Langsung ke konten utama

KESELAMATAN SEJATI TAK BISA HILANG, KARENA DIJAGA OLEH TANGAN KRISTUS YANG TAK TERGOYAHKAN" — REFLEKSI ATAS FENOMENA PINDAH AGAMA & JAMINAN KESELAMATAN MENURUT INJIL.

Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali 

Abang Leon

Akhir-akhir ini berita tentang kepindahan agama menghiasi jagad media kita, baik di televisi maupun media sosial. Memang untuk konteks Indonesia ini, isu jualan agama memang laris manis di pasaran. Teranyar seorang presenter kondang brownies yang bernama Ruben Onsu resmi mengucapkan dua kalimat syahadat dengan dipandu oleh Habib Usman Bin Yahya.

Ruben tidak sendiri, sebelum Ruben sudan ada beberapa artis yang sudah "login" duluan ke server sebelah. Beberapa nama terkenal ada di daftar ini, sebut saja, ada om Dedy Corbuzier, Bobon Santoso, Dr Richard Lee, Dll.

Isu ini kemudian memantik satu pertanyaan : Para mualaf ini, yang telah meninggalkan iman Kristen mereka, lalu bagaimana dengan keselamatan mereka?"

Sebagai seorang Kristen apalagi yang memegang tradisi Reformed, saya sangat "haqqul yaqin" bahwa orang-orang ini sebenarnya tidak pernah kehilangan keselamatan. Mereka tidak kehilangan keselamatan, bukan karena mereka pernah selamat, lalu tetap selamat, melainkan mereka dari awal memang tidak pernah selamat. Karena mereka tidak pernah selamat, maka mereka tetap pada status mereka sebagai orang-orang yang tidak selamat.

Nah fakta kepindahan mereka, telah menunjukkan siapa mereka sebenarnya. Alkitab berkata bahwa mereka pada awalnya terlihat seolah-olah bagian dari kita, tapi ternyata mereka bukan kita. 

1 Yohanes 2:19 (TB) Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita. Tetapi hal itu terjadi, supaya menjadi nyata, bahwa tidak semua mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita. 

2 Yohanes 1:9 (TB) Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak.

Jadi jelas dua ayat di atas memberitahu kita bahwa para mualaf ini memang dari awal mereka bukan orang percaya, karena mereka bukan orang percaya maka mereka tidak pernah diselamatkan. Sebab kalau mereka adalah orang percaya mustahil mereka murtad, mustahil mereka kehilangan keselamatannya, sebab keselamatan mereka telah dijamin oleh Yesus.

Yohanes 10:27-29 (TB) Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,

dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.

Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.

Nah itu berarti jika mereka murtad, maka mereka bukan termasuk domba-domba Kristus.

Tapi kemudian ada pandangan lain seperti yang dikemukakan oleh Elia Myron, yang menganggap bahwa para mualaf ini tidak selamat bukan karena dari awal mereka tidak selamat, melainkan karena mereka pergi meninggalkan keselamatan itu. jadi keselamatan itu ada, tapi ditinggal pergi begitu saja.

Benarkah pandangan demikian? Saya melihat ada celah cacat logika di balik pernyataan ini.  Pernyataan ini terdengar rohani tapi sebenarnya berkontradiksi secara internal. Mari kita bedah pelan-pelan!.

Pertama, klaim bahwa "Keselamatan tidak bisa hilang, tapi seseorang bisa meninggalkannya sendiri." Ini memang terdengar seperti jalan tengah. Tapi sebenarnya ini cuma permainan kata-kata (semantik) untuk menghindari konsekuensi doktrinal dari kehilangan keselamatan.

Secara makna, pernyataan itu identik dengan “keselamatan bisa hilang.” Bedanya cuma dalam versi ini, bukan Allah yang mengambil, tapi manusia yang melepaskan. Tapi hasil akhirnya sama saja, dia tidak selamat.

Kedua, ada cacat Logika yang Tersembunyi di sini.

Mari kita lihat silogismenya :

Premis A : Keselamatan tidak bisa hilang.

Premis B : Seseorang bisa meninggalkannya.

Maka kesimpulannya : Keselamatan bisa hilang.

Jadi premis A dan B bertentangan. Kita tidak bisa menegakkan keduanya tanpa jatuh ke dalam self-refuting statement.

Ini seperti kita bilang bahwa, “Rumah ini tidak bisa dibobol, tapi pemiliknya bisa buka pintu dan pergi untuk selamanya.”

Ya kalau gitu, rumahnya memang bisa ditinggalkan alias tidak aman.

Ketiga, ada masalah Teologis yang lebih serius.

Jika seseorang bisa meninggalkan keselamatan, maka keselamatan bergantung pada kekuatan atau keputusan akhir manusia, bukan pada kuasa pemeliharaan Allah.

Maka janji Kristus di bawah ini menjadi batal.

"Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku." (Yohanes 10:28)

Lha, kalau mereka bisa meninggalkan sendiri, berarti tangan Kristus bisa dilepaskan?

Berarti Allah tidak berkuasa menjaga yang Ia selamatkan? Itu bertentangan dengan seluruh kesaksian Kitab Suci. Padahal kita suci bersaksi bahwa :

Kalau seseorang benar-benar diselamatkan, maka itu berarti bahwa :

1. Allah telah memilihnya (Efesus 1:4),

2. Kristus telah menebusnya (Yoh 10:15),

3. Roh Kudus telah memeteraikannya (Efesus 1:13),

4. Maka mustahil ia binasa, karena Allah bekerja dari awal sampai akhir (Roma 8:29–30).

Kalau ia bisa keluar dari keselamatan, maka salah satu dari empat langkah itu gagal, dan itu berarti Allah gagal. Dan itu tentu absurd secara teologi dan logika.

Jadi Kesimpulannya adalah "Meninggalkan keselamatan" sebenarnya sama saja dengan Kehilangan keselamatan, hanya saja dibungkus kata-kata yang indah. Pernyataan seperti ini tidak hanya cacat logika, tapi juga mengikis keindahan Injil.


SOLIDEO GLORYA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BANTAHAN TERHADAP SERANGAN NGAWUR ROMO PATRIS ALEGRO

( Disclaimer : Tulisan ini tidak bermaksud memantik api permusuhan terhadap saudara-saudara dari Khatolik Roma, melainkan adalah sebuah bentuk pembelaan iman (Apologetika) atas serangan ngawur yang dilakukan secara masif oleh seorang oknum Romo dari Gereja Khatolik Roma, dengan akun Facebook bernama Patris Alegro. Di salah satu utas terbarunya, di Facebook, tertanggal: Selasa 22 Juli 2025. Romo Patris secara ngawur mengkritik istilah "Sola" yang digunakan oleh Protestan. Setelah membaca statusnya, saya melihat bahwa kritikan yang dibangun oleh Romo Patris lebih mencerminkan ketidakpahaman Romo Patris atas doktrin "Sola" ketimbang kritikan yang didasari oleh reductio ad absurdum. Di bawah ini saya tampilkan tulisan utuh dari Romo Patris yang dicopas dari akun facebooknya, serta tanggapan saya atas tulisan tersebut. TULISAN ROMO PATRIS ALEGRO Mengapa ada lima “sola” padahal “sola” artinya “hanya satu”?.  Mari kita bongkar ini secara logis, etimologis, dan teologis, la...

Allah Maha Kuasa Bukan Maha Kontradiksi

Oleh: Dionisius Daniel Goli Sali Pagi ini, sambil ngopi dan menunggu orderan Maxim, aku iseng buka YouTube dan menonton pengajaran teologi dari channel YouTube Verbum Veritatis yang dikelola oleh Pak Deky Nggadas. Tema dari pengajaran Pak Deky adalah tentang Divine Simplicity And The Trinity (Kesederhanaan Allah Dan Trinitas).  Secara garis besar, poin pengajaran Pak Deky adalah Allah Kristen itu simplisitas (Sederhana). Sederhana yang dimaksud Pak Deky, bukan berarti bahwa Allah Kristen itu bisa dipahami secara utuh tanpa harus meninggalkan ruang bagi hal-hal yang menjadi misteri untuk akal manusia. Melainkan, dalam natur-Nya Allah itu tidak terbagi. Meskipun Allah memiliki bermacam-macam atribut, seperti: maha kuasa, maha kasih, maha adil, kekal, dan lain sebagainya. Tapi atribut-atribut itu bukanlah komponen-komponen yang terpisah dalam diri Allah. Melainkan atribut itu adalah natur-Nya. Jadi, Allah bukan hanya Allah yang memiliki kasih, tapi Allah adalah kasih. Allah bukan hany...

MEMBEDAH RUMUSAN TRITUNGGAL ALA ELIA MYRON

Oleh : Dionisius Daniel Dalam sebuah video dari kanal YouTube Tiga Hari. Elia Myron seorang apologet muda terlihat sedang mengajarkan doktrin Tritunggal. Namun yang menarik disini adalah, rumusan Tritunggal yang diajarkan oleh Elia Myron ini, terindikasi menyimpang dari rumusan Tritunggal yang ortodoks yang telah dipegang oleh Gereja sepanjang sejarah. Elia mendasari pengajaran Tritunggalnya dengan mengutip Ulangan 6:4, dan 1 Korintus 8:6 Ulangan 6:4 (TB) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  1 Korintus 8:6 (TB) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.  Berdasarkan dua ayat ini Elia membangun premis bahwa Allah itu pada hakikatnya adalah esa, dan Allah yang esa ini adalah sang Bapa. Mengapa Allah yang esa ini disebut Bapa? Karena menurut Elia,...