Langsung ke konten utama

💫

Judul : Kasih Sejati dalam Terang Allah Tritunggal: Sebuah Kajian Apologetika terhadap Worldview Ateis, Islam, Hindu, dan Buddhis


Pendahuluan : Dalam dunia yang pluralistik ini, hampir setiap orang setuju bahwa kasih adalah nilai yang penting. Namun, sedikit yang menyadari bahwa cara pandang (worldview) seseorang sangat menentukan makna dan realitas dari kasih itu sendiri. Apakah kasih itu sekadar emosi? Ilusi biologis? Atau bagian dari sifat ilahi yang kekal? Tulisan ini bertujuan menunjukkan bahwa hanya dalam Allah Tritunggal, kasih sejati memiliki dasar yang logis, konsisten, dan kekal.


I. Kasih dalam Worldview Kristen.

Kekristenan menyatakan bahwa "Allah adalah kasih" (1 Yohanes 4:8). Ini bukan hanya pernyataan fungsional, tetapi esensial. Allah yang esa dan Tritunggal (Bapa, Anak, dan Roh Kudus) telah hidup dalam kasih kekal bahkan sebelum dunia diciptakan. Kasih bukanlah sesuatu yang muncul karena ada makhluk ciptaan; kasih adalah sifat Allah sendiri. Kasih Allah diwujudkan paling sempurna dalam salib Kristus, di mana Allah mengasihi manusia berdosa bahkan ketika mereka masih menjadi musuh-Nya (Roma 5:8).


II. Kasih dalam Worldview Ateis

Dalam ateisme, realitas tertinggi adalah materi dan energi. Kasih dianggap sebagai hasil evolusi biologis untuk menjaga kelangsungan spesies. Dengan demikian, kasih tidak memiliki nilai objektif atau makna moral yang sejati. Ateis mungkin merasakan kasih, namun tidak memiliki dasar logis untuk menyebutnya "baik" secara mutlak. Dengan kata lain, kasih dalam ateisme hanyalah reaksi kimia di otak, tanpa arah, tujuan, atau nilai kekal. Mereka meminjam konsep kasih dari worldview Kristen tanpa menyadarinya.


III. Kasih dalam Islam

Islam mengenal Allah yang Maha Pengasih (Ar-Rahman) dan Maha Penyayang (Ar-Rahim), namun kasih ini bersifat kondisional. Allah hanya mengasihi orang yang bertakwa dan patuh. Tidak ada jaminan bahwa Allah mengasihi pendosa secara personal. Selain itu, karena Islam menolak konsep Tritunggal, Allah dalam Islam tidak pernah mengalami kasih dalam diri-Nya sebelum mencipta. Maka, kasih bukanlah sifat kekal dari Allah, melainkan hanya tindakan kehendak.


IV. Kasih dalam Hindu

Dalam Hinduisme, realitas tertinggi disebut Brahman—suatu entitas impersonal yang melampaui bentuk, pikiran, dan kepribadian. Tujuan tertinggi manusia adalah moksha, yaitu pembebasan dari siklus kelahiran kembali (samsara) dan penyatuan dengan Brahman. Dalam konsep ini, kasih tidak bersumber dari relasi pribadi antara Allah dan manusia, melainkan lebih merupakan jalan menuju penyatuan spiritual melalui disiplin, meditasi, dan pengabdian (bhakti).

Walaupun Hindu mengenal dewa-dewi personal seperti Krishna, Shiva, atau Vishnu, mereka dipandang sebagai manifestasi sementara dari Brahman yang impersonal. Praktik bhakti yoga (jalan kasih melalui pengabdian) menjadi sarana penting dalam spiritualitas Hindu, namun kasih di sini bersifat transenden dan transpersonal, tidak berakar pada hubungan pribadi kekal seperti dalam Allah Tritunggal.

Akibatnya, kasih dalam Hindu lebih merupakan alat menuju pembebasan, bukan tujuan itu sendiri atau sifat dari realitas tertinggi. Ini membuat konsep kasih dalam Hindu bersifat tidak kekal dan tidak esensial, karena setelah moksha tercapai, dualitas antara penyembah dan yang disembah lenyap dalam kesatuan Brahman, yang secara esensial tidak berpribadi dan tidak berelasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROVIDENSI ALLAH BUKAN ALASAN UNTUK BERDOSA

  Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   "Kalau Allah telah menetapkan segala sesuatu, dan apa yang ditetapkan Allah harus dan pasti terjadi, lalu mengapa tindakan berdosa manusia harus dihakimi?" Pertanyaan ini lahir dari kegagalan (kebingungan) dalam memahami providensi Allah. Apa itu providensi? Providensi adalah doktrin yang percaya bahwa Allah/Tuhan berdaulat penuh atas segala peristiwa yang terjadi di bawah kolong langit ini. Dengan kata lain tidak ada satupun peristiwa dalam bentang sejarah umat manusia yang luput dari kontrol dan kedaulatan Tuhan. Dan itu mencakup peristiwa yang baik maupun buruk (kejahatan) dalam kehidupan manusia. Sebagai landasan biblikalnya, kita akan melihat beberapa ayat di bawah ini. Misalnya tentang pemilihan orang percaya, ternyata Tuhan dalam kekekalan telah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi umat pilihan-Nya. "Di dalam Dia kami juga mendapat bagian, yang ditentukan dari semula menurut maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu ...

MEMBEDAH RUMUSAN TRITUNGGAL ALA ELIA MYRON

Oleh : Dionisius Daniel Dalam sebuah video dari kanal YouTube Tiga Hari. Elia Myron seorang apologet muda terlihat sedang mengajarkan doktrin Tritunggal. Namun yang menarik disini adalah, rumusan Tritunggal yang diajarkan oleh Elia Myron ini, terindikasi menyimpang dari rumusan Tritunggal yang ortodoks yang telah dipegang oleh Gereja sepanjang sejarah. Elia mendasari pengajaran Tritunggalnya dengan mengutip Ulangan 6:4, dan 1 Korintus 8:6 Ulangan 6:4 (TB) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  1 Korintus 8:6 (TB) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.  Berdasarkan dua ayat ini Elia membangun premis bahwa Allah itu pada hakikatnya adalah esa, dan Allah yang esa ini adalah sang Bapa. Mengapa Allah yang esa ini disebut Bapa? Karena menurut Elia,...

Obrolan Serius: Membongkar Kekeliruan Tritunggal yang Sering Diabaikan

Oleh : Dionisius Daniel   Kali ini saya kembali membagikan diskusi singkat saya dengan seseorang di Facebook yang diduga adalah fans atau pendukung fanatik dari Elia Myron.  Saya memang belakangan ini sedang menulis artikel mengkritisi ajaran Tritunggal Elia Myron, yang menurut saya telah menyimpang dan tanpa sadar "nyemplung" ke bidat-bidat yang sudah ditolak oleh para Bapa-Bapa Gereja kita. Seperti Sabelianisme atau Subordinasisme ala Unitarian. Sebenarnya diskusi/perdebatan ini berawal dari postingan foto Pdt Esra Soru di Facebook, tertanggal, Minggu 18/05/2025. Di foto itu tampak Pdt Esra sedang bersama Elia Myron. (fotonya saya jadikan wallpaper artikel ini) Saya lalu spontan berkomentar: "Pak Esra tolong ajari Elia Myron itu agar mengajar Tritunggal dengan benar, soalnya ajaran Tritunggal dan konsep keselamatannya telah menyesatkan banyak orang". Alhasil tak butuh waktu lama, komentar saya langsung ditanggapi oleh pengguna facebook lain yang diduga adalah fans...