APAKAH PENYALIBAN YESUS HANYA ILUSI? [ANALISIS LOGIKA DAN SEJARAH]
ARGUMENNYA: Terkait penyaliban Yesus, Al-Qur’an tidak bertentangan dengan kesaksian sejarah. Al-Qur’an menyatakan Yesus tidak dibunuh dan tidak disalib, tetapi “it was made to appear so” (dibuat seolah-olah demikian). Artinya, penyaliban itu tidak terjadi secara realitas, namun dalam persepsi orang-orang saat itu dibuat seolah-olah terjadi. Karena persepsi itu, mereka kemudian berpikir, memberitakan, dan menulis bahwa Yesus benar-benar disalib.
Analogi yang mirip terdapat dalam 2 Raja-Raja pasal 7. Saat Samaria dikepung oleh Aram, Tuhan membuat tentara Aram mendengar suara seolah-olah ada pasukan besar datang menyerang. Mereka pun panik dan kabur, mengira Israel mendapat bantuan, padahal sebenarnya tidak ada pasukan sama sekali.
Kesimpulannya, ketika sesuatu dibuat seolah-olah terjadi, orang yang mengalaminya akan benar-benar meyakini itu terjadi, meskipun realitasnya tidak demikian.
The crucifixion and resurrection do not necessitate Christianity.
Dalam pandangan Islam, tidak ada masalah jika orang-orang beriman pada masa itu (seperti hawariyyun) percaya bahwa Yesus disalib atau bahkan bangkit. Keyakinan tersebut tidak bertentangan dengan firman Allah pada saat itu.
Masalah baru muncul setelah Al-Qur’an diturunkan, yang menegaskan bahwa penyaliban tidak terjadi. Sejak saat itu, mempercayai penyaliban sebagai peristiwa nyata berarti bertentangan dengan firman Allah.
Karena wahyu yang menolak penyaliban baru turun berabad-abad setelah masa Yesus, maka tidak ada kewajiban bagi orang-orang beriman pada masa itu untuk menolak keyakinan tentang penyaliban.
Selain itu, menurut saya tidak tepat jika dikatakan bahwa penyaliban dan kebangkitan otomatis melahirkan Kekristenan seperti yang kita kenal sekarang. Apa hubungan langsung antara penyaliban dan kebangkitan Yesus dengan doktrin Trinitas—bahwa ada tiga pribadi Tuhan yang co-equal dan co-eternal (Bapa, Anak, dan Roh Kudus)? Tidak ada hubungan langsung.
Bahkan dalam sejarah, terdapat kelompok Kristen awal yang percaya Yesus disalib, namun tidak memiliki konsep keilahian Yesus atau doktrin Trinitas seperti yang berkembang kemudian. Contohnya Ebionites.
BAGAIMANA MENJAWAB ARGUMEN INI?
Pertama, klaim bahwa “dibuat seolah-olah” ini masalah epistemologi yang serius
Ayat yang jadi dasar di sini adalah Al-Qur'an Surah 4:157 (“wa mā ṣalabūhu walākin shubbiha lahum”).
Masalahnya di sini adalah kalau Allah membuat sesuatu “seolah-olah terjadi padahal tidak”, maka, semua saksi mata salah total, Semua sejarah jadi ilusi, dan semua kesaksian bisa dipercaya atau tidak, tidak ada dasar lagi. Ini bukan mukjizat, tapi penipuan ilahi.
Kalau ini valid maka Allah membuat murid-murid Yesus percaya kebohongan. Mereka mati martir untuk sesuatu yang tidak pernah terjadi. Injil jadi kesalahan massal yang disengaja oleh Allah.
Konsekuensi logisnya Allah malah jadi sumber kebingungan dan penyesatan, bukan kebenaran. Padahal dalam teologi Islam sendiri, Allah itu tidak menyesatkan orang beriman tanpa sebab.
Jadi argumen ini self-defeating. Membunuh dirinya sendiri.
Kedua, Analogi 2 Raja-Raja 7 itu tidak paralel
Dalam Kitab 2 Raja-Raja pasal 7. Memang ada “kesan suara pasukan”. Tapi perhatikan perbedaannya:
Dalam 2 Raja-Raja 7 yang ditipu itu musuh (Bangsa Aram). Yang diselamatkan umat Allah. Lalu tidak ada doktrin dibangun dari ilusi itu.
Sedangkan dalam kasus penyaliban, yang “ditipu” murid-murid Yesus (orang benar). Yang dibangun adalah fondasi iman Kristen. Dampaknya adalah seluruh sejarah gereja menjadi salah total
Jadi ini bukan analogi, tapi false analogy fallacy.
Ketiga, fakta sejarah penyaliban Yesus adalah salah satu fakta paling kuat
Bahkan sejarawan non-Kristen pun mengakuinya. Beberapa di antaranya ada Tacitus, Josephus.
Mereka mencatat bahwa Yesus benar-benar dihukum mati oleh Pontius Pilatus, disalibkan, lalu bangkit pada hari ketiga.
Dan ini bukan sekadar iman Kristen, sejarawan di luar Kristen pun mencatat peristiwa itu.
Nah Masalah besarnya adalah Qur’an datang 600 tahun kemudian lalu mengklaim bahwa Yesus tidak disalibkan. Sedangkan penyaliban terjadi di abad ke-1. Injil sudah beredar luas jauh sebelum itu
Pertanyaannya sekarang adalah: Mana yang lebih kuat secara epistemologi?
Kesaksian langsung para murid dengan di dukung oleh dokumen awal, atau wahyu 600 tahun kemudian yang menyangkal semuanya?. Jelas yang lebih dekat ke peristiwa lah yang lebih kuat.
Keempat, klaim bahwa “tidak masalah dulu orang percaya yang salah” adalah klaim yang fatal.
Argumen ini bilang bahwa tidak masalah murid Yesus percaya penyaliban dulu, karena wahyu (Qur'an ) saat itu belum turun.
Ini sangat bermasalah. Implikasinya adalah Allah membiarkan umat-Nya percaya pada kebohongan selama ratusan tahun. Bahkan membangun agama besar di atas kebohongan itu. Bahkan yang lebih parah lagi, Allah sendiri lah aktor dibalik kebohongan itu.
Kelima, Penyaliban adalah inti Kekristenan
Argumen di atas menganggap bahwa penyaliban dan kebangkitan tidak ada hubungannya dengan Trinitas. Padahal Penyaliban dan kebangkitan sangat erat secara teologis. Dan inti dari Kekristenan.
Penyaliban berbicara tentang keadilan Allah dan kasih Allah bertemu di satu peristiwa di atas bukit Golgota. Kebangkitan membuktikan bahwa Yesus menang atas maut, sehingga dengan demikian klaim-Nya sebagai Anak Allah adalah benar
Dan yang terakhir tentang Ebionites. Ebionites memang menolak keilahian Yesus, tapi tetap menerima penyaliban. Ini justru menghancurkan argumen Islam karena ternyata bahkan kelompok yang tidak percaya Yesus Tuhan pun tetap percaya bahwa Yesus disalib.

Komentar
Posting Komentar