Langsung ke konten utama

TEOLOGI PROPER 9 (TRANSCENDENCE OF GOD

Teologi Proper 9: Transcendence of God

Penjelasan Doktrin:

Transcendence mengacu pada sifat Allah yang melampaui ciptaan-Nya. Allah tidak terbatas oleh ruang, waktu, atau apapun yang ada di dalam dunia ini. Dia bukan bagian dari ciptaan dan tidak dapat dipahami sepenuhnya melalui kategori-kategori yang kita kenal dalam dunia ini. Transendensi Allah menekankan bahwa Dia berada di luar dan melampaui segala sesuatu yang ada di dunia ciptaan-Nya. Meskipun Allah terlibat dalam dunia ini melalui immanensi-Nya, Dia tetap lebih besar dari ciptaan-Nya dan tidak bisa dibatasi oleh apapun.

Doktrin ini berhubungan dengan sifat Allah yang mulia dan tinggi, yang tidak dapat dibandingkan dengan ciptaan-Nya. Hal ini mengingatkan umat percaya akan kedalaman dan kemuliaan Tuhan yang tidak terbatas, dan memberikan rasa hormat yang mendalam terhadap kekudusan-Nya. Transendensi juga menekankan kemandirian dan kebebasan Allah dari segala sesuatu yang ada di dunia ini.

Beberapa ayat yang mendukung konsep transendensi Allah antara lain:

Yesaya 55:8-9: "Karena rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Sebab seperti langit lebih tinggi dari bumi, demikianlah jalan-Ku lebih tinggi dari jalanmu dan rancangan-Ku lebih tinggi dari rancanganmu."

1 Raja-Raja 8:27: "Tetapi apakah Allah benar-benar akan diam di bumi? Langit, bahkan langit yang teringgi, tidak dapat memuat Engkau, apalagi rumah yang kudus ini yang kudirikan!"

Amsal 15:3: "Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik."

Pandangan dari Worldview Lain:

1. Pandangan Deisme:

Dalam Deisme, meskipun Allah dianggap sebagai pencipta alam semesta, Dia dipandang sebagai entitas yang sangat transenden yang tidak terlibat langsung dalam kehidupan sehari-hari manusia setelah penciptaan. Pandangan ini mengabaikan kehadiran Allah dalam kehidupan pribadi dan lebih menekankan bahwa setelah menciptakan dunia, Allah membiarkan dunia berjalan berdasarkan hukum alam yang Dia tetapkan.

2. Pandangan Islam:

Dalam ajaran Islam, Allah sangat transenden, jauh melampaui ciptaan-Nya. Meskipun Allah mengetahui segala sesuatu dan mengatur dunia, dia tidak dapat dijangkau secara langsung oleh ciptaan-Nya. Ini berarti bahwa umat manusia tidak dapat melihat Allah secara langsung atau berbicara dengan-Nya dalam pengertian yang langsung, meskipun doa mereka tetap didengar oleh Allah.

3. Pandangan Pantheisme:

Pantheisme menganggap Tuhan dan alam semesta sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dalam pandangan ini, Tuhan tidak terpisah dari ciptaan-Nya, dan tidak ada jarak atau transendensi antara Tuhan dan dunia. Sebaliknya, dalam pandangan Kristen, Allah adalah transenden dan tidak dapat disamakan dengan ciptaan-Nya.

Reductio ad Absurdum:

Reductio ad Absurdum terhadap Deisme:

Jika Allah hanya transenden dan tidak terlibat dalam dunia setelah penciptaannya, maka dunia akan menjadi sebuah sistem yang beroperasi tanpa pengawasan atau pengaturan dari Sang Pencipta. Pandangan ini bertentangan dengan pengalaman manusia akan keteraturan dan pemeliharaan berkelanjutan yang jelas di dunia ini. Tanpa keterlibatan Allah, dunia akan menjadi acak dan tanpa tujuan, yang bertentangan dengan keyakinan bahwa Allah adalah pengatur yang berdaulat atas segala sesuatu.

Reductio ad Absurdum terhadap Islam:

Jika Allah hanya transenden dan tidak memiliki keterlibatan langsung dengan ciptaan-Nya, maka konsep ibadah dan doa menjadi tidak relevan. Manusia akan dipandang seolah-olah tidak memiliki hubungan langsung dengan Tuhan. Dalam ajaran Kristen, hubungan personal dengan Allah adalah bagian inti dari iman, di mana umat percaya dapat berbicara dan mendengarkan suara-Nya.

Reductio ad Absurdum terhadap Pantheisme:

Jika Tuhan dan alam semesta adalah satu, maka segala sesuatu di dunia ini menjadi Tuhan, dan tidak ada tempat untuk membedakan antara yang kudus dan yang duniawi. Hal ini menghilangkan pemahaman moral yang jelas tentang dosa dan kebenaran. Jika segala sesuatu adalah Tuhan, maka segala tindakan, bahkan yang jahat, juga harus dianggap ilahi, yang bertentangan dengan pemahaman Alkitab tentang kesucian dan keadilan Allah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

APAKAH KARENA YESUS BERASAL DARI ALLAH, MAKA DIA BUKAN ALLAH? (MENANGGAPI SERANGAN UST. SUBANDI T SUKOCO)

Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   Beberapa hari yang lalu, seseorang mengirimi saya sebuah video dan meminta tanggapan saya atas video itu. Setelah saya lihat-lihat, ternyata ini adalah cuplikan video dari YouTube Ust. Subandi T Sukoco. Siapakah orang ini? Subandi atau yang lebih dikenal dengan Gus Mbetik ini, adalah seorang pendakwah yang sudah sering terlibat dalam diskusi-diskusi lintas agama. Nah dalam cuplikan video yang berdurasi 2 menit 42 detik ini, Subandi memberikan argumentasinya untuk menolak ke-Tuhanan dan ke-Allahan Yesus. Menurut Subandi karena Yesus datang dari Allah maka Yesus pasti bukan Allah. Cuplikan lengkapnya bisa ditonton disini👇 Setelah menonton videonya, saya menemukan bahwa penolakan Ust. Subandi T Sukoco terhadap ke-Allahan Yesus didasari atas dua fakta ini : PERTAMA, KARENA YESUS DATANG DARI ALLAH MAKA DIA BUKAN ALLAH   Yohanes 9:33 (TB) Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa."  Menurut Ust. Subandi T Suko...

Allah Maha Kuasa Bukan Maha Kontradiksi

Oleh: Dionisius Daniel Goli Sali Pagi ini, sambil ngopi dan menunggu orderan Maxim, aku iseng buka YouTube dan menonton pengajaran teologi dari channel YouTube Verbum Veritatis yang dikelola oleh Pak Deky Nggadas. Tema dari pengajaran Pak Deky adalah tentang Divine Simplicity And The Trinity (Kesederhanaan Allah Dan Trinitas).  Secara garis besar, poin pengajaran Pak Deky adalah Allah Kristen itu simplisitas (Sederhana). Sederhana yang dimaksud Pak Deky, bukan berarti bahwa Allah Kristen itu bisa dipahami secara utuh tanpa harus meninggalkan ruang bagi hal-hal yang menjadi misteri untuk akal manusia. Melainkan, dalam natur-Nya Allah itu tidak terbagi. Meskipun Allah memiliki bermacam-macam atribut, seperti: maha kuasa, maha kasih, maha adil, kekal, dan lain sebagainya. Tapi atribut-atribut itu bukanlah komponen-komponen yang terpisah dalam diri Allah. Melainkan atribut itu adalah natur-Nya. Jadi, Allah bukan hanya Allah yang memiliki kasih, tapi Allah adalah kasih. Allah bukan hany...

RENCANA ALLAH DAN KEHENDAK BEBAS MANUSIA

📜 KISAH PARA RASUL 2:23 “ Dia yang diserahkan menurut maksud dan rencana Allah yang telah ditentukan, tetapi kamu telah menyalibkan dan membunuh-Nya oleh tangan orang-orang durhaka.” PENDAHULUAN Apakah penyaliban Yesus adalah rencana Allah atau rencana Iblis?. Topik ini menarik, karena beberapa waktu yang lalu, Edis TV, seorang apologet tiktok yang sedang viral akhir-akhir ini, menyatakan bahwa penyaliban Yesus sebenarnya adalah rencana iblis bukan rencana Allah. Untuk mendukung pandangannya Edis mengutip Yoh 8:37-47. Menurut Edis narasi dari teks itu secara implisit menyiratkan bahwa penyaliban Yesus adalah rencana Iblis karena sejak semula Iblis ingin membunuh Yesus. Nah pernyataan Edis ini sontak membuat dunia perdebatan teologis menjadi panas dan memancing tanggapan dari berbagai pihak. Beberapa suhu Teologi tanah air turun gunung. Esra Soru, MYM, Deky Nggadas dan Budi Asali, hingga Mel Atok ada dalam barisan daftar nama yang ikut memberikan tanggapan terhadap Edis. Tidak hanya me...