Dikutip dari group Studi Refomed MYM
MYM : Pernyataan yang menyesatkan :
"Pada mulanya adalah logika, logika itu bersama-sama dengan Allah, dan logika itu adalah Allah."
Mengapa sesat? Sesat karena istilah logika di sini dikenakan secara sama antara Allah dan manusia.
Pernyataan yang Alkitabiah, seandainya istilah logika digunakan di dalam konteks Yoh. 1:1:
"Pada mulanya adalah Logika Allah (Logos; Firman), Logika Allah itu bersama-sama dengan Allah, dan Logika Allah adalah Allah."
Namun istilah "Logika Allah" di sini juga hanya bermakna sempit dan tidak sepenuhnya mewakili istilah Logos, karena istilah Logos dapat berarti, 1) kata-kata Allah, pengetahuan Allah, hikmat Allah (band. dengan hikmat dalam Amsal), logika Allah, intelegensia Allah yang mendasari segala yang ada. Jadi waktu Yohanes, sesuai ilham Allah, menggunakan istilah Logos, itu sudah merupakan istilah yang paling tepat.
Ma Kuru : Tidak menyesatkan kalau dipahami bahwa logika ada di bagian dasar dari semua yang disebut. Hanya orang yang tidak paham mendasarnya logika yang merasa bahwa pernyataan itu menyesatkan.
Ini yang dikatakan R.C. Sproul tentang terjemahan Clark tersebut :
Seorang filsuf Kristen, Gordon H. Clark, mengusulkan bahwa ayat-ayat awal Injil Yohanes cocok diterjemahkan sebagai berikut: “Pada mulanya Logika, dan Logika bersama dengan Allah dan Logika adalah Allah … Logika menjadi daging.” Terjemahan seperti itu menimbulkan keresahan di antara orang Kristen karena tampaknya lebih mewakili rasionaliisme kasar, dengan mereduksi Kristus hanya menjadi prinsip-prinsip rasional. Namun demikian, itu bukan yang dimaksud Dr. Clark dengan kalimat ini. Ia hanya mengatakan bahwa Allah sendiri merupakan koherensi, konsistensi dan simetri yang dengannya segala sesuatu yang di dunia disatukan di bawah pemerintahan-Nya. Allah menyatakan God prinsip koherensi yang bersumber dari keberadaan-Nya lewat Firman-Nya yang dalam dirinya koheren, konsisten dan simetris. Kristus diidentifikasikan dengan Logos kekal dalam Allah sendiri, yang membawa keteraturan dan harmoni bagi dunia ciptaan
Jadi yang sesat adalah yang memutarbalikkan pandangan orang lain dan menyerang pemutar-balikkan itu seolah-olah merupakan pandangan orang lain.
MYM : Semua pernyataan Ma Kuru di sini tidak relevan, karena pernyataan saya di atas mempresaposisikan perbedaan kualitas antara Pencipta dan ciptaan, sedangkan komennya mempresaposisikan identiknya logika Allah dan manusia.
Ma Kuru : Dan pernyataan Yanto tidak punya nilai karena hanya didasarkan pada pencampuradukkan antara perbedaan ontologis dan perbedaan epistemologis serta sistem filosofis yang membawa kepada skeptisisme.
MYM : Ma Kuru, ini tidak berbicar perbedaan antara masalah ontologis, epistemologis, atau etis. Tidak. Ini masalah perbedaan kualitas antara Pencipta dan ciptaan. Jadi, kalau diterapkan secara detail maka, Allah dan manusia berbeda secara kualitas, baik secara ontologis, epistemologis, dan etis (secara etika). Ini berarti bahwa, 1) secara ontologis, natur Allah berbeda dengan natur manusia, 2) epistemologi Allah berbeda dengan epistemologi manusia, 3) etika/moral Allah berbeda dengan manusia. Namun karena manusia diciptakan menurut gambar Allah, maka secara ontologis, epistemologi, dan etika, manusia memiliki kemiripan dengan Allah.
Jadi, respons anda tidak relevan dengan argumen saya.
Ma Kuru : Yanto, apa yang anda komentari di atas terlalu umum dan mengaburkan perbedaan pandangan antara van Til dan Clark. Perbedaan Clark dan van Till ada pada aspek epistemologi.
Anda juga berbicara seolah-0lah anda yakin apa yang anda bicarakan, padahal sistem filosofi van Tilian yang anda anut membawa kepada skeptisisme. Dengan demikian, anda hanya sok percaya diri bahwa pandangan anda benar, tidak ada justifikasi sama sekali terhadap kepercayaan diri anda dalam penegasan-penegasan di atas.
Pertentangan Clark dan van Till adalah terkait dengan masalah epitemologi. Kalian van Tilian merasa bahwa tidak ada satupun titik identik antara pengetahuan manusia dan pengetahuan Allah. Di lain pihak kalian menyatakan bahwa ada kemiripan. Kemiripan mempraanggapkan keidentikan pada titik tertentu (tidak semua). Tanpa ada titik identik tertentu (tidak semua), maka mirip tadi tidak mirip. Itu ekuivokal. Dan anehnya ketika ditanya, seberapa mirip pengetahuan Allah dan manusia, katanya pertanyaan itu tidak pantas diajukan. Dengan kata lain sistem filsafat yang kamu bangun tidak dapat dipertanggung jawabkan. Kamu klaim mirip, tetapi tidak tahu seberapa mirip.
Ketika dipress berulang-ulang anda kemudian mengangkat perbedaan kualitas, lalu berpedaan ektype dan arketipe, tetapi ketika diminta argumen yang menghubungkan perbedaan itu dengan klain akan kesalahan Clark, kamu diam. Tidak bisa jawab.
Kamu angkat ayat yang mencoba menjustifikasi pandangan kamu, tetapi ketika diminta argumen yang menghubungkan ayat dengan proposisi yang kamu percaya, kamu merasa bahwa premis kamu adalah aksioma.
Menarik toh.
MYM : Argumen yang panjang, tapi saya kira Ma Kuru tidak memahami Van Til. Perbedaan kualitas yang dipahami Van Til adalah perbedaan natur, being, substansi, atau sifat antara Allah dan manusia. Ini sifatnya ontologis. Nah, konsekwensi perbedaan ini juga akan meliputi semua aspek lain termasuk epistemologi. Teologi Reformed selalu menegaskan perbedaan ini. Itu sebabnya muncul istilah archetype dan ectype.
Ma Kuru : Saya tidak tahu apakah saya yang tidak paham atau Yanto yang kurang paham Van Til sehingga tidak bisa menunjukkan argumen penghubung dua hal berbeda.
Clark mengakui perbedaan-perbedaan itu. Tetapi mengatakan bahwa dalam hal pengetahuan, ada titik tertentu dimana pengetahuan Allah dan pengetahuan manusia bertemu. Itu yang ditentang Van Til. Van Til dan Yanto mengatakan bahwa akibat perbedaan-perbedaan tersebut, tidak ada satu titikpun dimana pengetahuan manusia dan pengetahuan Allah bertemu.
Coba bayangkan dampaknya terhadap teologi. Seandainya tidak ada titik temu sedikitpun antara pengetahuan Allah dan manusia, ketika manusia mengetahui kebenaran bahwa 'Yesus adalah satu-satunya Juruselamat' apakah Allah juga mengetahui kebenaran itu? Kalau mengikuti penalaran Van Til dan Yanto, jelas Allah tidak mengetahuinya karena tidak ada titik temu sama sekali antara keduanya. Tentu saja ini akan ditolak Yanto. Namun walaupun ditolak, itu adalah implikasi tak terelakkan dari pandangannya. Penolakan itu hanyalah bentuk inkonsistensi. Pasti ada tentangan terhadap komentar tersebut, dan saya sudah tahu tentangannya. Namun kita tunggu saja siapa tahu muncul kembali.
Ketika ditanya proposisi apa yang menghubungkan perbedaan ektype dan arketype dan ketiadaan titik kontak antara pengetahuan Allah dan pengetahuan manusia, tidak ada argumen yang dikemukakan. Semoga kali ini Yanto bisa mengemukakan sesuatu.
MYM : Ma Kuru, Anda terus memfitnah! Dimana Van Til dan saya pernah berkata tidak ada titik temu? Titik temunya adalah mirip. Dampak teologi apa yang anda maksud? Saya tulis Dogmatika 1046 halaman, tidak ada masalah dengan konsep perbedaan kualitas antara Allah dan manusia, bahkan sangat selaras dengan ajaran Alkitab.
Anda mau memukul Van Til tapi kena angin.
Ma Kuru : Kalau hanya klaim siapapun bisa. Kalau hanya Anda klaim bahwa tidak ada kesulitan, walaupun sudah ada argumen yang menunjukkan kesulitan tersebut, itu hak anda. Tetapi saya cukup heran gaya bernalar jalanan seperti itu anda praktekkan. Good luck lah.
Anda koar - koar ilmiah, menyombongkan diri tulis buku dan menuduh lawan menipu, dan ternyata hanya tuduhan palsu.
Kalau itu standar ilmiah yang anda banggakan, saya bisa paham.
Komentar
Posting Komentar