Langsung ke konten utama

KRITIK TERHADAP METODE PRESAPOSISI VAN TILLIAN.

Dikutip dari perdebatan di Facebook 

Fides Quaerens Intellectum :

Pendekatan presuposisi Van Tillian memang menarik untuk membongkar kontradiksi internal dalam worldview tertentu, namun ketika dipaksakan kepada islam, seringkali terjadi kekeliruan kategoris.

Argumen seperti: “Jika Allah hanya satu pribadi mutlak, bagaimana kasih mungkin eksis?” sebetulnya bukan sanggahan terhadap Islam, tapi cerminan dari presuposisi Kristen sendiri. Ini adalah contoh klasik reasoning in a circle, memulai dengan Trinitas sebagai fondasi, lalu mengkritik semua worldview yang tidak sesuai dengan itu.

Dalam islam, kasih (rahmah) bukan entitas yang membutuhkan dua pribadi untuk eksis. Allah mengasihi karena Dia Maha Pengasih, bukan karena Ia butuh pribadi lain sebagai objek kasih. Mengharuskan kejamakan pribadi agar kasih bisa dimengerti, justru menunjukkan konsepsi kasih yang bersifat terbatas dan antropomorfik. Allah dalam islam tidak membutuhkan siapapun untuk menjadi sempurna dalam sifat-sifat-Nya, termasuk kasih.

Lagipula, presuposisi Van Tillian yang mengklaim hanya worldview Kristen (Reformed) yang bisa menjelaskan logika, moralitas, dan pengalaman manusia, juga menurut saya gagal menunjukkan bagaimana Trinitas sendiri tidak menimbulkan problem kontradiktif. Sebaliknya, islam dengan konsep tauhid justru menawarkan fondasi yang konsisten, non-kontradiktif, dan murni secara ontologis.

Jadi, pendekatan ini bukan “membongkar asumsi islam”, melainkan menegaskan bahwa ia tidak bisa membaca islam kecuali dengan memakai kacamata Kristen dan itu adalah cacat metode sejak awal. Jika ingin benar-benar berdialog dengan islam, maka epistemologi masing-masing harus dipahami secara internal terlebih dahulu, bukan diserang berdasarkan sistem lain.

Jawaban dari Van Tillian: 

Oke, ini kritik yang cukup tajam dan layak dijawab serius. Mari kita tanggapi secara sistematis dari sudut pandang apologetika Van Tillian atau Presuposisi Kristen Reformed, tanpa mengabaikan inti keberatan pihak Islam yang diangkat:

Pertama, Soal “Reasoning in a Circle” dan Kacamata Kristen

Kritik yang dibangun adalah Van Til dianggap memaksakan Trinitas ke worldview lain dan menggunakan "lingkaran logika" (reasoning in a circle), ini mungkin maksudnya sama dengan Circular Reasoning.

Tanggapan kita adalah Van Til mengakui bahwa semua argumen tentang realitas beroperasi dalam lingkaran presuposisi, baik Kristen maupun non-Kristen. Bedanya, Van Til membedakan antara:

Lingkaran logis yang konsisten (virtuous circularity) seperti ketika Kristen berkata: “Kita percaya Alkitab karena Allah yang sejati mewahyukannya, dan Allah itu dikenali lewat Alkitab.”

Lingkaran destruktif (vicious circularity) seperti ketika non-Kristen membangun logika dan etika di atas asumsi netral atau buatan manusia, tapi tak bisa mempertanggungjawabkan asal-usul dan keabsahannya.

Presuposisi Kristen memang dimulai dari Trinitas, tapi Van Til menantang: apakah worldview lain bisa menjelaskan asal-usul logika, moral, dan pengalaman manusia tanpa kontradiksi?

Kedua, Soal Kasih dan Tauhid

Kritik yang diangkat adalah Islam tidak membutuhkan kejamakan pribadi untuk menjelaskan kasih. Allah mengasihi karena Dia Maha Pengasih.

Nah ini bisa dianggap benar secara internal menurut Islam. Namun disinilah penekanan dari presaposisi Van Til, yaitu melihat dari sisi koherensi internal dan kecukupan penjelasan atas klaim tersebut. Pertanyaan yang diajukan bukan hanya: “Apakah Anda mengklaim Allah Maha Pengasih?” tapi: "Bagaimana kasih eksis secara aktual dalam keabadian Allah?"

Dalam iman Kristen Kasih eksis secara aktual, abadi, dan personal dalam persekutuan Bapa, Anak, dan Roh Kudus, sebelum ciptaan.

Sedangkan dalam Islam Allah adalah satu pribadi mutlak, maka “kasih” sebelum penciptaan bukan relasional, melainkan hanya potensi atau sifat yang tidak teraktualisasi. Ini menimbulkan implikasi: apakah kasih itu aktual, atau hanya label saja?

Kalau Allah tidak pernah mengasihi secara aktual dalam kekekalan, lalu apa dasar kita mengatakan Dia adalah "Maha Pengasih" secara ontologis, bukan hanya fungsi setelah mencipta?

Ketiga, Soal Trinitas dan Klaim Non Kontradiktif Islam

Trinitas dianggap problematis dalam iman Kristen dan Islam dianggap lebih logis dan konsisten secara ontologis. Problematisnya dimana? Mungkin yang dimaksud problematis karena klaim satu hakikat dengan tiga pribadi itu?  Tapi rumusan itu tidak meninggalkan kecacatan logis sama sekali.

Trinitas bukan 1 = 3 secara kuantitatif, tapi satu esensi, tiga pribadi, tidak kontradiksi karena berada di dua kategori berbeda yaitu esensi dan pribadi.

Tauhid Islam menyatukan esensi dan pribadi secara identik. Allah menjadi monad absolut, secara logika, ini membuat relasi, komunikasi, dan pengalaman cinta sejati menjadi mustahil tanpa mencipta makhluk lain.

Implikasinya menjadi fatal, Jika Allah tidak memiliki relasi sejati dalam kekekalan, maka:

1. Kasih bukan esensial bagi-Nya

2. Komunikasi dan relasi bukan bagian dari natur ilahi

3. Allah menjadi “diam dan sendiri” sebelum mencipta, ini sangat mirip konsep deisme atau panteisme kering

Keempat, Soal Dialog Internal

Kritik yang diangkat seharusnya Kristen pahami Islam dari dalam, bukan menyerang dari luar. Benar bahwa dialog antar worldview harus adil. Tapi pendekatan presuposisi tidak sekadar menyerang dari luar, melainkan, dia mendengar klaim internal Islam, kemudian menguji apakah klaim itu bisa dipertahankan secara logis dan konsisten.

Membandingkan dengan worldview Kristen, dan melihat mana yang dapat memberi dasar paling kokoh untuk eksistensi manusia, moral, dan rasionalitas

Kita tidak netral, dan tidak mungkin bisa netral, Neutralitas hanya ilusi. Yang kita butuhkan adalah pengujian total sistem. Inilah yang dilakukan presuposisi Van Tillian.

Kesimpulan dari Kritik terhadap pendekatan presuposisi Van Tillian sebenarnya:

Mengabaikan sifat semua sistem berpikir yang memang “berputar”, Gagal menunjukkan bagaimana tauhid Islam bisa menjelaskan kasih yang aktual dan relasional, dan tidak menjawab tantangan utama: “Bisakah worldview Anda menjelaskan realitas tanpa kontradiksi dan tanpa pinjam asumsi Kristen?”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROVIDENSI ALLAH BUKAN ALASAN UNTUK BERDOSA

  Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   "Kalau Allah telah menetapkan segala sesuatu, dan apa yang ditetapkan Allah harus dan pasti terjadi, lalu mengapa tindakan berdosa manusia harus dihakimi?" Pertanyaan ini lahir dari kegagalan (kebingungan) dalam memahami providensi Allah. Apa itu providensi? Providensi adalah doktrin yang percaya bahwa Allah/Tuhan berdaulat penuh atas segala peristiwa yang terjadi di bawah kolong langit ini. Dengan kata lain tidak ada satupun peristiwa dalam bentang sejarah umat manusia yang luput dari kontrol dan kedaulatan Tuhan. Dan itu mencakup peristiwa yang baik maupun buruk (kejahatan) dalam kehidupan manusia. Sebagai landasan biblikalnya, kita akan melihat beberapa ayat di bawah ini. Misalnya tentang pemilihan orang percaya, ternyata Tuhan dalam kekekalan telah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi umat pilihan-Nya. "Di dalam Dia kami juga mendapat bagian, yang ditentukan dari semula menurut maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu ...

MEMBEDAH RUMUSAN TRITUNGGAL ALA ELIA MYRON

Oleh : Dionisius Daniel Dalam sebuah video dari kanal YouTube Tiga Hari. Elia Myron seorang apologet muda terlihat sedang mengajarkan doktrin Tritunggal. Namun yang menarik disini adalah, rumusan Tritunggal yang diajarkan oleh Elia Myron ini, terindikasi menyimpang dari rumusan Tritunggal yang ortodoks yang telah dipegang oleh Gereja sepanjang sejarah. Elia mendasari pengajaran Tritunggalnya dengan mengutip Ulangan 6:4, dan 1 Korintus 8:6 Ulangan 6:4 (TB) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  1 Korintus 8:6 (TB) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.  Berdasarkan dua ayat ini Elia membangun premis bahwa Allah itu pada hakikatnya adalah esa, dan Allah yang esa ini adalah sang Bapa. Mengapa Allah yang esa ini disebut Bapa? Karena menurut Elia,...

Obrolan Serius: Membongkar Kekeliruan Tritunggal yang Sering Diabaikan

Oleh : Dionisius Daniel   Kali ini saya kembali membagikan diskusi singkat saya dengan seseorang di Facebook yang diduga adalah fans atau pendukung fanatik dari Elia Myron.  Saya memang belakangan ini sedang menulis artikel mengkritisi ajaran Tritunggal Elia Myron, yang menurut saya telah menyimpang dan tanpa sadar "nyemplung" ke bidat-bidat yang sudah ditolak oleh para Bapa-Bapa Gereja kita. Seperti Sabelianisme atau Subordinasisme ala Unitarian. Sebenarnya diskusi/perdebatan ini berawal dari postingan foto Pdt Esra Soru di Facebook, tertanggal, Minggu 18/05/2025. Di foto itu tampak Pdt Esra sedang bersama Elia Myron. (fotonya saya jadikan wallpaper artikel ini) Saya lalu spontan berkomentar: "Pak Esra tolong ajari Elia Myron itu agar mengajar Tritunggal dengan benar, soalnya ajaran Tritunggal dan konsep keselamatannya telah menyesatkan banyak orang". Alhasil tak butuh waktu lama, komentar saya langsung ditanggapi oleh pengguna facebook lain yang diduga adalah fans...