Langsung ke konten utama

THEOLOGY PROPER 3 IMUTABILITAS ALLAH

Imutabilitas Allah 


1. Apa yang dimaksud dengan Imutabilitas Allah?

Imutabilitas adalah sifat Allah yang menyatakan bahwa Allah tidak berubah dalam sifat, karakter, atau tujuan-Nya. Allah adalah kekal dan tidak mengalami perubahan baik dalam esensi-Nya, kehendak-Nya, atau dalam cara-Nya bertindak di dunia. Allah tetap sama dari kekal hingga kekal.

“Aku adalah Allah yang tidak berubah” (Maleakhi 3:6)

Imutabilitas Allah menunjukkan bahwa Allah tidak bisa bertambah atau berkurang dalam kesempurnaan-Nya. Dia tidak terpengaruh oleh waktu atau perubahan situasi. Keberadaan-Nya yang tetap adalah sumber kestabilan bagi seluruh ciptaan.

---

2. Dasar Alkitabiah:

Yakobus 1:17 – "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna datangnya dari atas, dari Bapa segala terang, yang tidak berubah atau berputar karena bayangan."

Mal 3:6 – "Sebab Akulah TUHAN, yang tidak berubah; karena itu kamu, anak-anak Yakub, tidak binasa."

Ibrani 13:8 – "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin, maupun hari ini, maupun sampai selama-lamanya."

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Allah tidak berubah dalam sifat, karakter, atau kehendak-Nya. Imutabilitas-Nya memastikan bahwa Dia adalah sumber ketenangan dan keyakinan bagi umat-Nya. Jika Allah berubah, maka iman kita akan goyah, karena kita tidak bisa tahu apa yang akan datang dari-Nya.

---

3. Implikasi Teologis dan Filosofis :

a. Keterjaminan Firman Allah

Jika Allah berubah, maka kita tidak bisa bergantung pada janji-Nya. Namun karena Dia tidak berubah, firman-Nya tetap sama dan dapat dipercaya. Apa yang Dia katakan hari ini akan tetap berlaku esok hari.

b. Ketidakberubahan dalam Kehendak-Nya

Kehendak Allah tidak berubah. Dia telah menetapkan tujuan yang pasti bagi dunia dan ciptaan-Nya. Allah tidak mengambil keputusan yang tergantung pada situasi atau emosi.

c. Keabadian Allah

Allah adalah kekal. Dengan kata lain, Allah tidak terikat oleh waktu, dan eksistensi-Nya tidak dipengaruhi oleh penciptaan atau perubahan di dalam dunia ini. Allah tidak berusia, dan tidak mengalami penuaan atau kerusakan.

---

4. Pandangan Filsafat Non-Kristen vs. Imutabilitas :

Panteisme : Panteisme mengajarkan bahwa Allah atau Tuhan ada dalam segala ciptaan, yang berarti ada perubahan konstan dalam manifestasi Allah melalui alam semesta.

Bantahan Kristen : Imutabilitas Allah menolak panteisme. Allah adalah transenden dan tidak identik dengan ciptaan. Allah tidak berubah menjadi ciptaan atau terpengaruh oleh proses alamiah. Keberadaan-Nya tetap ada di luar dunia fisik.

Deisme : Deisme berpendapat bahwa Allah menciptakan dunia tetapi tidak terlibat setelah penciptaan. Jadi, meskipun Allah dapat menciptakan, Dia tidak berinteraksi dengan ciptaan-Nya.

Bantahan Kristen : Imutabilitas Allah menolak pandangan ini karena Allah yang tidak berubah tetap terlibat aktif dalam ciptaan-Nya. Allah yang tidak berubah adalah Allah yang selalu bekerja dalam dunia, menjaga ciptaan-Nya dan terlibat dalam sejarah umat manusia.

Ateisme : Dalam ateisme, tidak ada entitas yang menetapkan atau mempertahankan hukum alam atau moralitas, dan alam semesta dianggap sebagai hasil dari proses alamiah dan kebetulan.

Bantahan Kristen : Tanpa Allah yang tidak berubah, konsep moralitas dan hukum alam tidak dapat dijelaskan atau dipertanggungjawabkan. Jika tidak ada entitas mutlak yang tetap, maka nilai-nilai moral pun menjadi relativistik dan berubah-ubah.

Islam : Dalam pandangan Islam, Allah juga diyakini tidak berubah (Mutakallimun, prinsip ketidakberubahan sifat Allah). Namun, dalam pandangan Islam, sifat Allah lebih difokuskan pada keagungan dan ketidakberubahan-Nya, yang lebih dimotivasi oleh otoritas-Nya.

Bantahan Kristen : Meskipun Islam mengakui ketidakberubahan Allah, dalam pemahaman Kristen, konsep imutabilitas lebih menyeluruh dalam hubungan Allah dengan umat-Nya. Allah tidak hanya tidak berubah dalam diri-Nya, tetapi juga tetap setia dalam rencana keselamatan-Nya, termasuk melalui Yesus Kristus yang tidak berubah dan tetap menyelamatkan.

---

5. Bantahan Reductio ad Absurdum terhadap Pandangan Non-Kristen:

Panteisme :

Jika Allah adalah ciptaan dan ciptaan adalah Allah, maka segalanya akan berubah bersama dunia ini. Jika Allah mengalami perubahan, maka kita tidak bisa mengetahui sifat Allah dengan pasti. Namun, jika Allah yang sebenarnya adalah penyebab pertama yang tidak berubah, maka semua ciptaan tidak dapat dijadikan ukuran atau penentu identitas Allah. Panteisme akhirnya akan menciptakan ketidakpastian dalam memahami Tuhan yang sebenarnya.

Deisme :

Jika Allah menciptakan dunia dan kemudian meninggalkan ciptaan-Nya tanpa intervensi lebih lanjut, maka kita tidak dapat bergantung pada ketidakberubahan Allah untuk memberikan pengharapan dan bimbingan. Tanpa keterlibatan Allah dalam dunia ini, bagaimana kita bisa yakin bahwa dunia bergerak menuju tujuan yang benar? Dengan kata lain, jika Allah tidak terlibat dalam hidup kita, kita tidak akan punya dasar yang tetap untuk moralitas dan keadilan, yang akan mengarah pada kesia-siaan dan kebingungannya.

Ateisme :

Jika tidak ada Allah yang tidak berubah dan mutlak, maka sumber dari semua moralitas dan ketertiban dunia ini menjadi sangat rapuh dan relatif. Moralitas hanya menjadi produk dari kebiasaan atau konsensus sosial yang berubah. Jika tidak ada standar moral mutlak, maka prinsip kebaikan atau keburukan menjadi sewenang-wenang dan nihilistik, yang meruntuhkan dasar dari apa yang kita anggap benar atau salah.

---

6. Kesimpulan :

Imutabilitas Allah adalah doktrin penting yang mengajarkan bahwa Allah tidak berubah dalam segala aspek-Nya—baik itu sifat, kehendak, atau tindakan-Nya. Doktrin ini memberikan kita dasar yang teguh untuk memiliki keyakinan yang tidak tergoyahkan akan janji dan perbuatan Allah. Pandangan-pandangan lain yang mengajarkan perubahan atau keterlibatan terbatas dari Allah akan mengarah pada ketidakpastian dan kebingungannya. Dalam Kristus, kita menemukan Allah yang tidak berubah, yang selalu setia, dan yang memberikan pengharapan kekal kepada umat-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROVIDENSI ALLAH BUKAN ALASAN UNTUK BERDOSA

  Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   "Kalau Allah telah menetapkan segala sesuatu, dan apa yang ditetapkan Allah harus dan pasti terjadi, lalu mengapa tindakan berdosa manusia harus dihakimi?" Pertanyaan ini lahir dari kegagalan (kebingungan) dalam memahami providensi Allah. Apa itu providensi? Providensi adalah doktrin yang percaya bahwa Allah/Tuhan berdaulat penuh atas segala peristiwa yang terjadi di bawah kolong langit ini. Dengan kata lain tidak ada satupun peristiwa dalam bentang sejarah umat manusia yang luput dari kontrol dan kedaulatan Tuhan. Dan itu mencakup peristiwa yang baik maupun buruk (kejahatan) dalam kehidupan manusia. Sebagai landasan biblikalnya, kita akan melihat beberapa ayat di bawah ini. Misalnya tentang pemilihan orang percaya, ternyata Tuhan dalam kekekalan telah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi umat pilihan-Nya. "Di dalam Dia kami juga mendapat bagian, yang ditentukan dari semula menurut maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu ...

MEMBEDAH RUMUSAN TRITUNGGAL ALA ELIA MYRON

Oleh : Dionisius Daniel Dalam sebuah video dari kanal YouTube Tiga Hari. Elia Myron seorang apologet muda terlihat sedang mengajarkan doktrin Tritunggal. Namun yang menarik disini adalah, rumusan Tritunggal yang diajarkan oleh Elia Myron ini, terindikasi menyimpang dari rumusan Tritunggal yang ortodoks yang telah dipegang oleh Gereja sepanjang sejarah. Elia mendasari pengajaran Tritunggalnya dengan mengutip Ulangan 6:4, dan 1 Korintus 8:6 Ulangan 6:4 (TB) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  1 Korintus 8:6 (TB) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.  Berdasarkan dua ayat ini Elia membangun premis bahwa Allah itu pada hakikatnya adalah esa, dan Allah yang esa ini adalah sang Bapa. Mengapa Allah yang esa ini disebut Bapa? Karena menurut Elia,...

Obrolan Serius: Membongkar Kekeliruan Tritunggal yang Sering Diabaikan

Oleh : Dionisius Daniel   Kali ini saya kembali membagikan diskusi singkat saya dengan seseorang di Facebook yang diduga adalah fans atau pendukung fanatik dari Elia Myron.  Saya memang belakangan ini sedang menulis artikel mengkritisi ajaran Tritunggal Elia Myron, yang menurut saya telah menyimpang dan tanpa sadar "nyemplung" ke bidat-bidat yang sudah ditolak oleh para Bapa-Bapa Gereja kita. Seperti Sabelianisme atau Subordinasisme ala Unitarian. Sebenarnya diskusi/perdebatan ini berawal dari postingan foto Pdt Esra Soru di Facebook, tertanggal, Minggu 18/05/2025. Di foto itu tampak Pdt Esra sedang bersama Elia Myron. (fotonya saya jadikan wallpaper artikel ini) Saya lalu spontan berkomentar: "Pak Esra tolong ajari Elia Myron itu agar mengajar Tritunggal dengan benar, soalnya ajaran Tritunggal dan konsep keselamatannya telah menyesatkan banyak orang". Alhasil tak butuh waktu lama, komentar saya langsung ditanggapi oleh pengguna facebook lain yang diduga adalah fans...