KUTIPAN ARGUMEN LENGKAP MARTIN SAKSI YEHUWA VIA WHATSAPP TERTANGGAL BATAM 13/06/2026
Selamat pagi Bung Dion, saya sdh baca semua komentar Saudara, tapi hanya akan menjawab bagian-bagian yg saya anggap sangat penting utk ditanggapi, selebih dari itu cuma ‘remah-remah roti’ yg berpotensi debat kusir yg tidak perlu. Saya mengawali dari dua proposisi yg Saudara minta utk saya pilih:
DION MENULIS: Jadi anda harus memilih salah satu di antara dua proposisi ini: 1. Apakah relasi Bapa–Anak itu kekal? Kalau relasi Bapa-Anak kekal, maka Anak tidak diciptakan. 2. Atau pernah tidak ada relasi sama sekali? Jika pernah tidak ada relasi sama sekali, maka anda sedang menjadikan Allah sebagai Allah yang bergantung pada sesuatu di luar diri-Nya. Karena Allah “baru menjadi Bapa” karena ada Anak ciptaan. Maka Pak Martin anda di sini sedang mendegradasi atau merendahkan kesempurnaan Allah.
JAWABAN SAYA: Bung Dion, dilema yg Bung ‘memaksa’ saya pilih sebenarnya adalah dikotomi palsu! Tentu saja saya menolak kedua proposisi itu, tapi menunjukkan bhw Alkitab menyediakan jalan ketiga yg selaras, indah, dan memuliakan Allah.
Proposisi 1 Dion: "Apakah relasi Bapa–Anak itu kekal? Kalau relasi Bapa-Anak kekal, maka Anak tidak diciptakan."
Jawaban saya: Tidak, relasi Bapa-Anak tidak bersifat kekal dlm arti tanpa awal, dan proposisi ini salah karena ia berasumsi bhw "kekekalan relasi" adalah satu-satunya cara utk menjelaskan keberadaan Anak. Asumsi ini tidak berasal dari Alkitab, melainkan dari keharusan filosofis yg dipaksakan ke dalam teks. Pertanyaan saya buat Bung: Coba tunjukkan di Alkitab yang menyatakan, “Relasi Bapa dan Anak harus bersifat kekal” atau jika tidak, maka Anak bukanlah siapa-siapa. Saya bolak-balik cari konsep semacam itu dlm Alkitab tapi Tidak ada. Yang ada justru sebaliknya, dan ini muncul berulang kali, YHWH-Yehuwa berfirman, "Engkaulah Anak-Ku; pada hari ini Aku telah memperanakkan Engkau" (Mazmur 2:7; bnd. Kisah 13:33; Ibrani 1:5; 5:5). Frasa "hari ini" adalah batu sandungan yg tidak akan pernah bisa Trinitarian singkirkan. Ini adalah bahasa tentang awal yg spesifik, sebuah titik dlm arus waktu di mana Allah memulai relasi ini dgn memperanakkan—yaitu, menciptakan—Anak-Nya.
Proposisi 2 Dion: "Jika pernah tidak ada relasi sama sekali, maka Anda sedang menjadikan Allah sebagai Allah yang bergantung pada sesuatu di luar diri-Nya."
Jawaban saya: Ini juga proposisi yg keliru jalan. Proposisi ini adalah kesalahan kategori yg parah! Bung Dion seolah menyamakan “Allah memutuskan untuk menciptakan relasi” dengan ‘Allah bergantung sesuatu secara esensial’. Itu adalah lompatan logika yg tidak berdasar. Mari kita bernalar dgn hal yg bisa dibayangkan: Ketika Allah menciptakan alam semesta, Ia menjadi "Pencipta", bukan? Sebelum penciptaan, Ia belum menjadi "Pencipta", benar? Nah, apakah dgn menjadi Pencipta, Allah "berubah" secara esensial? Baca Maleakhi 3:6, "Bahwasanya Aku, TUHAN [YHWH], tidak berubah..." (Bnd. Bilangan 23:19; Yakobus 1:17) Konsep "Allah tidak berubah" di Alkitab tidak pernah berarti bahwa Allah adalah Pribadi yg statis dan beku, yg tidak dapat bertindak atau membentuk relasi baru. Justru kalau diperiksa baik-baik, Alkitab jelas berbicara ttg ketidakberubahan karakter, standar moral atau kesetiaan Dia pada janji-Nya—tapi bukan ttg ketidakmampuan-Nya utk mencipta atau memulai relasi. Buktinya, Allah yg sama yg berkata "Aku tidak berubah" adalah Allah yang menciptakan alam semesta pada suatu titik waktu, memulai relasi sebagai "Pencipta." Itu adalah ekspresi dari kedaulatan, bukan kebutuhan. Itu adalah tindakan bebas dari kehendak-Nya yg menciptakan relasi baru tanpa mengubah esensi-Nya sebagai Allah Yang Mahakuasa. Sama seperti seorang pria yg memutuskan utk memiliki anak—ia memulai sebuah relasi baru sebagai "ayah," tetapi ia tidak "bergantung" pd anaknya utk diakui esensinya sebagai manusia. Esensinya sebagai manusia tetap utuh, sama seperti esensi Yehuwa sebagai Allah tetap utuh dari kekekalan hingga selamanya, terlepas dari apakah Ia memiliki ciptaan atau tidak. Status "Bapa" adalah _gelar relasional_ yang dimulai oleh keputusan bebas Yehuwa, sama seperti status "Pencipta." Yehuwa dari kekekalan adalah Allah Yang Mahakuasa. Nama-Nya, Yehuwa, berarti "Ia Menyebabkan Menjadi." Ia menyebabkan diri-Nya menjadi Bapa dgn secara bebas menciptakan seorang Putra. Inilah kebebasan ilahi, bukan kontingensi.
Kemudian, ketika Bung menyatakan bahwa "perubahan relasional tetap lah perubahan" dan karena itu bertentangan dengan Allah yang tidak berubah (Imutable God). Sekali lagi saya bilang: Bung keliru jalan krn mencampuradukkan ketidakberubahan esensial Allah dgn ketidakmampuan Allah untuk memulai relasi baru dalam waktu.
Apa yg Bung lakukan sebenarnya adalah mengimpor konsep _absolute immutability_ dari filsafat Yunani—khususnya Aristoteles dgn _Unmoved Mover_ -nya—dan memaksakannya ke dlm teologi Alkitabiah. Menurut konsep ini, Allah begitu "sempurna" sehingga Ia tidak bisa bergerak, tidak bisa berelasi, tidak bisa memulai sesuatu yang baru. Tetapi itu bukanlah Allah Alkitab. Allah Alkitab adalah Pribadi yang hidup, yang bertindak, yang menciptakan, yang berfirman, "pada hari ini Aku telah memperanakkan Engkau" (Mazmur 2:7).
Jadi, Bung Dion, jangan menukar Yehuwa, Allah yang hidup dan berdaulat, dengan "Penggerak yang Tidak Tergerakkan" versi Aristoteles. Yehuwa bebas. Ia tidak terbelenggu oleh definisi kesempurnaan buatan para filsuf. Ia dapat memulai relasi baru—baik sebagai Pencipta maupun sebagai Bapa—tanpa sedikit pun mengubah esensi kemahakuasaan-Nya yang kekal.
Kemudian, tanpa penjelasan lebih dalam, Bung asal menyentil Yohanes 17:5. Bung berkata, "Alkitab tidak menggambarkan relasi Bapa–Anak sebagai sesuatu yang 'mulai di waktu tertentu', tetapi sebagai relasi yang berada dalam wilayah kekal (lihat: Yohanes 17:5)."
Mari kita uji. Yohanes 17:5 TB-LAI berbunyi: "Oleh sebab itu, ya Bapa, muliakanlah Aku di hadirat-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada."
Bung Dion, Yesus berbicara ttg kemuliaan pra-manusianya, kemuliaan yg ia miliki bersama Bapa sebelum ia datang ke dunia. Apakah ini membuktikan bhw ia tidak diciptakan? Tidak. Ini membuktikan bhw ia ada sebelum dunia. Dan kami, Saksi-Saksi Yehuwa, sepenuhnya meyakini itu! Yesus adalah "Yang Sulung dari semua ciptaan" (Kolose 1:15). Ia telah ada bersama Bapa selama kurun waktu yg tidak terhitung lamanya sebelum alam semesta fisik diciptakan. Karena itu, frasa "sebelum dunia ada" secara sempurna selaras dgn pemahaman kami bhw ia adalah ciptaan pertama, yang melalui-nya semua perkara lainnya diciptakan!
Ini ironis, Bung Dion. Saudara menggunakan Yohanes 17:5 utk membuktikan kekekalan, tetapi Yohanes 17:5 sebenarnya membuktikan urutan: ia ada "sebelum dunia." Sebelum ia ada, ia juga memiliki awal sebagai ciptaan pertama, tetapi itu terjadi jauh, jauh, sebelum penciptaan dunia fisik.
Jadi, mari kita singkirkan kabut filsafat Saudara dan lihat dgn jernih apa yg sebenarnya Alkitab ajarkan:
1. Yehuwa, dari kekekalan, adalah Allah Yang Mahakuasa. Ia tidak bergantung pada apa pun atau siapa pun (Yesaya 40:28).
2. Pada suatu "hari ini" yang spesifik, Yehuwa secara bebas menciptakan makhluk roh pertama-Nya, Yesus pra-manusia (Wahyu 3:14; Mazmur 2:7). Pada saat itu, Yehuwa memulai relasi baru sebagai Bapa, dan Yesus menjadi Putra.
3. Relasi ini oleh para Trinitarian dianggap "baru" dan "merendahkan Allah" jika tidak kekal, tetapi Alkitab menyebutnya sebagai awal yg penuh kemuliaan dari seluruh ciptaan —sama mulianya dgn saat Allah menjadi Pencipta.
Jadi, kesimpulannya utk bagian ini, Bung Dion, proposisi dilematis filosofis Bung lagi-lagi gagal krn:
Bung menyamakan "memulai relasi" (kedaulatan) dengan "bergantung pada relasi" (kontingensi).
Bung menerapkan konsep _absolute immutability_ ala filsuf Yunani kpd Allah Alkitab yang hidup, yang bertindak dan menciptakan relasi dalam waktu.
Bung bersikeras pada "kekekalan relasi" sebagai doktrin utama, tetapi Bung *_tidak memiliki satu ayat pun_* yg mengatakan demikian. Bung hanya memiliki tradisi dan penalaran filosofis, sementara kami memiliki Mazmur 2:7 yg dgn tegas menyatakan, "hari ini."
Jadi, sekali lagi, saya tidak perlu memilih salah satu dari 2 pilihan proposisi yg menyesatkan itu. Saya memilih kebenaran Alkitab yg sederhana dan mulia: Allah adalah Bapa karena Ia memilih utk menjadi Bapa. Dan pada "hari ini", Ia memperanakkan Putra yg Ia kasihi. Itu bukan bukti kelemahan-Nya; itu adalah bukti kemahakuasaan dan kasih-Nya yang kekal. 😇
TANGGAPAN DION
Karena saya merasa bahwa argumen Martin ini saling tumpang tindih, berlapis, dan mengandung sejumlah asumsi implisit serta pergeseran kategori, maka saya akan terlebih dahulu, mengutip dan merangkum pokok-pokok dari argumennya, kemudian menanggapi atau menjawab setiap poin secara sistematis.
MARTIN MENULIS:
"Bung Dion, dilema yg Bung 'memaksa' saya pilih sebenarnya adalah dikotomi palsu! Tentu saja saya menolak kedua proposisi itu, tapi menunjukkan bhw Alkitab menyediakan jalan ketiga yg selaras, indah, dan memuliakan Allah."
DION MENJAWAB:
Bung Martin tuduhan "dikotomi palsu" Anda gagal bahkan sebelum argumen Anda dimulai.
Untuk relasi Bapa-Anak memang hanya ada dua kemungkinan logis:
Pertama, bahwa relasi itu pernah tidak ada lalu menjadi ada.
Dan kedua, bahwa relasi itu tidak pernah tidak ada.
Tidak ada kemungkinan ketiga.
Menariknya, beberapa paragraf kemudian Anda sendiri mengakui bahwa relasi Bapa-Anak memiliki awal. Jadi setelah menuduh saya membuat dikotomi palsu, Anda justru berakhir memilih salah satu dilema yang Anda tolak.
Dengan demikian tuduhan "false dilemma" Anda runtuh oleh argumen Anda sendiri.
MARTIN MENULIS:
"Tidak, relasi Bapa-Anak tidak bersifat kekal dalam arti tanpa awal."
DION MENJAWAB:
Kalau demikian, berarti pernah ada masa atau suatu keadaan ketika Allah belum menjadi Bapa.
Sekarang saya bertanya:
Apakah Allah adalah maha sempurna atau tidak?
Jika Allah adalah maha sempurna, maka menjadi Bapa dalam suatu titik waktu tertentu, itu malah berkontradiksi dengan kesempurnaan-Nya.
Jika Allah baru menjadi Bapa setelah menciptakan Sang Anak, maka status Bapa muncul karena keberadaan Anak. Sebelum ada Sang Anak maka Allah bukan Bapa
Dengan kata lain, menurut sistem Anda, Allah disebut "Bapa" karena adanya makhluk lain di luar diri-Nya.
Anda menuduh saya merendahkan Allah, padahal pandangan anda ini yang menjadikan status Bapa bergantung pada keberadaan ciptaan yang jelas-jelas merendahkan Allah.
MARTIN MENULIS:
"Proposisi ini salah karena berasumsi bahwa kekekalan relasi adalah satu-satunya cara untuk menjelaskan keberadaan Anak."
DION MENJAWAB:
Ini menggeser isu.
Yang sedang diperdebatkan bukan sekedar menjelaskan keberadaan Anak, melainkan sifat/status relasi Bapa-Anak.
Jika relasi itu memiliki awal, maka Anda harus menjelaskan bagaimana Allah yang sebelumnya bukan Bapa kemudian menjadi Bapa.
Mengalihkan pembahasan ke "keberadaan Anak" tidak menjawab persoalan tersebut.
MARTIN MENULIS:
"Asumsi ini tidak berasal dari Alkitab, melainkan dari keharusan filosofis yang dipaksakan ke dalam teks."
DION MENJAWAB:
Justru posisi Anda sendiri bergantung pada asumsi filosofis yang tidak pernah diajarkan Alkitab.
Alkitab tidak pernah berkata:
"Ada suatu waktu ketika Allah belum menjadi Bapa."
Itu adalah kesimpulan metafisik yang Anda bangun dari sistem Anda sendiri.
Jadi jangan seolah-olah posisi Anda bebas dari filsafat sementara posisi lawan dipenuhi filsafat.
Kita semua sedang menarik konsekuensi logis dari teks. Pertanyaannya adalah: konsekuensi siapa yang paling konsisten dengan keseluruhan kesaksian Alkitab?
MARTIN MENULIS:
"Coba tunjukkan di Alkitab yang menyatakan, 'Relasi Bapa dan Anak harus bersifat kekal.'"
DION MENJAWAB:
Pertama, tidak ada satu ayat eksplisit bahwa "Relasi Bapa-Anak bersifat kekal". Ini adalah kesimpulannya logis secara deduktif dari beberapa premis Alkitab.
Kedua, Posisi Bung pun sama, kalau saya tanya: "Coba tunjukan dimana di Alkitab ada ayat yang menyatakan bahwa Relasi Bapa-Anak bersifat tidak kekal?" Tentu bung juga tak bisa jawab itu. Jadi jangan bermain hanya pada level ada ayat atau tidak, tapi pada level konsepnya secara umum berdasarkan data-data Alkitab.
Nah meskipun tidak ada dasar ayat eksplisitnya, namun kita bisa menggunakan prinsip silogisme untuk sampai pada kesimpulan bahwa relasi Bapa-Anak bersifat kekal.
Perhatikan silogisme berikut ini:
Premis 1 : Jika relasi Bapa–Anak sudah ada sebelum dunia dan Allah tidak berubah, maka relasi itu tidak dapat memiliki awal dalam waktu.
Premis 2 : Relasi Bapa–Anak sudah ada sebelum dunia (Yohanes 17:5).
Premis 3 : Allah tidak berubah dalam natur-Nya (Maleakhi 3:6).
Kesimpulan : Maka relasi Bapa–Anak bersifat kekal (tanpa awal dalam Allah).
MARTIN MENULIS:
"Yang ada justru sebaliknya... 'Engkaulah Anak-Ku; pada hari ini Aku telah memperanakkan Engkau.'"
DION MENJAWAB:
Di sinilah masalah utama argumen anda Bung Martin.
Teks berkata: "Aku telah memperanakkan Engkau."
Tetapi anda malah memelintir menjadi: "Aku telah menciptakan Engkau."
Sejak kapan istilah memperanakan sama dengan menciptakan? Kedua istilah itu tidak sama bung.
Anda belum menunjukkan satu ayat pun yang mengajarkan bahwa "diperanakkan" dalam Mazmur 2:7 berarti "diciptakan dari ketiadaan."
Jadi yang sedang terjadi di sini bukan eksposisi teks, melainkan penambahan makna ke dalam teks (Eisegesis).
MARTIN MENULIS:
"Frasa 'hari ini' adalah batu sandungan yg tidak akan pernah bisa Trinitarian singkirkan."
DION MENJAWAB:
Justru frasa "hari ini" menjadi batu sandungan bagi tafsiran Anda sendiri.
Mengapa?
Karena Kisah Para Rasul 13:33 menerapkan Mazmur 2:7 pada kebangkitan Kristus.
Kalau "hari ini Aku memperanakkan Engkau" berarti "hari ini Aku mulai menciptakan Engkau", apakah Yesus mulai eksis saat kebangkitan?
Tentu tidak.
Maka penggunaan rasuli terhadap Mazmur 2:7 sendiri sudah menghancurkan tafsiran Anda bahwa ayat ini berbicara tentang awal eksistensi ontologis Anak.
MARTIN MENULIS:
"Ini adalah bahasa tentang awal yang spesifik, sebuah titik dalam arus waktu di mana Allah memulai relasi ini."
DION MENJAWAB:
Anda sedang menyatakan lebih banyak daripada yang dikatakan teks.
Mazmur 2:7 tidak berkata: "Pada hari ini Aku mulai mempunyai Anak."
Mazmur 2:7 tidak berkata: "Pada hari ini Aku menciptakan Anak."
Mazmur 2:7 tidak berkata: "Pada hari ini relasi Bapa-Anak dimulai."
Semua itu adalah kesimpulan yang Anda masukkan ke dalam ayat.
Yang dikatakan teks hanyalah: "Pada hari ini Aku memperanakkan Engkau."
Pertanyaannya bukan apa yang Anda simpulkan dari ayat itu, tetapi apakah ayat itu sendiri mengajarkan kesimpulan Anda. Dan sejauh ini jawabannya: tidak.
MARTIN MENULIS:
"Ketika Allah menciptakan alam semesta, Ia menjadi 'Pencipta', bukan? Sebelum penciptaan, Ia belum menjadi 'Pencipta', benar? Nah, apakah dengan menjadi Pencipta, Allah 'berubah' secara esensial?"
DION MENJAWAB:
Ini adalah analogi yang gagal karena menyamakan dua kategori yang berbeda.
"Pencipta" adalah relasi Allah terhadap ciptaan.
"Bapa" dalam pembahasan kita adalah relasi Allah terhadap Putra.
Masalahnya, dalam sistem Anda, Putra bukan sekadar ciptaan biasa. Anda menjadikan relasi Bapa–Anak sebagai bagian fundamental identitas Allah terhadap makhluk pertama yang paling istimewa.
Karena itu analogi "Pencipta" tidak menyelesaikan persoalan.
Semua orang sepakat Allah tidak menciptakan apa pun dari kekekalan.
Tetapi yang sedang diperdebatkan adalah apakah Allah menjadi Bapa karena tindakan penciptaan terhadap makhluk lain.
Jadi Anda sedang membandingkan relasi Allah terhadap seluruh ciptaan dengan relasi internal yang menjadi dasar gelar "Bapa" itu sendiri.
Itu adalah dua kategori yang berbeda.
MARTIN MENULIS:
"Bukti bahwa Allah bisa menjadi Pencipta tanpa berubah adalah Maleakhi 3:6: Aku, TUHAN, tidak berubah."
DION MENJAWAB:
Justru ayat ini lebih bermasalah bagi posisi Anda daripada posisi saya.
Anda menggunakan Maleakhi 3:6 untuk membuktikan bahwa Allah dapat memasuki relasi baru tanpa mengubah diri-Nya.
Baik.
Tetapi jika demikian, mengapa Anda tidak menerapkan prinsip yang sama kepada relasi Bapa–Anak?
Kalau Allah dapat menciptakan tanpa mengalami perubahan esensial, maka keberadaan relasi tertentu tidak otomatis membuktikan adanya perubahan dalam diri Allah.
Dengan kata lain, argumentasi Anda justru menghancurkan argumen Anda sendiri.
Karena Anda sedang memakai Maleakhi 3:6 untuk mengatakan:
"Relasi baru tidak selalu berarti perubahan esensial."
Kalau demikian, mengapa Anda bersikeras bahwa relasi Bapa–Anak harus memiliki awal ontologis?
Anda sedang menggunakan premis yang sebenarnya dapat dipakai untuk mendukung posisi lawan.
MARTIN MENULIS:
"Konsep Allah tidak berubah dalam Alkitab tidak pernah berarti Allah tidak dapat memulai relasi baru."
DION MENJAWAB:
Tetapi tidak seorang pun dalam diskusi ini yang pernah mengatakan bahwa Allah tidak dapat bertindak dalam sejarah.
Ini adalah strawman.
Pertanyaan saya sejak awal bukan:
"Bisakah Allah bertindak?"
Melainkan:
"Apakah Allah pernah berada dalam keadaan belum menjadi Bapa?"
Itu dua pertanyaan yang berbeda.
Allah menciptakan dunia bukan karena sebelumnya Ia kurang sesuatu.
Tetapi dalam sistem Anda, Allah disebut Bapa karena suatu saat ada Anak yang diciptakan.
Jadi persoalan yang sedang dibahas bukan kemampuan Allah untuk bertindak.
Persoalannya adalah dasar dari status "Bapa" itu sendiri.
MARTIN MENULIS:
"Status Bapa adalah gelar relasional yang dimulai oleh keputusan bebas Yehuwa, sama seperti status Pencipta."
DION MENJAWAB:
Pernyataan ini justru mengungkapkan inti masalah dalam sistem Anda.
Menurut Anda:
Allah tidak selalu Bapa.
Allah memilih menjadi Bapa.
Allah menjadi Bapa setelah menciptakan Putra.
Artinya status Bapa tidak melekat secara kekal pada Allah.
Status tersebut baru muncul setelah tindakan penciptaan.
Dengan kata lain, menurut sistem Anda, ada realitas di mana Allah ada tanpa menjadi Bapa.
Padahal seluruh argumen Anda sebelumnya menuduh saya mengimpor filsafat ke dalam teks.
Pertanyaannya:
Di mana ayat yang mengatakan bahwa ada suatu masa ketika Allah belum menjadi Bapa?
Anda terus meminta ayat eksplisit kepada saya, tetapi pada titik ini justru Anda yang membangun sebuah konstruksi metafisik yang tidak pernah dinyatakan secara eksplisit oleh Alkitab.
MARTIN MENULIS:
"Nama Yehuwa berarti 'Ia Menyebabkan Menjadi'. Ia menyebabkan diri-Nya menjadi Bapa dengan secara bebas menciptakan seorang Putra."
DION MENJAWAB:
Ini adalah lompatan logika yang sangat besar.
Sekalipun kita menerima penjelasan tentang nama Yehuwa tersebut, tetap tidak ada hubungan logis yang mengharuskan kesimpulan:
"Karena Yehuwa menyebabkan menjadi, maka Ia menyebabkan diri-Nya menjadi Bapa dengan menciptakan Putra."
Kesimpulan itu tidak berasal dari arti nama tersebut.
Kesimpulan itu berasal dari sistem teologi Anda yang kemudian dibaca kembali ke dalam nama Yehuwa.
Sekali lagi, ini bukan eksposisi teks.
Ini adalah eisegesis.
MARTIN MENULIS:
"Apa yang Bung lakukan sebenarnya adalah mengimpor konsep absolute immutability dari filsafat Yunani."
JAWABAN
Ini tuduhan yang terus diulang, tetapi tidak pernah dibuktikan.
Menariknya, Anda sendiri sedang melakukan apa yang Anda tuduhkan kepada lawan.
Tunjukkan satu ayat yang mengajarkan:
Allah pernah tidak menjadi Bapa.
Allah mulai menjadi Bapa pada suatu titik waktu.
Relasi Bapa–Anak dimulai ketika Putra diciptakan.
Tidak ada satu pun ayat yang mengatakan demikian.
Artinya posisi Anda juga merupakan hasil penalaran teologis dan metafisik.
Jadi persoalannya bukan:
"Siapa yang memakai filsafat?"
Melainkan:
"Siapa yang menarik kesimpulan yang paling sesuai dengan keseluruhan kesaksian Alkitab?"
Dan sampai titik ini, tuduhan "filsafat Yunani" tidak menjawab argumen, melainkan hanya berfungsi sebagai label retoris.
MARTIN MENULIS:
"Jangan menukar Yehuwa dengan Unmoved Mover Aristoteles."
JAWABAN
Ini kembali menjadi strawman.
Saya tidak pernah mengatakan Allah tidak dapat bertindak.
Saya tidak pernah mengatakan Allah tidak dapat mencipta.
Saya tidak pernah mengatakan Allah tidak dapat berelasi dengan ciptaan.
Yang saya pertanyakan sejak awal jauh lebih sederhana:
Apakah Alkitab pernah mengajarkan bahwa ada suatu masa ketika Allah belum menjadi Bapa?
Sampai saat ini Anda belum menunjukkan satu ayat yang menyatakan hal itu.
Sebaliknya, Anda terus mengulang asumsi tersebut dan memperlakukannya seolah-olah sudah terbukti.
Padahal justru itulah titik yang sedang diperdebatkan.
Bosku, menurutku bagian ini jauh lebih kuat daripada debat soal "sempurna atau tidak sempurna", karena sekarang serangannya langsung ke jantung argumen Martin:
"Tunjukkan ayat yang mengatakan Allah pernah belum menjadi Bapa."
Itu titik paling lemah dalam seluruh konstruksi JW tentang relasi Bapa-Anak. Setelah ini, baru kita masuk ke bagian Yohanes 17:5, yang menurutku justru salah satu bagian paling mudah untuk memukul argumennya.
MARTIN MENULIS:
"Bung Dion, Yesus berbicara tentang kemuliaan pra-manusianya, kemuliaan yang ia miliki bersama Bapa sebelum ia datang ke dunia."
JAWABAN
Tidak ada keberatan dari saya bahwa Yohanes 17:5 berbicara tentang keberadaan Yesus sebelum inkarnasi.
Masalahnya adalah Anda sedang menyelundupkan satu kesimpulan tambahan yang tidak ada di dalam ayat, yaitu bahwa keberadaan pra-manusia tersebut adalah keberadaan seorang ciptaan.
Yohanes 17:5 memang mengajarkan pra-eksistensi.
Tetapi Yohanes 17:5 tidak pernah mengatakan bahwa Yesus adalah ciptaan.
Jadi sejak awal Anda sudah melangkah lebih jauh daripada yang dikatakan teks.
MARTIN MENULIS:
"Apakah ini membuktikan bahwa ia tidak diciptakan? Tidak. Ini membuktikan bahwa ia ada sebelum dunia."
DION MENJAWAB:
Benar. Yohanes 17:5 sendiri tidak secara eksplisit mengatakan:
"Aku tidak diciptakan."
Tetapi masalahnya, Yohanes 17:5 juga tidak pernah mengatakan:
"Aku adalah ciptaan pertama."
Jadi ayat ini netral terhadap kesimpulan yang sedang Anda masukkan.
Karena itu Anda tidak bisa memakai Yohanes 17:5 sebagai bukti bahwa Yesus adalah ciptaan.
Paling jauh, ayat ini membuktikan bahwa Anak telah ada bersama Bapa sebelum dunia ada.
MARTIN MENULIS:
"Dan kami, Saksi-Saksi Yehuwa, sepenuhnya meyakini itu."
JAWABAN
Saya tahu. Tetapi menerima pra-eksistensi dan membuktikan bahwa pra-eksistensi itu adalah eksistensi ciptaan adalah dua hal yang berbeda.
Titik yang diperdebatkan bukan apakah Yesus sudah ada sebelum dunia.
Titik yang diperdebatkan adalah:
apakah Alkitab mengajarkan bahwa keberadaan itu adalah keberadaan seorang ciptaan?
Dan Yohanes 17:5 tidak menjawab pertanyaan tersebut.
MARTIN MENULIS:
"Yesus adalah Yang Sulung dari semua ciptaan (Kolose 1:15)."
DION MENJAWAB
Perhatikan apa yang terjadi di sini. Kita sedang membahas Yohanes 17:5.
Tetapi tiba-tiba Anda berpindah ke Kolose 1:15 untuk menjelaskan Yohanes 17:5.
Mengapa?
Karena Anda sadar Yohanes 17:5 sendiri tidak mengandung kata "ciptaan".
Artinya kesimpulan bahwa Yesus adalah ciptaan tidak berasal dari Yohanes 17:5.
Kesimpulan itu berasal dari sistem teologi Anda yang kemudian dibawa masuk ke Yohanes 17:5.
Dengan kata lain, Yohanes 17:5 tidak sedang membuktikan posisi Anda.
Anda sedang memakai ayat lain untuk memaksa Yohanes 17:5 berbicara lebih banyak daripada yang sebenarnya dikatakan.
MARTIN MENULIS:
"Ia telah ada bersama Bapa selama kurun waktu yang tidak terhitung lamanya sebelum alam semesta fisik diciptakan."
DION MENJAWAB:
Ini adalah pernyataan yang sangat menarik.
Karena sekarang muncul pertanyaan:
Jika Yesus telah ada bersama Bapa sebelum seluruh alam semesta ada, lalu kapan tepatnya Ia diciptakan?
Di mana ayat yang mengatakan bahwa sebelum dunia ada, sebelum waktu sejarah dimulai, sebelum alam semesta diciptakan, Allah terlebih dahulu menciptakan Putra?
Tidak ada ayat yang mengatakan demikian.
Yang ada adalah sebuah asumsi teologis yang Anda perlukan agar sistem Anda tetap berjalan.
Jadi sekali lagi, posisi Anda bergantung pada sesuatu yang tidak pernah dinyatakan secara eksplisit oleh Yohanes 17:5.
MARTIN MENULIS:
"Karena itu, frasa 'sebelum dunia ada' secara sempurna selaras dengan pemahaman kami bahwa ia adalah ciptaan pertama."
DION MENJAWAB:
Tidak.
Frasa "sebelum dunia ada" dapat selaras dengan banyak kemungkinan.
Misalnya:
Anak adalah ciptaan pertama.
Anak bersifat kekal bersama Bapa.
Anak memiliki eksistensi ilahi yang tidak bergantung pada ciptaan.
Ayat tersebut sendiri tidak menentukan pilihan mana yang benar.
Karena itu Anda tidak dapat mengatakan bahwa Yohanes 17:5 membuktikan posisi Saksi Yehuwa.
Paling jauh, Anda dapat mengatakan bahwa Yohanes 17:5 tidak bertentangan dengan posisi Anda.
Dan itu berbeda jauh dari membuktikannya.
MARTIN MENULIS:
"Ini ironis, Bung Dion. Saudara menggunakan Yohanes 17:5 untuk membuktikan kekekalan."
DION MENJAWAB:
Tidak.
Saya tidak pernah mengatakan bahwa Yohanes 17:5, berdiri sendirian, merupakan bukti tunggal kekekalan Anak.
Yang saya katakan adalah bahwa Yohanes 17:5 menunjukkan keberadaan Anak bersama Bapa sebelum dunia ada.
Lalu kesaksian itu dibaca bersama ayat-ayat lain yang berbicara tentang natur ilahi Kristus.
Jadi saya tidak membangun seluruh doktrin dari satu ayat.
Tetapi saya juga tidak memaksa satu ayat untuk mengajarkan bahwa Anak adalah ciptaan pertama, sebagaimana yang Anda lakukan.
MARTIN MENULIS:
"Sebelum ia ada, ia juga memiliki awal sebagai ciptaan pertama."
JAWABAN
Di sinilah letak masalah terbesar dalam seluruh argumen Anda.
Kalimat ini tidak berasal dari Yohanes 17:5.
Kalimat ini tidak berasal dari Yohanes 1:3.
Kalimat ini tidak berasal dari Yohanes 17 secara keseluruhan.
Kalimat ini berasal dari sistem teologi Saksi Yehuwa yang kemudian diproyeksikan kembali ke dalam teks.
Dengan kata lain:
Premis:
"Yesus adalah ciptaan pertama."
Kesimpulan:
"Karena itu Yohanes 17:5 berbicara tentang ciptaan pertama."
Lalu kesimpulan tersebut dipakai lagi untuk membuktikan premis awal.
Inilah yang disebut circular reasoning.
PUKULAN PENUTUP
Yohanes 17:5 memang membuktikan bahwa Anak telah ada bersama Bapa sebelum dunia ada. Tetapi Yohanes 17:5 sama sekali tidak mengatakan:
Anak adalah ciptaan.
Anak adalah ciptaan pertama.
Anak diciptakan sebelum dunia.
Relasi Bapa-Anak dimulai pada suatu titik waktu.
Semua kesimpulan tersebut berasal dari sistem teologi yang dibawa ke dalam teks, bukan dari teks itu sendiri.
Karena itu, Yohanes 17:5 tidak mendukung posisi Saksi Yehuwa sebagaimana yang Anda klaim.
Yang dilakukan ayat ini hanyalah menyatakan satu fakta yang sangat penting:
Anak berada bersama Bapa dan memiliki kemuliaan bersama Bapa sebelum dunia ada.
Dan fakta itu justru lebih mudah dipahami dalam kerangka relasi Bapa-Anak yang telah ada sebelum penciptaan, daripada dalam kerangka bahwa Allah suatu saat "mulai" menjadi Bapa setelah menciptakan Putra.
Komentar
Posting Komentar