulatan Tuhan. Dan itu mencakup peristiwa yang baik maupun buruk (kejahatan) dalam kehidupan manusia. Sebagai landasan biblikalnya, kita akan melihat beberapa ayat di bawah ini. Misalnya tentang pemilihan orang percaya, ternyata Tuhan dalam kekekalan telah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi umat pilihan-Nya. "Di dalam Dia kami juga mendapat bagian, yang ditentukan dari semula menurut maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu ...