| Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali |
"Kebenaran itu relatif, kalau anda benar, maka orang lain juga benar, semuanya sama-sama benar. Jangan paksakan kebenaran anda pada orang lain, orang lain juga punya kebenarannya sendiri".
Sepenggal kalimat diatas sudah sering saya dengar, biasanya dari orang-orang yang mengaku diri toleran dan "Open Minded". Orang-orang ini mengaku bahwa mereka terbuka pada pandangan yang lain. Orang-orang ini dalam konteks agama adalah orang-orang yang memiliki semangat ekumenikal yang tinggi dan cenderung agak anti terhadap pemikiran yang konservatif. Mereka ekumenikal, tapi ekumenikal yang kebablasan.
Sebagai seorang Kristen yang bercorak Calvinisme, saya dan mungkin kami (orang-orang Calvinis secara umum) memiliki semacam semangat konservatif dalam diri kami dalam mempertahankan ajaran yang murni. Di era filsafat postmodernisme saat ini, spirit relativisme sepertinya sudah menjalar dan menggerogoti hampir di setiap aspek kehidupan manusia. Semangat anti kemapanan bercokol di setiap sendi-sendi kehidupan manusia, tak terkecuali agama. Penolakan terhadap suatu kebenaran yang mutlak telah membawa kita kepada suatu keadaan relatif yang tidak bermakna.
Akibatnya adalah spirit anti kebenaran yang mutlak ini berimplikasi kepada pembungkaman terhadap suara-suara kritis. Jadi kita sebagai orang Kristen tak boleh menyebut suatu ajaran lain (dalam iman Kristen) itu sesat, karena itu akan dianggap tidak toleran, walaupun sebenarnya ajaran itu benar-benar telah melenceng jauh dari kesaksian Alkitab dan rumusan Bapa-Bapa Gereja.
Sebagai contoh, belakangan ini kan viral lagi ajaran dari Erastus Sabdono tentang Kristologi. Sabdono membual dalam seri logosnya yang berjilid-jilid. Narasinya bahwa "Yesus adalah allah yang minor", "bukan juru selamat sejati" dan "hanya pribadi yang hanya dikenakan logos dsb", meskipun ajaran setan ini sudah jelas-jelas memberontak dan melawan Alkitab, kita tetap tak boleh membantah atau menyatakan dia sesat karena itu adalah kebenaran menurut Erastus Sabdono. Pendukung Sabdono juga mati-matian membelanya, beberapa diantara mereka berkomentar bahwa :
"Itukan tafsiran beliau, beliau juga ambil itu dari Alkitab, bukan dari buku primbon, jadi jangan paksakan bahwa tafsiran kita yang paling benar, kita bukan Tuhan, biarlah Tuhan yang maha agung yang akan menghakimi setiap kita dengan perbuatan kita dan bla bla bla"
Yang lain malah berusaha untuk merelatifkan kebenaran, dengan menggunakan analogi gambar diatas, gambar 6 atau 9 dan gambar balok 3 atau 4. Pesan gambar itu adalah bahwa kita tak boleh menyatakan Sabdono salah, apa yang kita anggap benar itu dari sudut pandang kita, dari sudut pandang Sabdono, ia juga melihat itu sebagai kebenaran, jadi sebenarnya kita dan dia sama-sama benar.
Di artikel ini saya tidak akan menanggapi poin-poin pandangan Sabdono diatas secara exegetical ataupun mengeksposisi ayat-ayat yang beliau kutip. jika anda mencari tanggapan secara ekposisi yang membahas tentang ajaran Erastus Sabdono, anda bisa mengakses tulisan-tulisan Pdt Budi Asali di websitenya golgota ministry, ataupun video-video Pdt Esra Soru maupun Dr Deki Nggadas (Verbum Veritatis) di YouTube. Video mereka melimpah ruah disana.
Tapi saya membatasi diri pada argumen dari pendukungnya bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak sebagaimana analogi angka 6 atau 9 dan analogi gambar balok diatas. Tapi benarkah bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak? Benarkah bahwa kebenaran itu sebenarnya adalah relatif? Benarkah bahwa semua pandangan berbeda bisa sama-sama benar?
Terus terang saja, bahwa jika anda (seorang penganut relativisme) ngotot berpandangan demikian, maka anda sebenarnya sedang membunuh akal sehat anda. Relativisme itu sebenarnya sedang mencekik dirinya sendiri (self defeating). Jika memang tidak ada kebenaran yang mutlak, maka pernyataan bahwa "tidak ada kebenaran yang mutlak" ini juga tidak mutlak benar. Jika ada suatu pernyataan yang di dalam dirinya sendiri saja sudah tidak benar, lalu untuk apa masih didengarkan?
Pandangan yang berbeda (kontradiksi) tidak bisa benar pada saat yang bersamaan dalam relasi atau pengertian yang sama. Jika saya berkata bahwa "saya ini kurus dan gemuk, hari ini hujan dan tidak hujan, di depan teras rumah kami ada motor dan tidak ada motor" maka orang akan menganggap bahwa saya ini gila, akal sehat manusia manapun tidak akan menerima proposisi yang berkontradiksi seperti ini. Kecuali orang gila, hanya orang gila yang bisa menerima proposisi yang gila. Jadi jika anda menerima relativisme maka anda sebenarnya sedang gila.
Dan sekarang mari kita membongkar kecacatan dari analogi angka 6 atau 9 diatas yang sering digunakan untuk membenarkan relativisme. Angka itu dilihat dari sisi atau sudut yang berbeda bisa dilihat sebagai 6 atau sebagai 9, sehingga dengan demikian dianggap bisa sama-sama benar, ia bisa menjadi 6 atau menjadi 9 pada saat bersamaan. Ini jelas ilustrasi yang konyol, mau se-ngotot apapun anda orang-orang relativist menggunakan analogi ini, angka diatas tetap hanya satu angka, dia tidak bisa menjadi dua angka yang berbeda pada saat yang bersamaan, entah dia 6 atau dia 9, dia tidak bisa menjadi 6 dan 9 pada saat yang sama. Nah dengan demikian maka gugurlah sudah analogi konyol ini.
Lalu bagaimana dengan analogi gambar balok diatas yang terlihat seperti 3 balok dan 4 balok pada saat yang bersamaan? Tentu saja balok dalam gambar itu tidak mungkin 3 dan 4 pada saat bersamaan, prinsipnya hampir sama dengan analogi 6 dan 9 diatas. Lalu mengapa kelihatannya seperti 3 dan 4? Itu karena mata kita memang sering tertipu dalam menangkap realitas empiris, kasusnya ini sama seperti saat kita melihat sebatang pensil dalam gelas yang berisi air, kelihatannya seperti pensil itu bengkok, tapi ternyata tidak, karena ada pembiasan cahaya maka tertangkap oleh mata seperti itu.
Saya berharap bahwa setelah membaca artikel ini teman-teman yang menganut relativisme bisa mencoba untuk re-thinking (memikirkan ulang) gagasan absurd ini lalu meninggalkannya. Kebenaran itu naturnya adalah mutlak bukan relatif, artinya jika yang satu itu benar, maka yang lain selain yang satu itu pasti salah.
Jika Yesus adalah Allah sejati, juru selamat sejati, sang logos sejati, pribadi kedua dari Allah Tritunggal yang sehakikat, setara, sederajat dengan Allah Bapa adalah benar, maka ajaran Erastus Sabdono bahwa Yesus adalah allah yang minor, hanya manusia yang dikenakan logos, dan bukan juru selamat sejati bukan hanya salah tapi juga SESAT!
Komentar
Posting Komentar