Langsung ke konten utama

ALKITAB SEBAGAI AKSIOMA

By : Andri O. P

Setelah Gordon Haddon Clark menunjukan kelemahan empirisme, rasionalisme, dan irasionalisme, dia menawarkan scripturalisme, yaitu Alkitab sebagai aksioma. Atau mungkin bisa dikatakan bahwa posisi Clark adalah rasionalisme yang Alkitabiah, yaitu rasionalisme yang menjadikan Alkitab sebagai aksioma. Maka pengetahuan dan pandangan dunia Kristen harus dideduksi dari Alkitab. Alkitab sebagai wahyu khusus dimetaforakan oleh Calvin sebagai kacamata untuk memahami wahyu umum.

Hukum logika sudah dinyatakan dalam wahyu umum sehingga Aristoteles bisa menemukan dan merumuskannya tapi hukum logika diperjelas oleh Alkitab sebagai wahyu khusus karena setiap huruf, kata, kalimat, dan seluruh teks Alkitab mempresuposisikan hukum-hukum logika. Bahkan logos dalam Yohanes 1:1 bisa diterjemahkan sebagai logika yang artinya lebih luas dari sekedar hukum-hukum Aristoteles karena hukum-hukum Aristoteles yaitu hukum identitas dan non kontradiksi merupakan subset dari pengertian logos dalam Yohanes 1:1. Agustinus memahami logos dalam Yohanes 1:1 sebagai akal budi ilahi yang dimetaforakan oleh Injil Yohanes dengan terang yang menerangi kegelapan.

Bagi Clark, empirisme tidak bisa diandalkan untuk mempertahankan posisi Kristen karena kesimpulan secara induktif dari pengalaman dan bukti empiris seperti arkeologi, dll tidak akan pernah valid. Kesimpulan induksi selalu kemungkinan karena kesimpulannya tidak diharuskan oleh premis. Sedangkan rasionalisme tidak menyediakan konten proposisi yang jelas. Irasionalisme lebih parah lagi karena meragukan kemampuan manusia untuk mengetahui kebenaran.   

Maka tak ada lagi pilihan di antara ketiga pendekatan itu. Satu satunya cara yang masuk akal yaitu menerima Alkitab sebagai aksioma. Alkitab tidak memerlukan bukti dari luar karena Alkitab membuktikan dirinya sendiri benar. Ini bukan penalaran melingkar karena semua sistem pemikiran pasti berangkat dari seperangkat premis utama yang tidak perlu dibuktikan karena premis premis itu membuktikan dirinya sendiri.

Dalam bukunya berjudul, "God's Hammer: Bible And Its Critics, hlm 26", Gordon Haddon Clark menulis:

"Kekristenan sering ditolak dengan alasan bahwa itu melingkar: Alkitab itu otoritatif karena Alkitab secara otoritatif mengatakan demikian. Tapi keberatan ini tidak lebih berlaku untuk Kekristenan daripada untuk setiap sistem filosofis atau bahkan untuk geometri.

Setiap sistem dari proposisi yang terorganisir tergantung kebutuhan pada beberapa premis yang tidak dapat dibuktikan, dan setiap sistem harus berusaha menjelaskan bagaimana premis utama ini dapat diterima."

Maka apologetika Kristen tidak perlu berlelah lelah menanggung beban untuk membuktikan keabsahan Alkitab secara empiris karena kesimpulan induksi tak pernah absah. Kesimpulan induksi hanya probabilitas. Orang Kristen cukup membuktikan konsistensi Alkitab. Penulis Alkitab yaitu Tuhan adalah otoritas paling tinggi, Dia tidak membutuhkan otoritas lain untuk membuktikan kebenaran-Nya. Dia tidak bersumpah atas nama otoritas lain tapi Dia bersumpah atas nama-Nya sendiri karena Dialah yang paling tinggi atau Maha Tinggi. Maka Dia tidak membutuhkan kesaksian siapa pun untuk membuktikan klaim-Nya benar. Alkitab adalah pikiran Tuhan yang dinyatakan. Alkitab adalah kebenaran yang tertulis. Tuhan adalah penulis utama dan para penulis Alkitab adalah penulis sekunder.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

APAKAH KARENA YESUS BERASAL DARI ALLAH, MAKA DIA BUKAN ALLAH? (MENANGGAPI SERANGAN UST. SUBANDI T SUKOCO)

Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   Beberapa hari yang lalu, seseorang mengirimi saya sebuah video dan meminta tanggapan saya atas video itu. Setelah saya lihat-lihat, ternyata ini adalah cuplikan video dari YouTube Ust. Subandi T Sukoco. Siapakah orang ini? Subandi atau yang lebih dikenal dengan Gus Mbetik ini, adalah seorang pendakwah yang sudah sering terlibat dalam diskusi-diskusi lintas agama. Nah dalam cuplikan video yang berdurasi 2 menit 42 detik ini, Subandi memberikan argumentasinya untuk menolak ke-Tuhanan dan ke-Allahan Yesus. Menurut Subandi karena Yesus datang dari Allah maka Yesus pasti bukan Allah. Cuplikan lengkapnya bisa ditonton disini👇 Setelah menonton videonya, saya menemukan bahwa penolakan Ust. Subandi T Sukoco terhadap ke-Allahan Yesus didasari atas dua fakta ini : PERTAMA, KARENA YESUS DATANG DARI ALLAH MAKA DIA BUKAN ALLAH   Yohanes 9:33 (TB) Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa."  Menurut Ust. Subandi T Suko...

PELAJARAN MORAL DARI SADIO MANE

  Oleh : Dionisius Daniel Berposisi sebagai winger, skill dribel diatas rata-rata, speednya sangat kencang, insting mencetak golnya juga tinggi, ia berasal dari negara yang berjulukan "The Lions Of Teranga", sangat garang di atas lapangan, namun memiliki kepribadian yang "low profile". Dia juga peraih Socrates Award dalam penghargaan Ballon d'Or 2022, dan menjadi andalan lini depan Bayern Munchen saat ini. Siapakah dia? Iya, dia adalah Sadio Mane. Sadio Mane adalah seorang pesepak bola profesional asal Senegal. Ia lahir di kota Bambali, Sedhio, Senegal, pada tanggal 10 April 1992.  Ia berasal dari keluarga yang sangat sederhana, namun religius. Sejak kecil Mane sudah menunjukkan ketertarikan di olahraga sepak bola, namun ia tidak mendapatkan dukungan dari orang tuanya. Ayahnya yang juga adalah seorang imam masjid lebih menginginkan agar putranya menjadi guru. Di mata sang ayah dan keluarga, sepak bola tidak memiliki jaminan bagi masa depannya. Meski ...

PROVIDENSI ALLAH BUKAN ALASAN UNTUK BERDOSA

  Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   "Kalau Allah telah menetapkan segala sesuatu, dan apa yang ditetapkan Allah harus dan pasti terjadi, lalu mengapa tindakan berdosa manusia harus dihakimi?" Pertanyaan ini lahir dari kegagalan (kebingungan) dalam memahami providensi Allah. Apa itu providensi? Providensi adalah doktrin yang percaya bahwa Allah/Tuhan berdaulat penuh atas segala peristiwa yang terjadi di bawah kolong langit ini. Dengan kata lain tidak ada satupun peristiwa dalam bentang sejarah umat manusia yang luput dari kontrol dan kedaulatan Tuhan. Dan itu mencakup peristiwa yang baik maupun buruk (kejahatan) dalam kehidupan manusia. Sebagai landasan biblikalnya, kita akan melihat beberapa ayat di bawah ini. Misalnya tentang pemilihan orang percaya, ternyata Tuhan dalam kekekalan telah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi umat pilihan-Nya. "Di dalam Dia kami juga mendapat bagian, yang ditentukan dari semula menurut maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu ...