Shalom pembaca yang budiman.
Beberapa waktu lalu beta terlibat dalam diskusi menarik dengan seorang teman yang tampaknya menganut atau terpengaruh oleh pandangan panteisme, terutama konsep kesadaran non-dualistik. Diskusi ini bermula dari sebuah status WhatsApp yang menantang cara pandang dualistik umum yang selama ini kita pegang, cara pandang yang memisahkan realitas menjadi kategori-kategori yang berbeda dan berlawanan.
Teman ini, yang beta beri julukan Mr. Panteistik, mengajak beta untuk membuka pikiran pada kesadaran holistik dan kosmik yang melampaui dualisme, sebuah konsep yang menganggap perbedaan dan keberagaman hanyalah ilusi.
Namun, dalam dialog yang cukup panjang ini, beta menemukan sejumlah persoalan mendasar yang perlu dikritisi secara logis dan rasional, terutama terkait dengan bagaimana panteisme menjelaskan realitas dunia yang penuh keragaman dan kontradiksi. Apakah mungkin menolak dualisme dan tetap mempertahankan makna? Atau justru pendekatan non-dualistik ini membawa kita ke jurang kekosongan makna?
Dalam artikel ini, beta akan membagikan dialog serta analisis kritis terhadap pandangan panteistik tersebut, dengan tujuan membuka wawasan sekaligus menguji secara logis klaim-klaim yang sering dilontarkan dalam kesadaran non-dualistik. Semoga pembaca dapat melihat lebih jelas tantangan yang dihadapi panteisme dalam menjelaskan realitas dan makna kehidupan.
STATUS WHATSAPP
Sejujurnya mata anda mau 1 atau 2 sama saja sama-sama buta alias ilusi dalam memahami segala sesuatu yang ada kalau anda masih menggunakan kesadaran umum dualistik. Coba renungkan tanpa mata (pejamkan mata anda sejenak) tanpa keterikatan ke pihak kesadaran dualistik, coba gunakan kesadaran non dualistik kesadaran holistik kosmik memahami segala sesuatu apa adanya bukan direkayasa oleh konsep keyakinan jadul.
Setelah membaca story WhatsApp tadi beta lalu menanggapi.
Dionisius : Beta kurang paham apa definisi kesadaran menyeluruh (non dualistik) seperti yang bung maksudkan disini. Tapi kalau kesadaran non dualistik atau kesadaran kosmik yang dimaksudkan disini merujuk kepada pemahaman seperti panteistik, yang menolak dualisme, menolak partikularitas dan keberagaman. Kita dituntun kepada suatu kesadaran yang "murni", atau suatu keheningan yang murni atau kepada konsep kekosongan dari kekosongan, maka itu malah membawa kita kepada ketidak-bermaknaan. Menolak dualisme itu sama seperti dengan menolak makna.
Darimana kita tahu bahwa sesuatu itu warna putih, kalau tidak ada warna lain sebagai pembandingnya (bukan warna putih)?
Darimana saya tahu bahwa saya ini miskin, kalau tidak ada orang lain yang kaya sebagai antitesis dari keadaan miskin saya ini?
Darimana saya tahu bahwa saya ini adalah manusia, kalau tidak ada makhluk hidup lain yang bukan manusia sebagai pembandingnya?
Dari mana saya tahu bahwa saya ini adalah Dion (suatu pribadi yang unik) bukan Jose atau Domi atau Kobus yang adalah pribadi yang lain yang bukan saya?
Jadi makna realitas hanya bisa dipahami ketika ada dualisme, ketika ada kesatuan dan keberagaman. Menolak dualisme sebagaimana pandangan agama-agama dan filsafat timur yang bersifat panteistik dan nomistik hanya membawa kita kepada ketidak-bermaknaan.
Mr. Panteistik : Kesadaran non-dualistik mengajak kita untuk merasakan tingkat pemahaman yang lebih dalam, kasih sayang, dan keterbukaan terhadap kekayaan eksistensi, di luar batasan pemikiran dualistik. Ini adalah cara memandang realitas yang melampaui ilusi pemisahan dan memeluk kesatuan inheren dari segala sesuatu.
Pemahaman holistik dan kosmik tentang realitas, di mana segala sesuatu dipandang sebagai terhubung dan merupakan bagian dari kesatuan yang utuh.
Bayangkan bung menutup mata dan melepaskan diri dari keyakinan atau konsep yang kaku. Dalam keadaan ini, kita akan menyadari dunia tanpa filter dari gagasan-gagasan prasangka atau penilaian. kita akan merasakan keterhubungan dari semua makhluk hidup dan alam semesta itu sendiri, menggenggam segala sesuatu apa adanya, tanpa secara artifisial mengkategorikan atau mendefinisikannya.
Dionisius : Beta tidak tahu kenapa kesadaran non dualistik bisa membawa kita kepada pemahaman yang mendalam akan kasih sayang, atau segala hal yang bung sebutkan diatas. Kalau kesadaran yang non dualistik itu sendiri sebenarnya tidak bermakna?
Mr Panteistik : Non dualistik melampaui dualistik
Dionisius : Bagaimana kita bisa memahami sesuatu yang tidak terdefinisikan? Definisi ini kan berhubungan dengan makna. Definisi menunjukkan makna. Jika suatu konsep itu tidak perlu dikategorikan, tidak didefinisikan, lalu apa makna dari konsep itu? Maka itu akan membawa kita kepada suatu keheningan atau suatu kesadaran kosong yang tak bermakna.
Para penganut panteisme dengan konsep non dualistik mereka, sebenarnya mereka sedang memikul suatu beban pembuktian (boorden of proof) yang tidak bisa mereka jelaskan. Bagaimana mereka menjelaskan alam semesta ini dengan segala keragamannya?
Maka orang panteistik cocok hanya bertapa di dalam gua, mereka tak bisa diajak untuk berpikir rasional menjelaskan konsep mereka secara logis.
Mr. Panteistik : Dualistik (penganut dualisme) merasa terlalu digdaya karena kecenderungan mengkategorikan sebagai pembuktian akan eksistensinya.
Non-dualistik justru menurut saya sangat orisinil dalam memahami defenisi-definisi. Orang beragama harusnya non-dualistik
Dionisius : Coba Bung definisikan non dualistik yang bung maksudkan ini apa?
Hal ini membantu aku agak tidak terjebak dalam Strawman Fallacy. Atau salah menangkap gagasan atau maksud dari lawan diskusi.
Tapi kalau non dualistik yang bung maksudkan sebagaimana yang dipahami oleh filsafat atau agama-agama timur yang bersifat panteistik diatas.
Maka bung punya beban pembuktian untuk bagaimana menjelaskan realitas alam semesta yang beragam ini?
Mr. Panteistik : Realitas alam semesta yang beragam itu yang bagaimana? Coba dijelaskan dulu!.
Dionisius : Realitas keragaman yang bersifat dualisme seperti yang sudah saya sebutkan diatas. Bahkan ada aku ada kamu, ada kita ada mereka, mereka bukan kita, dan kita bukan mereka. Ada hitam dan putih, dan segala bentuk keragaman lainnya yang nyata di dunia ini.
Lalu tentang makna, makna harus mempresaposisikan kesatuan dan keragaman, menolak keragaman dan hanya menekankan kesatuan maka sama dengan menolak makna. Sebagai contoh darimana kita tahu bahwa ada warna yang namanya putih, kalau tidak ada warna lain yang bukan warna putih sebagai pembandingnya. Kalau semua warna itu sama, maka warna putih pun tidak bisa dikenal sebagai putih, warna putih ada, karena ada warna lain yang bukan putih.
Mr. Panteistik : Konsep yang saya pikirkan adalah saya tidak menentang kategorisasi tapi saya mengagungkan keterhubungan antara kategori ketika saya berada di titik sentral. Saya ingin melihat pengalaman itu, tapi harus tanggalkan pemikiran bahwa saya ini pintar atau punya banyak uang dan orang lain yang tidak. Saya juga tidak mau larut dalam defenisi miskin dan mengapa miskin. saya tidak menolak keberagaman dalam konsep dualistik.
Dionisius : Beta melihat ada beberapa istilah penting disini seperti, kategorisasi, keterhubungan antara kategori, dan titik sentral. Mungkin istilah-istilah ini harus didefinisikan secara jelas agar beta tidak salah menangkap gagasan bung.
Tapi kalau titik sentral yang dimaksud adalah bung berusaha untuk mengharmoniskan konsep-konsep atau pandangan-pandangan yang saling bertentangan antara satu dengan yang lain, maka ini sama seperti menjaring angin, tidak akan pernah bisa. Karena ini bertentangan dengan hukum logika yang menjadi dasar bagi kebenaran. A tidak bisa menjadi non A pada saat yang sama, dalam pengertian yang sama dan dalam relasi yang sama. Itu artinya kalau ada satu agama menganggap bahwa Yesus adalah Tuhan, sedangkan agama lain menolak Yesus sebagai Tuhan, dua pandangan ini tidak bisa sama-sama benar, jika yang satu benar maka yang lainnya harus salah.
Jadi ketika bung bilang bahwa bung berada di titik sentral lalu mau mengagungkan keterhubungan antara satu kategori dengan kategori yang lain, maka berdasarkan penjelasan saya diatas tentang hukum logika ini, titik sentral itu tidak akan pernah ada, dan kategori-kategori dualisme yang bernegasi itu tidak akan pernah bisa saling dihubungkan.
Nah demikianlah kutipan perdebatan kami diatas. Namun ada beberapa catatan dari beta berhubungan dengan perdebatan singkat ini.
Pertama, beta melihat orang ini hanya bisa mengklaim tapi tidak bisa menjustifikasi klaim-klaim nya, atau dengan kata lain dia tidak bisa memberikan alasan yang logis mengapa ia sampai pada kesimpulan bahwa non dualistik melampaui dualistik.
Kedua, pertanyaan beta tentang bagaimana dia bisa menjelaskan tentang realitas alam semesta ini yang satu dan beragam dengan mengacu kepada konsep panteistiknya, juga tidak dijawab.
Ketiga, sejak awal posisi orang ini adalah menolak dualisme sebagaimana pandangan agama-agama atau filsafat-filsafat timur, nah pandangan panteisme ini percaya bahwa Allah atau Tuhan itu sebenarnya menyatu dengan alam ini, bersifat impersonal, meresapi segala sesuatu, aku adalah Allah, kamu adalah Allah, semua adalah Allah. Jadi segala realitas dualisme yang kita lihat di dunia ini seperti miskin dan kaya, bahagia dan nestapa, besar dan kecil, hitam dan putih, adalah bersifat maya atau ilusi. Itu tidak nyata. Tapi setelah beta menunjukkan kemustahilan dari pandangannya dan meminta dia untuk menjelaskan realitas alam semesta yang beragam ini dengan konsep panteistiknya, dia kemudian mengelak dengan berkata bahwa dia tidak menolak keberagaman dalam konsep dualitas. Padahal diawal dia bilang bahwa cara pandang non dualisme itu adalah cara pandang yang melampaui dualisme dan ilusi pemisahan, jadi ada ketidakkonsisten disini, mulai goyang posisinya.
Terakhir, dia tidak bisa menjawab lagi setelah beta menunjukkan bahwa cara pandang non dualismenya atau cita-cita absurdnya untuk berada di titik sentral dan menghubungkan kategori-kategori yang berbeda atau bertentangan adalah cita-cita yang mustahil bisa diwujudkan karena hukum logika (non kontradiksi) tidak pernah mengijinkan itu terjadi.
Komentar
Posting Komentar