Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali
PENGANTAR
Shalom teman-teman. Di artikel kali ini, saya ingin mereview sebuah film rohani Kristen yang berjudul "GOD'S NOT DEAD". Film yang disutradarai oleh Harold Cronk ini, dirilis di Amerika serikat pada tahun 2014. Film ini dibintangi oleh Shane Harper (Josh Wheaton) dan Kevin Sorbo (Profesor Radison) dan beberapa pemeran pembantu lainnya.
Konflik di film ini cukup kompleks. Mengulas tentang spiritualitas dan kehidupan kristen di Amerika Serikat. Ragam konflik dan pergumulan iman Kristen dihadirkan disini. Mulai dari pergumulan iman Aisyah, (Hadeel Sittu) seorang gadis remaja berdarah timur tengah yang dibesarkan dari tradisi keluarga muslim yang taat, Ia ditolak oleh keluarga karena ketahuan memeluk Kristen. Juga ada Ami, (Trisha LaFache) Ia adalah seorang blogger yang skeptis terhadap keberadaan Tuhan, tapi kemudian divonis mengidap kanker dan ditinggal oleh pacarnya dalam keadaan hopeless. Yip (Paul Kwo) seorang mahasiswa China yang secara diam-diam mulai tertarik pada Kekristenan tapi dilarang keras oleh ayahnya.
Scene lain juga menampilkan beberapa fakta lain dengan beberapa tokoh yang memerankan karakter dan kisah hidup yang berbeda. Prof Radisson ternyata mempunyai pacar seorang wanita Kristen yang bernama Mina (Cory Oliver). Radison dan teman-teman sejawatnya yang tidak percaya akan keberadaan Tuhan sering menghina keyakinan Mina. Lalu Mina juga memiliki seorang kakak laki-laki, Mark (Dean Cain) yang adalah seorang pengusaha yang cukup berhasil tapi juga seorang ateis. Si Mark ini menolak mengunjungi ibu mereka yang sudah tua yang mengalami penyakit pikun (dementia).
Semua tokoh yang terlibat dalam film ini, bergelut dengan kepercayaan mereka terhadap kehadiran Tuhan. Selain mereka yang berjuang untuk mempertahankan imannya, juga dikisahkan tokoh yang meragukan dan menghina kehadiran Allah dalam kehidupan mereka.
Meski demikian, sebenarnya konflik utama film ini bercerita tentang perdebatan antara seorang mahasiswa Kristen dengan seorang Profesor yang ateis. Jadi saya kira tidak berlebihan kalau kita menyebut ini adalah sebuah film yang bertema Apologetika. Oleh sebab itu, pada review film kali ini kita hanya mengeskpos dialog apologetik antara Prof Radisson dan Josh Wheaton, dan dibagian akhir, kita akan mengulas Metode Apologetika yang digunakan oleh Josh Wheaton.
Dari pada penasaran, saya menyarankan anda untuk segera menonton film ini, anda bisa mengakses melalui situs LK 21 di aplikasi UC Browser, ataupun bisa menontonnya di YouTube.
1. PLOT
Josh Wheaton seorang mahasiswa Kristen mendaftarkan dirinya untuk mengikuti kelas filsafat yang diampu oleh Dosen filsafat yang Atheis, Profesor Rodison. Di bagian registrasi, petugas yang mengetahui bahwa Josh adalah seorang Kristen, kemudian menghimbau Josh untuk mengurungkan niatnya masuk dikelas itu.
Josh yang bingung mengapa ia dihimbau untuk tidak mengambil kelas filsafat, tidak mengindahkan nasihat dari petugas registrasi tersebut. Josh kemudian tetap mendaftar lalu masuk ke kelasnya Profesor Rodison.
Pada sesi perkenalan dengan mahasiswa baru, profesor Rodison mengajukan syarat aneh dan tidak masuk akal, yaitu sebagai persyaratan kelulusan, para mahasiswa tersebut harus menulis diselembar kertas bahwa "God Is Dead" (Tuhan sudah mati). Sebagian mahasiswa yang tanpa pikir panjang dan mungkin juga karena ketakutan tidak lulus, setuju untuk menulis God Is Dead. Tiba di giliran Josh, Josh menolaknya, alasan Josh hal itu bertentangan dengan hati nurani dan imannya.
Mendengar penolakan Josh, Profesor Rodison merasa tertantang, karena baru kali ini ada mahasiswa baru yang berani menolak perintahnya. Profesor Atheis itu lalu menantang Josh untuk mempersentasikan imannya dan memberikan penjelasan logis bahwa Tuhan tidak mati.
Rodison mempersilakan Josh untuk presentasi dan memaparkan argumen untuk mempertahankan tesisnya bahwa Tuhan tidak mati selama 20 Menit dalam tiga sesi pertemuan di kelasnya. Sementara itu, ia akan berposisi sebagai oposisi dan akan membantah setiap argumen dari Josh. Para mahasiswa lain lalu diminta untuk menjadi juri atas debat antara Josh dengan Profesor Rodison.
Di pertemuan pertama dan kedua meski argumen dari Josh cukup baik dan meyakinkan, namun Prof Rodison selalu punya cara untuk mencounter argumen Josh.
Kini tibalah saatnya final debate antara Josh dan Rodison. Di pertemuan ketiga ini Josh menggunakan metode Apologetika yang agak berbeda dengan dua pertemuan sebelumnya. Disini Josh menggunakan metode presuposisi Van Tillian yang dikenal dengan istilah "Transendental argument for God".
"Transcendental argument for God" menjelaskan bahwa jika seseorang meniadakan Tuhan, maka moralitas yang dia lakukan dan logika yang dia operasikan tidak memiliki makna (meaning less). Ini adalah argumen yang membabat habis foundasi dari wawasan dunia Prof Radisson. Mendengar argumentasi ini, Radisson benar-benar tidak bisa berkutik.
Josh juga melihat ada keanehan pada Prof Radisson, ia melihat bahwa penolakan dan kebencian Prof Radisson kepada Tuhan sebenarnya tidak mempunyai dasar yang logis. Ngotot mempertahankan tesisnya bahwa Tuhan tidak ada, tapi secara bersamaan membenci dan menolak eksistensi Tuhan, membuat Josh bertanya kepada Prof Radisson : "If God doesn't exist, so why you hate him?. How can you hate someone who does not exist?. Why you hate God?"
Pertanyaan Josh ini menggores dan menguak "luka" yang selama ini disimpan oleh Prof Radisson. Dan ternyata akar dari kebencian dan kepahitan Prof Radisson kepada Tuhan adalah karena Prof Radisson merasa bahwa Tuhan gagal menyelamatkan mamanya yang sakit kanker di masa kecilnya.
2. MENGULAS ARGUMENTASI TRACENDENTAL FOR GOD VAN TILLIAN YANG DIGUNAKAN OLEH JOSH WHEATON
Sekarang tiba saatnya kita mengulas jurus andalan yang digunakan oleh Josh Wheaton dalam membungkam argumentasi ateistik dari Prof Radisson.
Transendental Argument For God (TAG) adalah argumentasi yang menunjukkan bahwa tanpa keberadaan Tuhan, maka semua realitas seperti moralitas dan hukum logika menjadi tidak bermakna (meaning less), karena tidak memiliki landasan secara logis.
Argumentasi ini berbeda dengan evidensial, jika evidensial berkutat pada cara untuk membuktikan keberadaan Tuhan, baik itu secara ilmiah maupun secara rasional (filosofis), maka TAG berkutat pada konsep pembuktian itu sendiri. Jadi bukan content atau isi pembuktiannya.
TAG akan menunjukkan bahwa Preconditions of Inteligibility (Kondisi awal untuk pengetahuan manusia) seperti hukum logika, moralitas dan keseragaman alam semesta yang dioperasikan baik oleh orang Kristen maupun non Kristen memutlakan untuk menerima presuposisi dan wawasan Dunia kristen.
Sekarang mari kita mencoba untuk menguji konsistensi logis dari wawasan dunia ateis seperti Prof Radisson. Di mulai dari Moralitas. Ateis berkata bahwa Tuhan pembuat hukum moral itu tidak ada, karena bagi mereka Tuhan itu tidak ada, sehingga jika Tuhan tidak ada, maka jelas bahwa bukan Tuhan yang membuat hukum moral. Dan moralitas hanyalah konsesus atau hasil dari kesepakatan bersama dalam suatu kelompok sosial atau masyarakat demi tercipta keseimbangan dalam tatanan sosial. Benarkah bahwa Tuhan pembuat hukum moral itu tidak ada?
Jika Tuhan pembuat hukum moral tidak ada, maka moralitas tidak ada, jika moralitas tidak ada, maka tak ada standar untuk membedakan antara yang salah dengan yang benar, antara yang baik dengan yang jahat. Jika baik dan jahat tidak dapat dibedakan, maka tak masalah seorang ateis menampar seorang nenek tua dipinggir jalan. Tapi saya kira bagi orang ateis menampar nenek tua adalah suatu perbuatan yang keji.
Kesadaran bahwa menampar nenek tua adalah kejahatan yang keji berlaku di seluruh dunia, baik di Indonesia maupun belahan dunia lain. Dengan demikian argumen ateis bahwa hukum moral ditentukan oleh konsesus gugur dengan sendirinya. Karena jika moralitas adalah suatu kesepakatan bersama dalam suatu tatanan masyarakat, maka kita yang berada diluar dari tatanan masyarakat itu bisa berlaku amoral terhadap mereka, karena kita bukan bagian dari konsesus mereka.
Lebih lanjut, moralitas hanya bisa dijustifikasi oleh wawasan dunia Kristen yang bersifat Trinitarian.
Moralitas berbicara tentang interaksi sebab-akibat, ada subjek dan ada objek, ada kesatuan dan ada keragaman. Sebagai contoh, jika seorang suami mengasihi istrinya, maka disini si suami menjadi subjek yang mengasihi dan si istri menjadi objek yang dikasihi. Ada kesatuan diantara keduanya dalam sebuah ikatan keluarga, tapi dibalik itu, ada keragaman yang membedakan keduanya, suami bukan istri dan istri bukan suami, tapi keduanya disatukan dalam satu keluarga.
Ini konsisten dengan wawasan dunia Kristen. Iman Kristen mempercayai doktrin Trinitas, kesatuan hakikat dan kejamakan pribadi, ketiga pribadi ini saling bergantian mengasihi dalam relasi kasih yang kekal. Dan nampaknya, problem moralitas ini tidak hanya membungkam wawasan dunia ateistik, tapi juga unitarian (tauhid) atau monoteisme yang mutlak seperti islam. Jika Allah atau Tuhan itu hanya satu pribadi yang mutlak sebagaimana klaim Islam, lalu bagaimana kasih-Nya bisa diwujudkan? Sebelum dunia dan segala sesuatu diciptakan, hanya ada Allah yang adalah satu pribadi saja, maka siapa atau apa yang menjadi objek kasih Allah ini?
Nah, untuk pertanyaan di bagian akhir ini biarlah para penganut unitarian yang menjawabnya. Bagi yang membaca tulisan ini, jika anda penganut tauhid atau unitarian, semoga anda berkenan untuk menjawab pertanyaan ini.
Demikian artikel saya kali ini, semoga menjadi berkat bagi teman-teman yang membaca. AMIN
Salam......
~Penulis
Komentar
Posting Komentar