Langsung ke konten utama

OMNIPRESENT OF GOD

TEOLOGI PROPER 7: OMNIPRESENSI ALLAH


1. Penjelasan Doktrin


Omnipresensi Allah berarti bahwa Allah hadir di seluruh ciptaan-Nya—bukan secara fisik, tetapi secara esensial, eksistensial, dan aktif. Allah tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Dia tidak “terbagi” di segala tempat, melainkan sepenuhnya hadir di mana-mana, dalam seluruh keberadaan-Nya.


Ayat-ayat pendukung:


Mazmur 139:7-10 – “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?”


Yeremia 23:24 – “Dapatkah seseorang menyembunyikan diri di tempat yang tersembunyi, sehingga Aku tidak melihat dia?”


Amsal 15:3 – “Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik.”


Kisah Para Rasul 17:27-28 – “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada.”



Penekanan:


Allah bukan bagian dari ciptaan, tapi hadir di dalam ciptaan tanpa menjadi ciptaan itu.


Allah hadir untuk menghakimi, menyatakan kasih, menolong, maupun menyatakan murka-Nya—kehadiran-Nya bersifat pribadi dan aktif.




---


2. Pandangan dari Worldview Lain


A. Hinduisme (Panteisme atau Panenteisme):

Allah atau “Brahman” adalah segala sesuatu. Tidak ada batas antara Pencipta dan ciptaan. Segala sesuatu adalah bagian dari Tuhan.


B. Buddhisme (Nonteistik):

Tidak mengakui adanya Allah pribadi. Yang tertinggi adalah Shunyata (kekosongan) atau hukum Dharma. Tidak ada Tuhan yang hadir atau tidak hadir—karena tidak ada Tuhan.


C. Islam:

Allah adalah satu dan transenden. Dia tidak hadir secara imanen dalam ciptaan, dan sangat berbeda dari ciptaan-Nya. Tidak ada relasi kehadiran pribadi seperti dalam kekristenan. Kehadiran-Nya ditafsir sebagai “ilmu-Nya mencakup segala sesuatu,” bukan kehadiran secara pribadi.



---


3. Tanggapan Kristen


Panteisme salah karena menyamakan Pencipta dengan ciptaan. Ini menghilangkan batas antara yang kudus dan yang najis.


Buddhisme gagal memberikan dasar bagi relasi dan makna, karena menolak kehadiran Pribadi Tertinggi.


Islam terlalu menekankan transendensi Allah hingga menolak immanensi Allah yang penuh kasih. Dalam kekristenan, Allah hadir untuk menyelamatkan, menegur, dan menghibur umat-Nya.



Hanya dalam kekristenan kita temukan keseimbangan sempurna:

Allah transenden tapi juga imanen.

Dia hadir di mana-mana, tapi tetap kudus dan terpisah dari ciptaan.



---


4. Reductio ad Absurdum terhadap Pandangan Lain


A. Hindu:

Jika segala sesuatu adalah Allah, maka membunuh, berdosa, dan menyembah berhala semua sah, karena semua adalah “Allah”. Ini menghancurkan moralitas dan kebenaran.


B. Buddha:

Jika tidak ada Allah yang hadir, maka hidup hanyalah siklus penderitaan tanpa tujuan dan tanpa relasi. Dunia tanpa pribadi Allah hanyalah mesin kosong yang tidak memberi tempat bagi kasih atau pengharapan.


C. Islam:

Jika Allah hanya transenden, maka manusia tidak bisa mengenal-Nya secara pribadi. Tanpa inkarnasi dan kehadiran pribadi, tidak ada penghiburan sejati, tidak ada pengampunan yang inkarnasional. Allah menjadi jauh, tidak terlibat, dan menyisakan manusia tanpa kepastian keselamatan.


Kesimpulan: Doktrin Omnipresensi Allah adalah jaminan kehadiran-Nya yang kudus, kasih-Nya yang nyata, dan penghiburan-Nya yang terus-menerus. Tanpa doktrin ini, semua worldview lain terjerumus ke dalam absurditas: entah Tuhan terlalu jauh, terlalu dekat hingga tidak dibedakan, atau tidak ada sama sekali.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BANTAHAN TERHADAP SERANGAN NGAWUR ROMO PATRIS ALEGRO

( Disclaimer : Tulisan ini tidak bermaksud memantik api permusuhan terhadap saudara-saudara dari Khatolik Roma, melainkan adalah sebuah bentuk pembelaan iman (Apologetika) atas serangan ngawur yang dilakukan secara masif oleh seorang oknum Romo dari Gereja Khatolik Roma, dengan akun Facebook bernama Patris Alegro. Di salah satu utas terbarunya, di Facebook, tertanggal: Selasa 22 Juli 2025. Romo Patris secara ngawur mengkritik istilah "Sola" yang digunakan oleh Protestan. Setelah membaca statusnya, saya melihat bahwa kritikan yang dibangun oleh Romo Patris lebih mencerminkan ketidakpahaman Romo Patris atas doktrin "Sola" ketimbang kritikan yang didasari oleh reductio ad absurdum. Di bawah ini saya tampilkan tulisan utuh dari Romo Patris yang dicopas dari akun facebooknya, serta tanggapan saya atas tulisan tersebut. TULISAN ROMO PATRIS ALEGRO Mengapa ada lima “sola” padahal “sola” artinya “hanya satu”?.  Mari kita bongkar ini secara logis, etimologis, dan teologis, la...

Allah Maha Kuasa Bukan Maha Kontradiksi

Oleh: Dionisius Daniel Goli Sali Pagi ini, sambil ngopi dan menunggu orderan Maxim, aku iseng buka YouTube dan menonton pengajaran teologi dari channel YouTube Verbum Veritatis yang dikelola oleh Pak Deky Nggadas. Tema dari pengajaran Pak Deky adalah tentang Divine Simplicity And The Trinity (Kesederhanaan Allah Dan Trinitas).  Secara garis besar, poin pengajaran Pak Deky adalah Allah Kristen itu simplisitas (Sederhana). Sederhana yang dimaksud Pak Deky, bukan berarti bahwa Allah Kristen itu bisa dipahami secara utuh tanpa harus meninggalkan ruang bagi hal-hal yang menjadi misteri untuk akal manusia. Melainkan, dalam natur-Nya Allah itu tidak terbagi. Meskipun Allah memiliki bermacam-macam atribut, seperti: maha kuasa, maha kasih, maha adil, kekal, dan lain sebagainya. Tapi atribut-atribut itu bukanlah komponen-komponen yang terpisah dalam diri Allah. Melainkan atribut itu adalah natur-Nya. Jadi, Allah bukan hanya Allah yang memiliki kasih, tapi Allah adalah kasih. Allah bukan hany...

MEMBEDAH RUMUSAN TRITUNGGAL ALA ELIA MYRON

Oleh : Dionisius Daniel Dalam sebuah video dari kanal YouTube Tiga Hari. Elia Myron seorang apologet muda terlihat sedang mengajarkan doktrin Tritunggal. Namun yang menarik disini adalah, rumusan Tritunggal yang diajarkan oleh Elia Myron ini, terindikasi menyimpang dari rumusan Tritunggal yang ortodoks yang telah dipegang oleh Gereja sepanjang sejarah. Elia mendasari pengajaran Tritunggalnya dengan mengutip Ulangan 6:4, dan 1 Korintus 8:6 Ulangan 6:4 (TB) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  1 Korintus 8:6 (TB) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.  Berdasarkan dua ayat ini Elia membangun premis bahwa Allah itu pada hakikatnya adalah esa, dan Allah yang esa ini adalah sang Bapa. Mengapa Allah yang esa ini disebut Bapa? Karena menurut Elia,...