Judul : Kasih Sejati dalam Terang Allah Tritunggal: Sebuah Kajian Apologetika terhadap Worldview Ateis, Islam, Hindu, dan Buddhis
Pendahuluan : Dalam dunia yang pluralistik ini, hampir setiap orang setuju bahwa kasih adalah nilai yang penting. Namun, sedikit yang menyadari bahwa cara pandang (worldview) seseorang sangat menentukan makna dan realitas dari kasih itu sendiri. Apakah kasih itu sekadar emosi? Ilusi biologis? Atau bagian dari sifat ilahi yang kekal? Tulisan ini bertujuan menunjukkan bahwa hanya dalam Allah Tritunggal, kasih sejati memiliki dasar yang logis, konsisten, dan kekal.
I. Kasih dalam Worldview Kristen.
Kekristenan menyatakan bahwa "Allah adalah kasih" (1 Yohanes 4:8). Ini bukan hanya pernyataan fungsional, tetapi esensial. Allah yang esa dan Tritunggal (Bapa, Anak, dan Roh Kudus) telah hidup dalam kasih kekal bahkan sebelum dunia diciptakan. Kasih bukanlah sesuatu yang muncul karena ada makhluk ciptaan; kasih adalah sifat Allah sendiri. Kasih Allah diwujudkan paling sempurna dalam salib Kristus, di mana Allah mengasihi manusia berdosa bahkan ketika mereka masih menjadi musuh-Nya (Roma 5:8).
II. Kasih dalam Worldview Ateis
Dalam ateisme, realitas tertinggi adalah materi dan energi. Kasih dianggap sebagai hasil evolusi biologis untuk menjaga kelangsungan spesies. Dengan demikian, kasih tidak memiliki nilai objektif atau makna moral yang sejati. Ateis mungkin merasakan kasih, namun tidak memiliki dasar logis untuk menyebutnya "baik" secara mutlak. Dengan kata lain, kasih dalam ateisme hanyalah reaksi kimia di otak, tanpa arah, tujuan, atau nilai kekal. Mereka meminjam konsep kasih dari worldview Kristen tanpa menyadarinya.
III. Kasih dalam Islam
Islam mengenal Allah yang Maha Pengasih (Ar-Rahman) dan Maha Penyayang (Ar-Rahim), namun kasih ini bersifat kondisional. Allah hanya mengasihi orang yang bertakwa dan patuh. Tidak ada jaminan bahwa Allah mengasihi pendosa secara personal. Selain itu, karena Islam menolak konsep Tritunggal, Allah dalam Islam tidak pernah mengalami kasih dalam diri-Nya sebelum mencipta. Maka, kasih bukanlah sifat kekal dari Allah, melainkan hanya tindakan kehendak.
IV. Kasih dalam Hindu
Dalam Hinduisme, realitas tertinggi disebut Brahman—suatu entitas impersonal yang melampaui bentuk, pikiran, dan kepribadian. Tujuan tertinggi manusia adalah moksha, yaitu pembebasan dari siklus kelahiran kembali (samsara) dan penyatuan dengan Brahman. Dalam konsep ini, kasih tidak bersumber dari relasi pribadi antara Allah dan manusia, melainkan lebih merupakan jalan menuju penyatuan spiritual melalui disiplin, meditasi, dan pengabdian (bhakti).
Walaupun Hindu mengenal dewa-dewi personal seperti Krishna, Shiva, atau Vishnu, mereka dipandang sebagai manifestasi sementara dari Brahman yang impersonal. Praktik bhakti yoga (jalan kasih melalui pengabdian) menjadi sarana penting dalam spiritualitas Hindu, namun kasih di sini bersifat transenden dan transpersonal, tidak berakar pada hubungan pribadi kekal seperti dalam Allah Tritunggal.
Akibatnya, kasih dalam Hindu lebih merupakan alat menuju pembebasan, bukan tujuan itu sendiri atau sifat dari realitas tertinggi. Ini membuat konsep kasih dalam Hindu bersifat tidak kekal dan tidak esensial, karena setelah moksha tercapai, dualitas antara penyembah dan yang disembah lenyap dalam kesatuan Brahman, yang secara esensial tidak berpribadi dan tidak berelasi.
Komentar
Posting Komentar