Langsung ke konten utama

PURGATORI PART 1

ARGUMENTASI KATOLIK TENTANG PURGATORI & BANTAHAN CALVINISME

1. Purgatori dalam Tradisi dan 2 Makabe 12:46

Argumen Katolik:

Purgatori adalah tempat penyucian bagi orang beriman yang meninggal dalam keadaan belum sepenuhnya suci.

2 Makabe 12:46 Menyebutkan doa untuk orang mati: "Sebab kalau ia tidak menyangka bahwa orang-orang yang gugur akan bangkit, niscaya mendoakan mereka adalah suatu hal yang sia-sia dan bodoh."

Ini menunjukkan adanya keadaan setelah kematian di mana jiwa masih bisa mendapat manfaat dari doa.


Bantahan Calvinisme :

2 Makabe bukan bagian dari kanon Kitab Suci yang diterima oleh Yesus atau para rasul (Roma 3:2).

Konsep Purgatori bertentangan dengan ajaran keselamatan hanya oleh iman (Efesus 2:8-9).

Jika Kristus sudah memaafkan dosa di kayu salib (Ibrani 10:14), maka tidak ada penyucian tambahan yang diperlukan setelah kematian.


Tanggapan Katolik :

Perjanjian Lama tidak memiliki kanonisasi definitif seperti yang dipegang orang Protestan.

Meskipun Yesus tidak mengutip 2 Makabe, Dia juga tidak mengutip beberapa kitab lain yang Protestan terima, seperti Ester atau Hakim-Hakim.


Tanggapan Balik Calvinisme :

Kitab-kitab yang dikutip Yesus adalah bagian dari Kitab Suci Ibrani yang diakui umat Yahudi saat itu.

2 Makabe adalah bagian dari Septuaginta yang tidak pernah diakui secara universal oleh orang Yahudi sebagai firman Allah.

Doktrin harus didasarkan pada Kitab Suci yang diilhami, bukan pada tradisi belaka.

2. 1 Korintus 3:15 – “Diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api”


Argumen Katolik :

Paulus mengatakan bahwa ada orang yang akan “diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api” (1 Korintus 3:15).

Ini menunjukkan proses penyucian setelah kematian sebelum masuk ke surga.


Bantahan Calvinisme :

Ayat ini berbicara tentang pekerjaan seseorang diuji, bukan tentang jiwa yang disucikan dalam api.

Konteksnya adalah penghakiman perbuatan, bukan pembersihan dosa di Purgatori.

Jika seseorang sudah di dalam Kristus, tidak ada penghukuman lagi (Roma 8:1).


Tanggapan Katolik :

Meskipun ayat ini berbicara tentang tindakan yang diuji, api tetap berperan dalam proses penyelamatan orang itu.

Penghakiman dan penyucian bisa terjadi secara bersamaan.


Tanggapan Balik Calvinisme :

Keselamatan tidak bergantung pada penyucian diri, tetapi hanya pada kebenaran Kristus yang diperhitungkan kepada kita (2 Korintus 5:21).

Jika dosa masih perlu dibersihkan setelah kematian, maka kematian Kristus di kayu salib menjadi tidak cukup.

3. Matius 12:32 – Dosa yang Tidak Diampuni di Dunia yang Akan Datang


Argumen Katolik :

Yesus berkata bahwa ada dosa yang tidak akan diamuni, “baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang” (Matius 12:32).

Ini mengimplikasikan ada dosa yang bisa diamuni setelah kematian, yang sesuai dengan doktrin Purgatori.


Bantahan Calvinisme :

Frasa "dunia yang akan datang" tidak menunjukkan pengampunan setelah kematian, tetapi hanya menegaskan bahwa dosa ini tidak akan pernah diampuni.

Tidak ada indikasi dari ayat ini bahwa orang beriman harus mengalami penyucian di Purgatori.

Semua dosa orang percaya telah diamuni secara penuh di kayu salib (Kolose 2:13-14).


Tanggapan Katolik :

Jika Yesus hanya ingin mengatakan dosa ini tidak akan pernah diamuni, Dia cukup berkata “tidak akan pernah diamuni.”

Frasa “dunia yang akan datang” menunjukkan kemungkinan tidak adanya pengampunan untuk dosa lain setelah kematian.


Tanggapan Balik Calvinisme :

Penafsiran ini terlalu spekulatif dan terkesan dipaksakan. Jika memang ada pengampunan setelah kematian, mengapa tidak ada ajaran eksplisit tentang itu di kitab-kitab lain?

Semua dosa diamuni atau tidak diamuni di dunia ini saja. Tidak ada kesempatan kedua setelah kematian (Ibrani 9:27).


4. Tradisi Gereja Awal Mendukung Purgatori


Argumen Katolik :

Bapa Gereja seperti Tertulianus, Siprianus, dan Agustinus mengajarkan adanya penyucian setelah kematian.

Gereja selama berabad-abad selalu mengajarkan doktrin ini.


Bantahan Calvinisme :


Gereja mula-mula bukan otoritas tertinggi dalam doktrin, hanya Kitab Suci yang menjadi standar kebenaran (2 Timotius 3:16-17).

Sekalipun beberapa Bapa Gereja percaya akan penyucian setelah kematian, itu tidak berarti ajaran itu benar.

Banyak tradisi Gereja Awal juga mengandung kesalahan.


Tanggapan Katolik :

Jika Tradisi Gereja tidak dapat dipercaya, mengapa Protestan menerima kanon Alkitab yang ditentukan oleh Gereja awal?

Iman Kristen tidak hanya berdasarkan Kitab Suci, tetapi juga Tradisi Suci dan Magisterium.


Tanggapan Balik Calvinisme :

Kanon Alkitab tidak didasarkan pada otoritas Gereja Katolik, tetapi pada pengakuan bahwa kitab-kitab tersebut diilhami Tuhan.

Jika kita harus mengikuti Tradisi Gereja, maka kita juga harus menerima dogma-dogma lain yang tolak Protestan, seperti doa kepada orang kudus dan Maria sebagai perantara.

Kesimpulan : Calvinisme Menutup Jalan bagi Purgatori


Dari perdebatan ini, kita bisa melihat bahwa :

Purgatori tidak memiliki dasar yang kuat dalam Kitab Suci. Semua ayat yang dikutip Katolik bisa mengkonversi secara berbeda tanpa perlu mengakui Purgatori.

Keselamatan dalam Calvinisme adalah berdasarkan anugerah semata. Tidak ada penyucian tambahan setelah kematian karena keselamatan sudah tuntas di dalam Kristus.

Tidak ada bukti eksplisit dalam Perjanjian Baru tentang penyucian jiwa setelah kematian. Semua ayat yang diangkat Katolik hanya bersifat inferensial, bukan eksplisit.

Oleh karena itu, dari sudut pandang Calvinisme, doktrin Purgatori tidak hanya tidak diperlukan, tetapi juga bertentangan dengan Injil keselamatan oleh iman di dalam Kristus saja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROVIDENSI ALLAH BUKAN ALASAN UNTUK BERDOSA

  Oleh : Dionisius Daniel Goli Sali   "Kalau Allah telah menetapkan segala sesuatu, dan apa yang ditetapkan Allah harus dan pasti terjadi, lalu mengapa tindakan berdosa manusia harus dihakimi?" Pertanyaan ini lahir dari kegagalan (kebingungan) dalam memahami providensi Allah. Apa itu providensi? Providensi adalah doktrin yang percaya bahwa Allah/Tuhan berdaulat penuh atas segala peristiwa yang terjadi di bawah kolong langit ini. Dengan kata lain tidak ada satupun peristiwa dalam bentang sejarah umat manusia yang luput dari kontrol dan kedaulatan Tuhan. Dan itu mencakup peristiwa yang baik maupun buruk (kejahatan) dalam kehidupan manusia. Sebagai landasan biblikalnya, kita akan melihat beberapa ayat di bawah ini. Misalnya tentang pemilihan orang percaya, ternyata Tuhan dalam kekekalan telah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi umat pilihan-Nya. "Di dalam Dia kami juga mendapat bagian, yang ditentukan dari semula menurut maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu ...

MEMBEDAH RUMUSAN TRITUNGGAL ALA ELIA MYRON

Oleh : Dionisius Daniel Dalam sebuah video dari kanal YouTube Tiga Hari. Elia Myron seorang apologet muda terlihat sedang mengajarkan doktrin Tritunggal. Namun yang menarik disini adalah, rumusan Tritunggal yang diajarkan oleh Elia Myron ini, terindikasi menyimpang dari rumusan Tritunggal yang ortodoks yang telah dipegang oleh Gereja sepanjang sejarah. Elia mendasari pengajaran Tritunggalnya dengan mengutip Ulangan 6:4, dan 1 Korintus 8:6 Ulangan 6:4 (TB) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!  1 Korintus 8:6 (TB) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.  Berdasarkan dua ayat ini Elia membangun premis bahwa Allah itu pada hakikatnya adalah esa, dan Allah yang esa ini adalah sang Bapa. Mengapa Allah yang esa ini disebut Bapa? Karena menurut Elia,...

Obrolan Serius: Membongkar Kekeliruan Tritunggal yang Sering Diabaikan

Oleh : Dionisius Daniel   Kali ini saya kembali membagikan diskusi singkat saya dengan seseorang di Facebook yang diduga adalah fans atau pendukung fanatik dari Elia Myron.  Saya memang belakangan ini sedang menulis artikel mengkritisi ajaran Tritunggal Elia Myron, yang menurut saya telah menyimpang dan tanpa sadar "nyemplung" ke bidat-bidat yang sudah ditolak oleh para Bapa-Bapa Gereja kita. Seperti Sabelianisme atau Subordinasisme ala Unitarian. Sebenarnya diskusi/perdebatan ini berawal dari postingan foto Pdt Esra Soru di Facebook, tertanggal, Minggu 18/05/2025. Di foto itu tampak Pdt Esra sedang bersama Elia Myron. (fotonya saya jadikan wallpaper artikel ini) Saya lalu spontan berkomentar: "Pak Esra tolong ajari Elia Myron itu agar mengajar Tritunggal dengan benar, soalnya ajaran Tritunggal dan konsep keselamatannya telah menyesatkan banyak orang". Alhasil tak butuh waktu lama, komentar saya langsung ditanggapi oleh pengguna facebook lain yang diduga adalah fans...