ASEITAS ALLAH
> Aseitas berasal dari bahasa Latin: “a se” = “dari diri sendiri”
---
1. Penjelasan Doktrin
Aseitas adalah sifat Allah yang menyatakan bahwa Ia ada oleh diri-Nya sendiri. Ia tidak berasal dari siapa pun, tidak diciptakan, dan tidak bergantung pada apa pun atau siapa pun di luar diri-Nya.
> Ia adalah "Being of Beings" — keberadaan mutlak, penyebab yang tidak disebabkan.
---
2. Dasar Alkitabiah
Keluaran 3:14 – “Aku adalah Aku” (YHWH)
Allah menyatakan eksistensi-Nya yang independen dan kekal.
Yohanes 5:26 – “Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri…”
Allah adalah sumber hidup—tidak menerima hidup, tetapi memiliki-Nya dari kekekalan.
---
3. Implikasi Teologis dan Filosofis
Allah tidak memiliki asal. Ia bukan bagian dari urutan sebab-akibat.
Allah tidak membutuhkan apa pun. Penciptaan bukan karena kekurangan, tetapi karena kehendak bebas.
Allah adalah sumber segala sesuatu. Ia menopang dan memelihara segala yang ada.
---
4. Pandangan Worldview Lain + Tanggapan + Reductio ad Absurdum
---
A. Islam
Pandangan :
Islam mengakui bahwa Allah bersifat mandiri (Al-Qayyum), tapi dalam konsep Tawhid yang ekstrem, Allah dipisahkan dari relasi pribadi, khususnya Trinitas. Dalam Qur’an, Allah adalah satu pribadi yang transenden total dan tidak bisa dikenal secara langsung.
Tanggapan Kristen :
Tanpa Trinitas, kasih tidak mungkin eksis secara kekal di dalam diri Allah. Kasih memerlukan objek. Jika Allah adalah satu pribadi dari kekekalan, maka Dia tidak bisa menjadi kasih dalam esensinya.
Reductio ad Absurdum :
Jika Allah itu Esa secara numerik dan pribadi, maka sebelum mencipta, Dia bukan Pribadi yang mengasihi. Artinya, sifat kasih-Nya tidak kekal—bertentangan dengan klaim bahwa Allah adalah kasih.
> Allah menjadi tergantung pada ciptaan untuk mengekspresikan kasih = tidak aseatik = bukan Allah.
---
B. Panteisme / Panenteisme (New Age, Hindu, dsb.)
Pandangan :
Segala sesuatu adalah Allah, atau segala sesuatu ada di dalam Allah. Batas antara ciptaan dan Tuhan kabur.
Tanggapan Kristen :
Aseitas mengajarkan bahwa Allah adalah transenden, bukan bagian dari ciptaan. Ia adalah "being above all beings", bukan "the all".
Reductio ad Absurdum :
Kalau segala sesuatu adalah Allah, maka kejahatan, kebusukan, dan absurditas pun adalah bagian dari Allah.
> Ini menghasilkan kontradiksi dalam natur Allah : Allah menjadi tidak suci, tidak sempurna, berubah-ubah—dan akhirnya, tidak layak disebut Allah.
---
C. Buddhisme (khususnya Mahayana & Zen)
Pandangan :
Realitas tertinggi bukan Allah pribadi, tapi kekosongan (Sunyata) atau pencerahan impersonal. Tidak ada diri sejati (anatta), tidak ada pencipta personal.
Tanggapan Kristen :
Aseitas menyatakan bahwa realitas tertinggi adalah Pribadi yang eksis secara absolut dan aktif. Kekosongan tidak bisa menciptakan, menopang, atau memberi makna.
Reductio ad Absurdum :
Jika "segala sesuatu adalah ilusi" dan "diri tidak ada", maka :
Tidak ada dasar untuk logika, identitas, bahkan ucapan “tidak ada diri” itu sendiri.
> Ucapan "semua ilusi" juga menjadi ilusi.
Maka sistem ini menelan dirinya sendiri secara logis.
---
D. Zen / Mistisisme Timur
Pandangan :
Mengutamakan pengalaman langsung akan "kekosongan" atau "kesadaran murni", menolak konsep Allah sebagai pribadi.
Tanggapan Kristen :
Pengalaman subjektif tidak bisa dijadikan dasar ontologi mutlak. Aseitas bukan soal pengalaman manusia, tapi eksistensi Allah yang objektif.
Reductio ad Absurdum :
Jika realitas tertinggi adalah pengalaman, maka setiap orang menciptakan Tuhan-nya sendiri. Maka tidak ada kebenaran obyektif.
> Tapi klaim "tidak ada kebenaran objektif" adalah klaim objektif itu sendiri.
Jadi worldview ini menghancurkan dirinya sendiri.
---
E. Deisme
Pandangan :
Allah menciptakan dunia lalu membiarkannya. Ia mandiri tapi tidak terlibat.
Tanggapan Kristen :
Allah aseatik dan imanen. Ia menopang dan memelihara terus-menerus (Kolose 1:17).
Reductio ad Absurdum :
Jika Allah tidak menopang, maka ciptaan tidak bisa tetap eksis.
> Dunia bergantung pada keberadaan saat ini, bukan hanya penciptaan di masa lalu.
Maka deisme tidak bisa menjelaskan eksistensi yang berlanjut sekarang.
---
F. Ateisme / Naturalisme
Pandangan :
Tidak ada Allah. Alam semesta ada secara mandiri atau muncul dari “ketiadaan”.
Tanggapan Kristen :
Aseitas menyatakan hanya Allah yang bisa eksis oleh diri-Nya sendiri. Alam semesta tidak mungkin eksis tanpa sebab.
Reductio ad Absurdum :
Ateisme percaya bahwa segala sesuatu berasal dari ketiadaan tanpa sebab.
> Tapi dari "nothing" mustahil muncul "something".
Juga : jika alam semesta muncul dari kebetulan, maka pikiran dan logika pun adalah kebetulan.
Maka klaim ateisme sendiri tidak bisa dipercaya secara logis
---
5. Kesimpulan
> Allah adalah Pribadi yang aseatik, eksis oleh diri-Nya sendiri, dari kekal sampai kekal.
Hanya dalam Allah Alkitab, kita menemukan dasar keberadaan, logika, moralitas, dan kasih sejati.
Tanpa Dia, semua sistem runtuh ke dalam absurditas dan kontradiksi.
Komentar
Posting Komentar