ETERNALITAS ALLAH
1. Penjelasan Doktrin:
Eternalitas berasal dari kata Latin aeternitas, yang berarti "kekekalan." Doktrin ini menyatakan bahwa Allah tidak terbatas oleh waktu, tidak memiliki awal atau akhir, dan tidak berubah oleh perjalanan waktu.
Mazmur 90:2 – “Sebelum gunung-gunung dilahirkan dan bumi serta dunia diperanakan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah.”
Allah ada dalam kekekalan. Dia bukan hanya lebih tua dari waktu, tapi Ia juga pencipta waktu, dan tidak dikendalikan olehnya.
Implikasi utamanya adalah Allah selalu ada, tidak pernah “menjadi” sesuatu.
Ia melihat segala sesuatu secara serentak, masa lalu, sekarang, dan masa depan hadir di hadapan-Nya sebagai satu kesatuan.
Ia tidak berkembang, karena Ia sudah sempurna dari kekal.
2. Pandangan Agama/Worldview Lain:
a. Panteisme (Hinduisme, Zen, dll):
Mengaburkan kekekalan dengan pengulangan atau siklus waktu (samsara). Dalam pandangan ini, tidak ada kekekalan pribadi, hanya aliran kesadaran atau semacam eksistensi tak-berujung.
b. Buddhisme:
Banyak aliran Buddhisme tidak mengakui Tuhan pribadi dan menyatakan bahwa realitas itu tidak kekal (termasuk makhluk surgawi). Kekekalan bukan sifat suatu pribadi ilahi, tapi pencapaian nirwana yang tak tergambarkan, tanpa waktu, tanpa kepribadian.
c. Islam:
Allah dikatakan kekal, tetapi dalam praktiknya, sering muncul ketegangan antara kehendak-Nya yang bisa berubah dengan kekekalan-Nya. Misalnya, Allah bisa membatalkan ayat sebelumnya (naskh), yang menunjukkan perubahan dalam kehendak-Nya.
d.Filsafat Naturalistik Materialistik, dan Ateisme:
Waktu adalah absolut, dan tidak ada yang kekal. Alam semesta muncul dari kebetulan dan akan berakhir. Tidak ada pribadi kekal; hanya materi yang berubah-ubah.
3. Tanggapan Kristen:
1. Allah adalah Pencipta waktu (Kejadian 1:1)
“Pada mulanya” – waktu dimulai. Sebelum itu, Allah sudah ada. Artinya, kekekalan-Nya tidak pasif, tapi aktif: Ia menciptakan waktu dan menopangnya.
2. Kekekalan Allah menyatakan keunggulan-Nya:
Tidak ada ciptaan yang kekal secara mutlak. Bahkan malaikat pun adalah makhluk. Hanya Allah yang tidak diciptakan dan tidak berbatas oleh waktu.
3. Yesus Kristus adalah Allah kekal dalam daging:
Yohanes 1:1–3, Kolose 1:17 — Ia ada sebelum segala sesuatu dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan.
4. Bantahan terhadap Pandangan Lain (Reductio ad Absurdum):
a. Panteisme dan Buddhisme (Zen):
Jika realitas adalah siklus atau ilusi, maka tidak ada dasar untuk stabilitas makna. Tanpa pribadi kekal, maka makna hidup hanyalah rangkaian peristiwa fana. Ini menyebabkan kontradiksi: mereka berbicara tentang pencerahan abadi dalam sistem yang menyangkal keberadaan kekekalan pribadi.
Reduksi:
Jika segala sesuatu adalah ilusi atau siklus, maka bahkan klaim kebenaran mereka tentang kekekalan tidak bisa benar. Ilusi tak bisa menghasilkan pengetahuan sejati.
Kalau tak ada pribadi kekal, maka tak ada dasar bagi relasi kasih yang kekal.
b. Islam:
Ketika Allah bisa berubah dalam kehendak-Nya (dengan pembatalan wahyu sebelumnya), maka Ia tunduk pada waktu dan perubahan. Ini bertentangan dengan klaim kekekalan.
Reduksi:
Jika kehendak Allah bisa berubah, maka Allah tidak sempurna (karena sempurna tak berubah).
Jika Allah berubah, maka kekekalan-Nya tidak mutlak, dan ini meniadakan keandalan-Nya.
c. Naturalisme/Ateisme:
Jika tidak ada pribadi kekal, maka eksistensi manusia hanyalah hasil kebetulan yang nihilistik. Waktu menjadi mutlak tapi tanpa makna. Semua kesadaran akan hancur.
Reduksi:
Jika waktu dan alam semesta tak kekal dan tanpa tujuan, maka tidak ada alasan untuk percaya bahwa rasio kita bisa memahami kebenaran.
Maka, bahkan argumen mereka untuk menolak kekekalan menjadi tak punya pijakan rasional.
Kesimpulan:
Allah yang kekal adalah satu-satunya dasar kepastian dalam dunia yang berubah. Kekekalan-Nya bukanlah keabadian pasif, tetapi keberadaan aktif yang menopang waktu. Karena Allah kekal, maka janji-janji-Nya kekal, kasih-Nya kekal, dan umat-Nya memiliki pengharapan yang kekal.
Komentar
Posting Komentar