Langsung ke konten utama

🔥

NGURUS SIM TERNYATA TIDAK SESERAM YANG DIBAYANGKAN 


Selamat Tahun Baru 2026 bagi kita semua.

Iya, ini adalah hari pertama di tahun 2026, dan sekaligus menjadi goresan pena pertama saya di tahun ini setelah vakum cukup lama. Terakhir kali saya menulis artikel di Kompasiana adalah pada pertengahan Agustus 2024. Artinya, kurang lebih satu tahun lebih saya absen dari dunia blogger.

Ucapan “Selamat Tahun Baru” saya tujukan kepada semua karena Tahun Baru bersifat universal. Jika Natal identik dengan umat Kristen, meskipun yang non-Kristen juga ikut menikmati berkatnya seperti liburan dan diskon, maka Tahun Baru bukan milik golongan tertentu. Semua makhluk di bumi ini, tanpa kecuali, memasuki fase peralihan waktu yang sama: dari tahun yang lama ke tahun yang baru.

Momentum seperti ini sering kali membuat kita merenung, bukan hanya tentang resolusi besar, tetapi juga tentang hal-hal sederhana yang selama ini kita tunda. Bagi saya, salah satu hal yang sempat tertunda adalah menuliskan pengalaman mengurus Surat Izin Mengemudi (SIM).

Ide penulisan artikel ini sebenarnya sudah mengendap cukup lama di kepala saya, sejak saya mengurus SIM C pada bulan Juli 2025 lalu. Pembuatan SIM kerap dipersepsikan sebagai urusan yang rumit, menegangkan, dan sarat cerita negatif di tengah masyarakat.

Melalui artikel ini, saya ingin membagikan pengalaman pribadi saya saat mengurus SIM yang ternyata tidak seseram yang dibayangkan.

Sebelum mengurus SIM sendiri, saya pun tidak lepas dari berbagai cerita dan prasangka yang selama ini beredar di masyarakat. Mulai dari anggapan bahwa prosesnya berbelit-belit, memakan waktu lama, hingga kekhawatiran harus ‘keluar biaya tambahan’ di luar ketentuan resmi. Dengan bekal kekhawatiran itulah saya akhirnya datang ke kantor pelayanan SIM, mencoba membuktikan sendiri apakah semua anggapan itu benar? Dan ternyata hanya separuh benar.

KEDATANGAN KE LOKASI.

Masih segar di ingatan saya, bahwa saya datang ke kantor Poltabes Barelang Batam pada tanggal 3 Juni 2025 dengan niat untuk membuat SIM C, guna melengkapi persyaratan mendaftar sebagai Driver Maxim. Karena baru pertama kali ke Poltabes jadi saya tidak tahu dimana letak ruangan pembuatan SIM, saya lalu bertanya kepada salah satu anggota polisi, kemudian beliau mengarahkan ke ruangan pembuatan SIM. Di sana saya menuju ke loket informasi lalu berbaris antrian dengan beberapa peserta lain yang juga punya kepentingan untuk pembuatan SIM.

Setelah berhadapan dengan petugas polisi di bagian informasi saya lalu bertanya segala persyaratan yang dibutuhkan. Beliau lalu menjelaskan bahwa persyaratan yang dibutuhkan untuk pembuatan SIM, baik perpanjangan maupun SIM baru, adalah: melampirkan KTP asli dan fotokopi, juga Surat Kesehatan dan Psikotest. Beliau juga mengarahkan saya ke tempat pengurusan Psikotest dan kesehatan yang letaknya tidak jauh dari kantor Poltabes Barelang. Tempatnya di samping Poltabes, belakang Indomaret, kurang lebih empat ruko dari Indomaret tersebut. Saya mengeluarkan biaya sekitar 140.000, dengan rincian 100.000 untuk biaya Psikotest dan 40.000 untuk biaya tes kesehatan.





Prasangka & Kekhawatiran Awal

Tuliskan:

cerita negatif yang sering kamu dengar

perasaan sebelum berangkat (deg-degan, males, pasrah, dsb)

ekspektasi terburuk yang ada di kepala

👉 Ini bikin pembaca merasa “gue banget”

2️⃣ Kedatangan ke Lokasi & Kesan Pertama

Ceritakan:

datang jam berapa

kondisi lokasi (ramai / tertib / biasa saja)

kesan awal melihat petugas & alur pelayanan

👉 di sini boleh selipkan foto yang kamu ambil

3️⃣ Alur Proses Pengurusan SIM

Jelaskan secara runtut:

pendaftaran

tes kesehatan

tes teori

tes praktik (secukupnya, jangan teknis berlebihan)

👉 fokus ke pengalaman, bukan SOP resmi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROVIDENSI ALLAH BUKAN ALASAN UNTUK BERDOSA

  Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   "Kalau Allah telah menetapkan segala sesuatu, dan apa yang ditetapkan Allah harus dan pasti terjadi, lalu mengapa tindakan berdosa manusia harus dihakimi?" Pertanyaan ini lahir dari kegagalan (kebingungan) dalam memahami providensi Allah. Apa itu providensi? Providensi adalah doktrin yang percaya bahwa Allah/Tuhan berdaulat penuh atas segala peristiwa yang terjadi di bawah kolong langit ini. Dengan kata lain tidak ada satupun peristiwa dalam bentang sejarah umat manusia yang luput dari kontrol dan kedaulatan Tuhan. Dan itu mencakup peristiwa yang baik maupun buruk (kejahatan) dalam kehidupan manusia. Sebagai landasan biblikalnya, kita akan melihat beberapa ayat di bawah ini. Misalnya tentang pemilihan orang percaya, ternyata Tuhan dalam kekekalan telah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi umat pilihan-Nya. "Di dalam Dia kami juga mendapat bagian, yang ditentukan dari semula menurut maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu ...

MEMBEDAH RUMUSAN TRITUNGGAL ALA ELIA MYRON

Oleh : Dionisius Daniel Dalam sebuah video dari kanal YouTube Tiga Hari. Elia Myron seorang apologet muda terlihat sedang mengajarkan doktrin Tritunggal. Namun yang menarik disini adalah, rumusan Tritunggal yang diajarkan oleh Elia Myron ini, terindikasi menyimpang dari rumusan Tritunggal yang ortodoks yang telah dipegang oleh Gereja sepanjang sejarah. Elia mendasari pengajaran Tritunggalnya dengan mengutip Ulangan 6:4, dan 1 Korintus 8:6 Ulangan 6:4 (TB) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  1 Korintus 8:6 (TB) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.  Berdasarkan dua ayat ini Elia membangun premis bahwa Allah itu pada hakikatnya adalah esa, dan Allah yang esa ini adalah sang Bapa. Mengapa Allah yang esa ini disebut Bapa? Karena menurut Elia,...

Obrolan Serius: Membongkar Kekeliruan Tritunggal yang Sering Diabaikan

Oleh : Dionisius Daniel   Kali ini saya kembali membagikan diskusi singkat saya dengan seseorang di Facebook yang diduga adalah fans atau pendukung fanatik dari Elia Myron.  Saya memang belakangan ini sedang menulis artikel mengkritisi ajaran Tritunggal Elia Myron, yang menurut saya telah menyimpang dan tanpa sadar "nyemplung" ke bidat-bidat yang sudah ditolak oleh para Bapa-Bapa Gereja kita. Seperti Sabelianisme atau Subordinasisme ala Unitarian. Sebenarnya diskusi/perdebatan ini berawal dari postingan foto Pdt Esra Soru di Facebook, tertanggal, Minggu 18/05/2025. Di foto itu tampak Pdt Esra sedang bersama Elia Myron. (fotonya saya jadikan wallpaper artikel ini) Saya lalu spontan berkomentar: "Pak Esra tolong ajari Elia Myron itu agar mengajar Tritunggal dengan benar, soalnya ajaran Tritunggal dan konsep keselamatannya telah menyesatkan banyak orang". Alhasil tak butuh waktu lama, komentar saya langsung ditanggapi oleh pengguna facebook lain yang diduga adalah fans...