Langsung ke konten utama

THEOLOGI PROPER 6

Penjelasan Doktrin: Omniscientia of God (Kebijaksanaan dan Pengetahuan Maha-Tahu Allah)

Omniscientia adalah istilah Latin untuk "pengetahuan yang tak terbatas." Dalam konteks teologi Kristen, ini berarti bahwa Allah memiliki pengetahuan yang sempurna, tidak terbatas, dan mencakup segala sesuatu—baik yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi.

Ciri-ciri utama Omniscientia of God:

1. Pengetahuan yang Tak Terbatas: Allah mengetahui segala sesuatu yang dapat diketahui, tanpa ada batasan waktu atau ruang.

2. Pengetahuan tentang Masa Depan: Allah tidak hanya tahu apa yang terjadi sekarang atau yang telah terjadi, tetapi juga apa yang akan terjadi di masa depan, bahkan tanpa terpengaruh oleh takdir atau determinisme manusia.

3. Pengetahuan tentang Hati Manusia: Allah tidak hanya tahu tindakan manusia tetapi juga pikiran, perasaan, dan niat terdalam mereka.

4. Pengetahuan yang Tidak Bergantung pada Waktu: Pengetahuan Allah tidak dipengaruhi oleh waktu; Dia tidak perlu "belajar" atau "mengingat" karena Dia mengetahui segalanya di luar ruang dan waktu.

Ayat Pendukung:

Mazmur 139:1-4: "Tuhan, Engkau menyelidiki aku dan mengenal aku. Engkau mengetahui kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa langkahku dan berbaringku, segala jalanku Kau kenal, bahkan sebelum lidahku mengucapkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kau ketahui."


1 Yohanes 3:20: "Karena jika hati kita menuduh kita, Allah lebih besar dari hati kita dan mengetahui segala sesuatu."

Amsal 15:3: "Di mana-mana mata Tuhan mengamat-amati yang jahat dan yang baik."

Ibrani 4:13: "Tidak ada makhluk yang tersembunyi dari-Nya, tetapi segala sesuatu telanjang dan terbuka di hadapan mata-Nya, kepada-Nyalah kita harus memberi pertanggungan jawab."

2. Pandangan dari Worldview Lain

Dalam berbagai worldview non-Kristen, pandangan tentang pengetahuan Allah atau kekuatan Tuhan sering kali berbeda:

Deisme: Dalam pandangan deisme, Tuhan dianggap sebagai Pencipta yang menciptakan dunia dan kemudian membiarkannya berjalan menurut hukum-hukum alam. Pengetahuan Tuhan terbatas pada penciptaan dan tidak mencakup pengetahuan akan hal-hal tertentu setelah penciptaan. Tuhan tidak mengintervensi dunia secara langsung, sehingga pengetahuan-Nya tidak bersifat personal dan terbatas pada penciptaan.

Agnostisisme: Agnostik tidak memandang Tuhan sebagai sosok yang memiliki pengetahuan tentang dunia atau diri-Nya sendiri. Mereka berpendapat bahwa pengetahuan tentang Tuhan tidak dapat diketahui dengan pasti, bahkan mungkin Tuhan tidak dapat diketahui. Pandangan ini berfokus pada ketidakpastian tentang sifat Tuhan dan pengetahuan-Nya.

Naturalistik: Dalam pandangan naturalistik (misalnya dalam atheisme atau sekularisme), tidak ada entitas supranatural yang dianggap memiliki pengetahuan. Pengetahuan dianggap sebagai hasil dari proses-proses alami yang dapat dipahami melalui sains dan rasionalitas manusia, tanpa peran Tuhan dalam hal ini.

3. Reductio ad Absurdum

Sekarang, kita akan menguji inkonsistensi dalam pandangan dunia lain mengenai pengetahuan Tuhan melalui pendekatan reductio ad absurdum (membuktikan bahwa pandangan tersebut mengarah pada kesimpulan yang tidak masuk akal atau absurd):

Agnostisisme:

Kesalahan: Agnostik mengklaim bahwa pengetahuan tentang Tuhan tidak mungkin diketahui. Tapi jika pengetahuan tentang Tuhan tidak dapat diketahui, maka bagaimana mereka bisa tahu dengan pasti bahwa Tuhan tidak ada atau tidak bisa diketahui? Jika mereka mengklaim ketiadaan pengetahuan tentang Tuhan, mereka harus memiliki pengetahuan yang cukup untuk tahu bahwa Tuhan benar-benar tidak dapat diketahui—ini adalah kontradiksi.

Deisme:

Kesalahan: Deisme menyatakan bahwa Tuhan menciptakan dunia tetapi tidak terlibat lagi dalam urusan dunia. Jika Tuhan tahu segalanya saat menciptakan dunia tetapi tidak mengetahui apa yang terjadi setelahnya, maka Tuhan menjadi terbatas dalam pengetahuannya setelah penciptaan. Namun, pengetahuan Tuhan yang Maha Tahu tidak mungkin terbatas hanya pada satu titik waktu atau satu kejadian. Jika pengetahuan Tuhan terbatas, maka Tuhan tidak akan menjadi Tuhan yang sempurna, karena pengetahuan-Nya harus mencakup segalanya, termasuk segala peristiwa yang terjadi setelah penciptaan.

Naturalistik (Atheisme):

Kesalahan: Pandangan naturalistik mengabaikan entitas Tuhan sepenuhnya dan menganggap pengetahuan berasal dari proses alamiah. Tetapi jika pengetahuan semata-mata adalah hasil dari mekanisme alam semata, bagaimana bisa proses-proses ini memberikan pemahaman yang memadai tentang segala hal, termasuk aspek moral, spiritual, atau eksistensial? Jika semua pengetahuan hanya produk dari alam semesta material, maka tidak ada dasar untuk pengetahuan tentang kebenaran absolut, yang menjadikan pandangan ini absurd—karena kita harus menganggap bahwa pengetahuan tentang kebenaran adalah relatif dan tidak universal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROVIDENSI ALLAH BUKAN ALASAN UNTUK BERDOSA

  Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   "Kalau Allah telah menetapkan segala sesuatu, dan apa yang ditetapkan Allah harus dan pasti terjadi, lalu mengapa tindakan berdosa manusia harus dihakimi?" Pertanyaan ini lahir dari kegagalan (kebingungan) dalam memahami providensi Allah. Apa itu providensi? Providensi adalah doktrin yang percaya bahwa Allah/Tuhan berdaulat penuh atas segala peristiwa yang terjadi di bawah kolong langit ini. Dengan kata lain tidak ada satupun peristiwa dalam bentang sejarah umat manusia yang luput dari kontrol dan kedaulatan Tuhan. Dan itu mencakup peristiwa yang baik maupun buruk (kejahatan) dalam kehidupan manusia. Sebagai landasan biblikalnya, kita akan melihat beberapa ayat di bawah ini. Misalnya tentang pemilihan orang percaya, ternyata Tuhan dalam kekekalan telah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi umat pilihan-Nya. "Di dalam Dia kami juga mendapat bagian, yang ditentukan dari semula menurut maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu ...

MEMBEDAH RUMUSAN TRITUNGGAL ALA ELIA MYRON

Oleh : Dionisius Daniel Dalam sebuah video dari kanal YouTube Tiga Hari. Elia Myron seorang apologet muda terlihat sedang mengajarkan doktrin Tritunggal. Namun yang menarik disini adalah, rumusan Tritunggal yang diajarkan oleh Elia Myron ini, terindikasi menyimpang dari rumusan Tritunggal yang ortodoks yang telah dipegang oleh Gereja sepanjang sejarah. Elia mendasari pengajaran Tritunggalnya dengan mengutip Ulangan 6:4, dan 1 Korintus 8:6 Ulangan 6:4 (TB) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  1 Korintus 8:6 (TB) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.  Berdasarkan dua ayat ini Elia membangun premis bahwa Allah itu pada hakikatnya adalah esa, dan Allah yang esa ini adalah sang Bapa. Mengapa Allah yang esa ini disebut Bapa? Karena menurut Elia,...

Obrolan Serius: Membongkar Kekeliruan Tritunggal yang Sering Diabaikan

Oleh : Dionisius Daniel   Kali ini saya kembali membagikan diskusi singkat saya dengan seseorang di Facebook yang diduga adalah fans atau pendukung fanatik dari Elia Myron.  Saya memang belakangan ini sedang menulis artikel mengkritisi ajaran Tritunggal Elia Myron, yang menurut saya telah menyimpang dan tanpa sadar "nyemplung" ke bidat-bidat yang sudah ditolak oleh para Bapa-Bapa Gereja kita. Seperti Sabelianisme atau Subordinasisme ala Unitarian. Sebenarnya diskusi/perdebatan ini berawal dari postingan foto Pdt Esra Soru di Facebook, tertanggal, Minggu 18/05/2025. Di foto itu tampak Pdt Esra sedang bersama Elia Myron. (fotonya saya jadikan wallpaper artikel ini) Saya lalu spontan berkomentar: "Pak Esra tolong ajari Elia Myron itu agar mengajar Tritunggal dengan benar, soalnya ajaran Tritunggal dan konsep keselamatannya telah menyesatkan banyak orang". Alhasil tak butuh waktu lama, komentar saya langsung ditanggapi oleh pengguna facebook lain yang diduga adalah fans...