Tulisan ini adalah hasil dari interaksi dan diskusi tentang logika (Epistemologi Kristen) dalam sebuah group tanya-jawab yang bernama Studi Refomed bersama MYM. Di awali oleh saudara Ma Kuru yang mengajukan pertanyaan tantangan dalam kolom group, sehingga memantik sebuah diskusi yang cukup alot dan menarik.
Saya sengaja mengutip dan copas disini dengan tujuan agar interaksi ilmiah ini tetap terdokumentasi, sehingga kalaupun TS aslinya sudah terhapus, kita masih memiliki dokumentasinya (salinannya).
Ini adalah diskusi yang sangat menarik yang membahas epistemologi dua Theolog terkemuka dari Gereja Reformed yang memiliki dua pandangan yang berbeda tentang hubungan antara logika Allah dan logika manusia. Di blog ini saya tidak akan mengutip semua komentar dari TS tersebut, tapi hanya memuat beberapa komentar yang saya anggap relevan dengan topik diskusinya.
Silakan disimak! (Dionisius)
Ma Kuru : Van Tillian mengklaim bahwa logika Allah berbeda dengan logika manusia. Saya ingin tahu apakah Hukum kontradiksi Allah berbeda dari hukum kontradiksi manusia. Apakah ada titik temu yang identik antara hukum kontradiksi manusia dan hukum kontradiksi Allah?
Terima Kasih.
Catatan : Pertanyaan ini hanya untuk Van Tillian yang punya keberanian menerima tantangan. Yang pengecut, silahkan sembunyi dengan berbagai cara.
Adrian Lalang Puling : Logika Allah berpijak pada diriNya sendiri. (Karena Tuhan itu bebas, berdaulat, independent). Logika manusia berpijak pada apa?
Ma Kuru : Saya tidak tanya itu. Saya tanya tentang hukum kontradiksi. Jawaban anda non-sequituur.
Adrian Lalang Puling : "Apakah ada titik temu?" kalimat yang bagus. Lalu mengapa harus ada titik temu antara hukum kontradiksi Allah dan hukum kontradiksi manusia? Sebelumnya berpijak pada apa sehingga harus ada titik temu?
Ma Kuru : Jadi menurut anda tidak ada titik temu sama sekali?
Adrian Lalang Puling : Bukan tidak ada sama sekali. Tetapi perlu titik temu. Mengapa perlu? Karna beda kualitas.
Ma Kuru : Jadi hukum kontradiksi bagi manusia bukan hukum kontradiksi bagi Allah. Begitu?
Adrian Lalang Puling : Terbalik kalimatnya. Hukum kontradiksi Allah murni, independen, sempurna [pencipta]. Manusia memiliki hukum ini karena "dicipta" ini titik perbedaannya dan sekaligus titik temu. karena ciptaan begantung pada pencipta.
Ma Kuru : Maaf anda non sequituur lagi. Pertanyaan saya bukan itu. Itu kelanjutan pertanyaan sebelumnya. Jawaban anda tidak menjawab pertanyaan lanjutan saya.
Anda mengatakan bahwa tidak ada titik temu antara hukum kontradiksi yang berlaku pada Allah dan hukum kontradiksi yang berlaku pada manusia.
Pertanyaan lanjutan saya adalah, jika tidak ada titik temu antara hukum kontradiksi manusia dan hukum kontradiksi Allah, maka hukum kontradiksi yang berlaku untuk Allah berbeda sama sekali dengan hukum kontradiksi yang berlaku untuk manusia. Apakah anda percaya demikian? Atau tidak?
WYen Mustaine : Tidak ada titik temu? Saya kok nda setuju ya. Mungkin saya bodoh. Saya pribadi percaya bahwa ada satu titik dimana kita saling berhubungan dengan Allah. Iman yang diberikan Allah untuk Percaya kepada Kristus adalah titik temunya. Bagi saya lho.
Paulus Adi Adu Messaveo : Kata titik temu seolah-olah ada ruang netral. Padahal posisi ciptaan dan pencipta hanya terjadi mengikuti pencipta
Ray Oktavianus Lolong : Logika Allah lebih luas dari logika manusia dan hukum non-kontradiksi manusia beranalogi dengan hukum non-kontradiksi Allah.
Pertanyaan pak Ma Kuru, "Apakah ada titik temu yang identik antara hukum kontradiksi manusia dan hukum kontradiksi Allah?"
Ada titik temu atau "point of reference" antara Allah dan manusia tetapi tidak identik seperti yang pak Ma Kuru maksudkan. non-kontradiksi manusia beranalogi dengan hukum non-kontradiksi Allah.
Ivan Bartels : Pak Ray, Ada 'titik temu' tapi tidak 'identik'? bisa tolong dijelaskan lebih definisitif istilah-istilah yang anda gunakan disini? Makasih.
Ray Oktavianus Lolong : Apakah defefinisi bisa menjelaskan dan menyelesaikan persoalan yang telah berurat akar antara Van Till dan Clark?
Coba bro Ivan Bartels kasih saya bukti pakar logika mana yang bilang definisi dapat memperjelas dan menyelesaikan perdebatan dan tunjukkan pakar mana yang berhasil melakukan itu? saya tunggu buktinya.
Ivan Bartels : Soal menyelesaikan masalah itu hal lainnya atau melibatkan masalah kompleks lainnya karena yang berseteru ini adalah dua teolog besar. Kepentingan beta disini adalah untuk memahami apa yang lawan diskusi katakan. Hanya saja ada lawan diskusi yang terlalu bodoh sampai-sampai hal yang harusnya disyukuri ketika lawan debat mempertanyakan kejelasan posisinya agar tidak strawman, tapi malah menolak hal tersebut.
Kemudian, hukum kontradiksi mengharuskan satu kata harus bermakna sesuatu atau tidak multimakna (multi-definisi), anda bicara meja makan dan beta bicara meja tamu, dimana nyambungnya? herannya anda bicara hukum kontradiksi tapi kok seperti tidak paham impikasi dari hukum tersebut jika digunakan atau tidak digunakan.
Ma Kuru : Titik temu adalah titik dimana ada keidentikan. Karena kita berbicara tentang hukum kontradiksi, maka apakah ada titik identik antara hukum kontradiksi Allah dan hukum kontradiksi manusia. Tidak semua titik harus sama.
Ini sangat penting, kalau hukum kontradiksi manusia berimplikasi bahwa satu kata tidak boleh memiliki makna yang macam-macam pada saat yang sama dengan definisi yang sama, maka apakah hal itu berlaku bagi Allah? Ataukah itu tidak berlaku bagi Allah, sehingga ketika Ia berfirman, 1 kata yang Ia ucapkan berarti apa saja? Kalau tidak, maka itu adalah titik identiknya.
Kalau satu kata yang Ia ucapkan bisa berarti apa saja, maka konsekuensinya sangat berat. Dengan demikian pertanyaan tentang apa sih yang dimksud dengan 'titik referensi' sangat penting. Jawaban tentang hal ini akan memperjelas apakah apakah 'titik temu' merupakan sub bagian dari 'titik referensi' ataukah dua hal itu merupakan binatang yang berbeda sama sekali.
Ray Oktavianus Lolong : Kalau begitu yang pak Ma Kuru katakan maka saya harus tetap katakan berbeda. Titik temu yg dipakai oleh Van Tilian adalah "point of reference" yang dalam konteks pembahasannya mengacu kepada titik acuan antara pengetahuan Allah dan manusia bertemu seperti pada kasus "bunga mawar" dan itu tidak identik
Apabila Logika Allah lebih luas dari manusia dan hukum non-Kontradiksi manusia beranalogi dengan hukum nono-kontradiksi Allah maka sudah pasti titik temunya tidak identik.
Memang benar seperti pak Ma Kuru katakan bahwa satu kata tidak boleh memiliki makna yg bermacam-macam pada saat yg sama dalam hubungan yg sama yg akan berimplikasi pada firman Allah kepada manusia. Itu saya akui.
Tapi itu tidak berarti bahwa titik acuan itu harus identik antara Allah dan manusia. Karena disadari bhawa Allah itu berbeda mutlak dengan manusia shingga manusia atau Allah tidak bisa berbicara secara univokal atau equivokal dan hanya bisa secara analogis. Maka sudah pasti hukum non-kontradiksi pada manuisa itu tidak identik tetapi analogis dengan hukim non-kontradiksi yg dipunyai Allah.
Ma Kuru : Ray. Saya tidak bicara tentang bunga atau segala macam yang lain. Saya bicara tentang hukum kontradiksi. Tolong jangan dibawa ke bunga.
Apa sih 'analogi' yang anda maksud? Orang menggunakan kata analogi berbeda dari anda. Analogi selalu berarti perbandingan antara dua obyek pembicaraan yang memiliki perbedaan tetapi pada titik tertentu memiliki keidentikan.
Ketika anda katakan bahwa hukum kontradiksi yang berlaku pada manusia juga berlaku pada Allah artinya di situlah titik kesamaannya. Bisa jadi pada Allah hukum kontradiksi itu adalah sesuatu yang inheren pada Allah dan pada manusia tidak. Itu adalah implikasi dari kata analogi. Tetapi ketika anda katakan bahwa tidak ada titik temu sama sekali, maka anda tidak lagi berbicara tentang analogi. Tetapi anda berbicara tentang equivokal.
Tidak penting apakah anda memandang logika manusia sebagai ciptaan dan logika Allah bukan ciptaan. Itu bukan isu. Selama hukum itu berlaku pada manusia dan pada Allah maka itulah titik identiknya.
Ivan Bartels : Ray, Ma Kuru yang buat TS ini yang punya gagasan. Dia tidak memberikan definisi, bukan berarti tidak terdefinisikan. Dan dia berhak lakukan itu. Nah, kita yang mau berinteraksi dengan gagasan dia yang perlu (dan berhak) minta mengklarifikasi maksud dari gagasan dia seperti apa agar kita tidak menjadi strawman. Seperti yang beta bilang diatas, kalau beta jadi anda beta tidak akan serta merta menanggapi Ma Kuru begitu saja, sebelum beta minta klarifikasi hal-hal tertentu. Dan lihat bahwa Ma Kuru pun memberikan definisinya diatas (walau anda tidak meminta) karena dia (beta anggap berbaik hati) melihat bahwa anda (berpotensi) strawman terhadap gagasan dia. Misalnya saya tulis begini:
"Logika adalah pra kondisi dari iman, yang tidak setuju silahkan bantah".
Lalu bagaimana dengan orang yang mau menanggapinya? lawan diskusi yang cerdas, dia tidak akan serta merta melakukan bantahan atau menanggapi bgitu saja, minimal tanya apa definisi logika yang beta pakai disini, agar ketika menyerang nanti dia tidak strawman.
Semoga anda sudah paham.
Ferdinand Tobing : Logika Allah memang beda dengan logika manusia. Jangankan logika Allah, logika orang Jawa dengan logika orang Ambon saja beda.
Tetapi apakah tidak ada kontak di antara yang berbeda itu ? Tentu ada. Berbeda tapi bukan terisolasi. Berbeda tapi bukan terpisah atau tercerai.
Hukum non-kontradiksi hanya salah satu properti logika. Bukan logika itu sendiri.
Sampai saat ini definisi "logic"sendiri belum tuntas dibahas oleh manusia. Batasan-batasan nya terus diperluas, diperkaya, dimodifikasi, dibaca ulang.

Komentar
Posting Komentar