Langsung ke konten utama

KHOTBAH MINGGU 06/07/2025

Thema Khotbah : Iman yang Taat & Bertahan. Belajar dari Abraham

Bacaan utama: Kejadian 12 : 1–4; 15 : 1–6; 22 : 1–14; Roma 4 : 18–21; Ibrani 11 : 8–19

Outline Khotbah

1. Pendahuluan – Mengapa iman Abraham tetap relevan.

2. Iman yang Taat Saat Dipanggil (Kej 12 : 1–4)

3. Iman yang Bertahan Saat Janji Belum Terjadi (Kej 15 : 1–6; Rm 4 : 18–21)

4. Iman yang Rela Memberi yang Paling Berharga (Kej 22 : 1–14; Ibr 11 : 17–19)

5. Penutup & Aplikasi – Tiga langkah praktis meneladani iman Abraham.


Narasi Khotbah Lengkap


Shalom, saudara-saudari yang dikasihi Tuhan.

Hari ini kita belajar dari seseorang yang dihormati seluruh Alkitab bukan karena status atau harta, tetapi karena iman yaitu Abraham, “Bapa orang beriman”. Iman Abraham dipuji Tuhan Yesus, diceritakan Paulus, dan dijadikan teladan penulis Ibrani. Mari telusuri tiga sorotan iman Abraham dan apa artinya bagi kita.

1️⃣ Iman yang Taat Saat Dipanggil

Kejadian 12 : 1–4

Tuhan berkata, “Pergilah… ke negeri yang akan Kutunjukkan.” Tidak ada nama negeri, tidak ada peta, hanya perintah pergi. Abraham taat. Ia tidak tahu di mana, tapi ia tahu siapa yang memanggil. Iman sejati melangkah sebelum semua detail jelas, karena percaya Pribadi yang memimpin lebih penting daripada informasi perjalanan.

> Refleksi: Beranikah kita mengambil langkah iman ketika Tuhan belum buka semua pintu sekaligus?

2️⃣ Iman yang Bertahan Saat Janji Belum Terjadi

Kejadian 15 : 1–6; Roma 4 : 18–21

Tuhan menjanjikan keturunan, tetapi realitas biologis—usia seratus tahun dan rahim mandul—berkata “mustahil”. Alkitab mencatat Abraham “tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah memperkuat imannya dan memuliakan Allah.” Menunggu bukan masa hampa; itu gym rohani di mana otot iman ditempa.

> Refleksi: Apakah kita tetap menyembah ketika doa belum dijawab—atau iman kita hanya hidup di musim berkat?

3️⃣ Iman yang Rela Memberi yang Paling Berharga

Kejadian 22 : 1–14; Ibrani 11 : 17–19

Ujian puncak datang: Tuhan meminta Ishak, anak janji itu sendiri. Logika berkata “kontradiksi”—Tuhan memberi lalu (seolah) mengambil. Tapi Abraham bangun pagi-pagi, menyiapkan kayu, dan naik ke gunung. Ibrani mengatakan ia yakin “Allah sanggup membangkitkan orang mati”. Iman sejati percaya karakter Allah melampaui penjelasan logis; bahkan yang paling kita kasihi aman di tangan-Nya.

> Refleksi: Adakah “Ishak” yang kita peluk terlalu erat? Apakah "Ishak" itu adalah keluarga kita, karier kita, atau mimpi-mimpi dan ambisi kita hingga menyaingi tempat Allah yang seharusnya ada di hati kita?

Penutup:

Iman Abraham melangkah saat belum jelas, bertahan saat tertunda, dan menyerah saat diminta. Tuhan yang setia pada Abraham tetap setia hari ini. Mari meneladani imannya, bukan hanya mengaguminya. Amin.

Poin-Poin Utama & Penjelasan Singkat

1 Iman yang Taat Abraham meninggalkan zona nyaman tanpa peta jelas hubungan dgn Allah > kepastian detail.

2 Iman yang Bertahan Janji & fakta tampak bertentangan; penantian dipakai Tuhan memperkuat iman.

3 Iman yang Rela Memberi Ishak diminta; Abraham percaya karakter Allah. Secara logis Abraham percaya jika Allah mampu menyediakan anak bagi Abraham di usia tuanya, apa susahnya bagi Allah untuk membangkitkan kembali Ishak atau memberikan kepadanya anak yang lain.

Aplikasi Praktis bagi Jemaat

Poin Pertanyaan Refleksi bagi kita sebagai orang percaya dan Contoh Tindakan Konkret yang mungkin bisa kita lakukan.

Langkah iman apa yang Tuhan minta untuk kita lakukan? tapi detailnya belum jelas? 

Apakah merintis pelayanan baru di kampus/kantor?

Apakah mengharuskan kita memilih integritas/kepercayaan dalam bisnis meski keuntungan tampak lebih kecil dan ada tawarkan keuntungan yang menggiurkan dengan cara yang haram?

Menyerahkan apa yang berharga • Apakah “Ishak” kita adalah sesuatu yang bisa jadi berhala bagi kita?•

Memberi (talenta/dana) di luar zona nyaman, percaya Tuhan mencukupkan.

SOLIDEO GLORYA 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BANTAHAN TERHADAP SERANGAN NGAWUR ROMO PATRIS ALEGRO

( Disclaimer : Tulisan ini tidak bermaksud memantik api permusuhan terhadap saudara-saudara dari Khatolik Roma, melainkan adalah sebuah bentuk pembelaan iman (Apologetika) atas serangan ngawur yang dilakukan secara masif oleh seorang oknum Romo dari Gereja Khatolik Roma, dengan akun Facebook bernama Patris Alegro. Di salah satu utas terbarunya, di Facebook, tertanggal: Selasa 22 Juli 2025. Romo Patris secara ngawur mengkritik istilah "Sola" yang digunakan oleh Protestan. Setelah membaca statusnya, saya melihat bahwa kritikan yang dibangun oleh Romo Patris lebih mencerminkan ketidakpahaman Romo Patris atas doktrin "Sola" ketimbang kritikan yang didasari oleh reductio ad absurdum. Di bawah ini saya tampilkan tulisan utuh dari Romo Patris yang dicopas dari akun facebooknya, serta tanggapan saya atas tulisan tersebut. TULISAN ROMO PATRIS ALEGRO Mengapa ada lima “sola” padahal “sola” artinya “hanya satu”?.  Mari kita bongkar ini secara logis, etimologis, dan teologis, la...

Allah Maha Kuasa Bukan Maha Kontradiksi

Oleh: Dionisius Daniel Goli Sali Pagi ini, sambil ngopi dan menunggu orderan Maxim, aku iseng buka YouTube dan menonton pengajaran teologi dari channel YouTube Verbum Veritatis yang dikelola oleh Pak Deky Nggadas. Tema dari pengajaran Pak Deky adalah tentang Divine Simplicity And The Trinity (Kesederhanaan Allah Dan Trinitas).  Secara garis besar, poin pengajaran Pak Deky adalah Allah Kristen itu simplisitas (Sederhana). Sederhana yang dimaksud Pak Deky, bukan berarti bahwa Allah Kristen itu bisa dipahami secara utuh tanpa harus meninggalkan ruang bagi hal-hal yang menjadi misteri untuk akal manusia. Melainkan, dalam natur-Nya Allah itu tidak terbagi. Meskipun Allah memiliki bermacam-macam atribut, seperti: maha kuasa, maha kasih, maha adil, kekal, dan lain sebagainya. Tapi atribut-atribut itu bukanlah komponen-komponen yang terpisah dalam diri Allah. Melainkan atribut itu adalah natur-Nya. Jadi, Allah bukan hanya Allah yang memiliki kasih, tapi Allah adalah kasih. Allah bukan hany...

MEMBEDAH RUMUSAN TRITUNGGAL ALA ELIA MYRON

Oleh : Dionisius Daniel Dalam sebuah video dari kanal YouTube Tiga Hari. Elia Myron seorang apologet muda terlihat sedang mengajarkan doktrin Tritunggal. Namun yang menarik disini adalah, rumusan Tritunggal yang diajarkan oleh Elia Myron ini, terindikasi menyimpang dari rumusan Tritunggal yang ortodoks yang telah dipegang oleh Gereja sepanjang sejarah. Elia mendasari pengajaran Tritunggalnya dengan mengutip Ulangan 6:4, dan 1 Korintus 8:6 Ulangan 6:4 (TB) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  1 Korintus 8:6 (TB) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.  Berdasarkan dua ayat ini Elia membangun premis bahwa Allah itu pada hakikatnya adalah esa, dan Allah yang esa ini adalah sang Bapa. Mengapa Allah yang esa ini disebut Bapa? Karena menurut Elia,...