Penjelasan Doktrin: Omniscientia of God (Kebijaksanaan dan Pengetahuan Maha-Tahu Allah)
Omniscientia adalah istilah Latin untuk "pengetahuan yang tak terbatas." Dalam konteks teologi Kristen, ini berarti bahwa Allah memiliki pengetahuan yang sempurna, tidak terbatas, dan mencakup segala sesuatu—baik yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi.
Ciri-ciri utama Omniscientia of God:
1. Pengetahuan yang Tak Terbatas: Allah mengetahui segala sesuatu yang dapat diketahui, tanpa ada batasan waktu atau ruang.
2. Pengetahuan tentang Masa Depan: Allah tidak hanya tahu apa yang terjadi sekarang atau yang telah terjadi, tetapi juga apa yang akan terjadi di masa depan, bahkan tanpa terpengaruh oleh takdir atau determinisme manusia.
3. Pengetahuan tentang Hati Manusia: Allah tidak hanya tahu tindakan manusia tetapi juga pikiran, perasaan, dan niat terdalam mereka.
4. Pengetahuan yang Tidak Bergantung pada Waktu: Pengetahuan Allah tidak dipengaruhi oleh waktu; Dia tidak perlu "belajar" atau "mengingat" karena Dia mengetahui segalanya di luar ruang dan waktu.
Ayat Pendukung:
Mazmur 139:1-4: "Tuhan, Engkau menyelidiki aku dan mengenal aku. Engkau mengetahui kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa langkahku dan berbaringku, segala jalanku Kau kenal, bahkan sebelum lidahku mengucapkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kau ketahui."
1 Yohanes 3:20: "Karena jika hati kita menuduh kita, Allah lebih besar dari hati kita dan mengetahui segala sesuatu."
Amsal 15:3: "Di mana-mana mata Tuhan mengamat-amati yang jahat dan yang baik."
Ibrani 4:13: "Tidak ada makhluk yang tersembunyi dari-Nya, tetapi segala sesuatu telanjang dan terbuka di hadapan mata-Nya, kepada-Nyalah kita harus memberi pertanggungan jawab."
2. Pandangan dari Worldview Lain
Dalam berbagai worldview non-Kristen, pandangan tentang pengetahuan Allah atau kekuatan Tuhan sering kali berbeda:
Deisme: Dalam pandangan deisme, Tuhan dianggap sebagai Pencipta yang menciptakan dunia dan kemudian membiarkannya berjalan menurut hukum-hukum alam. Pengetahuan Tuhan terbatas pada penciptaan dan tidak mencakup pengetahuan akan hal-hal tertentu setelah penciptaan. Tuhan tidak mengintervensi dunia secara langsung, sehingga pengetahuan-Nya tidak bersifat personal dan terbatas pada penciptaan.
Agnostisisme: Agnostik tidak memandang Tuhan sebagai sosok yang memiliki pengetahuan tentang dunia atau diri-Nya sendiri. Mereka berpendapat bahwa pengetahuan tentang Tuhan tidak dapat diketahui dengan pasti, bahkan mungkin Tuhan tidak dapat diketahui. Pandangan ini berfokus pada ketidakpastian tentang sifat Tuhan dan pengetahuan-Nya.
Naturalistik: Dalam pandangan naturalistik (misalnya dalam atheisme atau sekularisme), tidak ada entitas supranatural yang dianggap memiliki pengetahuan. Pengetahuan dianggap sebagai hasil dari proses-proses alami yang dapat dipahami melalui sains dan rasionalitas manusia, tanpa peran Tuhan dalam hal ini.
3. Reductio ad Absurdum
Sekarang, kita akan menguji inkonsistensi dalam pandangan dunia lain mengenai pengetahuan Tuhan melalui pendekatan reductio ad absurdum (membuktikan bahwa pandangan tersebut mengarah pada kesimpulan yang tidak masuk akal atau absurd):
Agnostisisme:
Kesalahan: Agnostik mengklaim bahwa pengetahuan tentang Tuhan tidak mungkin diketahui. Tapi jika pengetahuan tentang Tuhan tidak dapat diketahui, maka bagaimana mereka bisa tahu dengan pasti bahwa Tuhan tidak ada atau tidak bisa diketahui? Jika mereka mengklaim ketiadaan pengetahuan tentang Tuhan, mereka harus memiliki pengetahuan yang cukup untuk tahu bahwa Tuhan benar-benar tidak dapat diketahui—ini adalah kontradiksi.
Deisme:
Kesalahan: Deisme menyatakan bahwa Tuhan menciptakan dunia tetapi tidak terlibat lagi dalam urusan dunia. Jika Tuhan tahu segalanya saat menciptakan dunia tetapi tidak mengetahui apa yang terjadi setelahnya, maka Tuhan menjadi terbatas dalam pengetahuannya setelah penciptaan. Namun, pengetahuan Tuhan yang Maha Tahu tidak mungkin terbatas hanya pada satu titik waktu atau satu kejadian. Jika pengetahuan Tuhan terbatas, maka Tuhan tidak akan menjadi Tuhan yang sempurna, karena pengetahuan-Nya harus mencakup segalanya, termasuk segala peristiwa yang terjadi setelah penciptaan.
Naturalistik (Atheisme):
Kesalahan: Pandangan naturalistik mengabaikan entitas Tuhan sepenuhnya dan menganggap pengetahuan berasal dari proses alamiah. Tetapi jika pengetahuan semata-mata adalah hasil dari mekanisme alam semata, bagaimana bisa proses-proses ini memberikan pemahaman yang memadai tentang segala hal, termasuk aspek moral, spiritual, atau eksistensial? Jika semua pengetahuan hanya produk dari alam semesta material, maka tidak ada dasar untuk pengetahuan tentang kebenaran absolut, yang menjadikan pandangan ini absurd—karena kita harus menganggap bahwa pengetahuan tentang kebenaran adalah relatif dan tidak universal.
Komentar
Posting Komentar