Langsung ke konten utama

MAKNA SALIB: PERSPEKTIF KRISTEN VS YUDAISME

Oleh : Jimmy Jeffry


Kekristenan dan Yudaisme sama-sama mengakui Yesus mati disalib berbeda dengan Islam, namun keduanya berbeda memahami makna salib. Yudaisme memahami kematian Yesus disalib sebagai sebuah kutukan dan penghukuman terhadapNya berdasarkan Ul 21:22-23, sebaliknya kekristenan memaknainya sebagai penebusan manusia atas kutuk Taurat sebagaimana dikatakan Paulus (Gal 3:13). Mirip dengan mujizat Yesus, Yudaisme memaknainya sebagai perbuatan sihir sedangkan kekristenan memaknainya sebagai pernyataan kuasa Allah.

Ul 21:22-23  "Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kaugantung dia pada sebuah tiang, maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu." 
Gal 3:13  Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" 

Pihak Yudaisme memaknai Ul 21:22-23 hanya pada makna literalnya tanpa memahaminya sebagai tipologi atau nubuatan mesianik penebusan manusia dari dosa oleh Sang Mesias. Polemikus muslim seperti Menachem Ali menggaungkan kembali pandangan Yudaisme tentang Yesus yang dianggap terkutuk karena disalib, padahal tanpa disadarinya justru hal itu menjustifikasi fakta Yesus mati di kayu salib, sesuatu hal yang ditolak Quran. Namun jika dicermati mendalam, konsep penebusan itu sendiri berupa pengorbanan dengan darah justru ada dalam Taurat.

Im 17:11  Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa.
Menariknya dalam literatur rabbinik juga menyatakan hal yang senada bahwa tidak ada pendamaian tanpa adanya darah.
Yoma 5a: Isn’t atonement accomplished only by the sprinkling of the blood, as it is stated: “For it is the blood that makes atonement by reason of the life” (Leviticus 17:11)? The William Davidson Talmud(Koren - Steinsaltz)
Demikian juga dalam Perjanjian Baru juga menyatakan hal yang sama.
Ibr 9:22  Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan.

Sebagai korban penebusan digunakan binatang sebagai korban penghapus dosa. 
Im 4:20  Beginilah harus diperbuatnya dengan lembu jantan itu: seperti yang diperbuatnya dengan lembu jantan korban penghapus dosa, demikianlah harus diperbuatnya dengan lembu itu. Dengan demikian imam itu mengadakan pendamaian bagi mereka, sehingga mereka menerima pengampunan
Namun dalam Tanakh/PL juga dituliskan bahwa di masa mendatang bahwa korban penebusan yaitu Sang Mesias. 
Yes 53:6  Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. 
Yes 53:10  Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya. 

Pihak Yudaisme mencoba membantah bahwa Yesaya 53 itu bukan ditujukan ke Mesias melainkan ke bangsa Israel. Masalah ini memang perlu pembahasan panjang, namun dalam konteks penebusan syarat sebagai korban penebus salah adalah korban yang tidak bercela. Bangsa Israel dikenal sebagai bangsa yang tegar tengkuk bahkan sampai harus dibuang ke Babel, maka dengan sendirinya tafsiran "bangsa Israel" untuk Yesaya 53 menjadi gugur.
Yes 53:9 "..sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya"
Im 4:32  Jika ia membawa seekor domba sebagai persembahannya menjadi korban penghapus dosa, haruslah ia membawa seekor betina yang tidak bercela. 

Sebaliknya syarat sebagai korban yang tidak bercela justru terpenuhi dalam Yesus sebagai Sang Mesias.
1 Pet 2:22  Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya
2 Kor 5:21  Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. 
1 Yoh 3:5  Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa. 

Dalam literatur rabbinik terdapat pernyataan tentang Sang Mesias yang akan menjadi sang penebus manusia dari dosa.
Midrash Konen: “Messiah Son of David who loves Jerusalem ... Elijah takes him by the head ... and says ‘You must bear the sufferings and wounds by which the Almighty chastises you for Israel's sins;’ and so it is written, He was wounded for our transgressions, bruised for our iniquities.”
Zohar 2:12a:  “The children of the world are members one of another. When the Holy One desires to give healing to the world, he smites one just man amongst them, and for his sake heals all the rest. From where do we learn this? From the saying ‘He was wounded for our transgressions, bruised for our iniquities.’
Midrash Asseret Memrot:  “The Messiah, in order to atone for them both [for Adam and David], will make his soul a trespass offering as it is written

Di Midrash Konen dituliskan tentang dosa-dosa bangsa Israel dan Mesias Anak Daud yang akan menderita dan akan menanggung dosa-dosa manusia. Hal senada juga dalam Zohar & Midrash Asseret Memrot. Data ini menunjukan bahwa pemahaman konsep penebusan oleh Sang Mesias bukanlah hal asing di kalangan Yahudi rabbinik sendiri. Namun penolakan Yudaisme ke Yesus lebih didorong motif "tidak mau percaya" yang sudah terjadi sejak pada masa Yesus sendiri itu sendiri.

Konsep penebusan sebagai makna dari Salib jelas memiliki akar dalam ajaran Taurat dan kitab para nabi, bahkan dikonfirmasi dari beberapa data di literatur rabbinik. Demikian juga yang diajarkan oleh Yesus dan para rasul.
Yoh 1:29  Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia"
1 Pet 2:24  Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. 
Ef 1:7  Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROVIDENSI ALLAH BUKAN ALASAN UNTUK BERDOSA

  Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   "Kalau Allah telah menetapkan segala sesuatu, dan apa yang ditetapkan Allah harus dan pasti terjadi, lalu mengapa tindakan berdosa manusia harus dihakimi?" Pertanyaan ini lahir dari kegagalan (kebingungan) dalam memahami providensi Allah. Apa itu providensi? Providensi adalah doktrin yang percaya bahwa Allah/Tuhan berdaulat penuh atas segala peristiwa yang terjadi di bawah kolong langit ini. Dengan kata lain tidak ada satupun peristiwa dalam bentang sejarah umat manusia yang luput dari kontrol dan kedaulatan Tuhan. Dan itu mencakup peristiwa yang baik maupun buruk (kejahatan) dalam kehidupan manusia. Sebagai landasan biblikalnya, kita akan melihat beberapa ayat di bawah ini. Misalnya tentang pemilihan orang percaya, ternyata Tuhan dalam kekekalan telah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi umat pilihan-Nya. "Di dalam Dia kami juga mendapat bagian, yang ditentukan dari semula menurut maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu ...

MEMBEDAH RUMUSAN TRITUNGGAL ALA ELIA MYRON

Oleh : Dionisius Daniel Dalam sebuah video dari kanal YouTube Tiga Hari. Elia Myron seorang apologet muda terlihat sedang mengajarkan doktrin Tritunggal. Namun yang menarik disini adalah, rumusan Tritunggal yang diajarkan oleh Elia Myron ini, terindikasi menyimpang dari rumusan Tritunggal yang ortodoks yang telah dipegang oleh Gereja sepanjang sejarah. Elia mendasari pengajaran Tritunggalnya dengan mengutip Ulangan 6:4, dan 1 Korintus 8:6 Ulangan 6:4 (TB) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  1 Korintus 8:6 (TB) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.  Berdasarkan dua ayat ini Elia membangun premis bahwa Allah itu pada hakikatnya adalah esa, dan Allah yang esa ini adalah sang Bapa. Mengapa Allah yang esa ini disebut Bapa? Karena menurut Elia,...

Obrolan Serius: Membongkar Kekeliruan Tritunggal yang Sering Diabaikan

Oleh : Dionisius Daniel   Kali ini saya kembali membagikan diskusi singkat saya dengan seseorang di Facebook yang diduga adalah fans atau pendukung fanatik dari Elia Myron.  Saya memang belakangan ini sedang menulis artikel mengkritisi ajaran Tritunggal Elia Myron, yang menurut saya telah menyimpang dan tanpa sadar "nyemplung" ke bidat-bidat yang sudah ditolak oleh para Bapa-Bapa Gereja kita. Seperti Sabelianisme atau Subordinasisme ala Unitarian. Sebenarnya diskusi/perdebatan ini berawal dari postingan foto Pdt Esra Soru di Facebook, tertanggal, Minggu 18/05/2025. Di foto itu tampak Pdt Esra sedang bersama Elia Myron. (fotonya saya jadikan wallpaper artikel ini) Saya lalu spontan berkomentar: "Pak Esra tolong ajari Elia Myron itu agar mengajar Tritunggal dengan benar, soalnya ajaran Tritunggal dan konsep keselamatannya telah menyesatkan banyak orang". Alhasil tak butuh waktu lama, komentar saya langsung ditanggapi oleh pengguna facebook lain yang diduga adalah fans...