Dikutip dari group Studi Refomed MYM
MYM : Apolegetika Van Tillian adalah apologetika yang mempresaposisikan Allah Alkitab (Allah Tritunggal) sebagai ultimate point of refference (titik referensi ultimat) dan bukan logika.
Apakah logika itu penting? Jawabannya : Mutlak penting, karena logika adalah alat untuk menerima kebenaran. Tetapi logika tidak dapat menjadi standar. Standar mutlak kita adalah Alkitab.
Apakah logika itu bertentangan dengan Alkitab? Jawabannya : Sejauh logika itu adalah logika yang sejati, maka tidak bertentangan dengan Alkitab. Alkitab sendiri yang diilhamkan dan diwahyukan oleh Allah yang rasional adalah rasional.
Jadi, lebih tepat jika dikatakan bahwa logika adalah alat penerima kebenaran dan Alkitab adalah standar kebenaran. Di dalam konteks ini, logika adalah budaknya ALKITAB.
Ma Kuru : Logika tidak tunduk dan melayani Alkitab. Itu formulasi yang membolak-balikkan kenyataan. Tetapi tanpa logika tidak ada Alkitab. Alkitab adalah wahyu proposional. Wahyu proppsisional mempraanggapkan oleh hukum logika.
Marvel J. P. Ledo : Sekedar tip : Logika yang berdiri diatas landasan iman (baca: kebenaran) yang akan menjadikan logika digunakan atau berfungsi tepat. Sebaliknya, logika akan berfungsi seperti pada kebanyakan orang tidak percaya yang bisa juga menyesatkan.
Yempi Ling Wiwo : Apakah logika selalu menjadi setandar untuk memahami isi Alkitab.
MYM : Yempi U Andessling Logika bukan standar untuk memahami Alkitab, karena yang jadi standar hanyalah Alkitab. Logika adalah alat untuk menerima kebenaran. Jadi, memang logika mutlak diperlukan untuk menerima dan memahami kebenaran, tetapi tidak dapat menjadi standar. Standar hanyalah Alkitab.
Gordon Clark menerima perbedaan kualitatif, tetapi yang dia maksud kualitatif sebetulnya adalah perbedaan kuantitas. Dia mengajarkan bahwa perbedaan antara pengetahuan Allah dan manusia adalah bahwa manusia tahu proposisi kebenaran secara terbatas, sedangkan Tuhan tahu semua proposisi kebenaran secara sempura. Lalu juga menurut dia, cara manusia mengetahui adalah berbeda dengan cara Tuhan mengetahui. Kalau hanya seperti itu, maka bukanlah perbedaan kualitas, tetapi hanya perbedaan kuantitas.
Kalau Van Til melihat bahwa ini adalah perbedaan kualitatif di dalam pengertian bahwa pengetahuan Tuhan adalah yang asli dan manusia adalah tiruannya. Pengetahuan keduanya tidak pernah identik (bandingkan dengan Clark yang mengatakan bahwa keduanya identik/sama). Pada intinya yang asli adalah asli dan yang tiruan adalah tiruan.
Ma Kuru : Pak MYM, jika Praanggapan dasarnya adalah Allah Tritunggal, mengapa harus Allah Tritunggal? Dasarnya apa sehingga demikian?
MYM : Karena Alkitab diberikan oleh Allah Tritunggal dan bukan alah-alah dari iman yang lain. Di sini keyakinan akan Alkitab dan Allah Tritunggal berdiri dan jatuh secara bersama-sama. Jadi tanpa mempresaposisikan Allah Tritunggal yang diajarkan Alkitab, maka kita tidak memiliki ultimate point of reference apa pun di dalam beraplogetika. Logika yang netral tidak dapat jadi acuan.
Ma Kuru : Jadi, dengan demikian ada praanggapan yang lebih mendasar dari Allah Tritunggal, yaitu Alkitab sebagai Firman Tuhan. Kalau tidak dipraanggapkan bahwa Alkitab adalah Firman Allah, maka Allah Tritunggal tidak bisa dijadikan dasar.
MYM : Allah Tritunggal yang diajarkan oleh Alkitab itulah presaposisi Kristen. Anda tidak dapat memisahkan Tritunggal dari Alkitab atau sebaliknya. Siapa yang memberikan Alkitab? Allah Tritunggal. Darimana kita tahu mengenai Allah Tritunggal? Dari Alkitab. Van Tillian tidak memisahkan keduanya.
Ma Kuru : Kita tidak akan mengenal Allah Tritunggal tanpa Alkitab. Jadi praanggapan Kristen adalah Alkitab. Sedangkan Allah Tritunggal adalah sesuatu yang berada di posisi yang lebih hilir.
Kedua, Van Tillian merasa bahwa mereka mempraanggapkan Allah Tritunggal. Namun ternyata praanggapan dasar itu ternyata dibuktikan dengan apa yang disebut TAG. Jadi itu bukan praanggapan dasar sama sekali, tetapi sesuatu yang dibuktikan. So no. van Tillian mempraanggapkan hal lain selain Allah.
Clarkian tidak memisahkan Allah dari Alkitab, tetapi Clark membedakan Allah dari Alkitab dalam hubungan dengan urut-urutan pengetahuan manusia. Alkitab dulu, baru dari Alkitab kita mengetahui tentang Allah Tritunggal. Roh Kudus memberikan kita hati yang menerima proposisi Alkitab sehingga kita percaya pada Allah Tritunggal.
Antonius Palandima : Jika pengetahuan Allah melekat pada natur-Nya otomatis baik isi maupun cara tentu berbeda dengan manusia. Karena bagaimana mungkin yang kekal/pencipta sama dengan ciptaan/terbatas punya kesamaan secara kualitas maupun kuantitas. Hanya persoalannya hubungan antara pengetahuan Allah dan manusia dalam 3 pendekatan di atas menurut saya kurang memadai. Jangan sampai karena menjunjung tinggi otoritas Ilahi, menyebabkan pemahaman otonomi pengetahuan manusia.
Rafael : Bagaimana dengan kebenaran yang melampaui batasan logika? saya pernah ikut kelas filsafat karena merupakan bagian dari mata kuliah yang perlu diambil di sana. Dikatakan oleh dosen saya bahwa kebenaran dalam agama sifatnya tidak mutlak karena tidak universal dan hanya diyakini oleh penganutnya saja bagaimana memahami itu sebagai seorang reformed?
MYM : Rafael, secara ketat, tidak ada kebenaran yang melampaui batas logika, oleh karena seluruh kebenaran bersifat logis. Jika melampaui batas logika, itu asumsinya bahwa kebenaran itu bersifat a-logical (ini istilah saya) atau mungkin ilogical/irational.
Istilah yang lebih tepat adalah kebenaran yang bersifat melampaui kemampuan logika manusia yang terbatas. Nah, sampai pada titik ini, kebenaran tersebut bukan melampaui batasan logika, tetapi melampaui kemampuan logika manusia, tetapi tetap logis dan rasional dan hanya dipahami oleh logika Allah.
Mengenai kebenaran dalam agama yang sifatnya tidak mutlak (menurut dosen anda), dosen anda itu terlalu gampang memberikan pendapat dan saya anggap ini pendapat yang menyesatkan. Bahkan di dalam agama secara umum ada kebenaran yang sifatnya universal, misalnya, keyakinan bahwa korupsi itu salah dan melanggar moral yang benar.
Khusus dalam iman Kristen, seluruh kebenaran di dalamnya bersifat obyektif dan universal. Saya kira dosen anda itu dipengaruhi oleh postmodernisme.
Komentar
Posting Komentar