Langsung ke konten utama

ARGUMEN INI SERING DIGUNAKAN OLEH KAUM ATEIS

LOGICAL FALLACY OF THE ARGUMENT FROM DIFFERENCE.


Dalam perjalanan menuju Lausanne dari Zurich, saya sempat bercakap-cakap dengan seseorang (sebut saja: George) yang mengaku diri atheis. George mengungkapkan itu setelah mengetahui bahwa bidang kepakaran saya, salah satunya, adalah filsafat dan teologi. Percakapan yang tidak terlalu panjang namun bagi saya, bernas! Kami berbincang tentang the possibility of inspiration (kemungkinan [adanya] pewahyuan). Sebagai seorang atheis, tentu ia menolak posibilitas itu sama sekali. Baginya, tidak ada yang namanya absolute truth (kebenaran mutlak). Ini adalah konsekuensi logis dari atheisme. Ini adalah semacam properti dari atheisme akibat penolakkannya terhadap eksistensi Allah. Allah tidak ada, maka tidak ada pewahyuan (inspirasi), juga tidak ada kebenaran mutlak.

Saya mencoba menempatkan argumen George dalam konteks Indonesia. Kita mengenal lima agama besar di Indonesia: Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, dan Budha. Dari lima agama besar ini, kita bisa sedikit mereduksinya menjadi empat agama besar, karena Protestan dan Katolik mengakui kitab suci (Alkitab) yang sama meski berbeda dalam hal apakah deutero-kanonika merupakan bagian otoritatif atau tidak. The Argument from differences George menyatakan sesuatu seperti ini. Islam mengakui hanya Alquran firman Allah; Kristen mengakui hanya Alkitab firman Allah; Budha mengakui hanya Tripitaka yang otoritatif; dan Hindu mengakui hanya Wedha yang otoritatif. Semua agama besar ini mengklaim bahwa hanya kitab sucinya lah yang benar-benar benar! Saya baru saja mengklik sebuah tulisan dari seorang atheis di Kompasiana yang menggunakan argumen seperti di atas. Penulis yang bersangkutan menambahkan juga bahwa kitab suci yang sama dapat ditafsirkan sangat beragam oleh para pemeluknya sendiri. Bukan hanya itu, evolusi serta keragamanan linguistik juga dikemukakan sebagai penguat bahwa pewahyuan (inspiration) merupakan sebuah absurditas.

Menurut hukum non-kontradiksi, semua kitab suci ini bisa saja sama-sama salah (bukan merupakan firman Allah), tetapi tidak semuanya pada saat yang sama adalah firman Allah yang satu-satunya. Mengacu kepada kriteria hukum non-kontradiksi ini, George maupun rekan atheis di atas akan menyimpulkan bahwa adalah lebih logis untuk percaya bahwa semua kitab suci yang diklaim oleh para pemeluknya sebagai firman Allah itu sama-sama bukan firman Allah ketimbang percaya bahwa salah satunya adalah firman Allah yang sebenarnya. Bahkan, sebagai atheis, mereka harus menyimpulkan bahwa tidak ada pewahyuan sama sekali.

Argumen di atas biasanya disebut dengan istilah the argument from differences. Orang berargumen dengan beranjak dari perbedaan-perbedaan yang secara faktual ada. Nah sebelum mengemukakan tanggapan atas logical fallacy of the argument from differences ini, saya ingin meletakkan dua poin penting berkenaan dengan argumen yang logis. Sebuah argumen yang logis, harus memenuh dua kriteria ini:

Pertama, argumen itu haruslah argumen yang valid. Argumen yang valid adalah argumen yang kesimpulannya diharuskan secara logis oleh premis-premisnya. Tanpa validitas, sebuah argumen harus ditolak pada kesempatan pertama. Tidak perlu lagi sama sekali diperiksa lebih lanjut apalagi dianut sebagai dasar untuk sebuah keyakinan!.

Kedua, sekalipun sebuah argumen itu valid, ia belum tentu merupakan argumen yang benar karena sebuah argumen yang benar haruslah argumen yang premis-premis serta kesimpulannya sound (saya kesulitan menerjemahkan istilah "sound" ke dalam bahasa Indonesia. Mungkin lebih dekat untuk menerjemahkannya menjadi "benar").

Mengacu kepada dua kriteria argumen yang logis di atas, saya menilai the argument from differences di atas adalah argumen yang invalid (tidak valid)! Mengapa?

Pertama, saya menyatakan secara langsung kepada George waktu itu bahwa the conclusion doesn't follow from the premises. Kesimpulannya tidak diharuskan secara logis oleh premis-premisnya. Fakta bahwa orang berbeda pendapat atau mengemukakan klaim yang berbeda bahkan saling berkontradiksi mengenai pewahyuan, tidak mengharuskan kesimpulan bahwa tidak ada pewahyuan. Kita bisa saja berbeda pendapat bahkan berkontradiksi dalam klaim kita tentang A, tetapi perbedaan bahkan kontradiksi itu tidak berarti bahwa tidak ada A. Saya menyatakan kepada George: "If you and I were disagree on the question of whether the earth is round, our disagreement would certainly not be proof that the earth has no shape." Saya juga mengemukakan contoh lain kepada George: "The fact that a skinhead (salah satu tipe dari Neo-Nazi) and I may disagree on the question of whether we should treat people equally is certainly not sufficient reason to conclude that equality is not an objective moral value." Jadi, sekali lagi, menolak the possibility of inspiration atas dasar perbedaan-perbedaan atau kontradiksi klaim-klaim yang beredar, merupakan sebuah argumen yang invalid!.

Kedua, hukum non-kontradiksi tidak mengharuskan kesimpulan rekan-rekan atheis di atas. Mengacu kepada hukum non-kontradiksi, kita seharusnya bukan hanya berhadapan dengan pilihan: "bisa saja sama-sama salah" dan "tidak mungkin sama-sama benar pada saat yang sama dalam aspek yang sama". Ada pilihan lain juga dari kriteria ini yaitu bahwa "salah satu di antaranya memang benar-benar benar." Hukum non-kontradiksi tidak pernah berarti bahwa "tidak ada yang benar ketika dua klaim saling berkontradiksi". Menggunakan hukum non-kontradiksi untuk menolak the possibility of inspiration merupakan sebuah penyalahgunaan (misuse) dari hukum ini.

Ketiga, the argument from differences harus (secara logis) mengasumsikan relativisme. Ringkasnya seperti ini: karena ada klaim yang berbeda mengenai A dan bahwa tidak ada satu klaim pun yang dapat secara meyakinkan diunggulkan, maka semua klaim tentang A adalah relatif. Karena kemungkinan mengenai adanya pewahyuan mengasumsikan adanya sesuatu yang absolut, sedangkan semua klaim mengenai pewahyuan saling berbeda bahkan berkontradiksi, dan bahwa karenanya segala klaim ini menjadi relatif, maka tidak ada pewahyuan.

Singkat saja. Relativisme itu self-refuting. Ia menolak-dirinya-sendiri sebagai sesuatu yang benar. Jika segala sesuatu itu relatif, maka bahkan kalimat bahwa "segala sesuatu itu relatif" tidak benar. Self-refuting claims itu semisal menyatakan, "I cannot say a word in English". Ini adalah pernyataan yang menolak dirinya sendiri, karena ia mengatakannya dalam bahasa Inggris untuk mengatakan bahwa ia tidak dapat mengatakan sebuah kata pun dalam bahasa Inggris. Juga misalnya seseorang menyatakan, "I do not exist". Ini adalah self-refuting karena ia harus eksis untuk menyatakan saya tidak eksis. Karena ia mengasumsikan relativisme, sebuah paham yang self-refuting, maka ia menolak dirinya sendiri sebagai alternatif yang yang benar. Beberapa contoh lain Saya sengaja menuliskan kembali pengalaman diskusi di atas karena dua alasan. Pertama, saya mendapati bahwa argumen di atas cukup sering digunakan rekan-rekan atheis saya ketika berdiskusi dengan mereka. Dan kedua, saya melihat beredarnya argumen yang sama dalam masyarakat dengan "balutan" yang sedikit berbeda walau mungkin mereka tidak menyadari implikasi serta konsekuensi-konsekuensi logisnya. Beberapa di antaranya saya kemukakan secara ringkas di bawah ini:

Setiap penganut agama tertentu mengklaim bahwa agamanyalah yang benar. Penganut agama lain juga mengklaim begitu. Maka, tidak ada agama yang benar!

Setiap orang memiliki standar moral yang berbeda. Orang saling berbeda pendapat tentang, mis. aborsi dan homoseksualitas. Maka tidak ada standar moral yang objektif.

Setiap orang, agama, atau kelompok etnis memiliki pemahaman serta klaim yang berbeda bahkan berkontradiksi tentang Tuhan, maka Tuhan tidak ada.

Saya percaya, Anda mungkin saja sesekali tergoda untuk mengasumsikan, jika tidak mengemukakannya secara eksplisit, argumen di atas. Saya harus mengingatkan Anda bahwa the argument from differences yang terekspresi dalam bentuk yang berbeda di atas, merupakan argumen yang invalid. Tidak valid. Tidak sah. Dan karena tidak valid, maka argumen itu tidak benar!.

(Dikutip dari salah satu tulisan di Kompasiana)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

APAKAH KARENA YESUS BERASAL DARI ALLAH, MAKA DIA BUKAN ALLAH? (MENANGGAPI SERANGAN UST. SUBANDI T SUKOCO)

Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   Beberapa hari yang lalu, seseorang mengirimi saya sebuah video dan meminta tanggapan saya atas video itu. Setelah saya lihat-lihat, ternyata ini adalah cuplikan video dari YouTube Ust. Subandi T Sukoco. Siapakah orang ini? Subandi atau yang lebih dikenal dengan Gus Mbetik ini, adalah seorang pendakwah yang sudah sering terlibat dalam diskusi-diskusi lintas agama. Nah dalam cuplikan video yang berdurasi 2 menit 42 detik ini, Subandi memberikan argumentasinya untuk menolak ke-Tuhanan dan ke-Allahan Yesus. Menurut Subandi karena Yesus datang dari Allah maka Yesus pasti bukan Allah. Cuplikan lengkapnya bisa ditonton disini👇 Setelah menonton videonya, saya menemukan bahwa penolakan Ust. Subandi T Sukoco terhadap ke-Allahan Yesus didasari atas dua fakta ini : PERTAMA, KARENA YESUS DATANG DARI ALLAH MAKA DIA BUKAN ALLAH   Yohanes 9:33 (TB) Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa."  Menurut Ust. Subandi T Suko...

Allah Maha Kuasa Bukan Maha Kontradiksi

Oleh: Dionisius Daniel Goli Sali Pagi ini, sambil ngopi dan menunggu orderan Maxim, aku iseng buka YouTube dan menonton pengajaran teologi dari channel YouTube Verbum Veritatis yang dikelola oleh Pak Deky Nggadas. Tema dari pengajaran Pak Deky adalah tentang Divine Simplicity And The Trinity (Kesederhanaan Allah Dan Trinitas).  Secara garis besar, poin pengajaran Pak Deky adalah Allah Kristen itu simplisitas (Sederhana). Sederhana yang dimaksud Pak Deky, bukan berarti bahwa Allah Kristen itu bisa dipahami secara utuh tanpa harus meninggalkan ruang bagi hal-hal yang menjadi misteri untuk akal manusia. Melainkan, dalam natur-Nya Allah itu tidak terbagi. Meskipun Allah memiliki bermacam-macam atribut, seperti: maha kuasa, maha kasih, maha adil, kekal, dan lain sebagainya. Tapi atribut-atribut itu bukanlah komponen-komponen yang terpisah dalam diri Allah. Melainkan atribut itu adalah natur-Nya. Jadi, Allah bukan hanya Allah yang memiliki kasih, tapi Allah adalah kasih. Allah bukan hany...

RENCANA ALLAH DAN KEHENDAK BEBAS MANUSIA

📜 KISAH PARA RASUL 2:23 “ Dia yang diserahkan menurut maksud dan rencana Allah yang telah ditentukan, tetapi kamu telah menyalibkan dan membunuh-Nya oleh tangan orang-orang durhaka.” PENDAHULUAN Apakah penyaliban Yesus adalah rencana Allah atau rencana Iblis?. Topik ini menarik, karena beberapa waktu yang lalu, Edis TV, seorang apologet tiktok yang sedang viral akhir-akhir ini, menyatakan bahwa penyaliban Yesus sebenarnya adalah rencana iblis bukan rencana Allah. Untuk mendukung pandangannya Edis mengutip Yoh 8:37-47. Menurut Edis narasi dari teks itu secara implisit menyiratkan bahwa penyaliban Yesus adalah rencana Iblis karena sejak semula Iblis ingin membunuh Yesus. Nah pernyataan Edis ini sontak membuat dunia perdebatan teologis menjadi panas dan memancing tanggapan dari berbagai pihak. Beberapa suhu Teologi tanah air turun gunung. Esra Soru, MYM, Deky Nggadas dan Budi Asali, hingga Mel Atok ada dalam barisan daftar nama yang ikut memberikan tanggapan terhadap Edis. Tidak hanya me...