Langsung ke konten utama

THEOLOGY PROPER 4 KEKEKALAN ALLAH

ETERNALITAS ALLAH


1. Penjelasan Doktrin:

Eternalitas berasal dari kata Latin aeternitas, yang berarti "kekekalan." Doktrin ini menyatakan bahwa Allah tidak terbatas oleh waktu, tidak memiliki awal atau akhir, dan tidak berubah oleh perjalanan waktu.

Mazmur 90:2 – “Sebelum gunung-gunung dilahirkan dan bumi serta dunia diperanakan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah.”

Allah ada dalam kekekalan. Dia bukan hanya lebih tua dari waktu, tapi Ia juga pencipta waktu, dan tidak dikendalikan olehnya.

Implikasi utamanya adalah Allah selalu ada, tidak pernah “menjadi” sesuatu.

Ia melihat segala sesuatu secara serentak, masa lalu, sekarang, dan masa depan hadir di hadapan-Nya sebagai satu kesatuan.

Ia tidak berkembang, karena Ia sudah sempurna dari kekal.

2. Pandangan Agama/Worldview Lain:

a. Panteisme (Hinduisme, Zen, dll):

Mengaburkan kekekalan dengan pengulangan atau siklus waktu (samsara). Dalam pandangan ini, tidak ada kekekalan pribadi, hanya aliran kesadaran atau semacam eksistensi tak-berujung.

b. Buddhisme:

Banyak aliran Buddhisme tidak mengakui Tuhan pribadi dan menyatakan bahwa realitas itu tidak kekal (termasuk makhluk surgawi). Kekekalan bukan sifat suatu pribadi ilahi, tapi pencapaian nirwana yang tak tergambarkan, tanpa waktu, tanpa kepribadian.

c. Islam:

Allah dikatakan kekal, tetapi dalam praktiknya, sering muncul ketegangan antara kehendak-Nya yang bisa berubah dengan kekekalan-Nya. Misalnya, Allah bisa membatalkan ayat sebelumnya (naskh), yang menunjukkan perubahan dalam kehendak-Nya.

d.Filsafat Naturalistik Materialistik, dan Ateisme:

Waktu adalah absolut, dan tidak ada yang kekal. Alam semesta muncul dari kebetulan dan akan berakhir. Tidak ada pribadi kekal; hanya materi yang berubah-ubah.

3. Tanggapan Kristen:

1. Allah adalah Pencipta waktu (Kejadian 1:1)

“Pada mulanya” – waktu dimulai. Sebelum itu, Allah sudah ada. Artinya, kekekalan-Nya tidak pasif, tapi aktif: Ia menciptakan waktu dan menopangnya.

2. Kekekalan Allah menyatakan keunggulan-Nya:

Tidak ada ciptaan yang kekal secara mutlak. Bahkan malaikat pun adalah makhluk. Hanya Allah yang tidak diciptakan dan tidak berbatas oleh waktu.

3. Yesus Kristus adalah Allah kekal dalam daging:

Yohanes 1:1–3, Kolose 1:17 — Ia ada sebelum segala sesuatu dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan.

4. Bantahan terhadap Pandangan Lain (Reductio ad Absurdum):

a. Panteisme dan Buddhisme (Zen):

Jika realitas adalah siklus atau ilusi, maka tidak ada dasar untuk stabilitas makna. Tanpa pribadi kekal, maka makna hidup hanyalah rangkaian peristiwa fana. Ini menyebabkan kontradiksi: mereka berbicara tentang pencerahan abadi dalam sistem yang menyangkal keberadaan kekekalan pribadi.

Reduksi:

Jika segala sesuatu adalah ilusi atau siklus, maka bahkan klaim kebenaran mereka tentang kekekalan tidak bisa benar. Ilusi tak bisa menghasilkan pengetahuan sejati.

Kalau tak ada pribadi kekal, maka tak ada dasar bagi relasi kasih yang kekal.

b. Islam:

Ketika Allah bisa berubah dalam kehendak-Nya (dengan pembatalan wahyu sebelumnya), maka Ia tunduk pada waktu dan perubahan. Ini bertentangan dengan klaim kekekalan.

Reduksi:

Jika kehendak Allah bisa berubah, maka Allah tidak sempurna (karena sempurna tak berubah).

Jika Allah berubah, maka kekekalan-Nya tidak mutlak, dan ini meniadakan keandalan-Nya.

c. Naturalisme/Ateisme:

Jika tidak ada pribadi kekal, maka eksistensi manusia hanyalah hasil kebetulan yang nihilistik. Waktu menjadi mutlak tapi tanpa makna. Semua kesadaran akan hancur.

Reduksi:

Jika waktu dan alam semesta tak kekal dan tanpa tujuan, maka tidak ada alasan untuk percaya bahwa rasio kita bisa memahami kebenaran.

Maka, bahkan argumen mereka untuk menolak kekekalan menjadi tak punya pijakan rasional.

Kesimpulan:

Allah yang kekal adalah satu-satunya dasar kepastian dalam dunia yang berubah. Kekekalan-Nya bukanlah keabadian pasif, tetapi keberadaan aktif yang menopang waktu. Karena Allah kekal, maka janji-janji-Nya kekal, kasih-Nya kekal, dan umat-Nya memiliki pengharapan yang kekal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

BANTAHAN TERHADAP SERANGAN NGAWUR ROMO PATRIS ALEGRO

( Disclaimer : Tulisan ini tidak bermaksud memantik api permusuhan terhadap saudara-saudara dari Khatolik Roma, melainkan adalah sebuah bentuk pembelaan iman (Apologetika) atas serangan ngawur yang dilakukan secara masif oleh seorang oknum Romo dari Gereja Khatolik Roma, dengan akun Facebook bernama Patris Alegro. Di salah satu utas terbarunya, di Facebook, tertanggal: Selasa 22 Juli 2025. Romo Patris secara ngawur mengkritik istilah "Sola" yang digunakan oleh Protestan. Setelah membaca statusnya, saya melihat bahwa kritikan yang dibangun oleh Romo Patris lebih mencerminkan ketidakpahaman Romo Patris atas doktrin "Sola" ketimbang kritikan yang didasari oleh reductio ad absurdum. Di bawah ini saya tampilkan tulisan utuh dari Romo Patris yang dicopas dari akun facebooknya, serta tanggapan saya atas tulisan tersebut. TULISAN ROMO PATRIS ALEGRO Mengapa ada lima “sola” padahal “sola” artinya “hanya satu”?.  Mari kita bongkar ini secara logis, etimologis, dan teologis, la...

Allah Maha Kuasa Bukan Maha Kontradiksi

Oleh: Dionisius Daniel Goli Sali Pagi ini, sambil ngopi dan menunggu orderan Maxim, aku iseng buka YouTube dan menonton pengajaran teologi dari channel YouTube Verbum Veritatis yang dikelola oleh Pak Deky Nggadas. Tema dari pengajaran Pak Deky adalah tentang Divine Simplicity And The Trinity (Kesederhanaan Allah Dan Trinitas).  Secara garis besar, poin pengajaran Pak Deky adalah Allah Kristen itu simplisitas (Sederhana). Sederhana yang dimaksud Pak Deky, bukan berarti bahwa Allah Kristen itu bisa dipahami secara utuh tanpa harus meninggalkan ruang bagi hal-hal yang menjadi misteri untuk akal manusia. Melainkan, dalam natur-Nya Allah itu tidak terbagi. Meskipun Allah memiliki bermacam-macam atribut, seperti: maha kuasa, maha kasih, maha adil, kekal, dan lain sebagainya. Tapi atribut-atribut itu bukanlah komponen-komponen yang terpisah dalam diri Allah. Melainkan atribut itu adalah natur-Nya. Jadi, Allah bukan hanya Allah yang memiliki kasih, tapi Allah adalah kasih. Allah bukan hany...

MEMBEDAH RUMUSAN TRITUNGGAL ALA ELIA MYRON

Oleh : Dionisius Daniel Dalam sebuah video dari kanal YouTube Tiga Hari. Elia Myron seorang apologet muda terlihat sedang mengajarkan doktrin Tritunggal. Namun yang menarik disini adalah, rumusan Tritunggal yang diajarkan oleh Elia Myron ini, terindikasi menyimpang dari rumusan Tritunggal yang ortodoks yang telah dipegang oleh Gereja sepanjang sejarah. Elia mendasari pengajaran Tritunggalnya dengan mengutip Ulangan 6:4, dan 1 Korintus 8:6 Ulangan 6:4 (TB) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  1 Korintus 8:6 (TB) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.  Berdasarkan dua ayat ini Elia membangun premis bahwa Allah itu pada hakikatnya adalah esa, dan Allah yang esa ini adalah sang Bapa. Mengapa Allah yang esa ini disebut Bapa? Karena menurut Elia,...