Langsung ke konten utama

CIRI-CIRI THEOLOGI LIBERAL

 Apa Ciri-Ciri Teologi Liberal?


Teologi Liberal pada dasarnya adalah gerakan yang menolak hal-hal yang dianggap sudah paten atau permanen dalam iman Kristen.

Teologi ini lahir dari semangat mempertanyakan kepercayaan-kepercayaan tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Jadi prinsip utamanya adalah mempertanyakan kembali doktrin yang sudah paten. "Apakah memang harus percaya seperti itu? Apakah itu benar? Ataukah mungkin ada penafsiran lain?"

Akibatnya, teologi liberal menolak otoritas final dari Firman Allah dan membuka ruang bagi berbagai penafsiran bebas atau penafsiran yang baru terhadap Alkitab.

Bagi teologi liberal, Alkitab bukanlah Firman Allah yang mutlak atau tak bisa salah, melainkan hanyalah kumpulan pengalaman religius manusia zaman dahulu yang penuh dengan kemungkinan kesalahan dan kekeliruan.

Nah berikut beberapa ciri khas dari teologi liberal:

1. Penolakan Terhadap Finalitas Firman Allah

Bagi Teologi Liberal, Alkitab dianggap bukan wahyu ilahi yang sempurna, melainkan sekadar catatan pengalaman religius di masa lampau. Mereka tidak percaya bahwa Alkitab adalah Firman Allah secara penuh dan mutlak.

2. Memandang Kejadian 1–11 Sebagai Dongeng atau Mitos

Kisah-kisah dalam Alkitab seperti penciptaan, air bah, dan Menara Babel dianggap hanya sebagai mitologi, bukan sejarah nyata.

Cerita-cerita ini dianggap hanyalah simbol atau "kiasan zaman kuno" untuk menyampaikan ide-ide moral tertentu.

3. Demitologisasi

Ide ini dipelopori oleh seorang tokoh Teologi Liberal bernama Rudolf Bultmann. 

Prinsipnya adalah buang unsur mitologis (dongengnya) dan ambil "inti kebenaran moral" yang tersisa.

Misalnya kisah mukjizat dalam Injil, tidak dianggap sungguh terjadi, melainkan hanya simbol tentang "kemenangan kebaikan."

Ilustrasinya sama Seperti kisah Malin Kundang dalam cerita rakyat — isinya dibaca bukan sebagai sejarah, tetapi hanya sebagai pesan moral tentang "jangan durhaka kepada orang tua, dsb."

4. Penolakan terhadap Dogma-Dogma Tradisional

Doktrin-doktrin Kristen seperti keilahian Kristus, kebangkitan tubuh, penghakiman terakhir, dianggap relatif dan terbuka untuk reinterpretasi.

5. Toleransi yang Kebablasan

Menolak klaim eksklusif Yesus Kristus sebagai satu-satunya jalan keselamatan.

Misalnya, nats dalam Yohanes 14:6 ("Akulah jalan, kebenaran, dan hidup...") dianggap tidak benar-benar diucapkan oleh Yesus. Atau, kalau diucapkan, Yesus dianggap keliru. (Contoh: pandangan tokoh liberal seperti Iones Rahmat.)

6. Pluralisme dan Universalisme

Menganggap semua agama dapat membawa kepada keselamatan. Sehingga tidak boleh ada satu agama yang punya klaim mutlak atas kebenaran.

7. Inklusifisme

Mengakui Yesus sebagai jalan keselamatan, tetapi percaya bahwa orang dari agama lain juga bisa selamat tanpa mengenal Yesus secara eksplisit. Dengan kata lain untuk memperoleh keselamatan orang dalam agama lain tak perlu "log-in" ke Kristen. Tuhan Yesus bisa menyelamatkan mereka dalam agama mereka.

Pandangan ini berimplikasi kepada Salvation By Works dan Universalisme :

A. Jika semua orang dari berbagai agama bisa selamat karena ketekunan dan kebaikannya, berarti keselamatan adalah hasil usaha manusia (salvation by works)?. Jika demikian, ini jelas bertentangan dengan doktrin keselamatan dalam iman Kristen bahwa keselamatan adalah kasih karunia Allah, dan bukan hasil usaha manusia. Efesus 2:8–9 (TB); Titus 3:5 (TB); Roma 11:6 (TB).

B. Jika semua orang otomatis diselamatkan, maka jatuh ke dalam Universalisme. Padahal Alkitab menolak Universalisme. Matius 7:13-14 (TB); Matius 25:46 (TB); Yoh 3:36 (TB); 2 Tesalonika 1:8-9 (TB); Wahyu 20:15 (TB).

8. Pemusatan pada Etika

Bagi Teologi liberal yang penting adalah "hidup baik," bukan pengakuan iman atau pengajaran doktrinal yang benar. Agama dikerdilkan hanya menjadi soal moralitas sosial, bukan soal kebenaran mutlak tentang Allah.

9. Banyak Sekolah Teologi Dosen dan Teologi yang Menganut Paham Liberal

Sayangnya, banyak sekolah-sekolah teologi, bahkan di Indonesia, sudah terjangkit paham liberal. Oleh karena itu, sangat penting untuk memilih sekolah teologi yang beraliran Injili atau Evangelikal.

Sekolah teologi liberal cenderung berpandangan ekumenikal dan longgar terhadap doktrin inti Kristen.

Kesimpulan:

Teologi liberal pada intinya adalah penolakan terhadap keunikan, otoritas, dan finalitas wahyu Allah.

Mereka lebih mengutamakan akal, perasaan, dan budaya manusia daripada kesetiaan pada kebenaran Alkitab.

Karena itu, sebagai orang Kristen yang setia pada Firman Tuhan, kita harus berhati-hati terhadap pengaruh teologi liberal ini, khususnya dalam pendidikan teologi maupun dalam kehidupan berjemaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

APAKAH KARENA YESUS BERASAL DARI ALLAH, MAKA DIA BUKAN ALLAH? (MENANGGAPI SERANGAN UST. SUBANDI T SUKOCO)

Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   Beberapa hari yang lalu, seseorang mengirimi saya sebuah video dan meminta tanggapan saya atas video itu. Setelah saya lihat-lihat, ternyata ini adalah cuplikan video dari YouTube Ust. Subandi T Sukoco. Siapakah orang ini? Subandi atau yang lebih dikenal dengan Gus Mbetik ini, adalah seorang pendakwah yang sudah sering terlibat dalam diskusi-diskusi lintas agama. Nah dalam cuplikan video yang berdurasi 2 menit 42 detik ini, Subandi memberikan argumentasinya untuk menolak ke-Tuhanan dan ke-Allahan Yesus. Menurut Subandi karena Yesus datang dari Allah maka Yesus pasti bukan Allah. Cuplikan lengkapnya bisa ditonton disini👇 Setelah menonton videonya, saya menemukan bahwa penolakan Ust. Subandi T Sukoco terhadap ke-Allahan Yesus didasari atas dua fakta ini : PERTAMA, KARENA YESUS DATANG DARI ALLAH MAKA DIA BUKAN ALLAH   Yohanes 9:33 (TB) Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa."  Menurut Ust. Subandi T Suko...

PELAJARAN MORAL DARI SADIO MANE

  Oleh : Dionisius Daniel Berposisi sebagai winger, skill dribel diatas rata-rata, speednya sangat kencang, insting mencetak golnya juga tinggi, ia berasal dari negara yang berjulukan "The Lions Of Teranga", sangat garang di atas lapangan, namun memiliki kepribadian yang "low profile". Dia juga peraih Socrates Award dalam penghargaan Ballon d'Or 2022, dan menjadi andalan lini depan Bayern Munchen saat ini. Siapakah dia? Iya, dia adalah Sadio Mane. Sadio Mane adalah seorang pesepak bola profesional asal Senegal. Ia lahir di kota Bambali, Sedhio, Senegal, pada tanggal 10 April 1992.  Ia berasal dari keluarga yang sangat sederhana, namun religius. Sejak kecil Mane sudah menunjukkan ketertarikan di olahraga sepak bola, namun ia tidak mendapatkan dukungan dari orang tuanya. Ayahnya yang juga adalah seorang imam masjid lebih menginginkan agar putranya menjadi guru. Di mata sang ayah dan keluarga, sepak bola tidak memiliki jaminan bagi masa depannya. Meski ...

PROVIDENSI ALLAH BUKAN ALASAN UNTUK BERDOSA

  Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   "Kalau Allah telah menetapkan segala sesuatu, dan apa yang ditetapkan Allah harus dan pasti terjadi, lalu mengapa tindakan berdosa manusia harus dihakimi?" Pertanyaan ini lahir dari kegagalan (kebingungan) dalam memahami providensi Allah. Apa itu providensi? Providensi adalah doktrin yang percaya bahwa Allah/Tuhan berdaulat penuh atas segala peristiwa yang terjadi di bawah kolong langit ini. Dengan kata lain tidak ada satupun peristiwa dalam bentang sejarah umat manusia yang luput dari kontrol dan kedaulatan Tuhan. Dan itu mencakup peristiwa yang baik maupun buruk (kejahatan) dalam kehidupan manusia. Sebagai landasan biblikalnya, kita akan melihat beberapa ayat di bawah ini. Misalnya tentang pemilihan orang percaya, ternyata Tuhan dalam kekekalan telah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi umat pilihan-Nya. "Di dalam Dia kami juga mendapat bagian, yang ditentukan dari semula menurut maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu ...