Langsung ke konten utama

Apakah Penyaliban Yesus Hanya Ilusi? Analisis Logika dan Sejarah”

APAKAH PENYALIBAN YESUS HANYA ILUSI? (ANALISIS LOGIKA DAN SEJARAH)

Seseorang pernah menulis satu argumen yang cukup menarik di kolom komentar YouTube. Argumen ini terkesan filosofis dan memberi kesan ilmiah. Inti dari argumen ini adalah menolak fakta Kematian Yesus. Saya copikan argumennya ke sini:

ARGUMENNYA: Terkait penyaliban Yesus, Al-Qur’an tidak bertentangan dengan kesaksian sejarah. Al-Qur’an menyatakan Yesus tidak dibunuh dan tidak disalib, tetapi “it was made to appear so” (dibuat seolah-olah demikian). Artinya, penyaliban itu tidak terjadi secara realitas, namun dalam persepsi orang-orang saat itu dibuat seolah-olah terjadi. Karena persepsi itu, mereka kemudian berpikir, memberitakan, dan menulis bahwa Yesus benar-benar disalib.

Analogi yang mirip terdapat dalam 2 Raja-Raja pasal 7. Saat Samaria dikepung oleh Aram, Tuhan membuat tentara Aram mendengar suara seolah-olah ada pasukan besar datang menyerang. Mereka pun panik dan kabur, mengira Israel mendapat bantuan, padahal sebenarnya tidak ada pasukan sama sekali.

Kesimpulannya, ketika sesuatu dibuat seolah-olah terjadi, orang yang mengalaminya akan benar-benar meyakini itu terjadi, meskipun realitasnya tidak demikian.

1:14:16 The crucifixion and resurrection do not necessitate Christianity.

Dalam pandangan Islam, tidak ada masalah jika orang-orang beriman pada masa itu (seperti hawariyyun) percaya bahwa Yesus disalib atau bahkan bangkit. Keyakinan tersebut tidak bertentangan dengan firman Allah pada saat itu.

Masalah baru muncul setelah Al-Qur’an diturunkan, yang menegaskan bahwa penyaliban tidak terjadi. Sejak saat itu, mempercayai penyaliban sebagai peristiwa nyata berarti bertentangan dengan firman Allah.

Karena wahyu yang menolak penyaliban baru turun berabad-abad setelah masa Yesus, maka tidak ada kewajiban bagi orang-orang beriman pada masa itu untuk menolak keyakinan tentang penyaliban.

Selain itu, menurut saya tidak tepat jika dikatakan bahwa penyaliban dan kebangkitan otomatis melahirkan Kekristenan seperti yang kita kenal sekarang. Apa hubungan langsung antara penyaliban dan kebangkitan Yesus dengan doktrin Trinitas—bahwa ada tiga pribadi Tuhan yang co-equal dan co-eternal (Bapa, Anak, dan Roh Kudus)? Tidak ada hubungan langsung.

Bahkan dalam sejarah, terdapat kelompok Kristen awal yang percaya Yesus disalib, namun tidak memiliki konsep keilahian Yesus atau doktrin Trinitas seperti yang berkembang kemudian. Contohnya Ebionites.


BAGAIMANA MENJAWAB ARGUMEN INI?

Pertama, klaim bahwa “dibuat seolah-olah” ini masalah epistemologi yang serius

Ayat yang jadi dasar di sini adalah Al-Qur'an Surah 4:157 (“wa mā ṣalabūhu walākin shubbiha lahum”).

Masalahnya di sini adalah kalau Allah membuat sesuatu “seolah-olah terjadi padahal tidak”, maka: Semua saksi mata salah total, Semua sejarah jadi ilusi, dan semua kesaksian bisa dipercaya atau tidak. Tiak ada dasar lagi. Ini bukan sekadar mukjizat, tapi masalah penipuan ilahi).

Reductio ad absurdum:

Kalau ini valid maka Allah membuat murid-murid Yesus percaya kebohongan. Mereka mati martir untuk sesuatu yang tidak pernah terjadi. Injil jadi kesalahan massal yang disengaja oleh Allah

Konsekuensi logisnya Allah malah jadi sumber kebingungan dan penyesatan, bukan kebenaran. Padahal dalam teologi Islam sendiri, Allah itu tidak menyesatkan orang beriman tanpa sebab.

Jadi argumen ini self-defeating. Membunuh dirinya sendiri.

Kedua, Analogi 2 Raja-Raja 7 itu tidak paralel

Dalam Kitab 2 Raja-Raja pasal 7. Memang ada “kesan suara pasukan”. Tapi perhatikan perbedaannya:

Dalam 2 Raja-Raja 7 yang ditipu itu musuh (Bangsa Aram). Yang diselamatkan umat Allah. Lalu tidak ada doktrin dibangun dari ilusi itu.

Sedangkan dalam kasus penyaliban, yang “ditipu” murid-murid Yesus (orang benar). Yang dibangun adalah fondasi iman Kristen. Dampaknya adalah seluruh sejarah gereja menjadi salah total

Jadi ini bukan analogi, tapi false analogy fallacy. 

Ketiga, fakta sejarah: penyaliban Yesus adalah salah satu fakta paling kuat

Bahkan sejarawan non-Kristen pun mengakuinya. Beberapa di antaranya ada  Tacitus, Josephus.

Mereka mencatat bahwa Yesus benar-benar dihukum mati oleh Pontius Pilatus,  disalibkan, lalu bangkit pada hari ketiga.

Dan ini bukan sekadar iman Kristen, sejarawan di luar Kristen pun mencatat peristiwa itu.

Nah Masalah besarnya adalah Qur’an datang 600 tahun kemudian lalu mengklaim bahwa Yesus tidak disalibkan. Sedangkan penyaliban terjadi di abad ke-1. Injil sudah beredar luas jauh sebelum itu

Pertanyaannya sekarang adalah: Mana yang lebih kuat secara epistemologi?

Kesaksian langsung para murid dengan di dukung oleh dokumen awal, atau wahyu 600 tahun kemudian yang menyangkal semuanya?. Jelaskan yang lebih dekat ke peristiwa lah yang lebih kuat.

Keempat, klaim bahwa “tidak masalah dulu orang percaya yang salah” adalah klaim yang fatal.

Argumen ini bilang bahwa tidak masalah murid Yesus percaya penyaliban dulu, karena wahyu (Qur'an ) saat itu belum turun.

Ini sangat bermasalah. Implikasinya adalah Allah membiarkan umat-Nya percaya pada kebohongan selama ratusan tahun. Bahkan membangun agama besar di atas kebohongan itu. Bahkan yang lebih parah lagi, Allah sendiri lah aktor dibalik kebohongan itu.

Kelima, Penyaliban adalah inti Kekristenan

Orang itu bertanya apa hubungan penyaliban dengan Trinitas?. Jawabannya: sangat erat secara teologis. Penyaliban menunjukkan:

keadilan Allah (hukuman dosa)

kasih Allah (pengorbanan Kristus)

Kebangkitan → membuktikan:

Yesus menang atas maut

klaim-Nya sebagai Anak Allah benar

Dari sini berkembang:

Kristologi tinggi

lalu formulasi Trinitas (bukan tiba-tiba, tapi perkembangan doktrinal)

👉 Jadi: Bukan “tidak ada hubungan”, tapi: fondasi soteriologi → menuju formulasi teologi

7. Soal Ebionites: tidak menyelamatkan argumen

Ebionites memang:

menolak keilahian Yesus

tapi tetap menerima penyaliban

👉 Ini justru menghancurkan argumen Islam:

Karena:

bahkan kelompok yang tidak percaya Yesus Tuhan pun tetap percaya Dia disalib

Artinya: 👉 Penyaliban itu konsensus universal, bukan doktrin Trinitas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROVIDENSI ALLAH BUKAN ALASAN UNTUK BERDOSA

  Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   "Kalau Allah telah menetapkan segala sesuatu, dan apa yang ditetapkan Allah harus dan pasti terjadi, lalu mengapa tindakan berdosa manusia harus dihakimi?" Pertanyaan ini lahir dari kegagalan (kebingungan) dalam memahami providensi Allah. Apa itu providensi? Providensi adalah doktrin yang percaya bahwa Allah/Tuhan berdaulat penuh atas segala peristiwa yang terjadi di bawah kolong langit ini. Dengan kata lain tidak ada satupun peristiwa dalam bentang sejarah umat manusia yang luput dari kontrol dan kedaulatan Tuhan. Dan itu mencakup peristiwa yang baik maupun buruk (kejahatan) dalam kehidupan manusia. Sebagai landasan biblikalnya, kita akan melihat beberapa ayat di bawah ini. Misalnya tentang pemilihan orang percaya, ternyata Tuhan dalam kekekalan telah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi umat pilihan-Nya. "Di dalam Dia kami juga mendapat bagian, yang ditentukan dari semula menurut maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu ...

MEMBEDAH RUMUSAN TRITUNGGAL ALA ELIA MYRON

Oleh : Dionisius Daniel Dalam sebuah video dari kanal YouTube Tiga Hari. Elia Myron seorang apologet muda terlihat sedang mengajarkan doktrin Tritunggal. Namun yang menarik disini adalah, rumusan Tritunggal yang diajarkan oleh Elia Myron ini, terindikasi menyimpang dari rumusan Tritunggal yang ortodoks yang telah dipegang oleh Gereja sepanjang sejarah. Elia mendasari pengajaran Tritunggalnya dengan mengutip Ulangan 6:4, dan 1 Korintus 8:6 Ulangan 6:4 (TB) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  1 Korintus 8:6 (TB) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.  Berdasarkan dua ayat ini Elia membangun premis bahwa Allah itu pada hakikatnya adalah esa, dan Allah yang esa ini adalah sang Bapa. Mengapa Allah yang esa ini disebut Bapa? Karena menurut Elia,...

Obrolan Serius: Membongkar Kekeliruan Tritunggal yang Sering Diabaikan

Oleh : Dionisius Daniel   Kali ini saya kembali membagikan diskusi singkat saya dengan seseorang di Facebook yang diduga adalah fans atau pendukung fanatik dari Elia Myron.  Saya memang belakangan ini sedang menulis artikel mengkritisi ajaran Tritunggal Elia Myron, yang menurut saya telah menyimpang dan tanpa sadar "nyemplung" ke bidat-bidat yang sudah ditolak oleh para Bapa-Bapa Gereja kita. Seperti Sabelianisme atau Subordinasisme ala Unitarian. Sebenarnya diskusi/perdebatan ini berawal dari postingan foto Pdt Esra Soru di Facebook, tertanggal, Minggu 18/05/2025. Di foto itu tampak Pdt Esra sedang bersama Elia Myron. (fotonya saya jadikan wallpaper artikel ini) Saya lalu spontan berkomentar: "Pak Esra tolong ajari Elia Myron itu agar mengajar Tritunggal dengan benar, soalnya ajaran Tritunggal dan konsep keselamatannya telah menyesatkan banyak orang". Alhasil tak butuh waktu lama, komentar saya langsung ditanggapi oleh pengguna facebook lain yang diduga adalah fans...