Mengapa Hanya Allah Tritunggal yang Masuk Akal dan Layak Disembah.
PENDAHULUAN
Pernahkah kita bertanya: “Sebelum dunia diciptakan, apa yang Allah lakukan?”
Apakah Ia sendirian? Tidak ada siapa-siapa?
Apakah Ia merasa kesepian?
Kalau begitu, mengapa Dia mencipta? Apakah karena bosan atau iseng-iseng saja?
Pertanyaan ini penting. Karena jawaban dari pertanyaan ini akan menentukan:
Apakah Allah kita penuh kasih?
Apakah Dia punya kehendak?
Apakah Dia benar-benar sadar dan hidup?
1. Allah yang Sendirian Tidak Bisa Mengasihi
Kasih tentu membutuhkan objek. Objek untuk dikasihi, entah itu suami atau istri kita, entah itu saudara kita, entah itu orang lain, atau bahkan hewan peliharaan kita.
Kita tidak bisa mengasihi sendirian. Kasih butuh subjek dan objek, subjek untuk mengasihi dan objek yang dikasihi.
Nah kalau Allah adalah satu pribadi saja, seperti diajarkan dalam Islam (Tauhid) atau Saksi Yehova (Unitarian) maka, the big question is:
Siapa yang Ia kasihi sebelum ada dunia?Sebelum ada sesuatu yang diciptakan (Alam semesta dan segala isinya) maka hanya ada Allah. tidak ada sesuatu yang yang lain selain Allah karena hanya Allah lah yang kekal dan tidak diciptakan.
Nah problemnya di sini adalah, jika hanya ada Allah dan tidak ada yang lain selain Allah, maka bagaimana Ia bisa mengasihi? Kalau Ia mulai mengasihi setelah mencipta, maka kasih bukan sifat aslinya.
Tapi Alkitab berkata bahwa Allah adalah kasih. "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yoh 4:8)
Jadi kasih bukan hobi Allah. Kasih adalah siapa Dia. Kasih adalah indentitas diri-Nya, kasih bersifat inheren dalam diri Allah. Kasih adalah atribut Allah.
Saat saya berbicara tentang "atribut" dalam konteks ini, saya tidak bermaksud bahwa atribut itu seperti sesuatu yang eksternal, yang kita ambil lalu disematkan pada Allah. Yang saya maksud dengan atribut disini adalah secara ontologis (keberadaan diri-Nya). Dia adalah kasih. Allah bukan hanya memiliki kasih melainkan Allah adalah kasih.
Nah dalam Allah Tritunggal atribut kasih Allah ini bisa dijelaskan secara rasional. Allah versi lain mustahil bisa menjelaskan relasi kasih ini secara rasional.
Dalam Allah Tritunggal, Bapa, Anak, dan Roh Kudus saling mengasihi sejak kekekalan.
"...sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan." (Yoh 17:24b)
Allah kita bukanlah Allah yang kesepian, dan Kasih-Nya tidak tergantung pada manusia ataupun ciptaan-Nya.
2. Allah yang Sendirian Tidak Bisa Sadar
Coba bayangkan kita hidup dalam ruangan kosong, tak ada suara, tak ada cermin, tak ada orang lain, tak ada benda. Apakah kita akan sadar? Tentu tidak!. Tidak ada kesadaran di sana.
Sebab kesadaran butuh sesuatu untuk dipikirkan atau dilihat. Kalau Allah benar-benar sendirian, tanpa pribadi lain, maka:
Apa yang Dia pikirkan? Siapa yang Dia sadari?
Bagaimana mungkin Dia sadar dan punya kehendak?
Maka Allah itu seperti patung raksasa di langit yang tak sadar, tak berkehendak.
Tapi Allah Tritunggal saling menyadari dan berelasi dalam kasih sejak kekal.
Itu sebabnya Dia hidup, sadar, dan punya kehendak untuk mencipta.
3. Allah Tritunggal adalah Sumber Kasih, Kesadaran, dan Kehidupan
Kasih sejati, hanya mungkin jika Allah tidak sendirian. Kesadaran sejati, membutuhkan relasi. Kehendak sejati, juga butuh tujuan, bukan kebosanan.
Maka hanya Allah yang tiga pribadi dalam satu hakikat, yang layak disebut Allah yang hidup. Mengapa harus tiga pribadi tidak lebih dan tidak kurang? Sebagai angka tiga adalah angka yang sempurna dalam persekutuan.
4. Aplikasi/Penerapan dalam kehidupan kita sebagai orang Percaya
A. Keluarga.
Keluarga adalah gambaran dari Allah yang relasional. Sebuah Keluarga memiliki suami, istri, dan anak, adalah pantulan kecil dari Allah Tritunggal. Satu keluarga memiliki keragaman di dalamnya. Ada suami, ada istri, dan ada anak yang saling mengasihi satu sama lain.
B. Dalam Gereja.
Orang Kristen tidak dipanggil untuk jadi pertapa dalam gua. Orang Kristen dipanggil untuk berelasi dengan sesama (non Kristen) dan membangun persekutuan (fellowship) dengan saudara seiman. Maka di dalam Gereja, ada relasi kasih antara saudara seiman. Seperti Allah Tritunggal yang saling mengasihi dalam relasi kasih yang kekal, begitu juga dengan tubuh Kristus.
C. Dalam Doa
Kita tidak berdoa pada Allah yang jauh dan dingin. Kita berdoa kepada Bapa, dalam nama Anak, dan dipimpin oleh Roh Kudus.
Penutup dan kesimpulan
Kalau Allah bukan Tritunggal, maka Dia bukan Allah yang kasih.
Kalau Allah bukan Tritunggal, maka Dia bukan pribadi yang sadar.
Kalau Allah bukan Tritunggal, maka Dia bukan Allah yang berelasi dalam persekutuan kekal, melainkan Dia adalah Allah yang kesepian.
Tapi karena Allah kita adalah Allah yang Tritunggal Bapa, Anak, dan Roh Kudus, maka Dia adalah kasih, Dia adalah hidup, dan Dialah satu-satunya yang layak disembah.
SOLIDEO GLORYA
Komentar
Posting Komentar