Thema Khotbah : Iman yang Taat & Bertahan. Belajar dari Abraham
Bacaan utama: Kejadian 12 : 1–4; 15 : 1–6; 22 : 1–14; Roma 4 : 18–21; Ibrani 11 : 8–19
Outline Khotbah
1. Pendahuluan – Mengapa iman Abraham tetap relevan.
2. Iman yang Taat Saat Dipanggil (Kej 12 : 1–4)
3. Iman yang Bertahan Saat Janji Belum Terjadi (Kej 15 : 1–6; Rm 4 : 18–21)
4. Iman yang Rela Memberi yang Paling Berharga (Kej 22 : 1–14; Ibr 11 : 17–19)
5. Penutup & Aplikasi – Tiga langkah praktis meneladani iman Abraham.
Narasi Khotbah Lengkap
Shalom, saudara-saudari yang dikasihi Tuhan.
Hari ini kita belajar dari seseorang yang dihormati seluruh Alkitab bukan karena status atau harta, tetapi karena iman yaitu Abraham, “Bapa orang beriman”. Iman Abraham dipuji Tuhan Yesus, diceritakan Paulus, dan dijadikan teladan penulis Ibrani. Mari telusuri tiga sorotan iman Abraham dan apa artinya bagi kita.
1️⃣ Iman yang Taat Saat Dipanggil
Kejadian 12 : 1–4
Tuhan berkata, “Pergilah… ke negeri yang akan Kutunjukkan.” Tidak ada nama negeri, tidak ada peta, hanya perintah pergi. Abraham taat. Ia tidak tahu di mana, tapi ia tahu siapa yang memanggil. Iman sejati melangkah sebelum semua detail jelas, karena percaya Pribadi yang memimpin lebih penting daripada informasi perjalanan.
> Refleksi: Beranikah kita mengambil langkah iman ketika Tuhan belum buka semua pintu sekaligus?
2️⃣ Iman yang Bertahan Saat Janji Belum Terjadi
Kejadian 15 : 1–6; Roma 4 : 18–21
Tuhan menjanjikan keturunan, tetapi realitas biologis—usia seratus tahun dan rahim mandul—berkata “mustahil”. Alkitab mencatat Abraham “tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah memperkuat imannya dan memuliakan Allah.” Menunggu bukan masa hampa; itu gym rohani di mana otot iman ditempa.
> Refleksi: Apakah kita tetap menyembah ketika doa belum dijawab—atau iman kita hanya hidup di musim berkat?
3️⃣ Iman yang Rela Memberi yang Paling Berharga
Kejadian 22 : 1–14; Ibrani 11 : 17–19
Ujian puncak datang: Tuhan meminta Ishak, anak janji itu sendiri. Logika berkata “kontradiksi”—Tuhan memberi lalu (seolah) mengambil. Tapi Abraham bangun pagi-pagi, menyiapkan kayu, dan naik ke gunung. Ibrani mengatakan ia yakin “Allah sanggup membangkitkan orang mati”. Iman sejati percaya karakter Allah melampaui penjelasan logis; bahkan yang paling kita kasihi aman di tangan-Nya.
> Refleksi: Adakah “Ishak” yang kita peluk terlalu erat? Apakah "Ishak" itu adalah keluarga kita, karier kita, atau mimpi-mimpi dan ambisi kita hingga menyaingi tempat Allah yang seharusnya ada di hati kita?
Penutup:
Iman Abraham melangkah saat belum jelas, bertahan saat tertunda, dan menyerah saat diminta. Tuhan yang setia pada Abraham tetap setia hari ini. Mari meneladani imannya, bukan hanya mengaguminya. Amin.
Poin-Poin Utama & Penjelasan Singkat
1 Iman yang Taat Abraham meninggalkan zona nyaman tanpa peta jelas hubungan dgn Allah > kepastian detail.
2 Iman yang Bertahan Janji & fakta tampak bertentangan; penantian dipakai Tuhan memperkuat iman.
3 Iman yang Rela Memberi Ishak diminta; Abraham percaya karakter Allah. Secara logis Abraham percaya jika Allah mampu menyediakan anak bagi Abraham di usia tuanya, apa susahnya bagi Allah untuk membangkitkan kembali Ishak atau memberikan kepadanya anak yang lain.
Aplikasi Praktis bagi Jemaat
Poin Pertanyaan Refleksi bagi kita sebagai orang percaya dan Contoh Tindakan Konkret yang mungkin bisa kita lakukan.
Langkah iman apa yang Tuhan minta untuk kita lakukan? tapi detailnya belum jelas?
Apakah merintis pelayanan baru di kampus/kantor?
Apakah mengharuskan kita memilih integritas/kepercayaan dalam bisnis meski keuntungan tampak lebih kecil dan ada tawarkan keuntungan yang menggiurkan dengan cara yang haram?
Menyerahkan apa yang berharga • Apakah “Ishak” kita adalah sesuatu yang bisa jadi berhala bagi kita?•
Memberi (talenta/dana) di luar zona nyaman, percaya Tuhan mencukupkan.
SOLIDEO GLORYA
Komentar
Posting Komentar