Oleh : Albert Rumampuk
YESUS BUKAN JURUSELAMAT?
Untuk Erastus Sabdono (Part 1)
Berikut beberapa pernyataan Pdt. Dr. Erastus Sabdono dalam video viral di medsos dan langsung saya jawab. Videonya bisa dilihat di TS suhu Heno Kwok :
[1]. Juruselamat itu Allah, Yahweh, bukan Yesus sebenarnya
Jawab :
Di PL, Juruselamat memang adalah Yahweh / Allah (Yes. 43:3). Tetapi istilah itu dikenakan juga untuk Yesus, bahkan sebelum dan pada saat kelahiran-Nya (Mat 1:20, 21; Luk. 2:11). Yohanes juga mencatat Yesus "benar-benar Juruselamat dunia" (Yoh. 4:42). Paulus juga menyatakannya (Fil. 3:20; Tit. 2:13, dsb). Erastus belum baca semua teks itu? Atau pura-pura tidak tahu? Sengaja tidak tahu? Atau apa?
[2]. Gembala yang baik itu Yahweh, bukan Yesus. Terang itu Yahweh
Jawab :
Baca Yoh. 10:11 dan Yoh 8:12. Kedua teks itu menyatakan Yesuslah Gembala yang baik dan terang itu. Pak Doktor sudah baca ayat-ayat ini atau belum? Saya curiga, semua ayat yang saya sampaikan tadi, itu di 'tipp-ex' oleh Erastus, sehingga waktu dia buka Alkitab, huruf-hurufnya / kalimat2 itu sudah tidak nampak lagi?
[3]. Tetapi Yahweh berdiam di dalam diri Yesus dan melaksanakan pekerjaannya.
Jawab :
Erastus Sabdono positif mengidap penyakit Apolinarianisme yang mengajarkan bahwa Kristus memiliki tubuh manusia dan jiwa manusia, tetapi logos ilahi yang menguasai tubuh dan jiwa manusianya yang pasif. Erastus mirip dengan bidat ini. Ini tidak cocok dengan Yoh 1:14 - “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” Kalimat Yunaninya Kai ho logos sarx egeneto – ‘Firman menjadi daging.’ Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa logos atau Sang Firman yang adalah Allah dan Yahweh itu mendiami tubuh manusia Yesus, lalu menguasai tubuh itu secara mutlak dimana kemanusiaan Yesus hanya pasif saja, tidak memiliki will-nya sendiri. Tidak ada itu! Yang ada bahwa Firman yang adalah Allah itu, "menjadi manusia". Itu tidak menunjukkan bahwa logos ilahi "merasuki" tubuh manusia Yesus. Tetapi Dia "menjadi" manusia. Itu menunjukkan adanya kesatuan hipostatik antara yang ilahi dan yang tidak ilahi. Antara Allah dan manusia. Sejak inkarnasi dan seterusnya, selamanya, Yesus adalah Allah sekaligus manusia seutuhnya yang bersatu di dalam satu pribadi, tetapi tidak membentuk pribadi kedua atau saling bercampur karena masing-masing tetap mempertahankan sifat-sifatnya. Disini akar masalahnya. Ini yang tidak dipahami oleh Sabdono. Kristologi Erastus Sabdono sangat2 bermasalah!
Mengapa Erastus tidak memahami Yoh 1:14 secara benar? Karena dia menolak keilahian Kristus secara mutlak seperti yang di tunjukkan Yoh 1:1. Ayat itu menyatakan secara jelas bahwa Yesus pra-inkarnasi sudah adalah Allah yang sejati. Tapi Erastus memberi tafsiran versinya sendiri dengan mengatakan bahwa dalam teks itu, logos / Yesus pra-manusia hanyalah ‘bersifat ilahi’ karena katanya tidak pake kata sandang. Dan karena itu, logos / Yesus pra-inkarnasi tidak sejajar / tidak setara dengan Bapa. Ada hirarki karena Bapa lebih besar daripada Anak / logos (Tritunggal, hal. 127-128). Disini Erastus Sabdono positif mengidap penyakit yang kedua, yaitu Saksi Yehuwa (penerus Arianisme). Sabdono menganut ajaran Saksi Yehuwa! Pendapat Earstus itu adalah tafsiran yang dungu karena dalam gramatika Yunani, kata theos / Allah, itu tidak membutuhkan kata sandang untuk meneguhkan keilahian-Nya. Itu hanya omong kosong dari orang yang tidak ngerti Yunani!
Maka tidak heran jika Erastus mengatakan Yahweh harus berdiam di dalam Yesus dulu, baru bisa melaksanakan pekerjaan-Nya (menjadi Juruselamat, dsb). Selain melawan Yoh 1:14, juga 1Yo 4:14 – “Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.” Yohanes secara jelas mencatat bahwa Bapa mengutus Anak / logos itu menjadi Juruselamat dunia. Tadi Erastus berkata Yesus bukan Juruselamat tetapi Yahweh-lah Juruselamat karena Allah berdiam di dalam Yesus. Tetapi 1 Yoh 4:14 tidak mencatat demikian. Teksnya menegaskan bahwa Bapa dan Anak itu dibedakan. Bapa yang adalah Allah / Yahweh itu mengutus pribadi yang lain sebagai Juruselamat. Jadi bukannya Bapa / Yahweh / Allah yang harus mendiami atau merasuki Yesus dulu baru Dia bisa menjadi Juruselamat. Tidak. Allah mengutus Anak-Nya, bukannya Dia merasuk ke dalam Anak-Nya. Untuk apa masuk ke dalam Anak, lah wong keduanya sudah saling mendiami / perikoresis? Saudara jangan salah paham disini. Erastus Sabdono beranggapan bahwa Yesus / Anak itu adalah Allah minor / allah kecil yang tidak setara dengan Bapa. Yang Allah besar / mayor adalah Bapa, bukan Yesus. Jadi dia sebetulnya mau katakan Yesus itu bukan Allah. Maka Erastus harus mengatakan Allah berdiam di dalam Yesus sehingga bisa melaksanakan pekerjaan sebagai Juruselamat, dan itu sebuah kengawuran yang sudah dihajar oleh rasul Yohanes yang dengan tegas membedakan antara Bapa yang dianggap Erastus sebagai Allah mayor itu / Allah sejati dengan Anak / Yesus. Setelah membedakannya, Yohanes lalu mengatakan, Anak / Yesuslah yang menjadi Juruselamat dunia itu. Sehingga secara harfiah, menurut 1 Yoh 4:14, sang Juruselamat itu bukan Bapa, tetapi Anak / Yesus. Bahkan Ibr. 1:3 yang dibacakan dibagian awal video Erastus itu, sama sekali tidak melarang Yesus disebut sebagai Juruselamat. Jadi Erastus sedang melakukan tafsir liar terhadap Ibr. 1:3 lalu kemudian memberi kesimpulan yang juga sama liarnya.
[4]. Makanya Yesus orang pertama yang mengatakan Akulah bait Allah, Allah diam di dalam Aku. Nanti kalo Yesus naik ke surga, Yesus berkata “Kamu jadi rumah Bapa, rumah Allah. Seperti Bapa mengutus Aku, Aku mengutus kamu”
Jawab:
Ngawur lagi! Sabdono tidak paham satu pengajaran penting dalam Allah Tritunggal, yaitu 'mutual indwelling' , saling mendiami diantara ketiga pribadi ilahi. Bukan hanya Bapa ada dialam Anak, tetapi Anak-pun di dalam Bapa. Demikian juga dengan Roh Kudus (Yoh 14:10, dsb). Jadi untuk apa Allah / Bapa pada saat tertentu harus masuk (berdiam) dalam Yesus, lah wong kedua pribadi itu sudah saling mendiami sejak kekal lampau. Pernyataannya yang lain tidak perlu tanggapi, karena sangat2 tidak bermutu!
Kesimpulannya, posisi teologis Erastus Sabdono tidak jelas. Dia mirip dengan Apolinarianisme, tetapi juga adalah seorang Arianisme / saksi Yehuwa. Jadi kita tidak bisa menyebut Erastus Sabdono sebagai seorang Kristen / pengikut Kristus sejati. Dia sebetulnya menganut sebuah aliran atau sekte yang disebut sebagai 'Erastusianisme'. Itu istilah yang saya dapatkan dari teman saya Pdt. Natan Silalahi. Kedua, selain Erastus bermasalah pada doktrin Kristologi dan Allah Tritunggal, Sabdono yang mengajarkan Yesus bukan Juruselamat, itu sudah ditempeleng berkali2 oleh Rasul Yohanes. Dia adalah pengajar sesat!
Komentar
Posting Komentar