Langsung ke konten utama

💫

Pluralisme Agama dan Bahayanya Bagi Iman Kristen: Sebuah Tanggapan Terhadap Pernyataan Pdt. Gilbert Lumoindong

Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali 



Sesuai judulnya, tulisan ini berangkat dari percakapan antara Pdt Gilbert Lumoindong bersama dr Richard Lee dalam sebuah Podcast di kanal YouTube dr Richard Lee.

Wawancara yang berdurasi sekitar 55 menit itu memuat konten teologis yang sangat mendasar dalam iman Kristen yaitu doktrin keselamatan (Soteriologis).

Dalam sesi podcast itu, dr Richard mengajukan beberapa pertanyaan krusial terhadap Pdt Gilbert, dan dijawab dengan kompromis oleh Pdt Gilbert.

Disini Pdt Gilbert memang tampak tidak tegas, abu-abu, dan mengkompromikan kebenaran. Saya tidak tahu apakah jawaban dari beliau ini memang menegaskan posisi teologisnya sebagai seorang pluralis, atau hanya cari aman, sehingga tampak seperti bunglon.

Atau mungkin sikap kompromistis Pdt Gilbert ini karena dia trauma dengan kejadian beberapa waktu lalu, ketika dia tertangkap slip of tongue menyinggung Islam dalam sebuah khotbah. Dan untuk membayar itu Gilbert harus memohon maaf sampai cium tangan Jusuf Kalla.

Tapi apapun alasannya, Gilbert Lumoindong telah melakukan suatu blunder yang fatal, dan pandangan yang beliau sampaikan dalam Podcast itu bukanlah pandangan Alkitab melainkan pandangan sesat pluralisme.

Kita akan mengupas tentang apa itu paham Pluralisme, Inklusifisme, Universalisme, dan Ekslusifisme, Tapi sebelumnya, mari kita kutip beberapa penggalan percakapan antara Pdt Gilbert dan Richard Lee di bawah ini :

Gilbert Lumoindong : "Kita jujur dulu surga itu ada berapa? Ada gak pengumuman, Budha ya oh surganya ada disitu, Kristen ya oh ada di sebelah situ, kau Muslim yang tengah itu yang agak besar, Hindu ya, yang agak kecil. Kan gak mungkin surga itu cuma satu, Tuhannya satu."

Richard Lee : "Pak Pdt, kalau Tuhan itu satu, berarti empat dari lima agama di Indonesia ini ada yang salah."

Gilbert Lumoindong : "Nggak, karena yang pertama God is God Dia terlalu luas untuk dibatasi oleh satu yang bernama agama. Agama itu kan sama seperti orang pegang gajah kan, yang satu dia pegang kakinya, lalu dia bilang wah Tuhan itu seperti pohon yang besar, satu pegang ekor, dia bilang ah Tuhan itu kecil halus, lembut sekali, yang satu pegang kuping, dia bilang ah Tuhan itu luas tapi tipis, nah yang mana Tuhan? Terus apakah gajahnya marah-marah wah kamu salah. Gak gajahnya senyum-senyum aja gitu, it's me. Saya percaya manusia selama masih terbatas di muka bumi, dia hanya bisa mengerti part of God, cannot full of God. Gak bisa seluruh ketuhanan yang dia mengerti paling hanya sebagian kecil.

Richard Lee : Ok saya tanya sedikit pak Pdt ya, kalau di agama Kristen sendiri yang masuk surga itu siapa?

Gilbert Lumoindong : Yang Dia mau!. Yang Dia mau aja, kan surga punya Dia. Kan kita sekarang udah kayak agen surga kan?. Yang bisa masuk surga hanya A B C. Kenyataannya tu apa yang Tuhan mau. Oke sekarang yang dr. Richard Practice adalah muslim, sepanjang hidup doa, puasa, taat agama dan sebagainya, tiba-tiba goyang stress gitu, murtad sebentar, minum mabuk, judi, selingkuh. Tabrakan mati masuk surga gak? Kan akhirnya gak benar. Semuanya sia-sia kan?. Sebaliknya, dulunya minum mabuk, judi, selingkuh, lalu menit terakhir dia dengar adzan, dia memutuskan ah gue mau berdoa lah minta ampun sama Tuhan. Sungguh-sungguh di menit terakhir mati. Dia naik pesawat jatuh itu pesawat, nah masuk surga kan dia. Kristen kan juga begitu.

Richard Lee : Oke Pak Pdt misalnya ada orang pindah agama dari Kristen ke Islam, mualaf begitu, bisa gak dia masuk surga versi Kristen?

Gilbert Lumoindong : Kita clear dulu, gak ada surga versi Kristen. Dalam Kristen ada dua. Ada yang bilang wah dr Richard itu murtad, tapi yang kedua di Alkitab dibilang anak yang hilang. Anak yang hilang itu lari, lari aja gitu. Kenapa dia lari? Bukan karena dia jahat, tapi mau mencari, tapi dalam Alkitab dibilang Bapa menunggu. Kapan waktunya? Ya waktunya Bapa. Nah menunggunya apa? Harus tunggu dr Richard masuk Kristen gak? Nah pertanyaannya gini simpel aja semua orang Kristen pasti masuk surga gak?

Dari kutipan percakapan Pdt Gilbert dan Richard Lee diatas, bisa disimpulkan bahwa Gilbert Lumoindong sedang mengajarkan paham Pluralisme, entah itu adalah pandangan pribadi atau sekedar trik cari aman.

Lalu apa itu Pluralisme? Pluralisme adalah pandangan yang menganggap bahwa semua agama di dunia ini bisa menyelamatkan. Jadi kekristenan bukanlah satu-satunya jalan untuk memperoleh keselamatan. Setiap agama di dunia ini mempunyai keselamatan dalam versi masing-masing, asal penganut agama tersebut taat dalam keagamaannya. Jadi ibarat kata pepatah "ada banyak jalan menuju Roma". Atau ibarat mendaki ke puncak gunung, setiap orang bisa mendaki dari mana saja, toh ujung-ujungnya akan tetap tiba pada puncak yang sama.

Selain Pluralisme ada juga pandangan lain yang hampir mirip dengan pluralisme, tapi lebih licin dan halus. Jika pluralisme masih terlihat hitam dan putih, maka paham ini terlihat abu-abu. Sehingga dibutuhkan kepekaan teologis untuk mendeteksinya.

Jika Pluralisme mengklaim bahwa semua agama bisa menyelamatkan. Maka pandangan yang satu ini berkata bahwa hanya Yesus yang menyelamatkan, tapi untuk memperoleh keselamatan kita tidak perlu menjadi orang Kristen, sebab kuasa pengorbanan Yesus dapat menyelamatkan setiap orang dalam agamanya. Dengan kata lain seorang Hindu tak perlu menjadi Kristen agar selamat, Yesus menyelamatkan dia dalam kehinduannya. Pandangan ini disebut Inklusivisme.

Pandangan berikutnya adalah Universalisme. Pandangan ini hampir mirip dengan Inklusivisme, pandangan ini percaya bahwa kuasa pengorbanan Yesus mampu menyelamatkan seluruh umat manusia tanpa terkecuali, baik yang percaya maupun yang tidak percaya.

Bagi penganut Universalisme, kasih Allah begitu besar sehingga pada akhirnya semua manusia akan dipulihkan dan diselamatkan.

Nah sekarang kita akan bantah pandangan sesat ini satu persatu. Dimulai dari Pluralisme.

Pluralisme mengklaim bahwa semua agama adalah jalan yang sah menuju Tuhan. Tidak ada satu agama yang bisa mengklaim kebenaran mutlak. Semua pemeluk agama yang taat akan selamat.

Klaim Pluralisme ini langsung bertentangan dengan klaim Yesus sendiri. Yesus tidak membuka kemungkinan ada jalan lain. Dia menutup semua alternatif selain diri-Nya. Yesus berkata bahwa :

"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6)

Jika semua agama benar, maka salib Kristus menjadi sia-sia. Mengapa Yesus harus menderita dan mati bila jalan keselamatan juga bisa dicapai lewat Islam, Hindu, Budha, Konghucu, dsb.

Jika semua agama benar, maka klaim agama yang saling bertentangan juga harus benar. Tapi itu mustahil bukan?. Misalnya klaim Kristen bahwa Yesus adalah Anak Allah dan satu-satunya Juruselamat, sedangkan Klaim Islam Yesus bukan Allah dan bukan juruselamat. Maka kedua klaim ini tak bisa benar secara bersamaan. Oleh sebab itu Pluralisme berkontradiksi pada dirinya sendiri.

Kedua, Inklusifisme. Nah klaim inklusifisme bahwa hanya Yesus yang menyelamatkan, tetapi orang bisa diselamatkan oleh Yesus tanpa sadar percaya kepada-Nya, bahkan melalui agama lain.

Klaim ini bertentangan dengan Alkitab, sebab Alkitab menuntut respon pribadi iman kepada Kristus. Tidak cukup hanya sekadar religius atau saleh. Rasul Paulus berkata:

"Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan." (Roma 10:9)

"Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah." (Ibrani 11:6)

Jadi, iman yang eksplisit dan sadar kepada Kristus adalah syarat keselamatan. Inklusifisme menghapuskan tuntutan iman dan pertobatan.

Kalau orang bisa diselamatkan tanpa mendengar Injil, maka lebih baik kita jangan menginjili, karena takutnya setelah mendengar tapi dia menolak, maka justru dia binasa (Yohanes 3:18). Maka Injil berubah menjadi kutukan. Ini bertentangan dengan Amanat Agung (Matius 28:19-20). Absurd, bukan?

Ketiga, Universalisme. Universalisme memandang bahwa karena Allah itu kasih, maka semua manusia pada akhirnya akan diselamatkan. Jadi tak peduli apapun agama mu, bahkan tak perlu beragama. 

Universalisme adalah tipuan paling lembut tapi mematikan. Ia menawarkan keselamatan tanpa salib, tanpa iman, dan tanpa kekudusan.

Lagipula jika semua orang diselamatkan, maka tidak perlu Injil, Tidak perlu salib, Tidak perlu iman, Tidak perlu pertobatan. Artinya Allah yang kudus menjadi Allah yang kompromis. Neraka hanya jadi dongeng. Maka keselamatan kehilangan makna, dan dosa tak lagi serius. Ini menghancurkan seluruh narasi Alkitab.

Nah setelah menimbang dan membantah ketiga pandangan populer tentang keselamatan (Pluralisme, Inklusifisme, dan Universalisme), maka kita sampai pada satu-satunya pandangan yang benar dan konsisten secara teologis dan logis, yaitu Eksklusivisme.

Apa itu Eksklusivisme?Eksklusivisme adalah pandangan bahwa hanya melalui Yesus Kristus seseorang bisa diselamatkan, dan iman eksplisit kepada-Nya adalah satu-satunya jalan keselamatan. Semua jalan lain tertutup.

Ini bukan sikap fanatik buta, melainkan tunduk pada kebenaran firman Tuhan. Alkitab tidak membuka ruang alternatif keselamatan melalui jalan lain, hanya satu Pribadi yang mampu menyelamatkan yaitu Yesus Kristus.

"Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Kisah Para Rasul 4:12)

"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6)

"Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup." (1 Yohanes 5:12)

Keselamatan bukan hasil usaha manusia (amal, perbuatan baik dsb) bukan pula hasil keberagamaan, tetapi pemberian Allah, anugerah yang hanya tersedia di dalam Kristus. Injil bukan sekadar kabar baik, Injil adalah satu-satunya kabar baik. Tanpa Injil, semua manusia akan binasa.

Eksklusivisme bukan keangkuhan tapi ketaatan. Kita tidak sedang mengklaim bahwa kita lebih hebat, tapi kita sadar bahwa hanya Kristus yang sanggup menyelamatkan kita.

Pernyataan Pdt. Gilbert dalam podcast bersama dr. Richard Lee, meskipun dibungkus dengan analogi dan bahasa yang "damai", pada intinya mengandung ajaran pluralisme yang bertentangan dengan iman Kristen. Ini bukan hal sepele, tetapi blunder teologis yang berbahaya.

Sebagai orang percaya, kita tidak dipanggil untuk menyenangkan manusia, tetapi untuk setia kepada Kristus.

"Sebab jika aku masih mau menyenangkan manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus." (Galatia 1:10)

Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan. Injil harus dikabarkan, bukan dikaburkan. Kebenaran tidak boleh dikompromikan bahkan oleh pendeta besar sekaliber Gilbert sekalipun.

SOLIDEO GLORYA.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROVIDENSI ALLAH BUKAN ALASAN UNTUK BERDOSA

  Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   "Kalau Allah telah menetapkan segala sesuatu, dan apa yang ditetapkan Allah harus dan pasti terjadi, lalu mengapa tindakan berdosa manusia harus dihakimi?" Pertanyaan ini lahir dari kegagalan (kebingungan) dalam memahami providensi Allah. Apa itu providensi? Providensi adalah doktrin yang percaya bahwa Allah/Tuhan berdaulat penuh atas segala peristiwa yang terjadi di bawah kolong langit ini. Dengan kata lain tidak ada satupun peristiwa dalam bentang sejarah umat manusia yang luput dari kontrol dan kedaulatan Tuhan. Dan itu mencakup peristiwa yang baik maupun buruk (kejahatan) dalam kehidupan manusia. Sebagai landasan biblikalnya, kita akan melihat beberapa ayat di bawah ini. Misalnya tentang pemilihan orang percaya, ternyata Tuhan dalam kekekalan telah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi umat pilihan-Nya. "Di dalam Dia kami juga mendapat bagian, yang ditentukan dari semula menurut maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu ...

MEMBEDAH RUMUSAN TRITUNGGAL ALA ELIA MYRON

Oleh : Dionisius Daniel Dalam sebuah video dari kanal YouTube Tiga Hari. Elia Myron seorang apologet muda terlihat sedang mengajarkan doktrin Tritunggal. Namun yang menarik disini adalah, rumusan Tritunggal yang diajarkan oleh Elia Myron ini, terindikasi menyimpang dari rumusan Tritunggal yang ortodoks yang telah dipegang oleh Gereja sepanjang sejarah. Elia mendasari pengajaran Tritunggalnya dengan mengutip Ulangan 6:4, dan 1 Korintus 8:6 Ulangan 6:4 (TB) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  1 Korintus 8:6 (TB) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.  Berdasarkan dua ayat ini Elia membangun premis bahwa Allah itu pada hakikatnya adalah esa, dan Allah yang esa ini adalah sang Bapa. Mengapa Allah yang esa ini disebut Bapa? Karena menurut Elia,...

Obrolan Serius: Membongkar Kekeliruan Tritunggal yang Sering Diabaikan

Oleh : Dionisius Daniel   Kali ini saya kembali membagikan diskusi singkat saya dengan seseorang di Facebook yang diduga adalah fans atau pendukung fanatik dari Elia Myron.  Saya memang belakangan ini sedang menulis artikel mengkritisi ajaran Tritunggal Elia Myron, yang menurut saya telah menyimpang dan tanpa sadar "nyemplung" ke bidat-bidat yang sudah ditolak oleh para Bapa-Bapa Gereja kita. Seperti Sabelianisme atau Subordinasisme ala Unitarian. Sebenarnya diskusi/perdebatan ini berawal dari postingan foto Pdt Esra Soru di Facebook, tertanggal, Minggu 18/05/2025. Di foto itu tampak Pdt Esra sedang bersama Elia Myron. (fotonya saya jadikan wallpaper artikel ini) Saya lalu spontan berkomentar: "Pak Esra tolong ajari Elia Myron itu agar mengajar Tritunggal dengan benar, soalnya ajaran Tritunggal dan konsep keselamatannya telah menyesatkan banyak orang". Alhasil tak butuh waktu lama, komentar saya langsung ditanggapi oleh pengguna facebook lain yang diduga adalah fans...