Langsung ke konten utama

Pdt. Gilbert Lumoindong Dan Analogi Orang Buta Dan Gajah

Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali 

Dalam sesi podcast bersama dr. Richard Lee, yang sedang viral belakangan ini. Pdt. Gilbert Lumoindong menyampaikan pandangan yang secara tersirat, menunjukkan kecenderungan pada pluralisme agama. Pandangan yang menolak klaim eksklusif satu agama atas kebenaran mutlak dan menganggap semua agama sebagai jalan yang benar menuju Tuhan.

Untuk mendukung posisinya, Pdt. Gilbert kemudian menggunakan analogi klasik "orang buta dan gajah", yang lazim digunakan oleh para pendukung paham pluralisme. Ia berkata kurang lebih seperti ini (dalam parafrase saya):

“God is God, Dia terlalu luas untuk dibatasi oleh satu yang bernama agama. Agama itu seperti orang buta yang memegang gajah. Satu pegang kakinya, dia bilang Tuhan itu seperti pohon besar. Satu pegang ekor, dia bilang Tuhan itu kecil dan halus. Satu pegang kuping, dia bilang Tuhan itu luas tapi tipis. Nah, yang mana Tuhan? Apakah gajahnya marah karena orang-orang itu salah? Tidak, gajahnya hanya senyum dan berkata: itu aku. Saya percaya manusia selama di dunia hanya bisa mengerti sebagian kecil dari Tuhan, tidak mungkin seluruh-Nya.”

Kritik atas Analogi Ini: Ada kecacatan logika secara internal.

Mari kita bedah pelan-pelan analogi ini. Sekilas, analogi ini tampak bijak dan toleran. Tapi jika kita kaji secara logis dan filosofis, analogi ini mengandung cacat logis yang fatal, terutama jika digunakan untuk membenarkan pluralisme agama. Berikut beberapa masalah utamanya:

1. Si Pencerita Ini Bukan Orang Buta

Dalam analogi ini, kita diminta membayangkan bahwa semua manusia (atau semua agama) seperti orang buta yang mencoba mengenali Tuhan (gajah) dari sebagian kecil pengalaman mereka. Tapi ada satu tokoh tambahan yang tidak disebutkan secara eksplisit, yaitu si pencerita analogi itu sendiri.

Jika semua orang buta dan tidak tahu bentuk gajah secara utuh, maka dari mana si pencerita tahu bahwa itu seekor gajah? Bagaimana dia tahu bahwa orang-orang buta itu salah paham karena masing-masing hanya memegang sebagian?

Artinya si pencerita menempatkan dirinya di posisi superior, yang bisa melihat kebenaran utuh dan tahu bahwa semua orang lain salah sebagian. Ini justru bentuk klaim kebenaran mutlak, yang ironisnya ingin dibantah oleh penganut pluralisme itu sendiri. Mereka bilang semua agama hanya tahu sebagian, tapi mereka sendiri mengaku tahu keseluruhannya. Itu inkonsistensi logis.

2. Tuhan dalam Kekristenan Bukan Gajah yang Diam

Dalam analogi tersebut, gajah (Tuhan) digambarkan pasif dan diam, membiarkan orang salah mengenal-Nya tanpa klarifikasi. Tapi Tuhan dalam kekristenan sangat berbeda dengan yang digambarkan oleh analogi ini. Tuhan Kristen bukan Tuhan yang pasif. Ia berinisiatif menyatakan diri-Nya secara eksplisit dan personal, bukan hanya melalui ciptaan, tetapi melalui wahyu khusus Alkitab dan Pribadi Kristus (Ibrani 1:1–3).

Jadi, kita bukan cuma meraba, tapi Tuhan berbicara. Ini sangat berbeda dengan ide pluralisme yang mengatakan semua orang hanya "menebak-nebak" ide tentang Tuhan.

3. Perbedaan Deskriptif Bukanlah Perbedaan Kontradiktif

Dalam analogi gajah, semua orang buta memberi deskripsi berbeda tentang satu objek yang sama (gajah). Tapi dalam realitas pluralisme agama, perbedaan agama bukan cuma soal deskripsi, melainkan klaim yang saling bertentangan atau berkontradiksi antara satu dan yang lain. Misalnya, Kekristenan mengklaim bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan kepada Allah. Islam mengklaim bahwa Yesus bukan Tuhan dan tidak disalibkan. Sedangkan Hindu berbeda lagi. Bagi Hindu Tuhan tidak personal dan bisa berwujud banyak.

Nah klaim-klaim seperti ini bukan sekadar "berbeda deskripsi", melainkan berkontradiksi secara logis. Dan dua pernyataan yang kontradiktif tidak mungkin keduanya benar dalam waktu yang sama dan dalam hal yang sama. (Prinsip non-kontradiksi dalam hukum logika klasik).

Analogi orang buta dan gajah, meskipun sering dipakai untuk menyampaikan pesan toleransi, tidak cocok dijadikan landasan logis untuk mendukung pluralisme agama. Justru analogi ini menegaskan inkonsistensi pihak pluralis, mereka mengkritik klaim kebenaran mutlak sembari membuat klaim serupa.

Toleransi bukan berarti semua agama harus dianggap benar. Toleransi yang sejati artinya kita tetap menghormati orang lain walaupun kita berbeda keyakinan dengan mereka. Kekristenan tidak anti toleransi tetapi juga tidak akan berkompromi dalam menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan, kebenaran, dan hidup (Yohanes 14:6).

SOLIDEO GLORYA 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BANTAHAN TERHADAP SERANGAN NGAWUR ROMO PATRIS ALEGRO

( Disclaimer : Tulisan ini tidak bermaksud memantik api permusuhan terhadap saudara-saudara dari Khatolik Roma, melainkan adalah sebuah bentuk pembelaan iman (Apologetika) atas serangan ngawur yang dilakukan secara masif oleh seorang oknum Romo dari Gereja Khatolik Roma, dengan akun Facebook bernama Patris Alegro. Di salah satu utas terbarunya, di Facebook, tertanggal: Selasa 22 Juli 2025. Romo Patris secara ngawur mengkritik istilah "Sola" yang digunakan oleh Protestan. Setelah membaca statusnya, saya melihat bahwa kritikan yang dibangun oleh Romo Patris lebih mencerminkan ketidakpahaman Romo Patris atas doktrin "Sola" ketimbang kritikan yang didasari oleh reductio ad absurdum. Di bawah ini saya tampilkan tulisan utuh dari Romo Patris yang dicopas dari akun facebooknya, serta tanggapan saya atas tulisan tersebut. TULISAN ROMO PATRIS ALEGRO Mengapa ada lima “sola” padahal “sola” artinya “hanya satu”?.  Mari kita bongkar ini secara logis, etimologis, dan teologis, la...

Allah Maha Kuasa Bukan Maha Kontradiksi

Oleh: Dionisius Daniel Goli Sali Pagi ini, sambil ngopi dan menunggu orderan Maxim, aku iseng buka YouTube dan menonton pengajaran teologi dari channel YouTube Verbum Veritatis yang dikelola oleh Pak Deky Nggadas. Tema dari pengajaran Pak Deky adalah tentang Divine Simplicity And The Trinity (Kesederhanaan Allah Dan Trinitas).  Secara garis besar, poin pengajaran Pak Deky adalah Allah Kristen itu simplisitas (Sederhana). Sederhana yang dimaksud Pak Deky, bukan berarti bahwa Allah Kristen itu bisa dipahami secara utuh tanpa harus meninggalkan ruang bagi hal-hal yang menjadi misteri untuk akal manusia. Melainkan, dalam natur-Nya Allah itu tidak terbagi. Meskipun Allah memiliki bermacam-macam atribut, seperti: maha kuasa, maha kasih, maha adil, kekal, dan lain sebagainya. Tapi atribut-atribut itu bukanlah komponen-komponen yang terpisah dalam diri Allah. Melainkan atribut itu adalah natur-Nya. Jadi, Allah bukan hanya Allah yang memiliki kasih, tapi Allah adalah kasih. Allah bukan hany...

MEMBEDAH RUMUSAN TRITUNGGAL ALA ELIA MYRON

Oleh : Dionisius Daniel Dalam sebuah video dari kanal YouTube Tiga Hari. Elia Myron seorang apologet muda terlihat sedang mengajarkan doktrin Tritunggal. Namun yang menarik disini adalah, rumusan Tritunggal yang diajarkan oleh Elia Myron ini, terindikasi menyimpang dari rumusan Tritunggal yang ortodoks yang telah dipegang oleh Gereja sepanjang sejarah. Elia mendasari pengajaran Tritunggalnya dengan mengutip Ulangan 6:4, dan 1 Korintus 8:6 Ulangan 6:4 (TB) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  1 Korintus 8:6 (TB) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.  Berdasarkan dua ayat ini Elia membangun premis bahwa Allah itu pada hakikatnya adalah esa, dan Allah yang esa ini adalah sang Bapa. Mengapa Allah yang esa ini disebut Bapa? Karena menurut Elia,...